Penjara Cinta Mafia Kejam

Penjara Cinta Mafia Kejam
Revisi


__ADS_3

"Gimana Dok keadaan Suami saya apa dia sudah menunjukkan tanda-tanda akan kesadarannya?" tanya Resya pada Dokter.


"Setelah kamu periksa pasien keadaannya sudah mulai membaik, jadi mungkin tidak akan membutuhkan waktu lama ia akan segera sadar dari tidurnya. Ya sudah saya permisi dulu kabari saya secepatnya jika pasien sudah menunjukkan kesadarannya.


"Baik Dok saya kan secepatnya memberitahu Dokter nanti.


"Ya sudah saya permisi dulu.


"Baiklah.


"Sudah dua hari kamu tidak kunjung sadar sebenarnya apa yang kamu rasakan saat ini Richard sampai-sampai susah sekali menyadarkan kamu."


Berniat akan duduk tapi tiba-tiba tubuhnya serasa semboyongan. Kepalanya yang tiba-tiba serasa sakit membuatnya hampir saja terjatuh, dan untungnya Silvi dan Rasyel yang dengan sigap langsung menangkapnya hinga menghalangi tubuh Resya yang hampir saja terbentur akan sesuatu.


"Astaga Mama ...Mama kenapa? Apa Mama sakit?" tanya Silvi nampak cemas.


"Tidak papa kok sayang, Mama hanya pusing sedikit kok," balasnya yang tiba-tiba melemah.


"Mama. Mama sangat pucat Mama pasti sangat kecapean jadi mendingan Mama pulang ya biar Silvi aja yang menjaga Papa,"


"Tidak sayang, kamu kan harus mengurus Robi jadi biar Mama aja yang menjaga Papa kamu Mama tidak kenapa-kenapa kok!"


"Mama. Mama itu terlalu keras kepala, Mama sedang sakit jika Silvi terus membiarkan Mama seperti ini yang ada kondisi Mama bakal lebih parah lagi. Jadi menurut-lah apa kata Silvi pulang ya biar Rasyel yang mengantar Mama tidak ada kata penolakan!"


"Baiklah kalau kamu memang memaksa Mama. Mama akan pulang, tapi kamu segera kabari Mama jika Papa kamu sadar ya.


"Iya Ma Silvi janji akan kabari Mama nanti jadi sekarang Mama pulang ya.


"Baiklah Mama pulang sekarang.


"Rasyel aku titip Mama ya. Kabari aku kalau Mama berniat ingin kesini lagi, pokoknya aku titip Mama sama kamu, jika Mama sampai nekat kamu akan dapat hukumannya nanti.


"Iya Silvi kamu tenang saya aku bakal jagain Mama jadi kamu tenang saja.


"Ya sudah kamu pulang ya. Aku akan menyuruh Sifa untuk datang kesini supaya mau menemani -mu nanti.


"Baiklah berhati-hatilah.


"Baiklah.


*


*


*


"Tuan syukurlah kamu sudah sadar gimana keadaan kamu apa kamu merasakan sakit? Apa kamu sudah ingat akan siapa aku?" tanya Gibran yang nampak penasaran.


"Papa syukurlah Papa sudah sadar kami sangat senang mendengar kabar Papa telah siuman?"


"Sifa ...Silvi kalian? Bolehkah Papa memeluk kalian berdua.


"Papa ...Papa sudah ingat siapa kita?" tanya Sifa dengan wajah tidak percayanya.

__ADS_1


"Iya sayang Papa sudah kenal siapa kalian. Sini Papa sangat kangen dengan kalian jadi sinilah peluk Papa.


"Papa ...Sifa kangen sama Papa ...Sifa takut mimpi Sifa akan menjadikan kenyataan kalau Papa ninggalin kita Sifa takut.


"Kamu yang tenang sayang, Papa tidak akan lupa siapa kalian dan sekarang Papa lega akhirnya Papa bisa ingat akan siapa kalian, Papa lega.


"Aku sangat bahagia sekali melihat kamu akhirnya sudah ingat siapa kita Richard," timpal Resya. Richard yang mendengar suara sahutan Resya, berbalik tatapan Richard pun berbalik menatap Resya yang masih berdiri tepat dihadapan pintu masuk.


"Kamu? Memangnya kamu siapa?" tanya balik Richard dengan tatapan kosongnya.


Bagaikan diterpa guncangan disiang bolong. Wajah Resya yang tadinya dipenuhi dengan aura bahagia sekaligus rasa kelegaannya, kini guncangan itu seketika hadir lagi setelah orang yang paling ia sayangi dengan langsungnya mengatakan sesuatu


"Richard kamu apa yang barusan kamu katakan tadi? Kamu ...tidak kenal siapa aku? Aku ...wanita yang kamu cintai. Kamu berhasil mengingat siapa mereka apa kamu masih lupa akan siapa aku?"tanya Resya dengan tatapannya yang melirik kearah semua orang.


"Wanita yang aku cintai? Sejak kapan aku mencintai Wanita seperti-mu?"tanya balik Richard yang membuat pandangan semua orang berbalik bingung menatapnya.


"Maksud kamu apa berkata seperti itu? Jadi kamu? Kamu sama sekali tidak ingat akan siapa aku?"


"Sama seperti apa yang barusan aku katakan tadi. Aku ...aku sama sekali tidak ingat siapa kamu? Memang siapa kamu dan berani sekali kamu mengatakan hal bohong seperti itu? Memangnya disini apa ada yang jadi saksi jika kamu adalah Istri-ku apa ada? Tidak kan? Jadi mendingan sekarang kamu pergilah karena aku tidak mau melihat-mu berada disini apalagi menatap wajah kamu secara langsung pergi ....


Bentakan yang akhirnya membuat nyali Resya menciut. Jika tadinya ia dipenuhi dengan rasa bahagia lantaran mengetahui kondisinya jika ia mengandung yang kedua kalinya. Tapi kini kebahagiannya itu seketika menjadi bumerang baginya, niatnya ingin memberikan kejutan tapi apa daya kejutan itu malah berbalik menusuk dirinya sampai keulu hatinya sekalipun.


"Baiklah jika kamu tidak percaya akan siapa aku Baiklah aku juga sudah capek. Aku sudah capek mempertahankan semua ini, jika selama ini aku berusaha sekuat tenaga dan batin-ku membantu kamu untuk ingat akan semuanya tapi aku sadar aku hanya wanita lemah yang mudah tergores akan luka ini. Sekarang aku mengalah dan biarlah kamu ingat dengan sendirinya akan siapa aku sebenarnya permisi ...


Satu ucapan yang hanya mampu ia lontarkan. Setelah mengucapkan kata itu tidak terlihat lirikan yang dilakukan Resya.


Aku tahu hari-hari ku memang selalu dipenuhi kehidupan Sandiwara. Sandiwara... dimana aku seolah-olah menjadi seseorang yang bersikap kuat, tabah.


Selangkah Resya akan melangkahkan kakinya masuk kedalam mobilnya. Akan tetapi belum juga ia sampai ditempat yang ingin ia tuju, ia sudah dibuat terkejut dengan hadirnya mobil hitam yang tiba-tiba menghadang disampingnya.


Beberapa orang bertubuh kekar mengenakan topeng wajah itu pun seketika keluar dari dalam mobil itu. Dengan rasa kepanikan yang seketika menyerangnya, ia berusaha akan berteriak.


Akan tetapi belum juga ia mampu berteriak sekeras mungkin, salah seorang dari mereka menyemprotkan cairan bius tepat diwajahnya yang seketika membuatnya jatuh pingsan tak sadarkan diri.


Berhasil menjalankan misi yang diinginkan, seseorang itu membopong tubuh Resya, memasukannya kedalam mobil hitam yang telah mereka kendarai.


Berada didalam ruangan yang terlihat sangatlah sepi tanpa ada seseorang sekalipun dan hanya sendiri dalam kondisi kedua tangan dan kaki yang masih dalam keadaan terikat beberapa kali Resya mencoba menenangkan pikirannya yang selalu kacau, sekaligus bingung apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini.


Setiap detik banyak sekali pertanyaan tentang nasib buruk yang tengah ia pikirkan. Namun hal yang paling ia takuti dari semua itu adalah kematian, ia takut jika orang jahat yang sedang menyekapnya akan bertindak nekat untuk mencelakai dirinya. Apalagi jika sampai orang yang menyekapnya adalah musuh dari Suaminya.


Belum juga rasa was-was nya hilang ia sudah dibuat terkejut sekaligus ketakutan setelah pintu yang tiba-tiba terbuka dengan berbarengan langkah kaki seseorang yang mulai menunjukkan sepatu berwarna hitam yang perlahan-lahan mulai menghampirinya


Pandangan sekaligus matanya seketika terdiam bahkan tidak berkedip setelah ia melihat siapa seseorang yang mulai menghampirinya


beberapa kali Resya mencoba menenangkan pikirannya yang selalu kacau, sekaligus bingung apa yang sebenarnya terjadi. Dan siapa pria itu, apa yang ingin dia lakukan padanya.


Dua pria bertubuh kekar, pakaian yang serba hitam sekaligus topeng yang menutup seluruh wajah dan hanya menyisakan matanya yang hanya terlihat mengedipkan matanya.


Melangkah menghampiri Resya yang sedang duduk di atas kursi dengan kondisi kedua tangan dan kakinya yang terikat dengan rantai besi membuat Resya tak mampu lagi untuk melakukan pemberontakan.


"Hay wanita yang manis apa kamu masih mengingat akan siapa aku?" tanya Pria satunya yang hanya menunjukkan senyum sinisnya.


"Siapa kamu? Kenapa kamu menculik-ku dengan cara seperti ini, siapa kamu sebenarnya?" gertak balik Resya yang terlihat mencoba untuk tidak takut padanya.

__ADS_1


"Astaga ternyata setelah sekian lamanya kita tidak pernah berjumpa, kamu cepat sekali melupakan aku," balas Pria itu.


"Maksud kamu apa? Memangnya aku kenal dengan siapa anda?"


"Jelas aku kenal siapa anda. Karena aku bukan hanya dengan anda, tapi aku juga kenal dengan siapa Suami anda suami anda itu laki-laki yang bernama Richard Betranto itu kan?"


"Kamu? Darimana kamu tahu akan nama seseorang itu?" tanya Resya yang mulai panik.


"Dia musuh terbesarku jadi mana mungkin aku akan lupa siapa dia. Dan kamu? Kamu adalah kambing hitam-ku untuk membuat laki-laki itu menyerahkan diri. Jadi mungkin dengan cara membunuh-mu aku akan bisa puas melihat kehancurannya Pria bernama Richard itu.


"Erlangga apa kamu beneran Erlangga? Musuh bebuyutan Richard selama ini? Dia ...dia sudah meninggal jadi mana mungkin dia bisa hidup lagi, tidak ini semua pasti cuma tipuan kan?"


Para Pria itu yang melihat ekpresi Resya nampak ketakutan. Mereka hanya bisa memicingkan mata, memperhatikan makhluk di hadapannya saat ini.


"Kau satu-satunya manusia yang tidak gentar melihat wajahku dengan tatapan tajam seperti itu Wanita cantik. Apa hanya kau yang memiliki mata sehat di muka bumi. Apa kamu sangatlah pemberani sampai-sampai dengan beraninya selalu saja menatap-ku dengan tatapan tajam seperti itu?"sambung Pria yang satunya.


Pria itu mendekati Resya dengan senyuman menyeringai. Pria itu seakan merasa ada perlawanan yang menantang dalam diri seorang wanita yang ada dihadapannya.


Seperti biasa, Resya hanya diam memperhatikan setiap gerak gerik yang pria ini lakukan. Wajahnya sama sekali tidak menampakkan ingin menjawab setiap kalimat yang dilontarkannya.


Bagi Resya waktunya terlalu sia-sia dengan hal yang tak berguna untuk ia menjawab pertanyaan yang dilontarkan pria-pria kejam yang berada dihadapannya.


Pria itu mengangkat tangannya ke atas, seakan ingin memberikan tamparan keras pada wanita bernama Resya.


Memperhatikan setiap tatapan yang ditunjukkan pada Pria kejam ini. Resya akhirnya buka suara karena ia tahu dengan berdiam diri mungkin cara itu tidak akan bisa menyelesaikan masalah. Apalagi musuh yang ada dihadapannya bukanlah seseorang yang biasa.


"Apa sebenarnya mau mu? Apa kamu ingin membunuhku? Jika kamu ingin membunuhku silahkan karena aku tidak akan pernah takut.


"Apa kamu bilang. Apa kamu mengancam ku?" tegas pria itu.


"Iya aku berani sama anda. Bahkan jika anda ingin membunuh-ku silahkan aku tidak perduli," balasnya yang seakan-akan menantang balik Pria itu.


"Kau sudah berani rupanya," herdik pria itu.


"Jika anda inggin membu*uhku, aku malah berterima kasih sekali sama anda. Lantaran anda mau membantu saya untuk mengakhiri hidup yang sama sekali gak ada gunanya ini, jadi silahkan bunuh-lah aku," timpalnya dengan berpasrah diri.


Ucap dan air mata Resya yang sama-sama jatuh berbarengan dengan diselimuti suara yang tersedu-sedu dan dengan menunjukkan senyum lepas yang dilakukan Resya membuat kelima pria yang berada dihadapannya hanya bisa terdiam, dan tidak berani berkata sepatah kata pun lagi.


"Kenapa kalian semua sekarang jadi kompak diam seperti ini, ayo cepat singkirkan wanita yang ada dihadapan kalian ini sekarang, ayo cepat lakukan!" perintah Pria yang satunya dengan tegas.


"Maaf Tuan jika anda menyuruh saya untuk menembak gadis ini, maaf saya tidak bisa melakukannya. Dia seusia adik perempuan saya jika adik saya ada diposisi gadis ini, mungkin sebagai abang saya tidak mampu melakukan semua ini, maaf saya tidak sanggup.


"Baiklah jika kamu tidak sanggup untuk menembak wanita ini, maka baiklah biar saya sendiri yang akan menembaknya.


Melangkahkan kakinya ke-depan, sembari menodongkan sebuah pist*l kearah Resya, Resya yang sudah berpasrah diri ia pun akhirnya hanya mampu memejamkan kedua matanya secara perlahan.


Dyar...


Suara ledakan pun akhirnya berbunyi, spontan Pria itu dan ketiga temannya pun membuka matanya, tapi ternyata peluru bukan mengenai sasarannya yaitu Resya yang sudah dihadapannya, melainkan peluru itu pun sengaja dilepaskan kearah samping dan tidak jadi mengenai Resya.


"Tuan apa yang terjadi kenapa Tuan gak jadi menembak wanita ini?"tanya Pria itu.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2