
Sedangkan Sifa yang masih dalam keadaan terikat diatas kursi dengan kencang. Inggin sekali ia memukul dan menendang ya balik akan tetapi tenaganya tidaklah sanggup untuk melakukan semua itu.
Terjatuh diatas lantai dengan luka memar sekujur tubuhnya membuat Richard meringis sakit dan hanya bisa mengigit bawah bibirnya sebagai penahan rasa sakitnya.
"Kamu lihat kan sekarang Papa kamu sudah tidak berdaya, dia memang seorang Mafia tapi kamu lihat-kan dia sama sekali tidak berguna. Bahkan untuk melindungi dirinya sendiri aja ia tidak sanggup jadi mana mungkin ia sanggup untuk menolong Putri kandungnya sendiri.
"Dasar brengsek. Lepaskan aku...lepaskan aku...aku pertegas-kan ke kamu jika sekali lagi kamu berani menyakitinya maka kamu akan menyesal, jadi lepaskan aku...lepaskan aku...
"Apa kamu bilang, apa aku tidak lagi salah dengar kamu...kamu mengancam ku anak manis. Apa kamu sadar kamu sekarang masih dalam kondisi terikat bahkan kalau aku sanggup aku juga sanggup untuk membunuhmu sekalipun apa kamu sadar itu. Sudahlah pemanasan ini sudah berakhir Wiliam dorong gadis ini menuju ke kandang ular peliharaan kita. Karena dia kayaknya sangatlah cocok buat Mili si ular besar dan aku rasa Mili juga akan suka dengan kehadirannya.
"Apa maksud kamu apa kamu sudah gila lepas aku...lepas aku...brengsek lepaskan aku...lepaskan aku..
PLAK...
"Ini adalah balasan karena kamu sudah dengan beraninya menantang ku. Dan ini adalah balasan karena kamu sudah beraninya membangunkan macan yang masih tertidur pulas, jadi cepat Wiliam masukkan dia ke kandang tersebut cepat masukkan.
Satu tamparan tepat mengenai pipi kanan Sifa dan membuat darah segar keluar dari sudut kanannya. Richard yang awalnya tubuhnya sama sekali tidak bertenaga kini dalam hitungan menit tenaganya seketika muncul sesaat ia sudah tidak bisa berdiam lagi melihat seorang gadis yang ia duga Putrinya sedang dalam bahaya.
Kedua mata Richard yang menatap tajam kearah Erlangga yang fokus melihat kearah Sifa dengan tawa sinisnya.
Tanpa berfikir ia langsung menendang kaki Erlangga dari belakang. Setelah terjatuh senjata yang ia bawa pun terlepas dari cengkramannya.
Para anak buah yang berniat ingin melawan, Richard pun dengan langsung ia meluncurkan beberapa tembakan tepat mengenai jantung kedua anak buahnya.
Darah pun keluar bagaikan cairan biasa yang mengalir deras dari tubuh pria kekar tersebut.
DYAR...
DYAR...
Lantaran lengah menghabisi para lawan yang lainnya, Richard pun mendapatkan satu tembakan yang tepat mengenai lengan kirinya setelah Erlangga yang dengan sigap langsung mengambil senjata yang terlepas dari anak buahnya yang tewas seketika.
Tak ingin diam ia terus meluncurkan tembakannya lagi pada lawan arah. Kedua pihak sudah terlihat sedikit menahan rasa sakit lantaran Sama-sama mendapatkan luka tembakan dari lengan kirinya akan tetapi tidak membuatnya merasa kalah mau pun lemah.
__ADS_1
Tembakan demi tembakan telah mereka lakukan akan tetapi karena mereka sudah ahli dalam bidang penembakan tidak ada diantara salah satu dari mereka yang terkena akan tembakan tersebut.
Wiliam yang tidak ingin diam ia lantas menendang tangannya dengan keras yang akhirnya membuat Richard pun terjatuh dan terbentur akan tembok sebelah kanannya. Darah segar pun keluar dari keningnya akan tetapi Richard tidak akan diam dan mengalah.
Akan tetapi dengan senjatanya yang terlepas dari cengkramannya membuatnya ia terhenti dari langkahnya.
"Kamu lihat kan senjata kamu sudah ku'buang dari genggaman tangan kamu, jadi dengan cara apa kamu ingin menyerang ku?
Mendengar perkataan demi perkataan yang diucapkannya yang Erlangga yang dilakukannya hanyalah menunjukkan senyuman sinisnya. Bahkan Erlangga yang melihatnya tidak terdengar satu kalimat pun yang keluar dari mulutnya. Melihat hal ini Erlangga yang hanya menatapnya dengan tatapan tajam kini mulutnya pun akhirnya berbicara.
"Kenapa kamu hanya menatapku dengan tatapan sinis seperti itu. Apa kamu tidak takut sama ancaman ku. Dan aku pertegas-kan ke kamu berhentilah tersenyum dihadapan ku karena aku sama sekali tidak menyukainya.
"
"
"
Pukulan demi pukulan pun siap mendarat tepat mengenai dada kekar Erlangga mau pun Richard sendiri. Akan tetapi dengan sigapnya mereka dengan sigap langsung menghindari setiap pukulan yang akan akan mereka lakukan secara bersamaan.
Tarikan demi tarikan telah mereka lalui bahkan pistol yang sudah berada digenggaman mereka akibatnya mereka pun saling rebut merebut. Wajah yang sudah terpenuhi adanya luka lebam dan babak belur nyatanya tidak membuat tenaga mereka luntur.
Setelah beberapa jam saling adu pukul pistol pun akhirnya tepat berada ditangan Erlangga dengan langkah cepat ia pun menembakkan menjadi misinya dan tepat mengenai perut Richard.
Terduduk lemas dengan darah segar yang menyelimuti kakinya membuat wajah Richard berubah memucat.
Rasa sakit yang tidak tertahan akhirnya berhasil menyerang tubuh Richard hingga ia tak mampu lagi untuk berdiri tegak. Dan saat itu juga tubuhnya pun tersungkur kelantai.
Hanya bisa merintih kesakitan merasakan rasa sakit dari lukanya Richard merasakan jika tubuhnya sudah sangatlah lemas tak sanggup lagi untuk berjalan. Hanya bisa terduduk lemas dan bersender disalah satu tembok sebelahnya menjadikan tempat senderan nya sebagai tempat pelampiasannya untuk sementara waktu.
Sedangkan Erlangga yang berbangga diri dan merasa sangat senang karena telah berhasil melukainya. Dengan langkah pelan dan sok jagoan ia pun menghampiri Richard dengan tatapannya yang layaknya seorang raja.
"Kamu lihat kan sekarang, kamu lemah Richard kamu lemah karena kamu itu hanyalah orang yang tidak berguna," celetuknya dengan langsung menendang Richard Hinga tersungkur.
__ADS_1
"Wiliam tunggu apalagi cepat buang dia ke kandang sekarang juga," perintahnya.
"Sekalian bawa Putrinya juga karena mereka sangatlah pantas untuk dijadikan mangsa bagi si ular peliharaan kita.
"Baik Tuan ayo jalan cepat ayo jalan.
"Baik Tuan," balas Wiliam yang kemudian ia pun menyeret Richard mau pun Sifa.
"Hendak akan membawa tubuh Richard dan Sifa yang terus ia paksa agar mau berjalan. Dan tinggal selangkah Wiliam akan berhasil mendorong Sifa mau pun Richard dengan sigap dan tepat waktu seseorang datang dan melepaskan pelurunya tepat mengenai kedua kaki erlangga.
DYAR...
DYAR...
DYAR...
Suara tembakan itu pun seketika membuat mereka semua terkejut. Wiliam yang sangking terkejutnya ia tidak bisa mengendalikan tubuhnya dan membuatnya ia pun terjatuh sendiri didalam Kandang ular piton tersebut.
Sedangkan Sifa yang merasa reflek dan ikut terkejut, ia hampir saja iku terjatuh karena tarikan yang dilakukan Wiliam akan tetapi Richard dengan tepat waktu ia langsung menarik tangan Sifa dan membuat mereka terjatuh dari arah berlawanan.
"Ah...kakiku...bedebah berani sekali kalian datang mendatangi markas-ku.
____________. _________
Sekalian ijin promo karya teman-ku ya berikut blurb-nya
Demi kebahagiaan saudara kembarnya, Raya rela menerima permintaan Mahen untuk menikah malam itu juga dan tanpa sepengetahuan orang terdekat.
Selama menjadi suami-istri, kehidupan mereka tak ada manis-manisnya, pertengkaran serta kekonyolan selalu membuat kedua orang tua mereka geleng-geleng dan khawatir hubungan kedua anaknya akan kandas di tengah jalan.
"Jangan pernah kamu merubah batasan kita, Mahen! Lihat saja, jika kamu melanggar semua, maka saat itu juga aku akan minta cerai!"
Apakah Raya akhirnya bisa menerima Mahen sebagai suaminya atau Raya akhirnya memilih untuk bercerai, setelah semua masalah saudara kembarnya selesai?
__ADS_1
BERSAMBUNG