
Selangkah Richard berniat ingin menciumnya. Akan tetapi lagi-lagi tindakannya gagal setelah hadirnya langkah kaki seseorang yang masuk keruangan ini tanpa adanya ketukan pintu yang dilakukan seseorang tersebut.
Terkejut tidak main, Richard yang hampir saja menindihnya ia seketika gelagapan dan langsung berdiri.
Sedangkan Gibran seseorang yang datang barusan ia seketika menutup kedua matanya setelah tak sengaja melihat adegan yang tidak seharusnya dipertontonkan.
"Kamu? Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu terlebih dulu," bentak Richard membuat Gibran bingung mau ngomong apa.
"Maaf tuan tujuan saya datang kesini, saya hanya ingin memberikan laporan ini saja. Maaf jika saya sudah menganggu waktu tuan saat ini. Saya akan pergi dan ini laporannya permisi," ucapnya bergegas ia pergi dari ruangan ini. Resya yang mendapatkan kesempatan untuk kabur, tak menunggu lama ia ikut pergi menyusul Gibran.
"Yah kabur dia aku harus menelfon seseorang,' bergegas mengambil benda pipih yang berada diatas meja kerjanya. Ia menekan salah satu nomor yang tertera pada layar ponselnya tersebut.
"Hampir saja dia akan mencium-ku. Astaga Resya apa yang kamu lakukan dia kan suami-mu jadi sudah sepantasnya dia melakukannya terus kenapa kamu tambah jadi takut kepadanya," batinnya dengan menjitak kepalanya sendiri.
"Tapi apa yang sebenarnya terjadi padanya kenapa dia sikapnya jadi aneh seperti sekarang ini. Dan apa yang membuatnya berubah apa dia mencintai-ku sekarang biar pun masih dalam keadaan amnesia?" sudahlah lama-lama aku bisa gila karena ulahnya," batinnya yang merasa tak karuan.
Berjalan dengan langkah kaki pelan sembari melamun, Resya yang tadinya berjalan hanya menundukkan kepala ia tak sengaja bertabrakan dengan seseorang yang juga sama-sama lalai.
Sama-sama membawa setumpuk berkas di tangannya terjatuh dengan berkas yang berserakan karna tidak melihat gadis yang berjalan didepannya.
"Aduh," ucap Resya itu setelah tak sengaja bertabrakan.
"Astaga maaf, aku tak sengaja menabrak-mu tadi," ucap Pria itu yang tak lain adalah Gibran merasa tidak enak kepada berlalu ia pun membantunya berdiri.
"Tidak apa-apa, aku juga yang
salah karena terlalu terburu-buru sekaligus melamun tadi sehingga tidak melihat jalan,"jelas Resya sembari memungut satu persatu berkas tersebut.
"Ya sudah kalau begitu aku permisi dulu," ucap Resya yang ingin kembali melanjutkan perjalannya lagi, namun, saat dia hendak melangkahkan kakinya kembali Gibran memanggilnya.
"Maaf Nyonya aku hanya ingin menyampaikan pesan katanya nyonya disuruh ke dalam ruangan lagi, entah apa yang ingin Tuan lakukan, atau memang ada hal yang ingin disampaikan olehnya. Dan dia memerintahkan-ku untuk menyuruh nyonya datang keruang pribadinya,"ucap Gibran sembari menahan sedikit malu.
"Jujur entah kenapa aku jadi malas berdekatan dengannya padahal dia itu Suamiku sendiri. Dan apa maksudnya menyuruhku datang keruang pribadinya kan ada ruangan kerja. Dan kamu? Apa kamu tidak bisa membantu-ku bertukar tempat atau pun bilang kalau saya tidak bisa?"
"Maaf Nyonya kalau soal itu saya tidak berani, saya takutnya tuan akan tambah marah sama saya jadi mendingan nyonya turuti saja. Jika nanti Tuan berani macam-macam kan nyonya tindak tendang aja itunya tuan saya akan mendukung nyonya," balasnya yang menahan tawa.
"Apa ada yang lucu?"
__ADS_1
"Maaf, tidak ada nyonya," balasnya dengan membungkam mulutnya sendiri.
"Baiklah aku akan pergi kesana sekarang, tapi kamu bisa kan menemaniku sebentar?" tanya Resya.
"Baik Nyonya."
"Baiklah ayo cepat ikuti aku," perintahnya.
"Baik Nyonya.
Berjalan menghampiri seseorang yang sedang menatap pandangan didalam jendela ruangan. Dan seseorang itu yang menyelipkan kedua tangannya didalam sakunya, tak lama Resya pun akhirnya memberanikan diri untuk menghampiri Pria itu yang tak lain adalah Suaminya.
"Apa yang ingin kamu sampaikan sama aku? Kenapa kamu menyuruhku untuk datang kesini, jika kamu ingin membicarakan sesuatu kenapa kita tidak berbicara diruang biasa saja apa yang ingin kamu lakukan sebenarnya?" tanya Resya yang kemudian Richard pun membalikan tubuhnya menghadap kearah Resya.
"Yang pertama aku malas untuk membahas masalah yang terjadi tadi, malam nanti sampai lusa aku ada meeting bersama klien. Dan aku ingin kamu ikut bersamaku terbang keluar kota karena kamu sekretaris ku jadi ini sudah jadi tangung jawab kamu untuk menuruti apapun yang aku minta!. perintahnya.
"Gimana ini apa yang harus aku lakukan apa aku harus menerimanya? Tapi kalau aku terima dan dia berniat macam-macam gimana?" batinnya dengan menatap tajam kearahnya.
"Kenapa kamu diam apa kamu keberatan?"tanya Richard yang memalingkan pandangannya.
"Tidak, saya tidak keberatan baiklah aku mau ikut denganmu, asalkan kamu tidak bertindak macam-macam dengan-ku kapan kita akan berangkat?
"Malam ini?" tanyanya dengan wajah terkejut.
"Iya kenapa? Apa kamu ada masalah. Jadwal meeting pagi hari sekitar pukul 07:00 pagi, jadi kalau kita berangkat subuh aku rasa tidak akan cukup waktunya jadi malam ini mungkin kita bisa istirahat sebentar,"
"Dan kamu Gibran. Aku juga minta kamu ikut dengan kita,"
"Baik tuan.
"
"
"
Beberapa menit mereka sudah melakukan perjalanan yang mereka lalui. Sekitar dua jam lagi mereka akan sampai disalah satu tempat penginapan yang akan mereka boking .
__ADS_1
Richard mau pun Resya berhenti di depan sebuah penginapan besar berlantai tiga yang tertulis jelas di atas pintunya ( Bintang *** ) nama penginapan tersebut.
Kemudian Resya berjalan masuk seorang diri sedangkan Richard ia menunggu didalam mobil pribadinya.
"Permisi, apa aku bisa memesan kamar?" tanya Resya pada seorang pekerja wanita disana.
"Maaf semua kamar yang tersedia di hotel ini sudah di sewakan semuanya." ketus wanita itu menatap sinis ke arah Resya yang saat itu hanya memakai sebuah tudung lusuh yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Apa benar sudah tidak ada lagi? Aku hanya butuh dua kamar saja?"tanya Resya lagi.
"Kamar yang masih tersedia disini hanya khusus untuk tamu VVIP kami. Dan, harganya juga sangatlah mahal apa anda yakin ingin menyewanya. Karena aku rasa seseorang seperti anda tidak akan sanggup untuk menyewanya." sindirnya lagi.
"Astaga berani sekali dia menyindirku seperti itu. Ingin sekali rasanya aku mencubit ginjal wanita menyebalkan ini." batin Resya yang terlihat kesal.
"Aku akan membayar semuanya jadi mana kuncinya, berapapun itu saya tidak perduli jadi cepat berikan kuncinya sekarang." Sambung Richard dengan memberikan beberapa gepok uang pada sang Wanita penjaga itu, sedangkan Wanita itu ia hanya diam tak terucap.
"Ba ...baiklah ini kuncinya dalam ruangan itu hanya ada satu tempat tidur, jadi kalian bisa putuskan nanti ini?.
Tanpa berkata mau pun memandang wajah Wanita itu. Richard bergegas mengambil kunci itu dan berlalu pergi dan mengabaikan Resya yang hanya bisa melongo karena ulahnya.
"Kamu? Apa kamu tidak ingin jalan? Apa aku harus menggendong-mu?"
"Tidak. Aku bisa jalan sendiri," balasnya yang kemudian berjalan mengikutinya.
"Hu ...kesel ...kenapa aku harus dapat bos yang super duper nyebelin kaya dia sih, kalau aku tidak punya kesabaran mungkin aku udah jitek-jitek kepala tuh orang, tapi berubung aku masih punya kesabaran dia masih beruntung karena tidak dapat amukan dariku ini dasar nyebelin," gerutu Resya sembari mengepalkan kedua tangannya.
Dan tanpa sengaja pembicara Resya yang mengatakan kata-kata kasar terdengar sendiri akan bosnya yang ternyata ia masih berada dibelakangnya lantaran ingin mengambil sesuatu.
"Apa kamu bilang tadi? dasar nyebelin, siapa yang kamu bilang nyebelin siapa?" sambung Richard yang spontan membuat Resya gelagapan..
"Ha ...nyebelin, itu tuan tadi ..tadi tuan cuma salah denger kok, akub... aku tidak berkata seperti itu, bapak pasti cuma salah denger tadi," jengkal-nya.
"Oh ...jadi maksud kamu, kamu ngatain aku kalau aku ini budek gitu?
"Mati aku ...kenapa aku harus pake keceplosan juga sih kan jadi ngamuk lagi kan macannya, apa yang harus aku katakan sama ini bos, kalau macan udah ngamuk kaya gini pasti susah untuk meredakan amarahnya," batinnya yang kemudian Richard tanpa berkata langsung menggendongnya.
"Eh apa yang tuan lakukan kemana tuan mengendong-ku aku bisa jalan sendiri turunkan aku ... turunkan aku ...," titahnya tapi Richard mengabaikannya dan terus saya mengendong-nya sampai depan pintu kamar VIP.
__ADS_1
BERSAMBUNG.