
"Perut-ku sakit aku ijin ke toilet ya," ucap Resya segera ia pun berlari menuju ke-kamar kecil.
Dret ...dret ...dret ...
"Aku ada telefon jadi aku juga ijin untuk mengangkatnya," ucap Gibran tanpa berkata ia langsung pergi dari hadapan mereka.
"Tunggu kenapa suaranya Resya tiba-tiba berubah jadi aneh kaya gitu, tadi dia tidak seperti itu tadi suaranya?" tanya Reno nampak curiga.
"Mungkin anda yang sedang salah dengar, barusan aku mendengarnya baik-baik saja kok dan normal-normal aja," timpal Richard mencoba meyakinkannya.
"Sial kenapa Gibran sama Resya bisa sampai se-ceroboh tadi sih," batinnya dengan mendengus kesal.
"Nyonya sekarang apa rencana Nyonya selanjutnya?"tanya Gibran ketika mereka sampai disalah satu ruangan kosong.
"Cepat lepaskan pakaian yang kamu kenakan itu," perintah Resya kemudian Gibran pun melepaskan dres yang ia kenakan saat ini.
"Ini Nyonya," balas Gibran.
"Kamu tunggu disini aku akan ganti, setelah itu kamu yang gantian yang ganti oke," ucap Resya berlalu ia masuk kedalam salah satu ruangan tersebut.
*
*
*
"Aku sudah ganti pakaian yang sedari tadi kamu kenakan, dan sekarang giliran kamu yang memakai pakaian ini," timpalnya dengan memberikan jaket hitam dan celana hitam yang ia kenakan tadi beserta topi hitam.
"Baik Nyonya, mendingan sekarang nyonya cepat pergilah jangan bikin Pria itu curiga pada kita," timpal Gibran.
"Baiklah aku akan segera pergi, dan ini untuk pembersih bekas make-up kamu jadi cepatlah kamu hanya butuh waktu 10 menit.
"Baik Nyonya akan saya pastikan tepat waktu datang kesana nanti," timpalnya segera ia pun masuk.
__ADS_1
Berjalan dengan penampilan modis tidak seperti tadi. Resya berlalu berjalan kearah mereka yang nampak sedang mengobrol. Dan tak lupa Resya memakai maskernya.
"Maaf tuan aku perginya lama tadi soalnya ada teman-ku yang tiba-tiba tanya sesuatu pada saya," balasnya berlalu Resya pun duduk disamping pria tersebut.
"Apa kamu yakin sedang berbicara dengan teman-mu tadi? Kamu gak lagi mengerjai-ku kan?" gertaknya yang langsung menarik tangan Resya dengan kasar dari hadapannya.
"Maaf tuan. Maksud Tuan apa?" tanya Resya nampak ketakutan bertatapan langsung dengan Pria itu.
Belum juga pria itu membalas perkataan yang diucapkan Resya tadi, langkah Pria terduduk itu pun seketika berubah tempat setelah Richard yang sangat tidak terima Resya diperlukan seperti tadi.
Dan dengan cengkraman-nya ia menghempaskan Pria itu hinga tersungkur jauh dari kursi ia berada sekarang.
Semua pengunjung yang mengetahuinya seketika terkejut, mereka seketika melebarkan matanya dan memberikan tatapan misteriusnya pada kedua pria yang nampak diselimuti amarahnya.
"Singkirkan tangan kotor-mu itu darinya karena aku paling tidak suka ada laki-laki yang bersikap kasar pada Wanita apa anda mengerti!" gertak Richard yang langsung mengandeng tangan Resya.
Kemudian langkah Gibran mulai ikut menghampiri kerumunan itu.
"Iya cara bertanya anda memang tidaklah salah, tapi cara anda mencengkram pergelangan tangan Resya-lah yang menurut-ku sangatlah salah. Awalnya aku memang berniat ingin menjodohkan kalian, tapi melihat sikapmu yang kasar seperti itu? Aku enggan untuk melepaskan dia kedalam pelukan Pria kasar seperti -mu," gertaknya dengan membuang muka dari Pria tersebut.
Bergegas Richard mengandeng tangan Resya untuk ia ajak pergi. Langkah mereka terhenti setelah Pria tadi yang bernama Reno itu mencegahnya dengan menarik tangan Resya dari belakang.
Suasana yang tadinya cukup damai, kini suasana panas itu berubah lagi menjadi sedikit mencekam. Tatapan demi tatapan telah mereka lalui. Saling bersahutan dengan pandangan yang tajam tak menyorotkan niat mereka untuk tidak berkelahi.
"Aku minta lepaskan genggaman tangan Resya jika kamu tidak mau menyesal nanti." Ancamnya akan tetapi sama sekali tidak digubris olehnya.
Bug ...
Satu dugeman panas tepat mengenai pipi kanan Reno hinga darah segar keluar dari sudut bibirnya. Hanya bisa tersenyum sinis dan mengusap percikan darah itu. Dan selangkah Reno berniat ingin mengejarnya langkahnya terhenti setelah kedua Wanita yang datang secara bersamaan.
"Reno sayang kamu kenapa? Kenapa kamu bisa terluka ada apa sebenarnya? Dan mereka siapa kalian?"tanya Wanita bertubuh sexy yang tak lain adalah Meti.
"Kalian berdua siapanya laki-laki ini?" tanya Resya kemudian kedua wanita itu saling tatap muka satu sama lain.
__ADS_1
"Elo? Siapa lo kenapa beraninya lo pegang-pegang dia singkirkan tangan lo darinya!" perintahnya dengan menepis tangan wanita yang bernama Melodi.
"Hey harusnya gue yang tanya lo itu siapanya Reno kenapa elo berani sekali meluk-meluk dia kaya gitu lepasin!" gertaknya dengan langsung menepis tangan Meti dari Reno.
"Tunggu maksud lo apa. Dan kenapa lo melarang gue untuk jangan memeluk pacar gue sendiri?"tanya Melodi sedikit penasaran.
"Pacar? Apa maksud-mu bilang Reno itu pacar lo, dia itu jelas-jelas pacar gue enak banget lo ngomongnya," timpal Meti.
"Reno mendingan sekarang lo cepat jelaskan ke kita siapa wanita ini kenapa dia bisa-bisanya bilang kalau dia itu pacar lo. Lo gak lagi selingkuhin gue kan?"tanya Meti penuh penekanan.
"Meti dia ...dia ...," balas Reno nampak bingung dan gelagapan.
"Kenapa Reno kenapa kamu jadi gelagapan seperti itu, jika kalian benar-benar tidak hubungan harusnya lo biasa aja ngomongnya lo gak harus pake tegang gitu juga," timpal Meti.
"Reno cepat katakan apa yang ada dipikiran gue sama sekali gak benar kan? Lo gak mungkin selingkuhin gue kan?" tanya Melodi yang menimpali pembicaraan mereka.
"Maafkan aku Mel ...maafkan aku. Aku ...apa yang dikatakan oleh Meti semuanya benar. Aku memang pacaran dengannya maafkan aku ...maafkan aku kalau aku udah buat kamu kecewa maafkan aku ...," balasnya penuh wajah penyesalan.
"Apa ...?"
"Apa Reno ...!"timpal Silsi yang tiba-tiba menimpalinya pembicaraan mereka.
"Silsi? Kalian? Kenapa kalian bisa kompak datang ditempat ini secara bersamaan?" tanya Reno tambah nampak gelagapan.
" Kamu bilang dia Wanita ini adalah kekasih kamu pacar kamu? Terus mereka berdua ini siapa jangan bilang kalau mereka berdua juga sama-sama kekasih kamu. Kamu kejam banget jadi orang bagaimana mungkin bisa kamu pacari lima Wanita dalam sekaligus apa kamu udah gila," gertaknya yang langsung memberikan satu tamparan sekaligus siraman segelas air tepat mengenai wajah Reno.
Plak satu tamparan tepat mengenai pipi kanan Reno dari Wanita yang bernama Meti tersebut. Dan kemudian Wanita yang bernama Melodi juga tak ingin tingal diam hatinya dipermainkan dengan cara seperti ini dan dengan tamparan tepat mengenai pipi kiri Reno membuat Reno yang merasakannya hanya bisa diam tanpa mulut yang terucap.
Beberapa tamparan telah ia dapat dari kelima Wanita itu. Langkah Wanita itu kemudian pergi setelah kelimanya pergi dari kerumunan ini. Tak memperdulikan reaksi tatapan dari semua orang yang memandangnya dengan tatapan hina-nya.
Serasa mendapatkan cambukan beberapa disiang bolong, Reno yang merasakannya ia hanya bisa berpasrah dan menyesali semua kesalahan yang telah ia perbuat sendiri.
BERSAMBUNG.
__ADS_1