Penjara Cinta Mafia Kejam

Penjara Cinta Mafia Kejam
BAB 66.( PENYAMARAN GIBRAN)


__ADS_3

66


"Jika kamu berfikir jika Resya akan terus bersamamu dia akan tambah semakin menderita, bukannya apa yang kamu lakukan saat ini sudahlah membuatnya sangat menderita. Atau mungkin apa jangan-jangan apa telah Resya alami selama ini, semua itu rencana kamu sendiri yang telah kamu rencanakan untuk menyingkirkan Resya dari Rumah itu. Karena kamu hanya inggin melindunginya?"tanya Revan yang kemudian Richard pun membalasnya.


"Lebih tepatnya seperti itu. Aku tahu mungkin apa yang aku lalukan selama ini sangatlah keterlaluan, pastinya tidak akan semudah bagiku untuk mendapatkan pintu maaf dari Resya. Aku sudah menerima resiko yang akan terjadi nanti. Karena bagiku lebih baik aku kehilangan cinta Resya dari pada aku harus kehilangan Resya untuk selama-lamanya. Aku sudah pernah menggalami kehilangan orang-orang yang sangat aku sayangi jadi cukup mereka aja yang jadi korbannya. Sebisa mungkin aku akan melindungi Resya walaupun resikonya aku sendiri yang akan dibenci olehnya?"balas Richard dengan pandangannya yang hanya fokus menatap kearah depan, sedangkan Revan yang berada disampingnya ia hanya menatapnya dengan tatapan herannya.


Mengingat perkataan apa yang didengar Richard lewat alat pengintai yang sengaja dipasang Richard. Akhirnya berhasil alat itu juga ia berhasil mengetahui semua niat busuk yang telah direncanakan Sandra selama ini.


FLASC BACK.


"Maaf Lex, maaf kalau aku harus meninggalkanmu dan harus memisahkan mu dengan anak kandung kamu sendiri. Aku sudah kehilangan akal dan aku tidak mau kehilangan Richard yang kedua kalinya jadi dengan menganggap jika anak ini adalah anak kandung Richard, mungkin cara ini bisa mengembalikan keadaan dan kepercayaan Richard yang sudah hancur lantaran sudah tidak mempercayaiku lagi, maafkan aku Alex, maafkan aku!"ucap Sandra yang berkata sendirian dengan terduduk diatas ranjang dan sesekali ia pun mengelus-elus perutnya yang masih rata.


"Dasar Wanita licik jadi dia bukan hanya berniat inggin membuatku hancur, tapi mereka dia juga berniat inggin membunuh Resya dan anak yang ada di kandungannya Resya, tidak itu tidak bisa dibiarkan aku harus melakukan sesuatu, iya aku harus melakukan sesuatu agar hal ini tidak sampai terjadi pada Resya. Aku tidak akan bertindak bodoh lagi apalagi Wanita lampir itu juga sudah dengan beraninya membohongiku, mengganggap jika anak yang ada di kandungannya adalah anakku. Padahal pada kenyataannya anak itu adalah darah daging Alex, lihat saja sekarang giliranku untuk memutar kembali rencana yang telah kalian rencanakan itu!" ucap Richard yang merasa sangat kesal, dengan berada di Toilet sembari mendengarkan isi dari alat pengintai itu.


FLASH BACK.


"Dan ini adalah bukti untuk menjebloskan Mamanya Sandra kedalam jeruji besi. Karena dialah pelaku yang telah membuat Resya menggalami kebutaan. Karena dia orang yang paling aku sayang harus mendapatkan menderita seperti, aku tidak bisa menangkapnya langsung karena aku tidak ingin jika mereka akan curiga kalau akulah orang yang sudah meneror mereka belakangan ini, tapi untuk saat ini kalian jangan menangkapnya terlebih dulu karena masih ada tugas dan bukti yang belum terkumpul yaitu mobil yang dia gunakan untuk menabrak Resya pada waktu itu. Jadi aku tugaskan ke kamu dan anak buahmu untuk menggambil bukti mobil itu dari salah satu Bengkel yang ia gunakan sebagai tempat penyimpanannya!"


"Apa kamu bisa tunjukkan kepadaku, dimana lokasi bengkel itu berada?" tanya Revan.


"Iya aku akan kirimkan lokasi bengkel itu dimana mobil itu disembunyikan disana. Aku akan kirimkan lokasinya dan kalian sergap lah nanti. Akan tetapi untuk masuk kedalam sana kayaknya kita perlu bantuan orang lain. Karena disana juga terpasang CCTV dan selain menggambil mobil itu. Aku juga punya niat untuk menggambil rekaman CCtv ketika Mamanya Sandra tepat datang ke lokasi itu dan menyerahkan Mobilnya pada pemilik bengkel, sedangkan kamu dan anak buah kamu aku tugaskan untuk menggambil Mobilnya tapi siapa yang akan mengalihkan perhatian dari para pekerja bengkel itu agar rencana ini berhasil dengan sesuai rencana, tapi sudahlah biar aku yang urus masalah itu dan biar anak buahku sendiri yang mengurusnya!"


"Baiklah aku akan membantumu. Dan mengikuti langkah-langkah yang kamu sarankan barusan tapi ngomong-ngomong apa yang terjadi padaku ini kenapa aku malah membantu buronan Mafia yang selama ini telah aku telah jadi incaranku?"gumam Revan yang merasa sangat bingung. Lantaran entah apa yang ia pikirkan saat ini dengan mudahnya ia mempercayai perkataan yang barusan dikatakan Richard barusan. Mendengar ucapan Revan, Richard hanya memberikan senyumannya kearahnya.


*****


Pagi harinya jam yang menunjukkan pukul 07:00 pagi Revan yang menunggu Richard santai dengan menduduki depan mobilnya, tak lama orang yang ia tunggu pun akhirnya datang yaitu Richard dan juga Gibran.


"Akhirnya kamu datang juga, aku kira kamu gak akan datang?"ucap Revan yang kemudian ia pun mulai bangkit, Gibran yang melihatnya ia pun memberikan tatapan bingungnya.


"Tuan apa yang Tuan lakukan disini, kenapa Tuan malah mengajak ketemuan dengan Pria ini, dia kan seorang Polisi?" bisik Gibran pada Richard dengan tatapan sinisnya yang ia berikan pada Revan.


"Kamu sekarang jadi anak buahmu juga, jadi menurut lah dengan perkataan dan permintaan apapun yang aku berikan ke anda apa anda mengerti!" tegas Revan yang seketika membuat pandangan Gibran pun terheran dan sampai-sampai ia pun menaikkan alisnya.


"Apa. Apa maksud dari perkataan dia Tuan?"tanya Gibran lagi.

__ADS_1


"Jika nanti Misi kita telah berhasil, barulah aku akan menjelaskan semuanya sama kamu. Sekarang sudah waktunya jadi cepat kita jalankan misi kita sekarang!"ucap Richard yang baru aja akan melangkahkan kakinya, Revan pun tiba-tiba langsung menghalanginya.


"Tunggu jadi sekarang siapa yang anda tugaskan untuk mengelabuhi para petugas itu agar tidak merasa curiga akan kehadiran kita untuk menyelinap disana?"


"Kamu tenang saja aku membawa Gibran. Karena dialah orang yang aku tugaskan untuk mengelabuhi para pekerja itu?"


"Tapi apa anda sadar bukannya penampilan dia perlu dirubah lebih dari ini ?"


"Maksud anda?" tanya Richard yang mulai bingung.


"Aku ada ide untuk bisa merubah penampilan teman anda ini biar dia tambah makin berhasil menjalankan misinya, sini aku bisikin!" ucap Revan yang kemudian Richard pun mulai mendekatkan telinganya pada Revan.


"Apa anda serius?" tanya Richard yang tidak percaya, dengan pandangannya yang seperti itu membuat Gibran yang melihatnya merasa tidak enak.


"Baiklah aku setuju dengan idemu,"balas Richard yang inggin sekali ia tertawa, tapi dengan berusaha iya pun menahannya.


"Apa yang sedang kalian pikirkan. Ran kemana kalian mau pembawaku pergi?" tanya Gibran dengan ekspresinya yang mulai Takut.


"Sudahlah nanti kamu juga akan tahu!"balas Richard yang kemudian ia pun merangkulnya.


Tak menunggu waktu lebih lama. Akhirnya mereka pun sampai juga ditempat yang mereka telah tuju.


"Sudah sekarang cepat kamu masuk ketempat ganti dan segeralah kamu ganti pakaian kamu dengan pakaian wanita yang barusan aku ambil, ini!" ucap Richard sambil memberikan dua pakaian pada Gibran yaitu rok mini dengan baju atasannya.


"Apa, maksud Tuan, aku...aku harus memakai semua pakaian ini, termasuk rok mini ini juga?"tanya Gibran dengan ekpresi wajah terkejutnya.


"Sudahlah jangan banyak membantah cepat masuklah dan ganti pakaian kamu, karena kita tidak punya waktu lagi!" perintah Richard.


"Tidak! Aku tidak mau, mau ditaruh dimana harga diri aku Tuan ini, aku itu laki-laki yang benar saja masak aku harus memakai pakaian wanita seperti ini sih gila kali, tidak aku tidak mau melakukannya hancur nanti harga diri aku sebagai pejantan!"sewot Gibran sambil ngomong-ngomong sendiri.


"Baiklah jika kamu gak mau memakai pakaian ini, maka kamu harus siap mendapatkan tembakan lantaran dengan beraninya kamu membangkang permintaan yang ditujukan oleh Tuanmu sendiri. Ya sudah kalau kamu menolak kamu pergi sekarang!" ancam Richard yang berniat inggin pergi, tapi Gibran pun seketika mencegahnya.


"Jangan, baiklah aku bakal memakai semua pakaian ini, tapi Tuan tunggu diluar, saya mohon jangan bunuh saya!" ucap Gibran yang mulai memelas.


"Baiklah akan aku tunggu!" balas Richard dengan tersenyum.

__ADS_1


"Takut juga nih anak?" gumam Revan dengan menahan tawanya.


"Apes banget sih kamu Gibran, masak kamu harus memakai pakaikan kaya gini sih, yang benar saja?" ujarnya yang kemudian ia pun memasuki ruangan ganti dengan langkah kaki pelannya.


"Hey Gibran apa kamu udah selesai ganti, kamu kenapa lama banget sih didalam kamu gak memakai pakaian apa yang aku perintahkan tadi!" tegas Revan dengan sedikit mengeraskan suaranya.


"Berisik, tuan bisa tidak jangan berisik sebentar lagi aku bakal keluar, aku hanya menunggu waktu dan mental yang kuat untuk berhadapan kalian!"balas Gibran yang seketika membuat Revan dan Richard yang berada di luar pun tak bisa menahan tawanya.


"Baiklah...baiklah aku tidak akan mengugupi mu tapi kamu udah pakai pakaian kamu kan?"tanya Richard dengan sedikit menyindir.


"Sudah, aku sudah memakainya.


"Baiklah berarti sekarang kita boleh masuk?"tanya Revan yang seketika membuat pandangan Richard dan Gibran pun tercengang.


"Masuk, untuk apa kalian harus ikut masuk?"


"Sudahlah nanti kamu juga akan tahu!"


Tak menunggu lama, Revan pun langsung menarik tangan Richard untuk dia ajak ikut masuk kedalam ruangan ganti bersama dengan Gibran. Akan tetapi bukan melakukan hal yang tidak-tidak, tapi tujuan mereka masuk kedalam sana, ia merias wajah Gibran dengan beberapa alat makeup yang sudah ia beli tadi.


Lipstik, bedak, bulu mata yang tertempel di wajah Gibran seketika membuat penampilan Gibran berubah secara drastis. Bahkan wike berwarna kecoklatan yang tertempel pada rambut Gibran berhasil membuat penampilan Gibran bak seperti seorang gadis yang sangat cantik.


"Astaga Gibran kamu ternyata kalau di dandanin jadi wanita cantik juga ya?" sindir Richard dengan sedikit menyindirnya.


"Apa kalian udah puas sekarang!" tegas Gibran dengan membuang mukanya yang terlihat sedikit kesal.


"Iya kita sudah puas banget sekarang. Anggap ini sebagai pelajaran karena kalian sudah membuat saya kebingungan selama ini, ya sudah sekarang kamu pakai sepatu hak tinggi ini!"


"Tidak aku tidak mau, aku dandanan kaya orang gila ini aku sudah pasrah dan mau menuruti permintaan kalian, tapi kalau menyuruhku untuk menggunakan sepatu hak tinggi ini, maaf aku tidak bisa!" tolak Gibran dengan mentah-mentah.


"Baiklah aku tidak akan memaksamu ya sudah kita keluar dari sini sekarang!"


"Tuan, Tuan bener tega nih sama aku, Tuan gak kasihan apa lihat penampilan anak buah kesayangan Tuan seketika yang kaya ondel-ondel gini?"ucap Gibran dengan memelas dan dengan memegang erat tangan Richard.


"Gak aku gak kasihan, sudahlah jangan banyak berkata ayo kita keluar sekarang!"ucap Richard yang kemudian mereka berdua pun menggandeng Gibran.

__ADS_1


"Apes banget sih nasibku Gib, hanya karena menjadi anak buah Tuan Richard kamu rela harga dirimu terinjak-injak seperti ini?" celoteh Gibran dengan nafas pelannya.


BERSAMBUNG


__ADS_2