
Setelah mendengar ucapan yang dilontarkan Resya barusan, seketika bayang-bayang ucapan itu selalu kembali muncul dalam hati Richard. Melihat Richard yang tiba-tiba terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu, lantas Sandra pun akhirnya menghampirinya dan bertanya langsung kepadanya.
"Sayang apa yang sedang kamu pikirkan, aku perhatikan dari kejauhan kamu seperti sedang melamunkan sesuatu, apa jangan-jangan ucapan yang barusan Resya katakan sudah berhasil merasuki pikiran kamu? Baiklah aku tidak masalah jika kamu memikirkan ucapan itu mau pun beranggapan jika aku dan Mama memang berbuat jahat seperti itu aku tidak masalah kok!"
"Kenapa pikiran kamu sampai sejauh itu. Apa kamu pikir dengan aku yang tiba-tiba terdiam kamu berfikir jika aku sedang memikirkan ucapan yang barusan dikatakan Wanita itu barusan?Tidaklah Sandra, aku masih sadar, gak seharusnya aku memikirkan ucapan yang belum tentu ada benarnya. Aku kenal dengan kalian sudah dari sedari dulu bahkan aku yang masih anak-anak , sedangkan aku bertemu dengan wanita itu baru seusia bibit jagung jadi gak mungkinlah kalau aku punya pikiran apalagi menuduh jika kalian melakukan hal itu. Karena aku sama sekali tidak mempercayai semua itu!"
"Makasih ya sayang, makasih karena kamu sudah sangat percaya dan mendukung kita, terima kasih!"
"Iya sama-sama Sandra kamu itu kan Istriku jadi sudah seharusnya aku melakukan semua itu?"
"Makasih ya?"
"Memang sekarang aku diam dan terlihat seperti seseorang yang sangat bodoh. Bahkan aku masih belum membedakan mana yang benar dan mana yang salah, tapi lihat saja jika yang benar adalah Sandra dan dia tidak pernah melakukan semua itu maka tunggulah pembalasanku nanti?
Tapi kenapa mendengar ucapan yang dilontarkan wanita itu, kenapa aku seperti mempercayainya. Dan kenapa aku berfikir jika apa yang dia katakan barusan memanglah benar. Tapi apa mungkin Sandra dan Mamanya berani berbuat jahat seperti padaku? Apa alasannya?"
Batinnya yang kemudian ia pun terdiam. Dan kemudian lamunannya pun tersadar setelah Sandra yang mengatakan sesuatu lagi.
"Sayang Resya kan baru aja mencoba untuk melakukan bunuh diri, apa tidak seharusnya mulai malam ini kamu temani dia tidur. Karena aku takut dia akan nekat lagi dan mencoba melakukan tindakan seperti itu lagi, jadi mendingan kamu temani dia ya?"
perintah Sandra yang membuat Richard pun bertanya balik kepadanya.
__ADS_1
"Apa kamu tidak masalah jika aku menemaninya lagi?"
"Aku tidak masalah kok kan ada Mama dan dia pasti bisa menjagaku jadi temani lah dia."
"Baiklah aku akan temani dia. Kamu beneran tidak masalah kan?"
"Iya aku tidak masalah kok."
"Ya sudah kalau gitu aku kesana dulu."
"Baiklah."
Aku memang tidak tahu siapa yang salah dan siapa yang benar, tapi dengan aku hanya berdiam sepert ini tanpa bertindak apapun aku malah menunjukkan sifatku yang terlihat sangat bodoh. Aku tidak bisa berdiam diri seperti ini secara terus-menerus aku harus melakukan sesuatu, iya aku harus melakukan sesuatu.
"Sial hampir saja aku tertawan oleh Richard, gadis itu memang dia tidak bisa dibiarkan, semakin lama aku memberinya kesempatan ia tambah semakin ngelunjak bahkan dengan beraninya ia hampir saja bikin Richard percaya dengan apa yang barusan ia katakan tadi, sial!"gumam Sandra sambil mengepalkan tangannya.
Berjalan menuju ke kamar Resya dan sampai tepat didepan pintu berwarna putih tersebut, lantas tanpa mau menunggu lebih lama lagi akhirnya Richard masuk tanpa harus mengetuknya terlebih dulu.
Melihat Resya yang sudah terbaring diatas ranjang sambil mengenakan selimut hingga sekujur tubuhnya dan hanya menyisakan bagian kepala sembari menghadap ke kanan dan tanpa suara yang ia keluarkan, membuat Richard yang baru saja menginjakkan kakinya masuk kedalam kamar ini, ia merasa jika dirinya sama sekali tidak dihargai akan kehadirannya ini.
Tak mau mencari masalah mau pun mencari keributan lagi. Akhirnya ia pun terduduk diujung ranjang sambil sesekali ia menatap kearah Resya, tapi keadaan Resya yang membelakanginya membuatnya tidak mengetahui semua pandangan yang dilakukan Richard saat ini.
__ADS_1
Biar pun sudah menjadi sepasang Suami Istri tidak terdengar suara yang sama-sama terlontar pada bibir mereka masing-masing, yang ada hanyalah keheningan dan terjadi diantara mereka.
Akan tetapi siapa sangka dibalik mereka yang kompak berdiam diri tanpa adanya suara yang keluar, ternyata diam-diam dalam hati mereka sama-sama mengatakan sesuatu.
"Biarin, lagian untuk apa aku harus bertanya kepadanya. Karena biar pun aku bertanya, mungkin dia juga masih sama gak akan pernah menghargai ku maupun membalas ucapanku nanti. Jadi biarkan saja lagian Suami seperti dia harus sekali-kali dikasih pelajaran!"batinnya yang terlihat sangat kesal.
"Wanita itu apa dia serius mengabaikan ku seperti ini. Apa dia sadar jika dia telah mengabaikan Suaminya seperti ini?" batin Richard yang terlihat kesal akibat ulah yang dilakukan Resya.
Menyadari jika Richard yang hendak akan membaringkan tubuhnya disamping Resya yang sedang berbaring, Resya yang menyadarinya baru aja ia akan bangkit dan pergi meninggalkan ranjang ini, tidak lama Richard pun tiba-tiba menghalanginya.
"Tunggu? Apa yang kamu lakukan?" tanyanya sembari menghalangi Resya untuk bangkit pergi.
"Kenapa kamu masih bertanya bukannya setiap kali kita tidur sekamar, pasti kamu yang akan tidur di sofa jadi untuk apa kamu masih bertanya lagi kepadaku soal itu, jadi lepaskan aku biar aku yang pindah ke Sofa.
"Apa aku telah menyuruhmu untuk pindah dari ranjang ini? Tidak kan? Jadi selama aku tidak menyuruhmu maka kamu juga gak boleh pergi jadi cepat kembalilah jangan bikin aku berubah pikiran lagi sekarang!. Tegasnya yang tanpa berkata lagi, Richard pun langsung membaringkan diri dengan membelakangi Resya. Sedangan Resya yang melihat sifat yang barusan di tunjukkan olehnya ia hanya bisa menatapnya dengan tatapan bingung sekaligus terheran.
"Habis kerasukan apa dia, kenapa dia tiba-tiba bisa berkata seperti itu?"batinnya yang merasa bingung sembari menunjukkan ekpresi wajah kesalnya.
"Dari pada kamu hanya bengong lebih baik cepat tidurlah!"perintahnya yang kemudian tanpa berkata lagi Richard pun memejamkan kedua matanya.
mendengar Richard menghalanginya untuk jangan pergi. Akhirnya Resya pun kembali duduk dan membaringkan tubuhnya diatas ranjang kembali, sesekali ia menatap kearah Richard yang sedang membelakanginya, tiba-tiba Resya tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang merasa senang ketika mendengar Richard berkata seperti itu tadi.
__ADS_1
"Aku harap apa yang aku dengar tadi itu bukanlah mimpi. Dan aku berharap itu semua adalah kenyataan iya kenyataan?"batinnya yang tersenyum secara diam-diam.
BERSAMBUNG.