Penjara Cinta Mafia Kejam

Penjara Cinta Mafia Kejam
MENINGGALNYA RASYA


__ADS_3

Beberapa regu tim Oren terlihat menyisir satu persatu tempat dimana terjadinya kecelakaan barusan. Nampak pandangan Putri, Mama dari Rasya hanya bisa menangis melihat kerumunan orang yang terlihat nampak sibuk untuk menemukan Rasya dalam tragedi kecelakaan ini.


"Aku mohon sayang kembalilah aku mohon kembalilah," ucapnya yang hanya bisa meneteskan air matanya.


"Dimana Pak apa tim penyelamat mampu menemukan Putra-ku katakan padaku dia masih hidup dan segera akan ditemukan kan. Ayo cepat katakan padaku?"


"Anda yang tenang kamu sedang berusaha mencari keberadaan Putra anda. Akan tetapi kita tidak bisa menjamin seratus persen jika kami berhasil menemukannya dalam keadaan masih hidup. Sungai ini bukanlah sungai biasa, tapi sungai ini adalah sungai bagi para buaya rawa hidup disini, sudah banyak kasus orang hilang disini dan kami berhasil menemukannya tapi sudah dalam kondisi tidak bernyawa. Dan pastinya luka robekan yang sangat serius hinga membuat jasad yang kami temukan tidak utuh. Kami hanya bisa mengatakan anda harus ikhlas menerima kepergiannya karena untuk bertahan hidup kemungkinannya sangatlah tipis.


"Tidak. Aku tidak percaya jika Putra ku ma*i dalam kecelakaan ini, aku tidak percaya!"


"Saya mengerti anda sangatlah lelah dan pastinya tidak bisa mempercayai semua ini, tapi inilah yang terjadi anda harus ikhlas anda harus ikhlas.


"Tidak, itu tidak mungkin Rasya ... Dia tidak mungkin meninggalkan aku, dia tidak mungkin meninggalkan aku ...

__ADS_1


Pukul 20:00 malam dimana tragedi kecelakaan itu terjadi. Dan sekarang sudah pukul 00:00 malam dimana sudah hampir beberapa jam Rasya berada didalam dasar air tanpa kondisi dan kepastian yang pasti apa dia masih hidup atau sudahlah ma*i. Mamanya yang hanya bisa meratapi sungai itu dengan air matanya yang tak henti-hentinya menetes membahasi kedua pipinya.


Ditambah lagi wajahnya yang terlihat pucat membuat Gibran Suaminya dan Putranya bernama Rasyel tidak tega untuk melihatnya.


"Sayang kamu beristirahat-lah kamu pasti sangat capek biar kami berdua yang disini kamu pulanglah," pinta Gibran tapi Putri tidak menghiraukannya.


"Tidak. Aku tidak akan pergi dari sini sebelum Putra-ku ditemukan. Aku tahu Rasya masih hidup, dan dia mendengarkan doa seorang Ibu yang sudah mengasuhnya sejak usia lima tahun, jadi aku yakin tak akan lama dia pasti akan segera ditemukan aku sangat yakin itu," ucapnya dengan pandangannya yang terlihat lemah.


Berusaha keduanya membujuk Putri akan mau beristirahat di rumah akan tetapi usahanya lagi-lagi gagal. Melihat kondisinya yang pucat membuat Gibran mau pun Rasyel merasa panik akan kondisinya.


Tak lama kerumunan orang-orang datang dan berbondong-bondong berlari membawa satu kantong jenazah berwarna Oren. Gibran yang melihatnya ia lantas bertanya.


"Pak ada apa kenapa mereka pada berlarian kearah sana ada apa?" tanya Gibran dengan rasa kepanikannya.

__ADS_1


"Sama seperti yang saya bilang kemaren, kita menemukan satu jasad yang kami duga adalah jasad dari Putra anda. Dan kami menemukan satu jadi hitam yang sudah pada terkoyak dan pakaian ini sama dengan pakaian yang dipakai disaat Putra anda berada dalam mobil kecelakaan tadi. Akan tetapi melihat jasad pasien sudah tidaklah utuh kami sangat kesusahan mengetahui siapa identitasnya yang sebenarnya. Kamu bisa melakukan tes DNA tapi melihat korban yang anak yatim dan tidak mempunyai anggota keluarga yang satu darah dengannya kami sangat kesusahan untuk memastikan jika jasad itu beneran jasad Putra anda.


"Aku percaya jika jasad itu bukanlah jasad Putra-ku aku percaya jika jasad itu bukanlah jasadnya.


Satu ucapan yang muncul dalam mulutnya. Pandangannya yang mulai buram tak lama akhirnya Putri tak sadarkan diri dan hampir terjatuh, untungnya dengan sigap Rasyel langsung menangkapnya.


"Astaga Mama bangunlah Mama bangun." Panik Rasyel yang beberapa kali ia menepuk pipi Mamanya dengan air matanya yang mulai membanjirinya.


"Tidak, itu pasti bukan jasad Putra-ku itu pasti bukan jasad dia? Tidak, Rasya tidak mungkin meninggalkan kami itu tidak mungkin," ucap Gibran yang tidak kuasa menahan air matanya, tubuhnya yang seketika lemas hinga terduduk lemas diatas tanah.


"Rasya kenapa kamu meninggalkan Abang kamu kenapa?" batin Rasyel yang hanya bisa mencium dan memeluk Mamanya.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2