
"Gimana apa tugas yang saya perintahkan tadi sudah berhasil kamu laksanakan?"tanya Richard pada Gibran yang pada saat itu sedang menghampirinya.
"Iya Tuan ini yang aku inggin sampaikan pada Tuan. Setelah aku menyelidiki nama seseorang yang Tuan perintah tadi, saya tidak menemukan data yang cocok dengan nama Monika fatamorgana, tapi yang kedua setelah aku menyelidiki lagi nama Monika verlanta saya menemukan data yang cocok dengannya,"ujar Gibran yang spontan membuat Richard pun terkejut, ia langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Maksudmu data dengan nama Monika Fatamorgana tidak temukan?"tanyanya lagi.
"Iya seperti yang saya katakan tadi Tuan. Ini adalah berkas sekaligus data yang saya maksud tadi yang dimana data ini mengarah ke arah Nama Monika Verlanta. Ada apa Tuan kenapa Tuan tiba-tiba Tuan inggin saya mencari tahu identitas dari seseorang pemilik nama ini, memangnya siapa pemilik nama ini Tuan?"tanya Gibran dengan menunjukkan tatapan penasarannya.
" Nama Ini adalah nama asli dari Mertua saya yaitu Mamanya Monika. Sekarang aku tambah semakin bingung sekaligus terheran bagaimana mungkin bisa data itu bisa tidak sama, jika nama Monika Fatamorgana tidak cocok di data kependudukannya, bearti ia telah memalsukan identitasnya selama ini? Apa alasan kenapa Mama menyembunyikan data dirinya dariku?" tanyanya dengan menunjukkan ekspresi yang tidak percaya.
"Menurut saya pasti ada sesuatu yang tidak beres dengannya Tuan, atau bisa dibilang pasti dia sedang menyembunyikan rahasia besar dari Tuan, dendam yang Tuan ceritakan ke kami kemaren bukannya ini tambah semakin jelas bukan! Saya berfikir semua ini sudah jelas ada kaitannya dengan dendam masa lalu itu?"
"Iya yang kamu katakan memang benar, yang bikin aku terheran dan penasaran apa dendam yang Mama sembunyikan dariku. Baiklah aku akan membaca terlebih dulu data yang berada diberkas ini siapa tahu apa petunjuk baru yang bisa terpecahkan!"ujar Richard lagi.
"Baik Tuan!"balas yang kemudian Gibran pun kembali pada tempat semulanya.
******
Terduduk salam salah satu kursi dan fokus pada beberapa kertas yang sudah pada berserakan di mejanya, Richard pun meriksa satu persatu lembaran demi lembaran dan tulisan-tulisan yang akhirnya perlahan-lahan ia pun mulai menemukan titik terang setelah ia tahu siapa nama orang tua dari Monika.
"Santos prakoso dan Herlina permata sari jadi ini nama Mama dan Papa dari Mama Monika, jika saja mereka masih hidup pasti mereka bakal memberitahuku seperti apa sifat dari Mama Monika yang sebenarnya, tapi sayangnya mereka sudah meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya jadi sekarang apa yang harus aku lakukan? Dengan siapa orang yang bakal bisa membantuku?"ucap Richard yang merasa bingung, akhirnya ia pun mengacak-acak rambutnya untuk melampiaskan kekesalannya ini.
"Tunggu nama Papaku adalah Rico Herlano? Dulu Mama Monika bilang kalau mereka itu sudah bersahabat sejak duduk di bangku SMA dan SMA itu adalah SMA Cenderawasih apa mungkin jika aku selidiki disana aku bisa menemukan bukti yang lebih jelas sekaligus bisa mengetahui data diri dari teman-teman sekelas mereka dulu, iya itu ide yang bagus dan yang perlu aku lakukan sekarang, aku harus menyamar di SMA itu menjadi anak SMA tapi bagaimana mungkin itu bisa, baiklah bukanlah Richard namanya kalau dia tidak mampu melakukan hal yang mustahil untuk dilakukan?"ucapnya dengan menunjukkan senyum sinisnya, beralih ia pun menggambil barang berbentuk pipih yang berada didalam sakunya, tak lama ia pun langsung memencet salah satu nomor yang tertera disana.
📞 "Gibran bisakah kalian masuk keruang pribadiku sekarang?"perintah Richard kemudian.
__ADS_1
📞" Baik Tuan saya akan segera kesana!" balas Gibran yang kemudian dia pun bergegas beranjak pergi dari tempat duduknya, tak lupa ia lun mengajak kedua temannya.
10 MENIT KEMUDIAN.
"Iya Tuan ada apa? Kenapa Tuan menyuruhku untuk datang ke Ruang pribadi Tuan ini. Apa Tuan sudah mulai menemukan titik terangnya?" tanya Gibran pada salah satu Pria yang sedang terduduk dengan menyilangkan kakinya, melihat kehadiran mereka, ia lantas langsung beranjak berdiri.
"Iya perlahan-lahan aku sudah mulai menemukan titik terangnya, tapi sayangnya aku belum dapat bukti sebanyak yang aku mau. Sekarang aku punya rencana, gimana aku inggin menyelinap di Sma Cenderawasih dan Kampus Screen sun dimana kedua tempat itu adalah tempat dimana Mamanya Sandra dan Papaku menempuh pendidikan disana. Aku inggin menyelinap disana karena aku sangat penasaran, ingin segera mengetahui titik dari permasalahan ini, jadi kalian bisa kan membantuku untuk menyelinap di Kampus Screen Sun?"
"Baiklah Tuan bagiku dalam masalah menyelinap itu tugas yang sangat mudah jadi aku tidak keberatan untuk melakukannya,"balas Gibran yang kemudian ia malah tertawa.
"kenapa kamu malah tertawa. Apa perintah yang saja tujukan ke kamu sangatlah lucu?" tanya Richard dengan tegasnya. Tak lupa ia menunjukkan raut wajah seramnya.
"Bukan gitu saya hanya inggin memberi saran mendingan Tuan aja yang menyelinap di Kampus itu sedangkan kita yang menyelinap di SMA itu. Karena saya raya melihat umur Tuan sekarang ini, itu sangatlah tidak mungkin jika rencana Tuan itu akan berhasil. Karena yang ada mereka bakal meledek Tuan dan mencurigai Tuan?"ucap Gibran dengan ledakannya.
"Maaf Tuan saya inggin memberi saran saja,"ucapnya dengan menahan tawa.
"Kapan Tuan inggin menjalankan misi ini?"
"Nanti malam, semakin cepat itu bukannya tambah semakin bagus bukan?"
"Iya itu ide yang tepat, tapi jika aku, Reza dan David menyelinap di SMA itu, terus siapa orang yang akan menemani Tuan untuk menyelinap di kampus tersebut. Karena menurutku Tuan butuh seseorang untuk menemani anda, jadi saranku mendingan ajak Resya untuk membantu Tuan dalam masalah ini aku rasa dia akan mau dan tidak keberatan?"ujar Gibran.
"Itu ide bagus biar saya yang mengaturnya nanti, tapi Sandra apa dia akan marah dan curiga dengan niat Tuan yang tiba-tiba mengajaknya?" tanya Reza yang kemudian Richard pun berkata.
"Soal itu biar aku yang mengurusnya aku tahu apa yang harus aku lakukan sekarang!" balas Richard dengan tersenyum sinisnya.
__ADS_1
Dalam sebuah ruangan yang sama. Resya, Bibik dan juga yang lainnya yang pada saat itu sedang bersantai diruang tamu, tiba-tiba entah apa yang terjadi pada Richard sekarang Tanpa berkata mau pun mengucapkan sesuatu ia langsung menarik pergelangan tangan Resya dengan kasarnya.
"Cepat ayo kamu ikut aku sekarang!" tegas Richard dengan menarik tangan Resya dengan kasar.
"Apa maksud kamu? Kamu bawa aku kemana?"tanya Resya yang merasa sangat bingung melihat tingkah Richard yang tiba-tiba berubah saat ini.
"Kamu itu banyak tanya ya lagi, udah aku kasih tahu ngeyel lagi, cepat ayo kamu segera masuk kedalam mobil sekarang,cepat!" bentak Richard dengan tegas dan kasarnya ia langsung mendorong Resya masuk kedalam Mobil.
"Ada apa lagi ini, kenapa dia tiba-tiba jadi berubah lagi dan bersiap sangat kasar lagi kepadaku. Apa lagi-lagi dia salah paham kepadaku?" batin Resya yang terlihat takut dan sedikit cemas.
"Sayang apa yang inggin kamu lakukan kepadanya, apa kamu inggin menghukumnya?" tanya Sandra dengan penasaran.
"Iya aku akan menghukumnya."
"Tapi kenapa?"tanya Sandra dengan bingung.
"Aku tidak bisa jelaskan ke kamu sekarang, yang terpenting sekarang aku harus membawa dia ke Markas karena aku ingin memberi perhitungan ke dia, jadi aku harus pergi sekarang, kamu jaga Rumah!" tegas Richard yang kemudian ia pun bergegas langsung masuk kedalam mobil.
"Baiklah, aku akan tetap disini bersama dengan Mama dan Bibik," balas Sandra. Dan tanpa menunggu Richard pun langsung menjalankan laju kendaraannya.
"Richard terlihat sangat marah, kira-kira apa yang inggin dia lakukan pada si gadis bodoh itu. Apa dia akan menghukumnya dengan hukuman yang sangat berat!" batinnya dengan tertawa secara diam-diam.
"Apa yang inggin Tuan lakukan pada Nyonya. Apa Tuan beneran ingin menghukumnya?" batin Bibik yang merasa cemas.
BERSAMBUNG
__ADS_1