
"Gibran gimana apa kamu sudah menyelesaikan tugas yang saya perintahkan kemaren?" tanya Resya ketika melihat Gibran yang baru aja datang.
"Nyonya tenang saja saya sudah menjalankan rencana yang Nyonya perintahkan kemaren. Dan sekarang saya juga mau ngasih tahu Nyonya kalau Tuan tidak bisa masuk karena masih pusing akibat minuman alcohol kemaren malam, jadi Nyonya gak masalah kan kalau nanti malam Nyonya harus lembur karena perintah langsung dari Tuan.
"Baiklah aku gak masalah. Bagiku kalau lembur sendirian akan lebih baik dari pada harus lembur dengan tuan-mu itu," timpalnya yang merasa sedikit kesal.
"Tapi biar pun nyonya kesal dengannya, Nyonya masih sayang kan?" tanyanya yang kemudian dibalas senyuman malu-malu oleh Resya. Gibran yang melihatnya ia nampak tahu ekpresi aja yang ditunjukkan olehnya.
"Sudahlah cepat pergilah, soal lembur kamu tenang saja aku gak akan mengingkarinya. Dan pukul 19:00 malam nanti aku akan pulang tadi kamu bisa kan menjemput-ku nanti malam?"ucap Resya lagi.
"Iya Nyonya, nyonya tenang saja nanti malam saya akan menjemput Nyonya," balas Gibran.
"Baiklah ya sudah cepat pergilah," pintanya.
Malam yang sepi, ruangan yang terlihat hanya ada satu wanita yang nampak fokus pada layar komputer dengan pandangannya yang tak henti-hentinya berpaling pada suatu arah, seseorang itu nampak lelah setelah seharian penuh bekerja mengerjakan semua laporan yang pada bertumpukan diatas meja kerjanya ini.
Tak lama ia bisa merasa lega setelah kurang tepat pukul 20:00 semua pekerjaannya sudah berhasil ia selesaikan dengan sangat sempurna tanpa ada yang tersisa satu pun.
Akhirnya semua pekerjaanku selesai juga sekarang, tapi dimana Gibran ini udah mau jam 19:00 malam lebih tapi kenapa dia belum menjemput-ku sudahlah nanti dia juga akan datang. Jadi akan lebih baik sekarang aku tidur dulu aja.
" Hoam...ngantuk banget aku sekarang mumpung aku gak lagi dijaga sama itu bos galak , gimana kalau aku tidur sebentar aja ya, iya itu ide bagus lagian semua tugas aku kan udah selesai dan hanya tingal nunggu penjemputan Gibran jadi gak akan masalah jika aku tidur sebentar.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang lagi dengan beraninya ia pun langsung memejamkan matanya dengan mengunakan kedua tangannya sebagai penyangga bantal cadangan diatas meja kerjanya. Akan tetapi rasa kantuk yang belum juga kelar lantaran tanpa disangka disangka langkah kaki seseorang tiba-tiba mulai memasuki ruangan ini.
Pintu yang berhasil terbuka terlihat langkah kaki seseorang memakai sepatu hitam yang pelan-pelan menghampiri kearahnya. Resya yang tak sadar akan kehadiran seseorang itu ia terlihat masih tertidur pulas.
Dan siapa sangka langkah kaki seseorang itu yang tak lain ia adalah Richard si Bos galak yang mungkin akan sangat ditakuti Resya jika ia harus berhadapan dengannya. Mendapati sekretaris telah bersantai dengan tertidur pulas diatas meja kerjanya. Lantas ia menghampirinya.
"Dasar dia memang sangat pemberani ya. Apa maksudnya dia malah tertidur disini?" batinnya yang tanpa berkata ia langsung mendoprak meja depan Resya berada.
Richard yang sedikit kesal lantas ia pun memberikan satu doprakan pada meja kerja tersebut. Rasa kantuk yang sedari ia tahan kini dalam hitungan detik saja rasa kantuk itu pun buyar.
Melihat dengan kedua matanya sendiri siapa seseorang yang sudah berada dihadapannya saat ini. Wajah Resya terperanjat kaget, seketika bangkit dari tempat ia tidur tadi.
"Ka...kamu?" tanya Resya dengan membungkam mulutnya sendiri tak percaya dengan siapa seseorang yang berada dihadapannya saat ini.
"Mati aku apa yang harus aku lakukan sekarang kalau banteng udah ngamuk kaya gini pasti susah untuk bikin dia kembali normal kaya semula, dimana ini? batin Resya yang terlihat tegang.
"Kenapa kamu diam aja kamu tidak punya kuping ya? apa kamu tiba-tiba budek sekarang? bentaknya lagi.
"Maaf pak aku tadi kecapean makanya aku tidur sebentar dan aku juga baru lima menitan kok tidurnya jadi bapak tidak perlu se-marah ini aku ...aku ..."
Belum juga selesai Resya berusaha membela dirinya sendiri. Richard yang menatap wajah Resya dipenuhi dengan rasa kepanikannya ia pun akhirnya mendekati wajah Resya dengan sangat dekat.
__ADS_1
Bahkan sangking dekatnya jarak diantara keduanya hanya mencapai sesenti, terpojok lantaran belakang Resya sudahlah tembok. Dan Richard yang semakin memojokkannya, sekaligus Richard yang menghalanginya untuk jangan melarikan diri Resya yang terkaget dengan apa yang akan dilakukan oleh atasannya saat ini dia pun seketika jantungnya berdegup dengan sangat kencang.
"Astaga apa yang akan dilakukan sama orang ini, padaku?" kenapa dia mendekatiku dengan cara dekat seperti ini. Jantungku ...jantungku kenapa berdetak dengan kencang seperti ini? batinnya yang mencoba mengalihkan pandangannya pada Richard, akan tetapi Richard menyentuh dagu Resya agar memandangnya dengan dekat.
Perlahan-lahan Richard yang mulai mendekati wajah Resya. Resya pun akhirnya memejamkan matanya, sedangkan Richard.
"Kali ini aku akan mengampuni kesalahan kamu, tapi sebagai gantinya kamu harus jawab pertanyaan ku apa yang terjadi pada malam kemaren?" apa aku benar-benar telah meniduri mu?" tanya Richard spontan membuat wajah Resya memerah. Dan berusaha ia memalingkan pandangannya dari Richard. Richard yang sadar ia kemudian mencengkram dagu Resya dan tidak membiarkannya memalingkan pandangannya lagi.
Pertanyaan yang diucapkannya seketika membuat Resya membuka matanya dengan lebar. Menjauh dan mendorong tubuh Richard agar menghindar darinya sekaligus bertanya balik pertanyaan apa yang sedang ditanyakan padanya tadi.
"Kamu? apa yang barusan kamu tanyakan tadi. Dan pertanyaan omong kosong apa itu?" ucapnya tanpa memandang kearahnya.
"Apa kamu sedang berusaha membodohi-ku dengan tipuan kamu itu?" tanyanya mencoba menekannya.
"Ini udah malam. Dan jatah lembur-ku hanya sampai pukul 19:00 malam. Dan aku juga udah ada janji sama Gibran jadi maaf aku harus pergi." berlalu pergi dari hadapannya tanpa berkata sepatah kata pun lagi, Richard nampak tersenyum sinis setelah Resya pergi dari pandangannya.
"Kali ini kamu bisa lolos dan menghindari-ku, tapi kemudian tunggulah masih ada seseorang yang sudah menunggu-mu?" gumamnya kemudian ia mengambil benda pipih miliknya. Dan berlalu menghubungi salah satu nomor yang tertera disana.
"Jalankan rencananya."
Satu ucapan terdengar dari mulut Richard. Entah apa yang ia rencanakan, ia nampak bahagia dengan rencananya itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG.