
Tak menunggu lama, Resya pun langsung ikut masuk kedalam ruangan ganti bersama dengan Gibran, tak lupa Richard juga mendampinginya. Akan tetapi bukan melakukan hal yang tidak-tidak, tapi tujuan Resya masuk kedalam sana, ia merias wajah Gibran dengan beberapa alat makeup yang sudah tersedia didalam tasnya.
Lipstik, bedak, bulu mata yang tertempel di-wajah Gibran seketika membuat penampilan Gibran berubah secara drastis. Bahkan wike berwarna kecoklatan yang tertempel pada rambut Gibran berhasil membuat penampilan Gibran bak seperti seorang gadis yang sangatlah cantik.
"Astaga Gibran kamu ternyata kalau didandani jadi wanita cantik juga ya?" puji Resya dengan sedikit menyindirnya.
"Apa tuan sudah puas sekarang?" tanya Gibran dengan membuang mukanya yang terlihat sedikit kesal.
"Iya aku sudah puas banget sekarang, ya sudah sekarang kamu pakai sepatu hak tinggi ini.
"Gak aku gak mau, aku dandanan kaya orang gila ini aku sudah pasrah dan mau menuruti apa kata Tuan, tapi kalau Tuan menyuruhku menggunakan sepatu hak tinggi ini, maaf aku gak bisa," tolak Gibran.
"Baiklah aku tidak akan memaksamu ya sudah kita keluar dari sini sekarang.
"Tuan, anda benar-benar tega nih sama aku, Tuan gak kasihan apa lihat penampilanku yang kaya ondel-ondel gini," ucap Gibran dengan wajah memelas-nya.
"Gak aku gak kasihan, sudahlah jangan banyak berkata ayo kita keluar sekarang apa kamu mau kita gagal melaksanakan misi kita selanjutnya.
"Apes banget sih nasibmu Gib, hanya karena sebuah misi saja kamu rela harga dirimu terinjak-injak seperti ini!" ujar Gibran dengan nafas pelannya.
"Oh iya Resya coba kamu chat si pria itu. Dan kasih tahu kalau kamu ingin bertemu dengannya malam ini," pinta Richard.
"Baiklah aku akan memberikan satu pesan padanya." Berlalu Resya pun memberikan satu pesan lewat no pribadinya.
"Aku sudah mengirimkan satu pesan. Dan dia menjawab katanya ingin segera menemui-ku nanti," balasnya dengan tersenyum.
"Jeruk makan jeruk inilah kata-kata cocok untuk aku dapatkan saat ini.
Berada dalam satu mobil yang sama nampak raut wajah Gibran terlihat pasrah tanpa adanya semangat yang ia keluarkan. Hinga Richard mau pun Resya yang menatapnya mereka merasa kasian, tapi disisi lain misi ini harus segera terlaksana biar pun harus mengorbankan Gibran sebagai senjata utama untuk menjebak pelaku.
"Gibran. Kamu bisa gak kondisikan ekpresi wajah kamu itu, kamu itu udah kaya ondel-ondel kalau kamu tambah menunjukkan ekspresi jutek kamu itu kaya gitu, kamu malah terlihat sama percis seperti hewan yang ada di kebun binatang sana," ujar Richard nampak Resya yang mendengarnya ia hanya menunjukkan tawa secara diam-diam.
"Tuan ini serasa tidak ada rasa berdosa sama sekali dengan apa yang telah tuan lakukan saat ini. Aku ini laki-laki sungguhan yang jelaslah aku marah dan kesal, dan biarkanlah wajah aku seperti ini, ini sebagai sebagai kemarahan-ku saat ini," balasnya dengan singkat.
"Baiklah aku tidak akan memaksamu untuk tersenyum lagi," sambungnya lagi kemudian pandangannya teralihkan pada sesosok manusia yang baru aja turun dari mobil hitamnya.
"Dia ...dia laki-laki pada waktu itu kan?"
"Iya dia beneran laki-laki itu. Apa kita sekarang perlu melakukan tugas kita, tapi dia beneran tidak akan curiga dengan rencana kita ini?" tanya Resya.
"Untuk taktiknya serahkan semuanya pada-ku? dan kamu Resya akan lebih baik kamu gunakan jaket ini, sekalian rambut kamu aku mau kamu mengikatnya karena disini aku mau kamu juga berpura-pura sebagai laki-laki untuk meyakinkannya," balasnya.
"Menjadi laki-laki?"
"Iya untuk melalui laki-laki itu kita juga perlu melakukannya. Karena setelah aku selidiki latar belakang pria itu kenaikkan saham yang ia hasilkan datanya tidak sebanyak dari data yang ia peroleh dari perusahaan itu, jadi aku rasa dia juga melakukan korupsi,"
"Sangat disayangkan tapi sudahlah kita tidak ada waktu lagi, jika cuma diam tanpa secepatnya melakukan sesuatu ayo kita jalan.
"Baiklah.
__ADS_1
"Dan kalian kenakan masker ini untuk menutupi wajah kalian. Dan kamu Resya kamu nanti perlu menjawab sesuatu yang ditanyakan oleh pria itu dan kamu Gibran kamu hanya perlu diam saja apa kamu mengerti!"
"Iya tuan kami paham.
"Tuan Richard dia siapa?" tanya seseorang itu pada Resya yang berpura-pura menjadi pria.
"Dia itu temanku kebetulan hari ini kami juga berencana untuk bertemu dengan seseorang?" balas Richard yang kemudian ia pun menatap kearah Resya dan Gibran.
"Ke ..kenalin, ooo baiklah aku bakal kenalin kalian berdua agar hubungan kalian lebih dekat lagi dia itu Rasya kamu bisa panggil dia dengan sebutan Rasya?"
"Dasar sok-sok'an pake acara kenalan segala," batin Resya sedikit kesal.
"Ayolah jangan malu-malu aku anak yang baik kok," ucap pria itu.
"Kenalin namaku Rasya," balasnya akan tetapi Gibran yang membalasnya.
"Put, ngomong-ngomong temanmu ini suaranya kenapa aneh banget ya, apa tadi cuman aku yang merasakannya ?" tanya Pria itu dengan tatapannya yang tak henti-hentinya menatap Rasya.
"Iya dia memang lagi sakit tenggorokan, makanya suara aneh gitu!" balas Richard dengan suara pelan.
"Ya sudah karena berhubung malam ini ada tayangan film baru gimana kalau kita nonton bioskop bareng itu kayaknya seru," ajak Richard kemudian dapat iyakan dari pria itu.
"Itu ide bagus ya sudah cepat kita kesana sekarang," ajaknya kemudian mereka akhirnya pergi menuju ketempat tersebut.
Dalam ruangan yang cukup gelap dan hanya ada lampu pemancar yang menyinarinya, Gibran, Resya, Richard dan Pria itu pun duduk berempat berdampingan dalam kursi yang berjejer. Pria itu yang tanpa menyadari jika Resya yang ia kira aslinya adalah Gibran , dengan santainya ia memandangi wajah Gibran bak seperti seseorang yang sudah lagi kasmaran.
Gibran yang menyadarinya ia pun merasa sangat kesal ditatap olehnya dengan cara seperti itu. Kemesraan yang Gibran inginkan ternyata telah berubah menjadi suatu kejadian yang gak akan mungkin dia lupakan seumur hidupnya, lantas Gibran pun mengirimkan pesan pada Richard.
"Sudahlah jangan sewot kenapa, tunggu beberapa menit lagi," balasnya dengan beberapa ketikan.
"Kalian gak kenapa-kenapa kan, kok kalian semua kompak pada diem seperti ini.
"Iya maaf ya Ren, biasalah aku lagi chat-chattan sama seseorang dia kan orangnya kepo.
"Oh iya Resya apa kamu ingin aku membelikan sesuatu?" tanya Pria pada Resya palsu.
"Baiklah aku ingin minum bisakah kamu membelikannya untuk-ku?" tanya Rasya asli yang berbicara disebelah Resya palsu.
"Baiklah itu tidak masalah biar aku yang beli sekarang," ucapnya kemudian ia berdiri.
"Tuan maaf saya tingal dulu ya,"pamitnya.
"Baiklah, sekalian aku juga pesan jus jeruk ya," pinta Richard.
"Baiklah aku akan membelikannya untuk kalian semua,
Beranjak pergi dari tempat duduknya. Pria itu lupa jika Handphonenya terjatuh diatas kursi tanpa ia sadari, berlalu Gibran yang menyadarinya ia bergegas mengambilnya dan menyerahkannya pada tuannya.
"Tuan handphone si pria itu tertinggal disini apa yang harus kita lakukan dengan handphone ini?"
__ADS_1
"Berikan padaku?"ucapnya kemudian Gibran memberikannya.
"Sekarang kita perlu membuka handphone ini tapi akan sangat sulit kalau kita tidak tahu apa kode sandinya, jika kita meretasnya waktu kita tidak akan sampai, tapi tunggu " RESYA "
"Resya itu kan nama-ku untuk apa kamu menyebutnya?" tanya Resya.
"Kamu tenang aja ini hanya dugaan sementara. Aku berfikir apa ada kemungkinan pria itu gunakan nama kamu sebagai kodenya ya sudah kita coba saja.
Menekan huruf R, E, S , Y , A kemungkinan apa yang tidak di duga olehnya pun keluar.
"Berhasil, nama kamu berhasil membuka kode ini,"
"Sudah kita periksa kontak pria itu. Dan kalian awasi gerak-gerik pelaku jika dia mulai datang lagi,"
Mengecek satu persatu Richard dikejutkan dengan adanya lima nomor wanita yang di-berhasil dirayu oleh pria itu.
"Gila. Pria itu benar-benar laki-laki mata keranjang bagaimana ia bisa merayu lima wanita dalam waktu yang sama sekaligus, tapi gak apa-apa ini akan sangat seru jika kita pertemuan mereka secara bersamaan pada malam hari ini.
"Maksud kamu? Kamu mau mempertemukan mereka disini?"
"Iya itu tidak salah kan. Lagian kasihan juga para wanita itu dibodohi dengan tipuan buaya rawa-rawa itu," timpal Richard.
Lalu Richard pun memberikan beberapa pesan pada mereka yang mengatakan" Sayang hari ini kamu bisa datang kesini Restoran Permata Indah ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan ke kamu, datang ya "
"Kayaknya pesan seperti ini akan membuat mereka percaya jika pesan yang aku kirimkan benar pesan darinya,"
"Iya aku rasa mereka akan percaya.
"Tuan pria itu mulai datang," sambung Gibran kemudian ia pun meletakkan ponsel itu dibawah kursi seolah-olah ponsel itu benar-benar terjatuh.
"Maaf ya aku lama soalnya tadi antri,"
"Iya gak papa,"
"Oh iya ini kita hampir satu jam nonton bioskop apa tidak seharusnya kita pindah tempat. Entah kenapa aku tiba-tiba lapar karena tadi aku hanya memesan minuman," ajak Richard kemudian mendapatkan anggukan dari mereka bertiga.
"Iya saya sendiri juga lapar, jadi gak masalah kalau pindah tempat sekarang," ucapnya kemudian ia sadar jika ponselnya tidak ada di-sakunya.
"Kamu sedang cari apa?" tanya Richard.
"Ponselku? Ponselku tidak ada disaku-ku apa aku tidak sengaja menjatuhkannya?" balasnya dengan pandangannya yang melihat kebawah mau pun kiri kanan.
"Baiklah aku coba panggil ya siapa tahu tersambung.
Dret ...dret ...dret
"Astaga disini rupanya ya sudah ayo kita lanjutkan ketempat lagi.
"Baiklah ayo.
__ADS_1
BERSAMBUNG.