Penjara Cinta Mafia Kejam

Penjara Cinta Mafia Kejam
Hampir terungkap


__ADS_3

Berjalan dengan langkahnya yang pelan dan putus asa. Langkahnya terhenti setelah seseorang datang dan menghampirinya.


"Astaga Resya apa yang kamu lakukan kenapa malam-malam gini kamu masih keluyuran di-jalanan yang sepi ini. ada apa sayang?"


"Eyang."


"Resya cerita-lah sama eyang ada apa? Ada apa?"


"Resya sangat bodoh Eyang Resya sangat bodoh bisa-bisanya Resya dibohongi seseorang seperti Richard dia sangat jahat dia jahat!"


"Richard apa yang dia lakukan kepadamu?" Apa dia menyakiti kamu lagi?"


"Richard selama ini dia hanya berpura-pura baik padaku. Dan sekarang lagi-lagi dia meninggalkan Resya tanpa sebab yang pasti?"


"Meninggalkan kamu?"


"Iya eyang!"


"Richard berbuat seperti itu? Tidak, itu tidak mungkin terjadi pasti ada sesuatu yang sedang dirahasiakan olehnya makanya ia berbuat seperti ini," batin Eyang yang merasa bingung.


Pandangan Resya yang tadinya terlihat bugar. Kini perlahan-lahan pandangannya mulai hilang dan tidak membutuhkan waktu lama tubuhnya mulai roboh setelah kesadarannya yang tiba-tiba tidak bisa ia kendalikan.


"Astaga Resya apa yang terjadi padamu sayang, Resya bangun ... Resya bangun kamu kenapa sayang?"


"Astaga Resya apa yang terjadi dengannya?"timpal salah seorang laki-laki yang tiba-tiba datang yaitu Revan.


"Cepat larikan dia ke Rumah sakit!"


"Baiklah eyang!"


RUMAH SAKIT MEDIKA JAYA.


"Gimana Dok keadaan teman saya dia gak kenapa-kenapa kan Dok? Kandungannya gak terluka kan Dok?"


"Anda tenang saja kondisi teman anda baik-baik saja. Dia hanya kekurangan cairan dan mengalami dehidrasi nanti juga akan sadar," ucap Dokter laki-laki tersebut.

__ADS_1


"Baiklah Dok terima kasih!"


"Ya sudah mari saya tingal dulu!"


"Baik Dok!"


"Siapa kamu? Kenapa kamu bisa kenal dengan Resya?" tanya Eyang yang sedari memperhatikan Revan.


"Saya Revan Eyang. Saya teman baik Resya sekaligus teman Richard juga."


"Tadi sebelum Resya jatuh pingsan dia sempat bilang kalau Richard sudah mematahkan hatinya lagi. Apa kamu tahu apa penyebab Richard melakukan semua itu. Jujur eyang kenal Richard anak yang baik jadi dia tidak mungkin bertindak sebodoh itu pasti ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan dari Resya makanya dia berbuat seperti ini pada Resya, jadi kamu pasti tahu kan apa alasannya?" tanya Eyang yang terlihat cukup panik.


"Richard sudah sangat baik padaku apa mungkin aku tega mengkhianatinya dengan cara seperti ini biar pun ia yang menyuruhku untuk mendampinginya tapi sayangnya aku masih punya hati. Dan tidak mungkin aku tega merebut Resya dari genggamannya apalagi aku tahu kondisinya seperti ini," batin Revan dengan pandangannya yang berpaling pada eyang.


"Nak apa kamu sedang memikirkan sesuatu?"tanya Eyang dengan menepuk pundak Revan.


"Ini waktunya aku memberitahu Resya apa yang sebenarnya terjadi pada Richard saat ini. Jika aku beritahu eyang sekarang, eyang pasti nanti akan memberitahu Resya soal ini," batin Revan.


"Eyang ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama eyang?" sambung Revan kemudian.


"Bicarakan Soal apa?"tanya eyang balik.


Sedetik Revan hendak ingin mengatakan apa sebenarnya terjadi pada Richard. Akan tetapi belum mampu ia mengucapkan sepatah kata pun pada eyang, ponsel eyang tiba-tiba berdering berlalu ia mengangkatnya.


"Siapa yang menelfon-ku. Maaf eyang angkat dulu ya?"


"Baiklah eyang!"


"Baru aja aku mau memberitahunya ada aja gangguannya," batin Revan yang terlihat kesal.


"Baiklah saya akan segera kesana dalam kurang waktu 30 menit tunggulah aku," ucap Eyang pada sambungan telfonnya.


"Eyang ada apa? Siapa yang menelfon Eyang tadi?" tanya Revan.


"Itu dari anak buah-ku yang katanya ada masalah penting yang harus dibicarakan hari ini juga. Soal perkataan yang ingin kamu katakan tadi apa yang ingin kamu katakan pada saya?" tanya Eyang.

__ADS_1


"Tidak jadi eyang. Revan tidak jadi berkata apa-apa pada eyang. Dan soal Richard biar pun kami sahabat aku tidak tahu apa-apa soal perubahan sifatnya. Oh iya tadi eyang terlihat cemas dan gugup jadi pergilah biar saya yang menjaga Resya disini!" sambung Revan lagi.


"Apa kamu serius?" tanya Eyang.


"Iya saya serius eyang," sambung Revan.


"Baiklah kalau gitu saya permisi dulu, kabari Eyang kalau sesuatu terjadi pada Resya ya?"


"Baik Eyang jika nanti sesuatu telah terjadi aku akan segera menghubungi eyang. Jadi pergilah.


"Baiklah Assalamualaikum," salam Eyang.


"Wa'alaikumsalam berhati-hatilah!"


"Baiklah!"


Hampir saja aku mau memberitahu rahasia ini pada eyang, tali eyang nampak sangatlah gugup. Jadi akan lebih baik aku memberitahunya langsung pada Resya sekarang. Jadi lebih baik aku masuk keruangan rawatnya sekarang."


Baru sedetik Revan terucap. Dan sedetik Revan melangkahkan kakinya ke-depan menuju keruangan Resya, kini ucapnya terbungkam, bahkan langkahnya terhenti setelah salah seorang tiba-tiba membungkam mulutnya dan menyeretnya kebelakang.


"Richard?"


"Iya ini aku.


"Richard apa yang kamu lakukan kenapa kamu menarik-ku dan membungkam ku seperti ini? Apa kamu sengaja menghalangiku untuk jangan memberitahu Eyang Soal ini?"


"Revan sudah berapa kali aku bilang sama kamu untuk jangan memberitahunya apa kamu masih belum paham juga maksud aku ini?"


"Richard masalah yang kamu hadapi bukanlah masalah kecil lagi, tapi ini sudah jadi masalah besar sampai kapan kamu ingin menyembunyikan semua masalah ini sampai kapan?"


"Sampai aku mati. Yang jelas aku sudah beritahu kamu untuk jangan memberitahunya apa kamu sudah sekali dibujuk Revan. Jika kamu mencintainya apa kamu tega melihat wanita yang kamu cintai menangis karena laki-laki lain. Apa kamu tega memendam air mata kamu jika itu sampai terjadi nanti?"


"Memang pada dasarnya hati seseorang akan sangat sakit jika orang yang paling kita cintai lebih menangisi laki-laki lain dari pada pada menangisi kita. Tapi aku bukanlah laki-laki lemah Richard. Aku sadar cinta pada dasarnya tidak bisa dipaksakan sama halnya dengan hati Resya, dia juga punya hati dan aku tidak mau memaksanya jika pada dasarnya hatinya sudah berlabuh dalam hatimu. Bagiku aku ini hanya dia anggap sebagai teman dan Abang dan tidak lebih atau kurang hanya itu. Jadi jangan coba-coba kamu paksakan aku untuk melakukan hal yang sama sekali tidak masuk akal Richard, apa lagi ini menyangkut masalah hati?"


"Baiklah jika kamu masih tidak mau mengabulkan permintaan aku untuk hidup bersamanya aku tidak masalah. Aku juga tidak akan memaksamu lagi, tapi setidaknya kamu mau kan menjadikan dia teman terbaikmu? Teman yang akan selalu ada disaat kita sedang membutuhkan tempat curhatan?" tanya Richard.

__ADS_1


"Iya aku bersedia menjadikan teman curhatku. Tapi selebihnya aku tidak ada niat lain.


BERSAMBUNG.


__ADS_2