
Berjalan bersandingan dengan pelaku dan bercakap-cakap entah membahas persoalan apa. Tak lama langkah pria dikejutkan dengan adanya sebuah pukulan yang tepat mengenai dirinya dan mengakibatkan kesadaran laki-laki itu pun menjadi tak sadarkan diri.
Tersungkur kelantai dalam kondisi tak sadarkan diri. Richard pun memerintahkan beberapa orang untuk membawanya ke suatu tempat.
"Bawa dia kedalam ruangan yang sudah kita siapkan. Dan jangan lupa bawa juga Miko kedalam ruangan ini supaya pelaku ada temannya," perintah Richard dengan tersenyum sinis.
"Baik tuan," balas anak buahnya berlalu membopong tubuh laki-laki tersebut.
"Sekarang apa yang ingin Tuan lakukan. Apa tuan ingin menginterogasinya sekarang juga?" tanya Gibran.
"Kita tunggu beberapa menit lagi, sekarang aku ingin melihat Resya apa dia sudah berhasil menjebak wanita itu agar mabuk,"
"Baik Tuan.
*
*
"Maaf saya hanya bisa menyediakan menu seperti ini jadi silahkan di cicipi,"ucapnya dengan memberikan satu buah botol alcohol pada wanita itu.
"Jadi jeng Resya juga sering minum alcohol seperti ini?"tanya wanita kemudian mulai mengambilnya.
"Iya jeng saya juga sering meminum, minuman ini tapi tidak sampai menghabiskan satu botol penuh," ucapnya lagi.
"Astaga aku sampai lupa tidak memberitahunya untuk jangan meminum minuman itu, kalau nanti dia mabuk gimana?"gumam Richard yang mengawasinya dari jauh.
"Tuan tenang saja dia pasti tidak akan meminumnya karena Resya tidak suka dengan minuman Alcohol, hanya saja jika wanita itu memaksanya kita bisa apa?"timpal Gibran yang berada disampingnya.
"Aku harus melakukan sesuatu agar aku tidak sampai meminum minuman ini," batin Resya dengan pandangannya yang melirik kanan mau pun kiri.
"Jeng Resya kenapa? Kenapa saya perhatikan jeng Resya terlihat kebingungan?" tanya wanita itu yang sedikit ada rasa curiga.
"Tidak ada apa-apa kok jeng. Saya hanya mencari pelayan apa dia lupa tidak menyiapkan gelas disini?"
"Gelas?" tanya balik wanita itu.
__ADS_1
"Iya. Saya biasa setiap meminum apapun harus ada persediaan gelas yang lebih besar agar cara kita minum lebih nikmat dari pada harus menuangkannya beberapa kali," jelas Resya.
"Iya juga sih jeng itu ide yang bagus. Apa saya perlu memangilnya?" tawar wanita itu.
"Tidak perlu jeng, itu dia udah datang.
"Baiklah.
"Sekar?"teriak Resya kemudian wanita yang bernama Sekar itu pun menghampirinya.
"Iya Nyonya apa ada yang perlu saya lakukan?"
"Tolong kamu ambilkan saya gelas yang lebih besar dari ukuran ini ya. Karena ini menurut-ku terlalu kecil,"
"Baik Nyonya akan saya ambilkan," balasnya yang hendak akan pergi, tapi Resya memangilnya lagi.
"Sekalian kamu jangan lupa tuangkan minumannya juga ya. Karena ini hanya ada satu botol takutnya jeng Sally kurang puas menikmatinya,"ucapnya dengan memberikan kode kedipan matanya.
"Baik Nyonya.
"Aku rasa Sekar akan paham dengan kode kedipan mata yang aku lakukan barusan,"batinnya.
"Baiklah terima kasih.
"Sama-sama nyonya mari saya tingal dulu," ucap sang pelayan.
"Baiklah," balas Resya.
"Pintar sekali ia sudah menukarnya dengan minuman teh yang sekilas warnanya hampir sama," batinnya yang cukup merasa lebih lega. Tak lama ia pun mulai meminum minuman tersebut.
Berhasil membujuk wanita itu akan mau meminumnya. Resya merasa sangat lega setelah melihat jika sudah dua gelas yang dihabiskan wanita itu. Dan perlahan-lahan kesadaran wanita itu mulai hilang. Bahkan beberapa kali Resya mencoba mengajak berbicara terlihat tidak ada respon yang dilontarkannya.
Berada dalam ruangan cukup gelap tanpa ada lampu penerangan yang tersinar membuat laki-laki itu terlihat nampak dipenuhi dengan rasa ketakutan. Bahkan bulu kuduknya mulai berdiri dan keringat yang nampak terlihat hampir membasahi sekujur wajahnya.
Melihat kanan kiri, ia dikejutkan dengan hadirnya sesosok ular piton yang cukup besar yang mulai menghampirinya. Dibiarkan berkeliaran laki-laki itu teriak dengan histerisnya takut jika ular itu akan memakannya hidup-hidup.
__ADS_1
Posisinya yang dalam keadaan terikat diatas kursi membuat laki-laki itu tidak bisa berbuat banyak atau pun melakukan pemberontakan.
Tak lama tibalah sinar lampu yang mulai menyinari ruangan ini setelah hadirnya salah seorang yang perlahan-lahan mulai menghampirinya dengan tatapan siap untuk memangsanya.
Richard iya laki-laki itu nampak lega melihat seseorang yang tidak berdaya terus berteriak lantaran ketakutan akan sesosok ular piton yang perlahan-lahan mulai menyentuh lekuk kakinya.
Hanya menatapnya dibalik kaca tembus pandang membuat lelaki bernama Richard itu nampak puas.
"Tu ...tuan jadi tuan yang menyekap-ku disini? Ada apa tuan kenapa tuan sampai menculik-ku seperti ini apa alasannya?" lepaskan aku ...lepaskan aku ...."
"Alasannya? Apa aku perlu menjelaskan semuanya sama kamu tentang kematian yang menyangkut Suami dari Wanita yang anda katakan sebagai Adik kandung kamu tadi?"timpal Richard spontan membuat pandangan laki-laki itu nampak ketakutan.
"Maksud tuan?"tanya baliknya.
"Sudahlah aku paling benci sama orang yang tidak pernah berkata jujur. Dan aku juga paling benci sama orang yang berpura-pura tidak tahu padahal aku sudah tahu semuanya tentang hubungan kalian. Kamu dan wanita kalian sebenarnya saling mencintai kan? Karena sebuah obsesi untuk memiliki wanita itu seutuhnya kamu gunakan cara licik itu untuk melenyapkannya. Dan kalian kan orang yang sudah membunuhnya?"
"Apa maksudmu aku tidak mengerti?"
"Kamu masih tidak mau berkata jujur juga. Apa kamu masih mau aku ambilkan ular lagi agar kamu mau mengaku atas semua perbuatan yang pernah kamu lakukan pada pria itu?" Gibran?"panggilnya kemudian Gibran pun menghampirinya.
"Iya Tuan?"
"Bisa ambilkan ular yang satunya lagi. Aku rasa dia sangat kesepian dan butuh teman lagi untuk ia ajak bermain," perintahnya dengan tatapannya yang tak henti-hentinya menatap pria itu dengan wajah ketakutannya.
"Baik Tuan saya akan mengambilnya?" balas Gibran, sesaat ia ingin pergi pria itu berteriak keras dan memohon.
"Saya mohon ...saya mohon jangan lakukan itu saya mohon. Iya ...memang saya orang yang telah membunuhnya, sebelum terjadinya kecelakaan saya memang sudah sengaja menyabotase rem mobil agar pelaku mengalami kecelakaan. Dan Kematian yang dialami korban memang saya dan istri pelaku yang sengaja melakukannya ...saya mohon ..saya mohon jangan biarkan aku sampai dimakan ulat ini saya mohon.
"Rencana berjalan sesuai rencana. Kamu sudah berhasil mengungkapkan semua kejahatan kamu itu. Dan apa yang kamu katakan sudah tertangkap kamera jadi pastinya kurungan didalam sel penjara siap menantimu. Gibran?"
"Iya Tuan," panggil pihak kepolisian untuk menjemputnya.
"Baik tuan.
"Satu pelaku sudah berhasil kita tangani jadi sekarang giliran kita menyelesaikannya satu pelaku lagi. Kamu jaga dia jangan sampai lepas.
__ADS_1
"Baik tuan.
BERSAMBUNG.