Penjara Cinta Mafia Kejam

Penjara Cinta Mafia Kejam
BAB 17 CIUMAN KEDUA.


__ADS_3

Aku tidak pernah tahu kenapa hidupku harus menderita dengan cara seperti ini, dulu pada saat aku masih bersama dengan kedua orang tuaku hidupku tidak pernah se'menderita ini. Tapi kenapa engkau tega mengambilnya dariku.


Dan kenapa sekarang pada saat aku sudah menikah dan sudah memiliki seorang Suami kenapa hidupku harus mengalami penderitaan seperti ini bahkan Suami yang harusnya melindungi Istrinya dari mara bahaya, ia malah tega menembak-ku dan tidak perduli dengan kondisiku mau pun menghargai-ku sebagai Istrinya. Apa aku memang sangatlah tidak pantas untuk bisa merasakan apa arti kebahagiaan yang sesungguhnya.


Ternyata untuk menggapai apa yang kita inginkan, ada banyak sekali cobaan yang harus kita hadapi terlebih dulu. Aku sadar aku ini siapa, aku hanya wanita yang beruntung karena bisa menikah dengan seorang laki-laki tampan seperti Richard tapi wanita sepertiku memang sangatlah tidak pantas berada ditengah-tengah keluarga mereka


Bukan aku yang menginginkan semua ini tapi kamu sendiri yang memaksaku berbuat tega seperti ini.


"Tuan sekarang apa yang harus kita lakukan?"tanya Gibran pada Richard yang sedari tadi sibuk merapikan beberapa senj*ta.


"Maksud kamu apa," tanya Richard kemudian.


"Tuan sendiri juga tahu dengan Tuan membebaskan istri tuan, dan jika nasib wanita itu selamat dan dia melaporkan masalah ini dan memberitahu polisi apa yang harus kita lakukan.


"Soal itu, kenapa? Apa kamu takut? Apa kamu takut dipenjara?" tantang Richard yang akhirnya membuat Gibran hanya bisa terdiam.


"Tuan Richard gawat markas kita telah didatangi orang-orang luar dari wilayah kekuasaan kita ini?" teriak anak buahnya.


"Maksud kamu apa Rez? Memangnya alat pendeteksi yang kamu pegang memberi kode akan kedatangan tamu yang tidak diundang?" tanyanya dengan tegas.


"Biar lebih jelas lagi sekarang Tuan lihat sendiri."


"Baiklah."


"Sinyal dan kode merah telah nyala yang artinya menandakan jika ada seseorang yang berhasil menyelinap masuk kedalam markas ini.


"Sial, coba kamu perlihatkan cctv nya. Sebelum kita melarikan diri dari sini aku inggin melihat siapa orang itu.


"Baik tuan.


"Polisi benar dugaan-ku kan baru aja aku bungkam ketakutannya benar-benar terjadi. Jadi sekarang tunggu apa lagi ayo kita segera pergi dari sini sekarang.


"Sial polisi lagi, dari mana mereka tahu tempat persembunyian kita. Semua ini pasti ulah wanita itu.


"Tuan kita tidak ada waktu lagi, secepatnya kita harus segera pergi meninggalkan tempat ini jika tidak inggin kita mendekam dipenjara.


"Baiklah kita bawa alat pendeteksi dan beberapa senj*ta kita kemudian kita lewat terowongan bawah tanah yang akan tertuju pada pintu keluar nanti.

__ADS_1


"Baiklah. Semua senjata sudah aku bawa tuan sekarang cepat kita pergi dari sini.


"Baik cepatlah.


Pergi meninggalkan ruangan ini dan lewat terowongan yang bisanya hanya mampu dilewati satu per orang dan dengan membungkuk Akhirnya mereka pun berhasil keluar dari ruangan yang sudah dikepung oleh para Polisi.


Resya yang saat ini masih terbaring diatas brangkar Rumah sakit. Tiba-tiba ia kepikiran Richard.


"Kenapa sekarang perasaanku jadi gak tenang kaya gini, harusnya setelah aku memberitahu mereka tentang keberadaan Richard dan anak buahnya aku menjadi senang, tapi kenapa yang aku rasakan kenapa aku malah jadi gelisah gini. Apa mereka akan tertangkap.


"Gak usah kamu mikirin mereka Res, apa yang mereka lakukan tidak sebanding dengan perbuatan yang kamu lakukan ini. Jadi jangan kamu merasa kasihan kepada mereka," gumamnya yang tetap tenang.


" Sandra. Sebenarnya apa motif yang sebenarnya yang telah ia sembunyikan dari Richard, jujur sebagai seorang wanita harusnya ia tidak semudah itu merelakan Suaminya untuk menikah lagi, tapi apa yang ia lakukan ia malah menyuruh Richard menikah lagi tanpa sebab yang pasti. Aku rasa semua ini ada yang tidak beres dan aku harus menyelidiki masalah ini.


Dipenuhi rasa was-was yang tiba-tiba menyerangnya. Resya akhirnya sudah tidak ada pilihan lain lagi nekat melarikan diri dari Rumah sakit ini itulah yang ia lakukan sekarang. Mencabut infus yang masih tertempel pada telapak tangannya dan bergegas ia pun pergi dari ruangan ini dengan cara mengendap-endap.


"Akhirnya kita bisa keluar juga dari pintu darurat ini sekarang ayo cepat kita pergi dari sini sekarang.


"Tunggu, untuk mengelabui mereka mendingan kita berpencar karena jika kita berkumpul jadi satu polisi akan tambah mudah menangkap kita. Jadi jika diantara kita ada yang tertangkap salah satu dari kita ada yang berhasil meloloskan diri.


"Baiklah itu ide yang bagus tuan," timpal Resya.


"Baik tuan," balas Gibran.


"Hey jangan lari kalian," teriak salah satu Polisi yang memergoki mereka.


"Siap polisi itu melihat kita, cepat kita pergi dari sini. Perintah Richard yang kemudian anak buahnya pun berlari meninggalkan lokasi ini.


Dayrrr...Dyar....Dyar...


"Hey jangan kabur. Kapten mereka melarikan diri ke-beberapa arah kapten."


"Sial cepat kejar mereka dan jangan sampai mereka berhasil meloloskan diri. Perintah Kapten Revan yang kemudian mereka semua pun berpencar.


Dyar..


"Aww lenganku dasar breng*ek ia menembak lenganku rasakan ini!" ucap Richard yang kemudian ia pun menembakkan dua peluru kearah polisi itu.

__ADS_1


Dyar ...Dyar..


"Sial ia melawanku," gertak sang Polisi yang berhasil menghindari serangan pelu*u yang hampir mengenainya.


"Aku harus segera pergi dari sini aku gak mau sampai tertangkap oleh mereka. Apalagi dengan luka tembakan yang aku alami ini bisa-bisa aku kehilangan banyak darah jika tidak segera meloloskan diri dari mereka," ucapnya sembari berlari dan menggenggam lengan tangan kirinya dengan keras.


Dan tepat di perbatasan kampung yang jalannya terbilang sangat sempit, tiba-tiba ada seseorang yang langsung menarik tangan kanannya dan membawanya di-gang sempit yang terlihat sepi dan sedikit gelap karena kurangnya lampu menyinarinya.


Wajah Richard seketika terkejut setelah ia tahu siapa orang yang telah membawanya ketempat sempit seperti ini.


" Kamu? Apa yang kamu lakukan kenapa kamu malah menolongku dan membawaku kesini?" tanya Richard dengan menunjukkan tatapan sinisnya. Yang kemudian Resya yang mendengarnya ia seketika langsung membungkam mulut Richard.


"Jangan banyak bertanya. Di sekitar sini masih ada polisi yang mengincar-mu jadi kamu harus diam. "Perintah Resya yang seketika membuat Richard pun terdiam.


"Kamu pikir kamu siapa?" bentak Richard yang langsung menghempaskan tangan Resya darinya.


Membawa kabur Richard dan menyembunyikannya disalah satu gang sempit perasaan Resya tiba-tiba jadi kurang tenang. Membawa kabur seorang buronan maka taruhannya adalah nasib ia sendiri, bahkan lebih parahnya resiko yang akan ia dapat jika ia sampai ketahuan oleh para Polisi, mungkin ia juga bisa mendekam didalam jeruji besi akibat kecerobohan atas tindakan yang ia lakukan saat ini.


Mendengar ada suara polisi yang bertanya pada salah satu seorang penguna jalan, Resya menatap kearah Richard dengan tatapan bingung. Lantas gak ada pilihan lain lagi ia pun segera melepaskan jaket hitam yang ia kenakan beserta topi hitam yang ia kenakan tadi. Dengan langsung ia pun memakainya pada tubuh Richard.


"Apa yang lakukan? Aku gak butuh semua ini?"gertak Richard yang merasa sedikit marah, akan tetapi melihat Resya yang menatap dirinya dengan tatapan serius Richard dibuat terkejut lantaran Resya yang semakin menatap dirinya. Sekaligus perlahan lahan Resya semakin mendekatkan wajahnya ke arah Richard yang seketika membuatnya tambah semakin bingung.


"Wanita breng*ek apa yang inggin kamu lakukan? Kamu lupa siapa orang yang sedang kamu tatap sekarang?" tanya Richard yang kemudian dia pun berjalan mundur perlahan-lahan, yang akhirnya membuat Richard tambah semakin terdesak lantaran dia sudah sangat terpojok. Karena posisi belakangnya sudahlah tembok.


Mendengar pria dihadapannya bingung dengan menunjukkan tatapan sinisnya, tanpa berkata lagi Resya langsung menci*m bibir Richard dengan perlahan. Tersadar dengan apa yang dilakukan wanita ini sekarang, tubuh Richard rasanya seperti terikat bahkan mulutnya gak mampu untuk dia ucapkan satu kalimat pun lagi. Bahkan untuk memberontak rasanya ia tak sanggup.


"Gimana apa kamu menemukan buronan itu?"


"Tidak. Kayaknya ia berhasil melarikan diri dari kejaran kita," ucapnya yang kemudian tak sengaja melihat dua sejoli yang sedang berci*man.


"Hm ..apes banget ya malam-malam gini melihat pemandangan kaya gini?"balasnya yang melihat kearah dua seseorang yang sedang berciuman.


"Sudah-sudah ayo kita pergi, lagian disini tidak ada apa-apa lagi, sudah ayo cepat pergi!" Perintahnya yang kemudian dua polisi itu pun bergegas pergi dari tempat ini.


Setelah para preman itu pun akhirnya pergi meninggalkan mereka tanpa ada rasa curiga sama sekali. Richard yang melihat kepergian mereka, dia pun merasa sangat lega sekarang tapi merasakan dua bibir yang masih tertempel dalam satu sama lain Richard seketika terdiam dan tidak berkutik.


"Hu ... syukurlah rencana-ku akhirnya berhasil juga?" ucap Resya yang kemudian ia pun melepaskan cium*n mereka. Melihat Richard yang seketika terdiam, Resya pun menatap kearahnya dengan tatapan sedikit bingung.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2