
"Sebenarnya apa yang terjadi padaku kenapa aku tidak bisa mengingat semuanya termasuk siapa nama-ku sendiri.
Tak lama seseorang nampak membuka pintu dengan perlahan. Langkahnya kakinya mulai menginjakkan ruangan ini, sadar Richard Kemudian memalingkan pandangannya pada seseorang itu.
Ia nampak seorang laki-laki bersepatu hitam yang mulai menghampirinya. Dan seseorang itu yang tak lain adalah Gibran.
"Kamu? siapa kamu apa kamu orang yang diutus wanita tadi?" tanyanya yang kemudian Gibran pun membalasnya.
"Tidak Tuan saya datang kesini atas kemauan saya sendiri. Jujur saya sedih melihat Tuan tidak bisa mengingat siapa aku. Apa Tuan benar-benar tidak ingat akan siapa aku?"tanya Gibran nampak pasrah.
"Memangnya kamu siapa?" dan ada hubungan apa diantara kita. Kamu gak mungkin ada ikatan saudara kan sama saya? karena jujur jika kamu itu adik atau pun abang-ku itu kayaknya tidak mungkin karena kita sama sekali tidak ada kemiripan. Dan pastinya aku lebih tampan darimu?
"Astaga udah amnesia juga masih aja suka bikin aku gedek," gerutunya dengan kesal. Richard yang mendengarnya ia pun bertanya balik.
"Kamu bilang apa tadi?" tanyanya.
"Tidak. Tidak ada apa-apa kok Tuan. Baiklah saya akan mengenalkan siapa diriku sebenarnya. Dan lebih tepatnya saya adalah anak buah sekaligus teman masa kecil Tuan, sejak duduk bangku SMP kita sudah sering bersama bahkan Tuan sudah menganggap-ku sudah seperti saudara kandung sendiri," ucapnya.
"Tapi kenapa anehnya aku sama sekali tidak ingat akan siapa kamu? termasuk wanita yang tadi bilang kalau dia adalah Istriku. Dan cincin ini aku rasa cincin ini adalah cincin tipuan yang ia gunakan untuk membohongiku," ucapnya Kemudian ia melepaskannya dan berniat ingin membuangnya. Dan untuknya Gibran dengan sigap melarangnya.
"Jangan Tuan. Cincin ini sangat mahal, jika dibuang itu sangat sayangkan jadi lebih baik buat saya aja biar nanti yang menjualnya,"cela Gibran.
"Baiklah ini terimalah,"balasnya yang langsung memberikannya pada Gibran.
"Untung saja disaat Tuan membuangnya aku ada disini. Coba aja kalau tidak mungkin nyonya akan sangat hancur jika lihat cincin pernikahannya hilang akibat terpaan masalah ini,"batinnya Kemudian Gibran menyembunyikannya dalam sakunya.
__ADS_1
Hari berlalu dengan sangat cepat. Selama satu hari Richard dirawat di Rumah sakit ini. Dan keesokan harinya ia pun sudah diijinkan untuk pulang.
Mengatur strategi yang diminta Resya pada waktu itu. Gibran akhirnya mengantarkan Richard pada salah satu perusahaan yang terbilang sangat megah dan mewah. Dan untuk pertama kali Richard sampai disana, ia menginjakkan kakinya di Perusahaan tersebut. Tatapan semua orang berpaling padanya dengan sesekali orang itu menundukkan kepalanya seakan-akan sedang tunduk akan dirinya.
Tak ingin berlama-lama Gibran akhirnya mengantarkan Richard disalah satu ruangan pribadinya.
"Gibran apa kamu yakin jika perusahaan ini adalah perusahaan-ku?"tanyanya yang tidak percaya.
"Iya benar Tuan. Ini adalah perusahaan Tuan yang sudah Tuan kembangkan beberapa tahun lamanya. Dan sekarang setelah puluhan tahun tuan berjuang, tuan lega dan menikmati hasil dari jerih payah tuan selama ini," ucap Gibran mencoba meyakinkan.
"Tapi kenapa aku merasa aneh ya dengan perusahaan ini. Dan kenapa rasanya aku seperti tidak percaya jika ini adalah perusahaan-ku sendiri. Apalagi bayangan-bayangan dalam otak-ku sama sekali tidak ada yang sejalan dengan filingku menetap disini?"
"Mungkin itu hanya perasaan Tuan aja. Apalagi setelah mengalami kecelakaan kemaren daya ingatan tuan mulai berkurang jadi. Jadi sudahlah tuan jangan pikirkan soal itu oh iya saya harus pergi memeriksa laporan yang lainnya. Dan untuk sekertaris tuan tenang aja tidak akan lama sekertaris Tuan akan datang kesini jadi tuan tunggulah biar saya panggilkan,"ucapnya berlalu Gibran pun cabut dari ruangan ini.
Setelah duduk di-kursi kuasanya. Tak lama langkah kaki seseorang mulai datang dan membuka pintu ruangan ini. Awalnya Richard biasa saja akan tetapi setelah ia tahu siapa seseorang yang datang. Tatapannya tidak bisa teralihkan. Bahkan raut amarahnya terlihat memuncak setelah ia melihat jika Resya-lah sekertaris yang dimaksud oleh Gibran.
"Maaf Tuan tapi kan sudah seharusnya saya berada disini. Saya sekertaris Tuan jadi ini sudah jadi tanggung jawab saya menjalankan perintah Tuan," sambungnya tanpa berkata ia pun kembali duduk di-kursi sekertaris.
"Apa seperti ini cara kamu berhadapan dengan atasan kamu? apa kamu tidak ada takut-takutnya sama saya yang jelas-jelas saya ini adalah atasan kamu?"bentaknya lagi.
Aku rela berpura-pura menjadi seorang sekertaris karena mungkin dengan cara seperti inilah aku bisa mengawasi-mu setiap hari. Dan pastinya aku bisa tahu apa isi hatimu masihlah sama tidak berubah dan tidak akan berpaling pada wanita lain.
"Kenapa kamu hanya bengong, jika kamu tidak ada niatan buat kerja keluar saja dari ruangan ini lagian disini masih banyak orang yang ingin kerja disini.
"Maaf tuan saya akui saya salah, maafkan saya.
__ADS_1
"Jangan membalas, saya paling tidak suka sama orang yang tidak ada niatan untuk kerja. Jadi jika kamu bosan kamu bisa pergi karena pintu akan selalu terbuka lebar untuk orang seperti-mu," bentaknya tanpa berkata Richard pun pergi. Tak lupa dobrakan pintu telah terdengar akibat ulah Richard yang menutupnya dengan emosinya yang menggebu-gebu.
"Astaga dia kehilangan semua ingatannya tapi kenapa sifat buruknya tidak ikut hilang sih. Aku kira dia hanya mengalami hilang ingatan seperti yang ada di film-film, tapi melihat perlakuannya akan sangat berbeda akan sangat sulit untuk menerima semua ini. Dan pastinya butuh kesabaran ekstra untuk bertahan mendengar bentakannya,"batin Resya yang nampak pasrah dan menidurkan kepadanya diatas meja.
"Mama sudah pulang gimana Ma apa ada perkembangan. Apa Papa sudah mulai ingat akan siapa Mama?"tanya Sifa ketika melihat Mamanya yang pulang dengan raut wajah manyunnya.
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Sifa, balasan yang diucapkan Resya hanyalah menggelengkan kepalanya.
"Mama. Maksud Mama?"tanya Silvi nampak ikut mendekati Mamanya.
"Ada satu hal yang tidak kalian ketahui sayang," sambung Resya pada mereka berdua.
"Satu hal apa Ma?"tanya Silvi.
"Ternyata Papa kamu bukan hanya tidak ingat akan siapa kita. Akan tetapi semua berbeda dari dugaan kita, sifat dan perilaku Papa kamu yang asli telah muncul lagi. Bahkan bisa dibilang Papa kamu menjadi seorang yang sifatnya arogan dan pastinya kamu tahu sendiri kan?"
"Astaga sesulit ini ternyata. Terus sekarang apa yang harus kita lakukan Ma. Apa kita akan diam dan menghentikan sandiwara ini?"timpal Silvi.
"Tidak sayang. Mama tidak akan mengalah sebelum Papa kamu ingat kembali akan siapa Mama. Dan Mama sudah ada rencana lagi, semoga aja dengan adanya rencana baru yang Mana buat Papa kamu perlahan-lahan akan ingat siapa Mama.
"Rencana baru lagi?" tanya Sifa.
"Iya intinya nanti kalian juga akan tahu.
"Baiklah Ma."
__ADS_1
BERSAMBUNG.