
"Ya sudah karena kita sudah sampai Mama tunggulah disini karena aku ingin menyapa teman-teman kita dulu ya," ucap Sifa.
"Baiklah, tapi kalian gak lama kan sayang," timpal Resya lagi.
"Mama tenang aja Sifa dan Silvi hanya sebentar aja kok, nanti kami juga akan kembali," timpal Silvi.
"Baiklah kalau gitu sayang, berhati-hatilah,"
"Baik Ma," balasnya yang kemudian Resya pun terduduk disalah satu kursi tamu dan seseorang pun menghampirinya.
"Maaf Nona bisakah anda memakai topeng ini," ucap Wanita itu dengan memberikan satu buah topeng padanya.
"Topeng. Apa aku harus mengunakan topeng ini?" tanya Resya yang kemudian ia pun mengambilnya.
"Iya memang Nona harus memakainya. Karena ini salah satu dari partisipasi acara ini. Dan sebentar lagi juga acara dansa akan segera dimulai, jadi Nona juga harus mencari pasangan buat ajak berdansa nanti."
"Baiklah, terima kasih.
"Iya sama-sama ya sudah mari saya tingal dulu," ucapnya.
"Baiklah.
"Heran, niatku datang kesini hanya untuk menghadiri peresmian ini saja, tapi kenapa aku malah terjebak di pesta dansa ini, pakai acara mencari pasangan lagi mana anak-anak lagi sibuk sama urusan masing-masing lagi,"kesalnya yang kemudian ia pun memutuskan untuk duduk lagi.
Satu persatu para tamu terlihat sudah mulai berdatangan. Dan Terlihat Richard juga baru saja memasuki gedung. Dan kemudian seseorang pun menghampiri dirinya.
"Papa...," ucap salah satu seseorang yang tak lain adalah Sifa. Dan didampingi Silvi yang berada disampingnya.
__ADS_1
"Sayang, syukurlah kalian sudah hadir disini oh iya mana Mama kamu? tanya Richard pada kedua Putrinya.
"Itu dia Pa," ucap Sifa dengan menunjuk kearah kanan yang dimana Mamanya yang sedari terduduk. Mama sudah berada disana sejak sedari tadi, jadi mendingan sekarang Papa cepatlah ke sana. Karena semua ini sudah aku dan juga Silvi yang mengaturnya jadi Papa tidak perlu khawatir kalau Mama akan kaget melihat Papa. Karena sebelum Mama melihat Papa aku ingin melihat gimana reaksi Mama disaat ada seseorang yang tidak ia kenal tiba-tiba menggodanya.
"Kalian memang anak yang pinter dan cerdik, jadi kalian berniat ingin mengetahui sifat Mama kalian. Kalian belum percaya dan tahu seperti apa sifat Mama kalian ini? tanyanya dengan tersenyum.
"Ya bukan seperti itu Pa. Aku hanya ingin memastikan apa Mama benar-benar tulus dengan perkataannya kemaren yang dimana ia bilang kalau Mama hanya setia pada satu lelaki dan lelaki itu yang tak lain adalah Papa sendiri jadi aku sangat penasaran dengan semua itu," timpal Sifa dengan tersenyum.
"Baiklah kalau itu rencana kalian," balas Richard.
"Ya sudah sekarang Papa pakai ini. Karena dengan Papa memakai topeng ini aku yakin Mama tidak akan mengenali siapa Papa.
"Baiklah Sifa sayang, Papa akan menuruti semua permintaan kamu ini," balas Richard dengan tersenyum, tak lupa ia pun menyempatkan membelai pucuk rambut kedua putrinya.
"Belasan tahun lamanya kita terpisah, tapi aku sangat bersyukur kamu masih setia kepadaku Resya. Bahkan menganggapku sudah meninggal kamu tidak berniat ingin menikah lagi mau pun melupakanku. Dan sekarang aku kembali lagi untuk mempersatukan satu hati yang telah terpisah jadi tunggulah aku," batin Richard yang tanpa disadari oleh Resya, ia memperhatikan Resya dari jarak jauh.
Karena ruangan yang sudah penuh dengan para tamu, ditambah lagi beberapa laki-laki yang mulai menggodanya dengan lirikan matanya ia pun memutuskan untuk berdiri dan berniat akan pergi tapi karena tidak sengaja terdorong oleh salah satu orang Resya hampir saja terjatuh.
Karena Richard yang dari tadi memperhatikannya dan melihat jika wanitanya itu akan terjatuh, ia pun langsung sigap menangkap tubuh Resya yang hampir saja terjatuh.
Karena tangkapan yang dengan tepat berada di pelukan Richard membuat keduanya pun melamun dengan kedua tatapan mata yang sama-sama fokus menatap satu sama lain. Dekapan Richard yang tidak sengaja ia lakukan pada Resya akhirnya membuatnya tersadar.
"Apa nona baik-baik saja?" tanya Richard yang terus menerus memperhatikannya. Sedangkan Resya masih belum menyadarinya dengan siapa ia bertatap muka saat ini.
"Saya baik-baik saja..bisakah kamu menurunkan ku?" pintanya yang terlihat merasa tidak enak.
"Baiklah!" balasnya yang kemudian ia pun menurunkannya.
__ADS_1
"Suara itu? itu kenapa aku seperti pernah mendengar suara pria ini tapi dimana? atau aku hanya salah mengartikannya," batinnya yang kemudian salah seorang pun datang dan memberitahunya.
"Maaf Tuan Richard sebentar lagi acara dansa sudah akan dimulai. Apa Tuan sudah menemukan seseorang yang ingin Tuan ajak berdansa? tanya sang asisten.
"Baiklah saya akan mencari pasangan dansa sekarang, jadi pergilah," pinta Richard.
"Baiklah Tuan, permisi," ucapnya lagi.
"Tuan Richard, apa ini hanyalah secara kebetulan. Iya ini pasti cuma kebetulan, dia sudah meninggal mana mungkin bisa hidup lagi, belum lagi nama Richard itu pasti puluhan bahkan bisa ratusan jadi kamu tidak boleh berfikir yang tidak masuk akal Resya" batin Resya yang tiba-tiba melamun. Richard yang melihatnya ia kemudian menempelkan jarinya tepat di dagu Resya dengan berkata.
"Ada apa dengan anda? oh iya sekalian aku hanya ingin katakan maukah kamu berdansa denganku?" tanya Richard dengan menatap penuh wanita yang berada dihadapannya , sedangkan Resya ia bingung mau mengatakan apa. Menyadari jika laki-laki ini telah menyentuh dagunya ia berlalu menghempaskan tangan tersebut.
"Anda ini sama sekali bukan orang yang aku kenal, jadi bagaimana bisa anda berlagak sok kenal seperti ini sama saya? gertak Resya yang terlihat kesal.
"Maafkan saya kalau saya lancang atas perlakukan ku tadi, tapi anda mau kan menerima tawaran saya. Anda pasti mau kan berdansa dengan saya? pinta Richard dengan tatapannya yang sekejap membuat Resya yang melihatnya pun menjadi melamun dan teringat akan tatapan mata tersebut.
"Baiklah," balasnya yang merasa bingung sekaligus menyadari apa yang barusan ia ucapkan tadi.
"Astaga ada apa denganmu ini Resya, kenapa kamu malah mengiyakan permintaannya kamu kan kan belum tahu siapa laki-laki ini, kenapa kamu malah memberikannya kesempatan untuk memelukmu seperti ini?" batinnya yang merasa sangat bingung.
Akhirnya mereka pun berdansa bersama, Dengan alunan musik yang membuat suasana jadi tenang dan romantis..merasa pun canggung karena laki-laki yang ada dihadapannya itu terus menerus menatap dirinya dengan tatapan khusus.
"Siapa sebenarnya laki-laki ini..kenapa dari suaranya kaya familiar buatku, tapi kenapa aku juga merasa tidaklah canggung ketika berdekatan dengannya seperti ini?" batinnya yang tak henti-hentinya mengalihkan pandangannya.
"Aku rasa Resya tidaklah sadar dengan siapa Pria yang ia ajak berdansa saat ini? batinnya yang terus-menerus tersenyum.
BERSAMBUNG.
__ADS_1