
Halaman yang sangat luas dan megah terdapat-lah kerumunan orang-orang yang sedang mengikuti tes akan pemilihan detektif pemula.
Saling berhadapan satu sama lain. Para senior mau pun junior disatukan dalam satu tempat yang nantinya akan dirundingkan menjadi satu regu yang setiap regu terdapat-lah lima sampai 6 anggota dalam pemberantasan setiap misi yang akan diberikan kapten yang tak lain adalah pimpinan dalam pemberantasan ini.
"Akhirnya pada pagi yang cukup cerah ini kita dipertemukan lagi dalam satu kesempatan yang tidak biasa ini. Kalian para anak muda berjiwa kuat dan tangguh, kapten yakin kalian akan bisa menjalankan setiap misi yang akan kapten berikan nanti. Akan tetapi untuk menjadi seorang detektif tidak segampang yang kalian kira. Karena lawan kita nanti bukanlah penjahat abal-abal tapi penjahat yang akan kalian lawan adalah penjahat yang sudah ahli dalam ahli kejahatan yang sudah merajalela di negara mau pun tempat yang sering kalian jumpai. Baiklah Kapten tidak ingin berlama dalam berpidato, satu kata untuk kalian semua berjuanglah dan gunakan keringat yang muncul adalah simbol dari keberhasilan kalian.
"Baiklah untuk menentukan keberhasilan tes yang akan kita selenggarakan pada kesempatan kali ini. Kalian akan kapten bagi menjadi lima anggota dalam setiap regu penyelamat. Dan tiga anggota sengaja kapten gabungan pada detektif senior karena mereka sudah ahli dalam bidang pemberantasan. Baiklah jika nanti kapten sudah sebutkan nama-nama dari kalian, kalian masuklah pada tim regu yang sudah kapten putuskan.
"Baik kapten.
"Baiklah regu pertama ( 1. Serli, Rangga, Bagas, tornado, dan Putri.) Regu kedua ( 3. Andre, Kelvin, Nina, Angel dan Samuel.) dan ini adalah Regu terakhir kapten sengaja pilih mereka karena menurut kapten mereka sudah sangat ahli dalam bidang ini. Dan kapten sengaja hanya membuat regu ini berjumplah 4 orang karena di-dalam regu ini kapten yakin mereka bisa diajak kerja sama dalam satu tim dan bertugas nanti. Dan Sifa, Rasya, Verrel, dan Gibran kalian salah satu regu kebanggaan kapten jadi jangan buat rasa kagum kapten pada kalian hilang lantaran adanya rasa kecewa jadi kalian sudah paham kan?"
"Baik Kapten kami paham. Dan kami janji tidak akan mengecewakan kapten," balas Sifa dengan menundukkan kepalanya biar pun dalam hati terdapat-lah rasa kesal yang sulit untuk ia hindari.
*
*
*
"Akhirnya kita masuk dalam satu regu lagi Rasya. Oh iya siapa nama kamu tadi?" tanya Verrel berlalu menjabat tangannya pada Sifa, Rasya yang melihat ia kemudian menepis tangan Verrel.
"Disini dilarang berpacaran atau pun saling jatuh cinta. Jadi kamu Verrel buang jauh-jauh niat kamu jika kamu ingin menggodanya apa kamu mengerti?" tegas Rasya tanpa menatap pandangan Verrel.
__ADS_1
"Astaga Rasya kamu itu sensi banget sih. Aku kan cuma ingin berkenalan saja apa itu salah? Lagian kita juga sudah masuk dalam satu regu jadi sudah sepantasnya kita saling melindungi satu sama lain," jelas Verrel.
"Baiklah terserah kamu. Aku ingin makan jadi permisi," tegasnya lagi berlalu ia pun pergi dari hadapan mereka bertiga.
"Astaga setan apa yang sudah merasukinya itu. Kenapa sikapnya jadi kasar dan sedingin itu? Sudahlah Sifa kamu jangan masukkan kehati apa yang sudah ia ucapkan tadi, dia memang seperti itu orangnya tapi aslinya dia baik dan pengertian kok," jelas Verrel.
"Iya aku paham kok. Aku juga bisa menyadarinya. Dan aku harap dengan adanya kita bergabung pada satu tim ini kita bisa bekerja sama dalam setiap misi yang akan kita lakukan nanti. Kalian senior-ku jadi aku harap kalian mau membimbing-ku jika nanti ada kesalahan yang tidak sengaja aku perbuat.
"Kamu tenang saja kita tidak akan galak-galak atau pun macam-macam sama kamu. Kita satu tim jadi itu artinya kita juga sudah jadi keluarga yang sudah sepantasnya melindungi satu sama lain jadi tenang-lah kita akan membimbing-mu sampai berhasil menjadi seorang detektif seperti kita.
"Terima kasih ya aku tidak tahu harus berkata apa lagi,"balas Sifa yang hanya bisa tersenyum. Kemudian mereka pun berjalan menuju ke-kantin dimana Rasya berada tadi.
Berada dalam satu meja kantin yang sama tak terdengar akan ocehan yang dilakukan keempat manusia yang sudah sama-sama saling berhadapan itu.
"Hey kalian ini kenapa pada diam sih, kita satu keluarga lagi jadi mari kita ngobrol-ngobrol lagi,"
"Iya maaf soalnya sedari tadi aku lihat kalian hanya terdiam sembari memperhatikan makanan saji ini saja. Jadi aku rasa kalian lebih menikmatinya," timpal Gibran.
"Tidak lagi ya sudah kita mulai makan yuk.
"Hey Rasya ada apa dengan dirimu ini kenapa wajahmu seperti kain basah yang belum dijemur ada apa?"
"Dah-lah males." Balasnya singkat, tanpa ada pandangan yang akan ia tuju, sesekali ia melirik Sifa akan tetapi setelah Sifa kembali meliriknya ia terlebih dulu mengalihkan pandangannya lagi.
__ADS_1
"Rasya maaf menganggap, kita semua diminta Kapten untuk segera berkumpul menemuinya diruang biasa."
"Ada masalah apa? Apa hari ini tugas sudah akan diselenggarakan dengan cepat?"
"Entahlah saya hanya menjalankan perintahnya saja, ya sudah aku balik dulu.
"Baiklah thanks ya infonya.
"Iya sama-sama.
"Ada masalah apa? Kenapa Kapten memangil semua detektif untuk menghadap lagi padanya apa ada misi baru lagi?"tanya Verrel.
"Ya udah mendingan sekarang kita menemuinya langsung biar tidak ada rasa penasaran lagi," timpal Gibran segera mereka pun bangkit dari tempat duduknya.
"Terima kasih kepada kalian semua karena sudah mau langsung berkumpul ditempat ini. Tujuan saya menyuruh kalian semua untuk berkumpul disini, karena ada masalah besar yg akan kalian hadapi sekarang ini dan biar lebih jelasnya lagi mendingan sekarang kalian semua sama-sama lihat foto yg ada dilayar itu tancap itu," perintahnya berlalu semua anak buahnya menatap pada layar besar.
Pandangan semua orang mengarah pada layar besar, tadinya semua pandangan mereka nampak biasa hanya diselimuti rasa penasaran. Akan tetapi tak lama pandangan mereka berubah menciut tak berani melirik sekalipun layar besar yang belum selesai mereka tonton.
"Astaga Kapten apa yang terjadi pada semua jasad itu kenapa jasad mereka bisa berubah hancur seperti itu. Apa mereka salah satu korban kecelakaan yang terlindas truk tronton?" tanya para detektif pemula yang nampak penasaran.
"Aku rasa mereka bukanlah korban kecelakaan, melainkan mereka adalah korban pembunuhan lantaran potongan tangan itu telah terbukti jika ia sengaja dipotong bukanlah hancur karena terlindas truk yang bermuatan berat," timpal Rasya beralih semua pandangan mata beralih menatap dirinya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1