
Silvi menatap pantulan wajahnya sekali lagi di cermin depannya. Tidak menyangka sekali, bahwa gadis yang dulunya hidup dengan kemalangan dari kecil sepertinya sebentar lagi akan menjadi seorang istri dari seorang Dokter.
Rasanya ingin menangis haru, Silvi benar-benar tidak menyangka semua ini terjadi. Bayangan di masa remajanya dipenuhi dengan kegelapan, remang dan luka sayatan selalu saja menghantui dirinya. Akan tetapi kebahagiaan yang telah ia nanti sejak lama akhirnya telah tiba pada hari ini juga.
"Terimakasih, Tuhan." Silvi mengucapkan itu sangat tulus, diiringi setetes air mata bahagia yang kemudian ia usap perlahan dari pelapuk matanya.
"
"
"
"Saya terima, nikah dan kawinnya, Silvi aninditya Binti Richard betranto, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi, sah?"
"SAHHH!!!"
Rasyel terdengar sangat tegas mengucapkan Ijab Kabul, diiringi tangis haru dari tamu dan anggota keluarga yang hadir di sana.
Ucapan Sah yang sangat semangat itu semakin mengharukan ruangan ini.
Hari ini, 07 Maret 2022 kalian sudah sah menjadi sepasang suami-istri, Silvi yang berada di samping suaminya, dan Rasyel yang siap mengecup keningnya. Akan tetapi belum juga Rasyel menyentuhnya Rasya terlebih dulu memulai lawakannya.
"Sekarang, kalian berdua sudah sah menjadi pasangan suami istri. Jadi, bergelut di bawah selimut lah dengan sepuasnya." Mendengar kata yang diucapkan Rasya barusan , Silvi mau pun Rasyel tersipu malu. Sedangkan Sifa yang melihatnya ia pun tak segan-segan melemparkan satu buah sepatunya tepat mengenai kepala Rasya.
Terkejut dengan apa yang barusan dilakukan Sifa, tatapan semua orang pun beralih menatapnya akan tetapi bukan menatapnya dengan tatapan tajam atau pun benci melainkan menatapnya dengan tatapan tawa lantaran melihat ulah dua sejoli ini.
"Aduh," rengek Rasya, karena Sifa yang memberikan lemparan sepatu kearahnya.
__ADS_1
"Sekali lagi elo berulah maka sepatu sebelah kiri ku ini yang akan menyumpal mulut lo apa lo paham," ancam Sifa yang terlihat tegas lan menakutkan lantaran memegang sepatu haknya dan siap untuk ia lempar kearah Rasya.
"Sudah-sudah kalian ini calon pasangan baru kenapa suka berantem terus sih, heran gue," ledek Rasyel akan tetapi mereka membuang muka kearah masing-masing.
"Semoga langgeng sampai kakek nenek ya Nak, doa terbaik buat kalian." ujar Mamanya dengan tulus dan memeluknya.
"Selamat ya sayang. Dan kamu ... saya harap kamu laki-laki yang bisa diandalkan dengan ucapan apa yang pernah kamu ucapan waktu dulu. Dan jika kamu sampai berani menyakitinya maka bersiaplah untuk berhadapan denganku," ledek Richard dengan merangkul menantunya.
"Iya Pa ...Rasyel janji Rasyel akan menjaga dan melindungi Putri Papa, Rasyel janji," balas Rasyel dengan membalas rangkulannya.
Silvi semakin terbawa suasana, semua orang yang ada di sana mendoakannya dengan Rasyel. Ini adalah salah satu insiden sakral dalam hidupnya, yang dimana ia sudah menjadi seorang istri.
"Sekarang, sesi pemakaian cincin." Pak penghulu mengarahkan keduanya agar segera pasang cincin pernikahan secara bergantian.
Rasyel duluan yang mengambil tangan kanan Silvi, kemudian dengan lembut memasangkan cincin di jari manisnya.
***
Acara sudah diujung jalan, para tamu juag sudah ada yang pulang. Tetapi, banyak juga yang sudah berbaris rapi di belakang Rasyel dan Silvi yang sudah bersiap-siap melemparkan bunga pernikahan, yang konon katanya kalau ada seseorang yang menangkap bunga itu, maka ia adalah pasangan pengantin berikutnya yang akan segera menyusul.
"Gue pasti yang dapet!" Dengan PD, Rasya mengucapkan hal itu.
"Pede banget kamu? tanya Sifa dengan nada menyindirnya.
"Diem lah, ntar pasti gue!" Rehan ikut-ikutan.
"Gak bisa Bray! pasti gue lah yang dapat," sela Rico yang datang dari belakang mereka.
"Astaga kalian ini kenapa pada ribut sih, lagian cuma bunga lagi kalau kalian mau gue juga bisa beliin yang banyak lagi," cela Sifa yang dengan santainya ia hanya menonton sembari menikmati cemilan yang berada ditangannya.
__ADS_1
"Semuanya sudah siap?" tanya Silvi yang berada di depan bersama Rasyel, tak lupa seikat bunga putih yang mereka pegang.
"SIAP!!!"
Silvi maupun Rasyel membalikkan tubuhnya, keduanya saling bertatapan beberapa detik. Lalu tersenyum simpul, dan menghitung dengan pelan. Lalu, melempar bunga itu secara bersamaan.
Serentak suara riuh dari yang bersiap-siap menangkap begitu histeris, beberapa saat kemudian. Bunga itu terjatuh dan melayang tepat kearah Sifa, Sifa yang terlihat bingung dan panik ia hanya panik dan memandang bunga yang melayang kearahnya tersebut dengan sigap Rasya yang melihatnya juga ia pun menangkap bunga tersebut sekaligus menangkap Sifa yang hampir saja terjatuh lantaran reflek akibatnya mereka pun sama-sama terjatuh bersamaan dikarpet merah.
Dua pandangan yang tidak bisa dihindari lagi berhasil membuat mereka melamun dalam lamunannya.
"CIEEEEEE!! CEPETAN NIKAH, APA PERLU KITA NIKAHIN SEKARANG JUGA!" heboh Rasyel yang melihat saudara angkatnya dan Kakak iparnya menangkap bunga itu.
"Kayaknya ada yang bakal nikah nih setelah kita!" Silvi pun bersuara pelan, sedangkan Sifa menahan malu dengan menutupi wajahnya dengan bunga tersebut.
"HALALIN ...halalin!" sorak yang lainnya, sedangkan Sifa yang merasa malu ia akhirnya pergi dari hadapan Rasya.
Di depan sana, ada mempelai yang sedang sama-sama bahagianya.
Memeluk erat, mencium kening dengan lembut, sedangkan Rasya mau pun Sifa terlihat sedang mencari-cari kesempatan untuk saling memandang kearah satu sama lain. Akan tetapi keraguan dan ego yang terlebih dulu tertanam pada diri mereka. Apalagi ingat akan cita-cita yang impian mereka pun mengurungkan niatnya untuk Sama-sama saling mengenal dan berlabuh dalam satu ikatan cinta.
Sedangkan Resya mau Richard terlihat dari raut wajah mereka terlihat sangatlah bahagia melihat semua ini, dengan bersender disalah satu bahu kanan Richard, Resya akhirnya bisa tersenyum lepas tanpa beban atau pun ketakutan yang ia takutkan selama ini.
Setelah belasan tahun lamanya Richard pergi dan dikira meninggal oleh para anak buahnya. Kini waktu telah berlalu dan untuk pertama kalinya akhirnya Richard telah kembali. Kembali ketempat dimana ia memulai menjadi seorang mafia.
Berjalan dengan langkah pelan. Tatapan semua orang yang melihatnya mereka hanya berani menundukkan kepalanya. Hadirnya Richard membuat tubuh mereka kembali bergetar. Bahkan tatapannya tak berani mereka tunjukkan pada pria berjaket hitam tersebut.
"Kalian? kenapa kalian semua tidak berani menatapku? apa kalian takut jika aku akan mengajar kalian semua karena dengan beraninya membuat Putriku Sifa masuk kedalam dunia mafia seperti ini. Apa kalian tahu atas perbuatan kalian ini kalian bukan hanya mengancam keselamatan putri saya, tapi kalian sudah hampir bikin Putri saya celaka atas perbuatan kalian ini. Dan sekarang setelah apa yang kalian lakukan tidak ada di antara kalian berani untuk menatap-ku kenapa?
BERSAMBUNG.
__ADS_1