Penjara Cinta Mafia Kejam

Penjara Cinta Mafia Kejam
APAKAH BELLA AKAN BERHASIL


__ADS_3

Terduduk bersampingan di-kursi kerja masing-masing. Raut wajah Rasya mau pun Verrel terlihat tidak menunjukkan sifat dari perilaku mereka yang kaya biasanya. Gibran yang belum mengetahui perdebatan mereka, ia nampak bingung menatap keduanya yang nampak hanya terdiam tanpa bersuara.


"Kalian berdua kenapa jadi diam-diaman seperti ini apa kalian sedang lagi bertengkar?"tanya Gibran, tak lama Verrel menimpali pembicaraannya.


"Tanya aja sama dia, dan bilangin aku tidak mau ngomong dengannya!" balas Verrel dengan spontan, Gibran yang mendapat perintah ia nampak bingung hanya bisa menggaruk rambutnya yang tidak terasa gatal.


"Aneh, kalian ini sebenarnya ada apa sih. Ini kan kalian lagi berdampingan kenapa kalian tidak berkata langsung saja," balas Gibran yang nampak ikut kesal.


"Baiklah biar masalah ini cepat terselesaikan ayo kamu ikut aku sekarang!" Ajak Rasya yang langsung memaksa Verrel dan membawanya masuk kedalam salah satu ruangan interogasi.


"Eh itu Rasya mau bawa Verrel kemana?"tanya Gibran pada Sifa.


"Sudahlah dia punya rencana sendiri untuk menyelesaikannya jadi biarkan saja," timpal Sifa dengan santai.


"Sebenarnya ada apa sih dengan mereka apa kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi?"tanya Gibran lagi.


"Memang aku tidak tahu betul seperti apa permasalahan mereka, tapi kemaren setelah kamu pergi makan siang kemaren, mereka sempat ribut entah karena masalah apa," balas Sifa yang kemudian melanjutkan makannya lagi.


"Terus siapa dulu yang cari gara-gara?"tanya Gibran.


"Ya lebih tepatnya Verrel yang tiba-tiba marah tanpa adanya sebab yang jelas, jadi mungkin Rasya mengajaknya pergi, dia ingin tahu apa permasalahan yang sebenarnya," balas Sifa lagi.


"Tapi mereka gak bakal pukul-pukulan kan?"tanya Gibran yang nampak ikut panik.


"Kalau pukul-pukulan kayaknya tidak mungkin, tapi mungkin tembak-tembakan," balas Sifa/ Rangga dengan tawa cekikikan.


"Kamu kok gitu sih gak ada cemas-cemasnya gitu sama teman, itu teman lagi ribut juga," balas Gibran dengan kesal.


"Ya elah mereka kan udah dewasa jadi biarlah mereka menyelesaikan permasalahan mereka secara kejantanan."


"Baiklah kalau gitu."


"Apa maksud kamu membawaku ketempat interogasi seperti ini apa kamu belum puas!"tegas Verrel.


"Jujur sebenarnya apa sih yang kamu ributin, apa kamu marah karena Sifa jadian sama aku? Apa kamu marah karena kamu baru tahu kalau kita berdua dulu sempat pacaran apa itu yang membuatku marah kaya anak kecil seperti ini?"tanya Rasya dengan wajah terheran-nya.


"Bukan. Bukan itu yang membuatku marah, tapi lebih tepatnya aku marah karena semua Wanita menyukaimu gak Sifa ... Gak orang yang dijodohkan sama kamu, dan ini yang terakhir Bella apa kamu juga ingin melukainya juga?"


"Tunggu-tunggu? Jadi maksud kamu? Kamu jadi marah seperti ini semua ini karena Bella. Kamu? Kamu suka sama dia?"


"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan kita."


"Aku bukan mengalihkan pembicaraan tapi aku bertanya serius kamu menyukainya?"


"Iya aku memang menyukainya apa kamu puas!"


"Astaga Verrel kalau kamu bilang dari tadi gak harus kita berdebat tidak jelas seperti ini. Apa kamu sadar aku itu sama sekali tidak ada hubungan dengan Wanita bernama Bella itu apalagi sampai menyukainya. Dan satu lagi jujur sebenarnya kalau aku boleh jujur aku juga sedikit tidak suka dengan Wanita itu. Karena gara-gara dia hubungan aku dengan Sifa pada waktu itu menjadi goyah dan semua itu karena ulah dia."


"Ulah dia memangnya apa yang dia lakukan?"tanya Verrel dengan wajah penasarannya.


"Entah karena sengaja atau memang tidak, tapi dulu hubungan kita jadi redup juga karena adanya ke-salah pahaman, dimana Sifa menuduh-ku kalau aku telah berselingkuh dengan Bella apa itu masuk akal, tidak kan? Bahkan yang lebih parahnya Bella tidak pernah ada niatan untuk menjelaskan apa-apa tentang ke-salah pahaman itu jadi gimana kalau kamu berada diposisi ku apa kamu tidak akan marah juga?"

__ADS_1


"Tapi untuk apa dia melakukan semua itu?"


"Entahlah aku sendiri juga tidak tahu,"balas Rasya.


"Tapi kayaknya yang harus kamu hadapi bukanlah aku tapi ada seseorang yang juga mencintai Bella jadi kayaknya seseorang itu yang bakal jadi saingan kamu yang sesungguhnya?"


"Siapa seseorang itu, aku pastikan dia tidak akan pernah mendapatkan hati Bella."


"Seseorang itu yang juga kamu kenal, dia adalah Rangga!"


"Rangga?"


"Iya."


"Kalau Rangga kamu tenang saja bagiku bersaing dengan Pria itu tidak cukup sulit," balas Rasya dengan berbangga diri.


"Apa kamu sangat yakin itu?"


"Iya aku sangat yakin, ya sudah kita keluar sekarang takutnya Gibran akan berfikiran yang macam-macam," balas Verrel yang langsung menarik Rasya untuk keluar.


Segera keluar dari ruangan interogasi itu, pandangan Verrel mau pun Rasya dikejutkan dengan adanya Gibran yang terlihat sedang mengintip.


"Gibran apa yang kamu lakukan?" tanya Verrel.


"Verrel ... Rasya kalian tidak melakukan hal gila kan? Kalian tidak ribut kan didalam sana?"tanya Gibran dengan cemasnya.


"Kamu kenapa jadi se'cemas ini? Apa tadi kamu mendengar suara keributan dari dalam ruangan ini?"tanya Rasya.


"Jadi apa mungkin orang bisa ribut tanpa adanya suara?"tanya Verrel.


"Iya juga sih, tapi kalian sudah baikan kan?"tanya Gibran lagi


"Iya tenang saja kita sudah baikan kok," balas Verrel, beralih Verrel menatap Rangga yang baru saja datang. Dan tak lupa ia menatapnya dengan tatapan cukup sinis, segera Verrel pergi dari hadapan mereka setelah Rangga yang mulai ikut nimbrung bersama mereka.


"Ada apa dengan Verrel kenapa dia menatapku dengan tatapan sinis seperti itu?"gumam Rangga pada dirinya sendiri.


"Iya ada apa dengan Verrel kenapa dia menatap Rangga secara sinis seperti itu. Kamu gak lagi ngadu macam-macam kan ke Verrel mengenai Rangga?"tanya Gibran, beralih Rasya menatap Rangga.


"Tidak. Aku tidak memberitahu dia macam-macam, ya sudah aku cabut dulu!" balasnya yang kemudian menyusul Verrel.


Merasa tak enak hati, Rangga/ Sifa segera membawa Verrel untuk pergi ke tempat yang cukup sepi.


"Verrel apa yang terjadi denganku kenapa kamu menatap-ku dengan tatapan seperti itu kamu gak lagi ada dendam kan sama aku?"


"Apa kamu menyukai seseorang?" tanya Verrel dengan spontan, Rangga yang mendengarnya ia merasa bingung mau menjawab apa.


"Menyukai seseorang apa aku tidak salah dengar?"


"Aku bilang apa kamu menyukai seseorang?"


"Apa aku harus berkata jujur?"

__ADS_1


"Iya kamu memang harus mengatakan yang sejujurnya?"


"Iya, aku memang menyukai seseorang apa ada yang salah?"


"Apa kamu benar menyukai Bella?"


"Bella? Siapa yang bilang?"


"Rasya, dia yang bilang kalau kamu menyukainya dan ternyata benar kan?"


"Baiklah kalau aku memang menyukai Bella kenapa? Apa ada masalah denganmu?"


"Iya sangat jelas ada masalah karena aku juga menyukainya, jadi aku tidak ingin kamu mengejarnya karena ujung-ujungnya dia akan memilihku. Jadi dari pada pertemanan kita hancur karena adanya seorang Wanita yang sama-sama kita sukai aku ingin kamu mundur untuk berniat mendapatkan cintanya," tegas Verrel.


"Astaga jadi ini yang membuatmu jadi se-marah ini sama aku astaga?"


"Kenapa kamu sesantai ini bahkan kamu tidak menunjukkan wajah terkejut mau pun marah. Apa kamu memang benar-benar menyukainya?"tanya Verrel dengan wajah terheran-nya.


"Gini aku jelasin ke kamu ya aku itu sejujurnya tidak menyukai Bella, tapi aslinya aku sebenarnya menyukai seseorang dan seseorang itu dia adalah Rasya!"


"Apa? Apa kamu sudah gila bagaimana bisa kamu bisa menyukai sesama laki-laki kamu Laki-laki ho*o!"tegas Verrel dengan wajah tidak percaya.


"Bukan, bukan seperti itu juga," balas Rangga yang mulai ikut panik.


"Terus kalau bukan laki-laki ho*o apa maksud kamu menyukai seseorang yang dimana seseorang itu juga sama-sama Laki-laki jadi jelaskan kalau kamu itu Laki-laki homo!"


"Baiklah biar kamu tidak salah paham lagi aku bakal tunjukkan siapa sebenarnya aku. Dan aku aslinya adalah .... Sifa!" balas Sifa yang seketika membuat Verrel terkejut lantaran Rangga yang tiba-tiba langsung menunjuk suara aslinya yaitu suara Sifa.


Dengan melepaskan rambut palsu, sekaligus kumisnya tambah membuat Verrel tambah semakin terkejut dengan siapa ia berhadapan saat ini.


"Si ... Sifa?" ucap Verrel dengan wajah terkejutnya, sembari membungkam mulutnya sendiri.


"Iya ini aku Sifa. Dan sekarang kamu tahu kan kenapa aku menyukai Rasya?"balas Sifa dengan wajah senyum manisnya.


"Kamu sudah gila. Bahkan bisa dibilang kamu sudah sangat gila bagaimana bisa kamu bisa melakukan tindakan segila ini sampai-sampai berpura-pura menjadi seorang Laki-laki hanya untuk ah ... Entahlah aku tidak tahu harus berkata apa sekarang!"


"Sebenarnya niatku berpura-pura menjadi seorang laki-laki semua ini berawal karena aku kurang yakin apa Rasya benar-benar menyukaiku dengan tulus. Jadi mungkin dengan cara seperti inilah aku bisa mengetahui sifat Rasya yang sebenarnya biar pun pada kenyataannya aku juga tahu kalau Rasya saat ini masih sangat membenciku karena aku yang tiba-tiba meninggalkannya," balas Sifa nampak cemberut.


"Ingat Sifa perjuangan tidak akan pernah mengamati hasil. Aku yakin semua perjuangan yang kamu lakukan selama ini tidak akan lama kamu juga akan bisa memetiknya, jadi tetaplah semangat aku yakin kamu pasti bisa. Dan soal amarahnya Rasya aku yakin Rasya tidak sungguh-sungguh membencinya dia hanya kecewa jadi bersemangat lah," ucap Verrel dengan memberikan dukungannya pada Sifa.


"Tapi kamu gak akan membocorkan rahasia ini kan!"tanya Sifa.


"Ya tergantung!"


"Tergantung apa maksud kamu?"tanya Sifa.


"Sudahlah kita keluar aku takut mereka akan curiga ayo keluarlah!" Ajak Verrel yang langsung membawa Sifa untuk pergi.


Dan tanpa disangka-sangka ternyata diam-diam Bella telah menguping pembicaraan mereka. Dan mendengar semua perkataan yang diucapkan oleh Verrel maupun Sifa.


"Jadi ini yang kamu sembunyikan dari kita semua. Dan ternyata memang benar kecurigaan-ku kalau kamu memang benar-benar seorang Wanita, dengan berencana ingin mendapatkan simpati dari Rasya aku rasa itu adalah ide yang sangat buruk karena selama ada aku. Aku akan bikin Rasya semakin membencimu bukan malah semakin mencintai kamu," timpal Bella dengan tersenyum sinisnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2