
Memang penyesalan pada dasarnya akan terjadi diakhir-akhir dimana seseorang akan merasa sangat menyesal dengan perbuatan yang pernah mereka lakukan dimasa lalu. Ibarat kata seperti nasi yang sudah terlanjur menjadi bubur, mau diapakan juga sudah tidak bisa menjadi seperti semula. Sama halnya dengan apa yang dirasakan Sifa saat ini.
Didunia ini pastinya banyak orang yang sudah melakukan kesalahan yang akhirnya membuatnya sangat menyesal atas tindakan yang pernah mereka lakukan dimasa dulu. Dan mungkin penyesal itu yang akhirnya menghantui dirinya sendiri ketika dia menginggat apa yang sudah pernah mereka lakukan kepada seseorang itu.
Dan dipikir-pikir dunia ini cepat sekali berputar, dimana malam yang dengan cepatnya berganti pagi yang kemudian menyinari alam semesta ini. Dan sama halnya dengan apa yang aku alami sekarang ini, jika dulu aku masih punya semangat hidup karena aku berfikir masih ada orang yang peduli dan sayang kepadaku, tapi ternyata semua itu hanyalah tipuan belaka. Karena ternyata orang yang sangat aku percayai diam-diam mereka telah menghancurkan kepercayaanku ini.
Kekasih yang dulunya sangat aku percayai dan sangat aku banggakan ternyata diam-diam mereka telah menusukku dari belakang. Teman yang dulunya menjadi teman curhatku sekarang telah berubah menjadi musuhku sendiri. Ya seperti itulah kehidupan yang aku alami saat ini.
Tapi dengan kejadian itu aku berfikir aku harus menjadi orang yang lebih baik lagi. Aku harus menjadi orang yang tahan akan banting. Dan pastinya hal itu telah menyadarkanku agar aku bisa bangkit dari kepurukan ini, aku tahu ini mungkin sangatlah susah tapi aku yakin aku pasti bisa melewati semua ini.
Dan mulai sekarang aku harus menjadi diriku sendiri kamu boleh memikirkan kebahagiaan orang lain, tapi kamu harus mengutamakan kebahagiaan kamu terlebih dulu, Sifa yang dulu telah hilang. Dan sekarang hanya ada Sifa yang baru, Sifa yang akan kuat melewati semua rintangan yang menghadangnya.
Dalam perjalanan Sifa menuju ke tempat kantor kepolisian Gangnam, nasib apes pun lagi-lagi menghampiri Sifa, gimana mobil yang dia kendarai tiba-tiba mengalami mogok ditengah jalan karena ban depan mobil yang tiba-tiba kempes.
"Lah ini kenapa? Kenapa mobilku tiba-tiba berhenti seperti ini? gumam Sifa yang kemudian dengan wajah kebingungan, dia pun turun dan memeriksanya.
"Astaga bannya kempes lagi. bagaimana ini dong, apa yang harus aku lakukan sekarang, mana sekarang sudah jam 06:40 lagi!" ucapnya sambil melihat jam tangannya.
"Apa yang harus aku lakukan, aku harus melakukan sesuatu?" ucapnya lagi yang kemudian dia melihat ada bis yang berhenti tepat tak jauh dari arahnya, dikarenakan ada penumpang yang mau naik.
Sedangkan jam yang sudah menunjukkan pukul 06:40 yang artinya hanya menghitung menit dia harus segera sampai di-gerbang Kantor kepolisian agar dia tidak telat. Akhirnya tanpa memikirkan apaun lagi Sifa pun memutuskan untuk naik bis tersebut. Karena hanya dengan jalan itu satu-satunya bagi Putri agar terhindar dari hukuman disekolah.
Biarpun anak orang kaya, bagi Sifa naik bis adalah sesuatu yang sangat menyenangkan baginya. Dan dia juga tidak merasa malu ketika harus menaikki bis dan berkumpul dengan banyak orang.
"Untung saja aku bukanlah anak yang manja yang akan malu ketika naik bis. Dan berkerumun dengan mereka seperti ini?"batinnya yang kemudian dia pun segera naik, akan tetapi setelah dia masuk kedalam bis tersebut dia dibuat terkejut lantaran sudah tidak ada bangku yang kosong untuk dia duduki.
"Yah bangkunya sudah penuh, jadi mau gak mau harus berdiri nih, baiklah tidak apa-apa?" ucapnya dengan santai.
Entah suatu kebetulan ataupun tidak sengaja ternyata Rasya juga naik kedalam bis yang juga dinaiki oleh Sifa.
Sedangkan disisi lain Sifa yang melihat ada seorang ibu yang kira-kira berumur 45 tahunan yang sedang hamil tua dan berdiri tepat disamping Rasya. Merasa kasihan kepada ibu itu dan kesal terhadap laki-laki yang bersikap seperti tidak perduli terhadap orang lain, dengan beraninya Putri pun langsung menarik handset yang masih tertempel di-kuping Rasya.
Karena terkejut dengan apa yang dilakukan gadis itu yang tak lain adalah Sifa, Rasya pun langsung menghadapinya.
__ADS_1
"Hey apa yang kamu lakukan, kenapa kamu menarik alat pemutar musikku, apa kamu terganggu atau lagi ada masalah dengan-ku?" gertak balik Rasya dengan tatapan agak melotot, tapi tatapannya seketika berubah setelah ia sadar siapa seseorang yang sedang ia hadapi saat ini.
"Sifa?" tanyanya dengan wajah yang sedikit terkejut.
"Ternyata kamu? Pantesan gak punya hati!" gumamnya berlalu Rasya pun mendengarnya.
"Apa kamu bilang?" tanya balik Rasya sedikit menantang.
"Polisi tapi tak punya hati?"
"Apa maksud-mu? Kalau kamu ada masalah langsung bilang jangan hanya bermodal nyindir saja?"
"Dah-lah males ngomong sama pria tak punya hati seperti-mu. Oh iya satu kali lagi apa kamu tidak punya mata atau pun hati sehingga kamu dengan teganya memperdulikan seorang ibu-ibu yang sedang membutuhkan bangku untuk ia duduki. Dia sedang hamil jadi harusnya kamu paham!"
"Baru kali ini aku lihat ada cewek yang peduli sama seseorang yang sama sekali tidak dia kenal?"batin Rasya yang kemudian malah melamun.
"Hey kenapa kamu malah diam, apa kamu budek?"bentak Sifa.
"Baiklah maaf Tante atas tindakanku yang tidak pantas ini, jadi mendingan sekarang tante duduk disini biar saya yang berdiri?"
"Iya saya serius duduklah?"
"Baiklah terima kasih?"
" Iya Sama-sama Tante?" balasnya dengan memberikan sebuah senyuman.
"Apa lo puas!" ucap Rasya sembari menatap kearah Sifa.
"Dasar!" balas Putri yang kemudian membuang mukanya dan menatap kearah samping.
Karena tidak ada tempat duduk lagi yang tersisa, akhirnya mau gak mau Rasya pun ikut berdiri juga yang tempatnya tak jauh dari tempat Sifa berdiri saat ini.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa jangan-jangan kamu masih kesemsem ya sama ketampanan-ku ini?" ucap Rasya yang agak meledek.
__ADS_1
" Gini nih kalau orang yang pedenya terlalu tinggi jadi dia sering ngawur kalau ngomong? Aku kasih tahu ya daripada aku lihatin kamu lebih baik aku lihatin tuh tiang listik, yang tingginya mirip sama kamu?" sindirnya sambil terlihat jutek.
"Yee dasar udah jutek ngatain lagi?" Balasnya yang agak jutek.
Sedangkan orang-orang yang mendengar perdebatan mereka, mereka pun menertawakannya secara diam-diam.
"Mas, Mbak lebih baik kalian jangan berdebat seperti ini terus, kata orang kalau orang yang sering berdebat seperti ini pasti ujung-ujungnya bakal jadian suatu saat nanti. Karena ada kemungkinan mereka itu berjodoh?" ucap salah satu orang yang juga penumpang dibis ini.
"Mas ini lucu ya, ya jelas gak mungkinlah kalau dia itu jodohku ngapain juga aku harus putusin dia. Karena jelas-jelas dia itu tukang selingkuh ya kali pacaran dan memperjuangkan seseorang gak punya hati seperti dia!" timpalnya.
Baru aja perdebatan mereka selesei, kejadian tak terduga pun terjadi yang akhirnya membuat mereka pun saling adu mulut. Dikarenakan ada seekor kucing yang menyebrang dengan sembarangan dan hampir saja tertindas oleh Bis itu, bis yang tadinya melaju dengan kecepatan cukup tinggi seketika sang supir pun langsung mengeremnya yang akhirnya membuat Sifa dan juga Rasya yang hanya berpegangan pada tiang pun seketika terkejut dan mereka pun akhirnya sama-sama terjatuh dalam satu pelukan.
Dengan posisi Sifa yang jatuh tepat di-dada Rasya dengan tatapan mereka yang akhirnya membuat mereka pun sama-sama melamun dan menatap kearah satu sama lain. Hampir 10 menit mereka melamun akhirnya kesadaran mereka pun tersadar setelah ada salah satu penumpang yang meledeknya.
"Sudahlah jangan pelukan terus, iri kita melihatnya?" ledek salah satu penumpang yang akhirnya membuat Rasya dan juga Sifa pun tersadar dan bergegas terbangun.
Melihat posisi Sifa yang berada tepat diatas tubuh Rasya akhirnya membuat Rasya pun seketika menghempaskan tubuh Sifa kesamping. Karena terkejut dengan apa yang terjadi pada mereka saat ini.
"Kamu? Apa yang kamu lakukan berani sekali kali mengambil kesempatan seperti ini, kamu pasti sengaja kan peluk-peluk aku tadi ayo ngaku?"ucap Sifa yang merasa kesal.
"Hey apa kamu udah gila, apa kamu tidak lihat tadi pak Supir sendiri yang tiba-tiba menggerem laju setirnya, jadi kalau kamu mau nyalahin orang salahin pak supirnya Dan aku kasih tahu kamu daripada aku harus peluk wanita mak lampir seperti kamu lebih aku peluk tuh tiang listrik sono?" ucap Rasya sembari menunjuk kearah tiang listik yang berdiri tegak dipinggir jalan.
"Ya sudah kalau kamu mau peluk tuh tiang listrik peluk saja biar sekalian kesetrum, dahlah malas berdebat terus sama laki-laki gesrek seperti kamu jadi lebih baik aku pergi saja?"
"Ya sudah pergi saja lagian siapa juga yang mau lo ada disini cepat pergi?" usirn Rasya yang agak memaksa.
"Ist..dasar lo ya?" kesel SIFA yang kemudian Sifa yang hendak akan pergi, dia tak sengaja menginjak kaki Rasya yang akhirnya membuat Rasya tambah kesal.
"Aw..kau? Berani sekali kamu menginjak kaku?" teriak Rasya.
"Bodoh!" jawab Sifa yang kemudian dia pun pergi dan turun dari bis ini.
"Dasar gadis tidak waras sudah tau kalau dia yang salah pake acara nyalahin gue lagi. Memang bener ya semua wanita itu sama aja tidak ada yang mau disalahin.
__ADS_1
"Kenapa sih dihari pertama-ku ingin melanjutkan cita-citaku aku harus dipertemukan lagi dengan pria gila itu lagi bikin mood turun aja. Mana sudah jam 06:00 pagi aku harus segera cepat-cepat sampai di-kantor Gangnam agar aku tidak mengecewakan Om Revan.
BERSAMBUNG.