
Langkah kaki seseorang perlahan melangkah menghampiri Sifa yang sedang duduk di atas kursi dengan kondisi kedua tangan dan kakinya yang terikat. Seseorang itu menunjukkan raut wajah cerah dan terlihat senang. Akan tetapi dibalik wajah senangnya ada sesuatu yang aneh terjadi didalam diri pria itu.
"Hai, gadis manis apa kamu masih mengingat siapa aku. Jelas pastinya kamu masih mengenalku bukan?" sebuah suara angkuh datang dari pria dengan serba hitamnya. Tubuhnya itu tampak kekar dan kuat.
Erlangga memicingkan mata, memperhatikan makhluk di hadapannya yang masih memakai perlengkapan seragam sekolah.
"Kau satu-satunya manusia yang tidak gentar melihat wajahku dengan tatapan tajam seperti itu gadis manis. Apa hanya kau yang memiliki mata sehat di muka bumi? apa kamu sangatlah pemberani sampai-sampai dengan beraninya mempermainkan sesosok seperti Erlangga," Erlangga mendekati Sifa dengan senyuman menyeringai. Erlangga seakan merasa ada perlawanan yang menantang dalam diri Sifa.
Seperti biasa, Sifa hanya diam memperhatikan setiap gerak gerik yang Erlangga lakukan. Wajahnya sama sekali tidak menampakkan ingin menjawab setiap kalimat yang dilontarkannya. Bagi Sifa waktunya terlalu sia-sia dengan hal yang tak berguna untuk ia menjawab pertanyaan yang dilontarkan pria kejam yang berada dihadapannya.
"Kau bocah kecil, tapi kulihat di saat berada di antara mereka kau adalah binatang buas.
Erlangga mengangkat tangannya ke atas, seakan ingin memberikan tamparan keras pada gadis yang masih duduk di bangku SMA tersebut.
Memperhatikan setiap tatapan yang ditunjukkan pada Pria kejam ini. Sifa akhirnya buka suara karena ia tahu dengan berdiam diri mungkin cara itu tidak akan bisa menyelesaikan masalah. Apalagi musuh yang ada dihadapannya bukanlah seseorang yang biasa.
"Apa sebenarnya mau mu apa kamu ingin membunuhku? jika kamu ingin membunuhku silahkan karena aku tidak akan pernah takut.
"Apa kamu bilang. Apa kamu mengancam ku?
"Erlangga Nickolas bukankah itu namamu. Dan bukankah ibu kandungku bernama Bibik Minah yang dimana beberapa tahun lalu beliau pernah bekerja disalah satu Rumah bertuan atas nama Richard betranto bukankah itu salah satu musuh yang membuatmu takut," tantang Sifa dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
"Siapa sebenarnya kamu? dan dari mana kamu bisa kenal dengan nama Pria sialan itu? bentaknya tapi tak membuat Sifa terlihat takut.
"Pertanyaan yang sangatlah gampang. Apa anda sadar siapa seseorang yang berada dihadapan anda saat ini. Apa anda sadar siapa aku? apa anda sangat ingin tahu siapa aku? aku adalah Sifa... Putri kandung dari seseorang bernama Richard yang belasan tahun lalu pernah anda lenyapkan apa anda sadar sekarang," balasnya yang seketika membuat pandangan Erlangga terlonjak kaget.
"Kenapa anda begitu terkejut, saya memang berkata jujur. Kau bahkan mampu menghabisi anak buah papaku dengan satu tembakan, bukan? lihatlah, betapa hebatnya dirimu ini." Erlangga dan para bawahannya tertawa renyah ketika mendengar ucapan polos yang barusan dikatakan gadis manis tersebut.
"Ucapan mu memang benar anak manis , memang aku telah berhasil membunuh seseorang, hanya dengan satu tembakan mau pukulan. Dan aku juga mampu merenggut nyawa anak buah seorang mafia kejam di hadapannya.
Erlangga tertawa kecil. Entah apa yang lucu. Ia bertepuk tangan tiga kali, lalu bangkit dari duduknya."
Erlangga menatap Sifa dengan tatapan tajamnya. Dan kemudian ia menempelkan jari telunjuk di dagu Sifa.
"Kau anak muda yang baru saja merasakan bangku SMA, bersopan lah sedikit pada seseorang yang lebih tua darimu. Dan satu hal lagi apa kamu pernah bertemu dengan seseorang laki-laki yang paling kamu sayangi? tanya Erlangga dengan wajah sinisnya.
"Gadis yang sangat pemberani. Dan juga saya kalau kamu memang tidak lagi penyimpan hati untuk seseorang tapi aku rasa seseorang yang saya maksud akan membuat anda berlulut dan bersimpuh dihadapan ku.
"Omong kosong aku tidak percaya dengan tipuan bajingan seperti anda.
"Baiklah kalau kamu masih tidak percaya. Wiliam segera bawa seseorang itu dan perlihatkan pada gadis ini siapa seseorang yang berada didalam ruangan itu. Karena aku rasa dia pastinya tidak akan percaya siapa seseorang yang berada didalam sana.
"Baik Tuan.
__ADS_1
"Apa maksud dari Pria bajingan ini. Dan siapa seseorang yang ia maksud? batinnya yang tiba-tiba merasa penasaran.
Pandangan mata yang sedari tadi fokus melihat ke depan, betapa terkejutnya Sifa setelah ia melihat seorang pria terikat dengan rantai dengan tubuh babak belur karena telah dicambuk puluhan kali. Dan juga terdapat luka sayatan di sekujur tubuh pria tersebut. Bahkan rambut panjang yang dimiliki pria itu terlihat sangatlah kotor seperti tidak pernah terawat. Kumis tebal yang dimiliki laki-laki tidak berdaya.
Mata yang seketika terbuka lebar dan tidak akan pernah menyangka dengan pandangan apa yang ia lihat saat ini.
"Papa...ini beneran Papa...apa yang kamu lakukan pada Papaku apa kamu telah menyekapnya selama belasan tahun, lepaskan aku...lepaskan aku...
"Papa tidak ini tidak mungkin, Papa sudah meninggal ini tidak mungkin aku pasti lagi bermimpi ini tidak mungkin.
"Gadis manis apa kamu masih tidak bisa mempercayainya? apa kamu masih tidak percaya dengan siapa kamu sedang berhadapan saat ini apa kamu masih tidak mempercayainya atau mungkin kamu tidak percaya kalau Papa kandung kamu ternyata masihlah hidup. Baiklah berubung aku orang baik aku akan menceritakan semuanya sama kamu karena mungkin hari ini adalah hari pertama karena untuk yang pertama kalinya kamu bisa bertemu langsung dengan Papa kamu yang selama ini telah kamu anggap sudah meninggal. Dan mungkin nasib buruknya ini adalah hari terakhir kamu akan melihatnya karena setelah ini dia mungkin akan pergi ninggalin kamu untuk selamanya.
"Brengsek lepaskan aku...lepaskan aku...
"Wiliam mendingan sekarang kamu buka borgolnya biarlah dia menghirup udara segar untuk sementara waktu. Karena aku rasa biar pun kita membukanya dia juga gak akan mampu untuk berdiri mau pun melindungi dirinya sendiri.
"Baik Tuan.
Entah apa yang ada dibenak Erlangga atau ia hanya bersandiwara belaka dengan rasa percaya diri yang tinggi dan kesombongannya itu. Tanpa berfikir yang kedua kalinya Erlangga pun memerintahkan Wiliam yang tak lain anak buahnya untuk membuka borgol tersebut.
Kedua pergelangan tangan yang tadinya telah terborgol dan terikat kencang dengan rantai besi kini dalam hitungan menit semua ikatkan sekaligus borgol itu pun terlepas dari kedua tangan Richard.
__ADS_1
Dengan keadaan berlulut tepat dihadapan Erlangga, dengan kasarnya Erlangga pun memberikan pukulan demi pukulan yang membuat darah segar pun mengalir dari kedua sudut bibirnya.
BERSAMBUNG.