
Kota Jakarta terlihat sangatlah cerah. Di rumah yang terlihat mewah . Resya berjalan menuruni anak tangga satu persatu, lalu berakhir di mobil yang sudah menunggunya sedari tadi.
Tak mau menunggu lebih lama, Resya pun akhirnya memasuki mobil avanza berwarna hitam tersebut. Setelah menjalankan laju kendaraannya tiba-tiba dari belakang kursi penumpang muncullah seorang pria yang wajahnya sengaja ditutupi dengan kain masker berwarna hitam.
Resya yang akhirnya menyadari lewat cermin depan Mobil tersebut, ia yang baru aja hendak akan berteriak seseorang itu dengan sigap langsung memberikan pukulannya, berhasil membuat sasarannya jatuh pingsan, lantas salah satu dari mereka mulai menelfon seseorang.
"Misi kita sudah selesai jadi sekarang tinggal kita bawa wanita ini menuju ketempat sekapan kita tuan!"
"Baiklah!" balas sang supir gadungan tersebut
__ADS_1
Berada didalam ruangan yang terlihat sangatlah sepi tanpa ada seseorang sekalipun dan hanya sendiri dalam kondisi kedua tangan dan kaki yang masih dalam keadaan terikat beberapa kali Resya mencoba menenangkan pikirannya yang selalu kacau, sekaligus bingung apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini.
Belum juga rasa was-was nya hilang ia sudah dibuat terkejut sekaligus ketakutan setelah pintu yang tiba-tiba terbuka dengan berbarengan langkah kaki seseorang yang mulai menunjukkan sepatu hak tinggi hitam yang perlahan-lahan mulai menghampirinya
Pandangan sekaligus matanya seketika terdiam bahkan tidak berkedip setelah ia tahu siapa seseorang yang mulai menghampirinya.
"Kau satu-satunya manusia yang tidak gentar melihat wajahku dengan tatapan tajam seperti itu. Apa hanya kau yang memiliki mata sehat di muka bumi? Apa kamu sangatlah pemberani sampai-sampai dengan beraninya mempermainkan sesosok sepertiku!" Sandra mendekati Resya dengan senyuman menyeringai. Sandra seakan merasa ada perlawanan yang menantang dalam diri Resya.
Seperti biasa, Resya hanya diam memperhatikan setiap gerak gerik yang Sandra lakukan. Wajahnya sama sekali tidak menampakkan ingin menjawab setiap kalimat yang dilontarkannya.
__ADS_1
"Apa sebenarnya mau mu apa kamu ingin membunuhku? Jika kamu ingin membunuhku silahkan karena aku tidak akan pernah takut. Ngomong-ngomong pintar sekali anda bisa terbebas dari dalam sela tahanan dengan cara apa anda bisa berhasil kabur dari dalam sana?" tantang Resya dengan senyum menyeringainya.
"Apa kamu bilang. Berani kamu berkata seperti itu?"
"Sandra? Bukankah itu namamu. Dan bukankah ibu kandungku bernama Nyonya Verlanta. Seseorang yang belasan tahun lalu dalang dari pembunuhan dari keluarga Richard dan kamu? Sudahlah aku malas untuk menyebutkan kebusukan-mu jadi kalau kamu mau membunuh-ku ayo bunuh karena aku tidaklah takut dengan Wanita iblis seperti-mu!"
"Baiklah jika kamu merasa pasrah. Dan sudah siap jika aku membunuh-mu. Akan tetapi membunuh-mu dengan langsung bukankah itu lebih gampang. Karena apa yang kamu dan Suami kamu lakukan tidak akan sebanding dengan penderitaan yang selama ini aku alami bersama calon anak yang ada didalam kandungan-ku, jadi kini saatnya kamu merasakan semua rintihan sakit ini. Dan biarlah pisau tajam inilah yang akan jadi saksi atas kesakitan-mu nanti!"
BERSAMBUNG.
__ADS_1