Penjara Cinta Mafia Kejam

Penjara Cinta Mafia Kejam
Tak terkendali


__ADS_3

Sampai diparkiran Richard pun memerintahkan Gibran untuk membuka pintu mobilnya. Dan berlalu mereka pun masuk dan menjalankan laju kendaraannya.


"Saya tahu tuan dalam hati Tuan yang paling dalam, tuan masih memendam perasaan itu pada nyonya Resya. Akan tetapi karena ingatan tuan yang belum bisa pulih tuan harus kalah menyerang rasa itu, tapi aku yakin cepat atau lambat tuan pasti akan ingat semuanya," batin Gibran dengan pandangannya yang memperhatikan keduanya yang duduk dibelakang.


"Gibran bisa kamu percepat laju kendaraan ini. Kepala-ku mulai pusing akibat minuman tadi,"


"Baik Tuan.


Tak lama akhirnya mereka telah sampai disalah satu kediaman yang tak lain adalah kediaman dari Richard sendiri. Gibran yang mengetahuinya ia nampak menunjukkan raut wajah senangnya.


"Tuan. Kenapa Tuan membawanya ke Rumah Tuan sendiri bukankah ini akan sangat bahaya jika ada seseorang yang melihatnya?" tanya Gibran nampa berpura-pura.


"Saya terpaksa melakukan ini karena dia dalam kondisi mabuk, jadi jika aku membawanya pulang kerumahnya yang ada keluarganya akan berfikir yang tidak-tidak mengenai saya, jadi jika aku membawanya pulang kesini otomatis nama-ku akan aman. Oh iya apa kamu malah ini bisa menginap disini?"


"Maaf Tuan tapi saya tidak bisa, saya masih ada urusan ya sudah karena ini udah malam saya juga pamit pulang ya. Kabari saya kalau ada apa-apa ya dah ..


"Apa maksudnya dia itu. Apa dia sedang mengejek-ku?"


Terbaring diatas ranjang dengan kesadarannya yang masih belumlah pulih. Resya terlihat mengoyak-ngoyak tubuhnya sendiri lantaran merasa kepanasan Resya tak segan-segan hendak melepaskan pakaian yang menutupi tubuhnya sendiri. Richard yang melihatnya dengan sigap ia langsung menghalanginya.


"Apa kamu udah gila?" jangan lakukan itu!" tegasnya yang tak sengaja malah menyentuh sesuatu yang dimiliki di-dada Resya.


"Astaga apa yang barusan aku lakukan apa aku menyentuh pusaka itu?" gumamnya yang merasa risi.


"Hey ini Rumah-ku jadi jaga sifat-mu dan jangan coba-coba kamu mengoda-ku apalagi sampai-sampai menunjukkan harta kamu itu apa kamu paham!" tegasnya Richard dengan raut wajah kesalnya.

__ADS_1


Mendengar ucapan yang diucapkan Richard, Resya terlihat tidak meresponnya. Dengan keadaan terbaring dan membolak-balik tubuhnya sendiri. Tatapan Richard tiba-tiba membuat dia terpukau akan kecantikan Resya yang sekarang baru ia sadari.


"Kamu terlihat sangat cantik Resya, bahkan kecantikan yang kamu miliki sangatlah berbeda dengan yang dimiliki semua wanita yang aku pandangan'i


Ucapan manis yang akhirnya terucap dari mulutnya sendiri. Akan tetapi tak lama ia sadar akan ucapan yang ia ucapkan tadi.


"Astaga apa yang barusan aku katakan tadi kenapa aku bisa-bisanya sampai berkata seperti itu? sudahlah mendingan aku mandi aja," ucapnya yang kemudian ia berjalan menuju kedalam kamar kecil.


"Aw kepala-ku? kepala-ku sangat pusing ini pasti pengaruh akibat minuman tadi, dasar semua ini gara-gara wanita itu kalau bukan dia gak mungkin aku akan merasa pusing seperti itu. Sudahlah mendingan aku cepat mandi agar pengaruh minuman ini tidak menjalar kemana-mana.


Melepaskan semua pakaiannya dan dalam keadaan bertelanjang, Richard akhirnya membebaskan diri melakukan ritual mandinya dengan berendam didalamnya dengan santai.


Entah apa yang ia pikirkan sampai-sampai ia terlihat memikirkan sesuatu tanpa ia sadari langkah seseorang mulai menghampiri arah dimana ia melupakan ritual mandinya sekarang.


Ia seseorang itu yang tak lain ia adalah Resya, dalam keadaan yang masih kurang sadar ia berjalan dan terus berjalan mendekati Richard dimana ia sedang melakukan ritualnya.


Terkejut, Richard lantas membentaknya.


"Kamu? apa yang kamu lakukan kenapa kamu dengan beraninya datang kesini. Apa kamu tidak lihat aku sedang mandi!" suara angkuh terdengar menyelikit dadanya akan tetapi tidak dengan Resya yang mendengar ada suara bentakan ia malah terus berjalan menghampirinya.


"Astaga dia sedang mabuk apa seburuk ini seseorang yang sedang mabuk. Kira-kira berapa botol yang barusan ia minum?"gumamnya sendiri.


Langkah Resya yang mulai tidak setabil, selangkah Resya akan terjatuh dengan sigap Richard menangkapnya dan siapa sangka mereka malah ikut terjatuh bersamaan didalam air tempat Richard berendam tadi.


Pagi yang cerah telah terlihat telah menampakkan sinarnya hinga menembus gorden jendela. Sedangkan Resya yang perlahan-lahan mulai menggerakkan badannya, sekaligus membuka matanya dia merasa seperti ada yang memeluk tubuhnya itu.

__ADS_1


Membuka matanya secara perlahan sambil mengumpulkan nyawanya. Hampir saja dia berteriak saking kagetnya ia menyadari jika sudah ada Richard yang tertidur menghadapnya sambil memeluk pinggangnya dengan cukup erat.


Bahkan yang membuatnya tidak percaya, ia tidak percaya jika keduanya dalam keadaan bertelanjang satu sama lain.


Seketika Resya pun menahan nafasnya, lantaran dia tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Sangatlah canggung walaupun yang memeluknya adalah Suaminya sendiri.


Resya mencoba untuk melepaskan pelukan itu dengan berhati-hati. Akan tetapi kenapa tiba-tiba jantungnya berdegup kencang dan ini membuatnya sangat tidaklah nyaman.


Hampir saja tangan Richard terlepas dari pelukannya, tapi lelaki itu sudah lebih dulu menariknya kembali. Wajah keduanya saat ini sangatlah dekat, bahkan hidung mereka sama-sama bersentuhan.


"Astaga apa yang barusan terjadi pada tadi malam, bukankah tadi malam aku pergi ke club sendirian. Tapi kenapa sekarang aku malah tidur dengannya seperti ini?" batin Resya yang terus-menerus memikirkan apa yang terjadi pada tadi malam.


Belum juga pelukan itu terlepas dari keduanya, terlebih dulu Richard pun berkata dan sekejab membuat Resya yang berusaha pun terkejut tidak main.


"Mau kemana kamu sayang?" tanya Richard dengan senyumannya, tapi yang membuat Resya bingung Richard nampak belumlah sadar dari tidurnya bahkan ia masih tertidur memejamkan kedua matanya.


"Dia masih belum sadar. Apa dia juga dalam keadaan mabuk sekarang?" batinnya yang mencoba menepuk pipi Richard akan tetapi niatnya terhenti karena ia takut jika Richard akan sadar dan terkejut melihat kondisi mereka saat ini.


"Aku harus pergi sekarang ia itu lebih bagus," ucapnya yang kemudian ia memungut satu persatu pakaian yang pada berserakan dilantai.


"Melihat Richard yang masih dalam kondisi telanjang apa dia akan memakai-kan pakaiannya juga.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan, dia tidak mengenakan pakaian sama sekali tapi kalau aku membantunya dan dia akan sadar gimana, tidak itu ide yang buruk jadi akan lebih baik aku pergi saja. Dan hubungi Gibran segera mungkin iya itu lebih bagus," ucapnya yang selesai mengenakan pakaiannya tak lama ia bergegas pergi dari ruangan ini dan membiarkan Richard masih tidur pulas.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2