
Berada dalam satu kantin yang sama, semua santapan makanan sudah tertata rapi diatas meja. Sedangkan Rasya dan ketiga temannya nampak menikmati pesanan yang barusan mereka santap tadi.
"Oh iya Rasya kamu pernah bilang kalau kamu dijodohkan dengan seseorang. Apa sampai sekarang kamu masih belum tahu seperti apa Wajah dari seseorang yang dijodohkan itu?" tanya Gibran sembari menyantap mie gorengnya.
"Kata nyokap gue wanita itu sampai sekarang masih ada di Amerika. Jadi untuk menemui-ku katanya dianya masih sibuk jadi belum bisa diganggu," balas Rasya dengan spontan.
"Ya iyalah orangnya tidak bisa datang, kan orangnya ada disamping kamu saat ini," batin Sifa dengan tersenyum diam-diam.
"Kamu kenapa malah tersenyum Rangga?" tanya Gibran, berlalu Rasya menatapnya.
"Tidak. Aku tidak tertawa hanya saja tadi itu cuma kebablasan aja," balas Rangga kemudian mendapatkan jitakan dari Rasya.
"Apa kamu sedang menertawakan-ku karena aku saat ini?"
"Aw kamu itu apa-apaan sih sakit tahu asal jitak aja," balas Rangga dengan mengelus-elus kepalanya.
"Lagian udah tahu teman lagi ada masalah bukannya dihibur malah ditertawakan apa itu lucu?"
"Iya itu memang lucu karena baru kali ini aku melihat ada seseorang yang dijodohkan tapi orang itu tidak tahu secara betul seperti apa wajah dari calon pasangannya," balas Rangga dengan tawanya.
"Dah-lah malas juga ngomong sama orang yang tidak bisa ngertiin ," balas Rasya kemudian ia kembali melanjutkan makannya lagi.
"Oh iya aku lagi ada acara kalian gak papa kan kalau aku tingal dulu?" ucap Gibran.
"Kamu lagi ada acara apa tumben?"
"Biasalah nyokap ku minta aku untuk temani dia pergi ke-suatu tempat, jadi gak papa kan?"
"Baiklah pergi saja kami gak papa kok, lagian hari ini kan libur jadi gak masalah terserah kamu mau pergi kemana pun yang kamu mau," balas Rasya.
"Baguslah kalau gitu, ya sudah Bray aku cabut dulu ya da ..."
Pergi dari pandangan ketiga temannya. Pandangan Rasya beralih menatap Verrel yang sedari tadi nampak murung layaknya sedang memikirkan sesuatu.
"Verrell kamu gak lagi ada masalah kan? Kenapa aku perhatikan sedari tadi kamu terdiam. Bahkan tidak kaya biasanya sifat kamu terlihat dingin seperti ini?" tanya Rasya, beralih Verrel menatapnya dengan tatapan cukup tajam.
"Verrel kamu kalau lagi ada masalah bisa langsung curhat ke kita gak perlu kamu pendam seperti ini cerita-lah!"
"Mau kamu itu apa sih Ras?"tanya Verrel spontan Rasya memandangnya sedikit bingung.
"Maksud kamu apa bilang begitu?"
"Sudahlah selama ini aku cukup diam dan mengalah, bahkan mengetahui kamu dan Sifa saling suka pun aku juga diam, tapi sekarang apa maksud kamu ingin menyakiti hati banyak Wanita?"
__ADS_1
"Kamu itu kenapa sih Verrel aku sama sekali tidak paham dengan semua maksud kamu itu ada apa? Bicara yang jelas?"
"Baiklah kalau kamu masih tidak paham juga. Aku tanya apa maksud kamu mau menerima perjodohan itu sedangkan disisi lain kamu seperti sedang dekat dengan Bella apa kamu ingin menyakiti dua Wanita sekaligus itu yang kamu mau?"
"Gila, punya hak apa kamu bisa berkata segila itu. Pertama aku mau menerima perjodohan karena ini sebagai simbol tanda terimakasih ku pada kedua orang tuaku, sedangkan Bella kami tidak ada hubungan apa-apa jadi mana mungkin aku akan menyakiti dua Wanita sekaligus kamu ngaco kalau ngomong.
Tatapan demi tatapan telah mereka lakukan saat ini, bahkan tatapan mereka bagaikan seperti mata burung hantu yang tidak terlihat menunjukkan satu kedipan dari mata mereka masing-masing, suasana tegang akibat perdebatan mereka pun akhirnya telah terhenti setelah ada seorang pelayan yang menghentikan perdebatan mereka ini.
"Rasya ... Verrel tahan emosi kamu bukan seperti ini cara menyelesaikan masalah, jadi aku harap kalian tenangkan pikiran kamu jangan seperti ini," ucap Rangga yang mencoba melerai perdebatan mereka.
"Apa kamu sudah puas sekarang, ini kan yang kamu mau. Kamu juga pastinya sangat senang karena banyak orang yang mendukungmu ini kan yang kamu mau?"
"Bodoh! Iya kata itulah yang pantas untuk kamu terima apa kamu paham." Merasa kesal Rasya yang baru aja berniat akan pergi, dia pun dibuat terkejut lantaran mendapat pukulan tak terduga yang dilakukan oleh Verrel. Setelah Verrel tidak terima dengan perkataan yang dilontarkan Rasya barusan.
"Rasakan itu, kamu memang pantas mendapat pukulan itu?"
"Sebenarnya mau kamu itu apa sih?" balas Rasya sambil memegang bibirnya yang terluka akibat pukulan tersebut. Dan tanpa menunggu lagi, dia pun akhirnya membalas dengan memberikan pukulannya tepat mengenai sebelah bibir Verrel.
"Berani kamu memukulku?"bentak Verrel.
"Iya kenapa? Memangnya kamu pikir aku takut apa sama kamu, aku tuh bosen kali lihat sifat kamu yang kekanak-kanakan seperti ini, jadi ayo kamu maju kalau berani, biar aku tambahin pukulan lagi buat sebagai peringatan ayo maju!" ucap Rasya malah menantang Verrel.
"Berani kamu menantang aku?" balas Verrel dengan tatapan sinisnya.
Baru aja Rasya mau memberikan pukulan lagi buat Verrel. Seketika Rangga/Sifa pun datang. Dan menghalangi pukulan Rasya yang inggin mengenai Verrel.
"Rangga apa yang kamu lakukan, kenapa kamu membela dia?" tanya Rasya dengan sinisnya.
"Siapa yang bilang kalau aku lagi membela dia, aku itu membela kalian, kalian ini kenapa sih ada apa dengan kalian ini. Apa kalian sadar sifat kalian ini sangat kekanak-kanakan.
Dan gak harusnya kalian menyelesaikan masalah dengan cara seperti ini, tunjukkan diri kalian kalau kalian ini adalah seorang pejantan, jadi harusnya kalian itu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Dan dengan cara yang tepat bukan menggunakan cara kekerasan seperti ini.
Kalian ini pengecut. Karena hanya bisa menyelesaikan masalah dengan kekerasan.
"Apa maksud kamu kata'in kita pengecut, apa kamu sadar kamu itu sudah merendahkan harga diri kita?"tegas Rasya
"Kenapa? Apa aku salah, pada kenyataanya yang aku katakan ini memanglah benar, kalian ini sama seperti anak kecil yang hanya bisa bertarung menggunakan otot dan tenaga ya kan yang aku katakan ini memanglah benar kan?" ucap Rangga yang seketika membuat Verrel maupun Rasya pun hanya bisa terdiam.
"Tunggu sekarang kok malah kamu sih yang jadi marah. Harusnya yang marah kan kita bukan kamu?" sahut Rasya.
"Sudah jangan banyak tanya lagi, jika kalian inggin menyelesaikan masalah dengan kepala dingin ayo ikut aku. Karena aku akan tunjukkan kepada kalian, gimana caranya menyelesaikan masalah tanpa harus beradu otot, ayo ikut aku?" ucap Rangga yang kemudian dia pun langsung menarik tangan kedua pangeran itu.
"Kamu mau bawa kita kemana?" tanya Rasya.
__ADS_1
"Jangan tanya nanti kalian juga akan tahu!" tegas Rangga dengan tersenyum.
Sesaat kemudian akhirnya Rangga pun sampai juga membawa kedua pangeran itu untuk pergi dengannya, tapi bukan didalam kerajaan ataupun istana yang sangat mewah, melainkan dia membawa mereka disalah satu tempat makan yang letaknya tak jauh dari tempat mereka tadi.
Dan tempat itu yang tak lain adalah sebuah warung bakso yang menyajikan menunya dengan menu yang sangat spesial, yaitu menu Bakso petir.
"Ini adalah makanan kesukaanku, jadi aku sengaja membawa kalian kesini. Karena aku inggin bukti seberapa hebat dan tangguh sih kalian berdua ini?" ucap Rangga yang membuat Rasya dan juga Verrel masih bingung.
"Tunggu maksud kami apa? Kamu nyuruh kita untuk makan nih bakso petir ini?" tanya Rasya dengan wajah terheran-nya.
"Iya!" balas Rangga yang seketika membuat wajah Rasya dan juga Verrel pun memerah.
"Gak, aku tidak mau lagian ini makanan apa, gue gak doyan lagi makanan yang kaya gini?" sahut Rasya yang mencoba untuk mengelak-nya.
"Ya elah bilang aja kalau kamu takut sama pedesnya gitu aja repot?" sindir Verrel.
"Gak. Ngapain juga aku harus takut sama ginian, seorang Rasya Betranto gak ada lagi yang namanya takut apalagi sama bakso petir kaya gini, sini kalau bisa gue borong semua tuh menu baksonya?" ucap Rasya dengan berbangga diri.
"Kamu mau makan semuanya?" tanya Rangga.
"Ya enggaklah, aku mau kasih ke Gibran dan juga yang lainnya!" balas Rasya yang seketika membuat Rangga maupun Verrel hanya bisa nyengir.
"Aku kirain apa?" sindir Verrel.
"Ya sudah tunggu apa lagi, ayo cepat kalian makan!" ucap Rangga yang tidak sabaran.
"Kamu serius mau menghukum kita kaya gini? Kamu gak kasihan apa sama cacing-cacing yang ada diperut ku ini, kalau mereka sakit perut gimana?" ucap Rasya mencoba untuk menolaknya.
"Gak..gak bisa ayo cepat makan, jangan banyak alasan!" balas Rangga spontan.
"Baru lihat aja sudah panas gini, gimana kalau bakso ini masuk kedalam perut gue, bisa-bisa ada dangdutan dadakan nih didalam perut gue nanti?" ucap Rasya yang mulai was-was ketika melihat musuh yang lebih besar yang ada dihadapannya saat ini.
"Bapak bakso ini kalau bikin menu jangan separah ini kenapa pak, ini cabe atau apa kenapa sebanyak ini, pantesan sekarang cabe mahal, tahu-tahu bapak jadikan petir didalam bakso ini?" ucap Rasya yang mulai ngelawak.
"Ayo cepat makan, kenapa kalian ini banyak banget sih alasannya, tinggal makan aja susah, ayo makan!"kesal Rangga.
"Kamu kok tiba-tiba jadi galah gini sih," balas Rasya.
"Sudah jangan banyak alasan ayo makan cepat!"
Dengan perasaan was-was akhirnya perlahan-lahan Rasya maupun Verrel pun satu persatu menyantap menu bakso petir tersebut. Dan memasukkannya kedalam mulut mereka masing-masing.
Dan setelah memasukkan-nya seperti ada ledakan yang terjadi didalam mulut mereka. Bahkan wajah mereka seketika berubah menjadi memerah seperti habis mendapat tamparan berkali-kali, keringat yang keluar dari tubuh mereka masing-masing membuat mereka seperti habis melakukan lari maraton.
__ADS_1
Merasa tidak kuat dengan level yang ditunjukkan pada bakso tersebut. Akhirnya membuat mereka menyerah. Dan berhenti memakan bakso petir tersebut.
BERSAMBUNG.