Penjara Cinta Mafia Kejam

Penjara Cinta Mafia Kejam
Tragedi Tikus


__ADS_3

Waktu yang tidak memungkinkan, dan baterei ponsel yang hanya tinggal lima persen yang artinya dalam hitungan menit jumlah sisa batrei tersebut pun bisa lenyap dengan cepat. Dengan bergegas Richard pun menggirimkan pesan lewat WA menuju ke no seluler Gibran karena dia yakin Gibran pasti bisa di andalkan sekarang.


Dan belum juga pesan terkirim ke Gibran, lagi-lagi batrei pun berkurang satu menjadi empat persen.


"Ais..kenapa cepat sekali angka batreinya, kamu lebih cepat sedikit kenapa ngetiknya!.


"Astaga jangan bawel-bawel kenapa, ini juga lagi diusahan cepat!. sewot Resya.


GIBRAN TOLONGIN KITA, KITA SEKARANG LAGI TERJEBAK DIDALAM GUDANG LANTAI DUA CEPAT KEMARILAH...CEPAT....


Pesan itulah yang telah Richard tulis, akan tetapi nasib apes lagi-lagi menghampiri mereka sisa batrei yang lagi-lagi menurun menjadi 3 persen, sedangkan jaringannya yang tiba-tiba lemot yang akhirnya pesan pun belum juga berhasil terkirim.


"Yah...yah...ayo dong sayang berbaik hati ya sama abang , jangan ngambek kaya gini cepat..kembali seperti semula..ayolah...ayolah..." ujar Richard yang berusaha merayu-rayu ponselnya.


"Ayo dong jaringannya jangan ngambek, cepat terkirim...cepat..


KLING...


SATU PESAN BERHASIL MASUK.


"Akhirnya masuk juga..lega...


Dan sesaat pesan itu masuk, baterei Resya seketika habis. Dan tidak menunggu lama akhirnya seketika langsung ma*i.


"Sekarang ponselku sudah ma*i, jadi berdoalah semoga Gibran membaca pesan yang aku kirim tadi. Dan ini yang paling penting, berdoalah semoga dia punya kuota karena dia termasuk orang yang pelit untuk membeli kuota bahkan seringnya ia hanya menumpang minta Wifi


"Sekarang nasib kita ada ditangan Gibran, jika dia gak kunjung membuka ponselnya maka dengan pasrah kita harus menginap disini!" ucap Resya dengan pasrah.


Sedangkan Gibran yang baru aja memasuki salah satu ruangan, ia baru aja tersadar kalau sedari tadi Richard tidak muncul.


"Kenapa Tuan Richard sama sekali. Cara apa yang tuan gunakan untuk mengintrogasi Nyonya? apa Tuan mengunakan cara paksa untuk membuat nyonya mengaku semuanya?" sudahlah itu sudah bukan jadi urusan-ku lagi. Mereka sudah berada dalam satu ruangan jadi terserah apa yang ingin mereka lakukan mereka kan sudah

__ADS_1


Bergegas Gibran pun menggeluarkan benda pipih dari dalam sakunya, satu pesan telah terdengar olehnya.


GIBRAN TOLONGIN KITA, KITA SEKARANG LAGI TERJEBAK DIDALAM GUDANG LANTAI DUA CEPAT KEMARILAH...CEPAT


"Astaga bagaimana mungkin bisa mereka malah terkunci beneran didalam sana. Aku harus menolongnya!"


Satu langkah Gibran hendak berlari menuju ke gudang tersebut. Akan tetapi lagi-lagi langkahnya terhenti sesaat ide brilian pun tiba-tiba muncul dalam benaknya.


"Tuan dan Nyonya terkunci dalam satu ruangan. Bukankah kesempatan ini sangat jarang untuk mereka dapatkan setelah Tuan mengalami amnesia. Bukankah dengan cara berduaan seperti ini mereka memiliki kesempatan lebih banyak. Iya kesempatan seperti ini sangatlah jarang terjadi dan aku tidak mau membuang-buang waktu berharga seperti ini. Maaf Tuan, Nyinya aku tidak menolong kalian sekarang ini mungkin pukul malam atau besok aku akan membantu kalian keluar, tapi untuk sekarang kalian butuh kesempatan ini jadi bersenang-senang lah.


****


"Sudah satu jam kita terdiam didalam disini, tapi mana teman kamu itu, aku rasa dia gak bakal datang!.


"Sudahlah tunggu saja, nanti dia juga akan datang!" balas Richard nampak pasrah.


"Yahhh kesel..!.


"Resya ... Resya ...lihat kamu manyun kaya gitu, kenapa aku jadi gemes banget ya!. batin Richard sambil tersenyum sembari memandangi Resya yang sedang terduduk lesehan dilantai.


Melihat hal itu Richard pun menahan tawanya, memergoki Richard yang lagi memandangginya sembari tersenyum-senyum tidak jelas, rasa kesal pun akhirnya menghampiri diri Resya.


"Kenapa kamu tertawa seperti itu? Apa yang sedang kamu pandang. Dan apa yang lucu jangan mikir biarpun aku pendiam aku akan nurut sama kamu, jadi jangan coba-coba memandangiku dengan cara seperti itu, jujur aku risih sekali ngelihatnya.


"Terserah kamu, kamu mau ngomong apa. Tapi apa aku boleh tanya sesuatu sama kamu?"


"Tanya, tanya soal apa?"tanya balik Resya.


"Apa sih hewan yang paling kamu takutkan, apa kamu itu takut ama Cicak atau pun tikus atau pun semacamnya?"tanya Richard mencoba menginterogasinya.


"Cicak, enggak aku gak takut.

__ADS_1


"Terus apa yang kamu takutkan, apa kamu takut sama tikus?"


Mendengar ucapan yang baru aja dikatakan Richard menggenai Tikus, seketika pandangan Resya pun berubah. Dan dari raut wajahnya juga kelihatan jika ia sedang menyembunyikan sesuatu.


"Ti...tikus, enggak, aku gak takut sama tikus untuk apa aku takut kalau pun ada, sini biar aku injak sekarang, kan aku sama sitikus kan lebih besar aku jadi untuk apa harus takut dengannya!. sahut Resya yang dengan perasaan percaya diri. Dan sesekali ia pun melihat kanan, kini untuk melihat suasana.


"Oh...baiklah kalau gitu!. Timpal Richard yang mencoba menahan tawanya.


Semakin mendekat mahluk itu menghampiri Resya hingga hewan pun berhasil merayap tepat ditangan mulus yang tergeletak dilantai.


Resya yang baru aja menimpali pembicaraan Richard barusan. Seketika perkataanya pun terhenti setelah ia menyadari jika ada sesuatu yang menyentuh tangan kirinya.


Sesosok mahluk kecil berwarna putih dengan bulu halusnya yang berhasil menggendus-endus tangan kirinya hingga dirinya pun terkejut setelah melihat makhluk apa yang sedang mengodanya saat ini.


"Tunggu, kok ada yang aneh ya ditangan-ku ini. Seperti berbulu?" gumam Resya yang tanpa berkata lagi, ia pun menengok ke kiri dan ternyata.


"Ahhhhh tikus ...tikus ...pergi, pergi kamu ...hus..hus..."


Dengan berusaha Resya menggusir si tikus itu, tapi bukan malah menjauhinya si tikus malah semakin mendekati Resya hingga Resya yang sudah dipenuhi ketakutan ia pun menaiki meja sebagai pelindungnya.


Melihat ekpresi yang ditunjukkan Resya saat ini, membuat Richard yang melihatnya ia pun tidak bisa menahan tertawanya yang sampai cekikikan.


"Kamu?" dari pada kamu tertawa tidak jelas seperti itu, cepat singkirkan tikus itu dari pandanganku cepat!" teriak Resya dengan dirinya yang masih menaiki sebuah meja.


"Gak, ngapain juga aku harus menggusirnya bukannya kamu sendiri yang berkata kalau kamu inggin menginjak tikus mungil ini, jadi cepat injak-lah aku inggin lihat!" tantang Richard dengan cekikikan secara terus menerus.


"Aku mohon aku ngaku kalau aku telah berbohong tadi, jadi aku mohon tolong ...tolong cepat singkirkan tikus itu dari sini, cepat ...aku mohon.


"Iya .. iya ..aku akan menyingkirkannya, tapi kamu turun dulu, kamu gak mau pegang sekali aja.


"Aku bilang cepat singkirkan itu!" teriak Resya sambil melempar sesuatu ke arah Richard tapi tidak mengenainya.

__ADS_1


"Iya ...iya ...," timpal Richard yang kemudian ia pun menghampiri tikus tersebut.


BERSAMBUNG.


__ADS_2