
"Aku harus segera pergi dari bandara ini dan berpindah keluar negeri karena dengan begitu aku akan aman dari masalah ini," batinnya dengan sikap dan perilakunya yang sangat mencurigai.
"Hey jangan kabur kamu!" teriak seseorang yang langsung meneriakinya. Burhan yang sadar ia segera berlari dan berjalan menuju kekerumunan orang-orang.
"Sial pelaku itu sengaja berlari kearah kerumunan itu, ini akan sangat menyulitkan bagi kita semua cepat kita bagi tugas masing-masing.
"Baik Tuan.
Suara tembakan mereka layangkan keatas. Sedangkan beberapa pintu masuk mau pun keluar segera mereka tutup untuk mencegah pelaku berhasil melarikan diri.
Suasana yang tadinya nampak tenang dan sunyi, kini sekejap suasana itu pun berubah menjadi mencekam. Orang-orang yang mendengar ada suara tembakan dan adanya para Polisi yang nampak mencari buronan mereka nampak ketakutan.
"Kalian semua jangan panik. Dan tiarap karena didalam sini ada pelaku kejahatan yang berniat ingin melarikan diri dari sini, jadi saya mohon kalian semua tiarap sekarang!"perintah Revan berlalu, semua orang yang mematuhi peraturan pun sama-sama melakukan tiarap secara bersamaan.
Sedangkan pelaku yang nampak ketakutan ia hanya nampak mengikuti peraturan agar dirinya tak terdeteksi jika dirinya memang pelaku yang mereka cari.
"Sial apa yang harus aku lakukan sekarang jika aku berdiam diri aku akan tertangkap oleh mereka, tapi jika aku lari itu sama aja aku melarikan diri ke-meraka!"batinnya yang nampak sangat panik.
"Tidak. Aku tidak boleh kalah, aku harus kabur dari mereka. Aku masih mempunyai senjata pisau ini jadi aku bisa gunakan ini sebagai alat untuk mengancam balik mereka.
Berlalu Burhan pelan-pelan ia mulai menghampiri anak kecil berumur 6 tahun. Pisau yang berada digenggaman nya ia layangkan keatas dan tinggal selangkah lagi pisau itu akan tertancap pada perut anak itu.
"Burhan apa yang kamu lakukan apa kamu udah gila. Apa kamu sudah gila karena berniat ingin membunuh anak itu. Apa kamu tidak kasihan dia masih kecil dia tidak tahu apa-apa lepaskan dia!"tegas Rasya tapi Burhan nampak tak menghiraukannya.
"Jangan mendekat, jika selangkah aja kalian berani mendekatiku maka pisau tajam inilah yang akan melukai leher anak ini. Apa kamu mau melihatnya terluka? tidak kan?"
__ADS_1
"Sekarang aku tidak tahu harus memulai darimana untuk mengatakan ini sama kamu, tapi aku mohon jangan lakukan itu, aku mohon buanglah pisau itu aku mohon jangan lukai dia aku mohon Burhan."
Mata tajam Burhan yang mengarah tajam kearah semua orang. Dengan adanya pisau yang masih berada di genggamannya membuat Burhan tak segan-segan ingin segera menancapkan pisau ini ke tubuh gadis ini.
Richard yang tidak tingal diam ia berusaha sekuat tenaga menggambil pisau itu dari genggaman Burhan.
Berada dari belakang Burhan, Richard mencoba meraih pisau itu dan ia akhirnya mendapatkannya. Anak kecil yang segera ditarik oleh Sifa sedangkan Richard mau pun Burhan sama-sama adu banteng selama hampir beberapa menit mereka beradu akhirnya kemenangan berpihak pada Richard setelah ia berhasil merebut dan melemparkannya kearah yang agak jauh.
Akan tetapi nasib buruk terjadi pada Richard tanpa ia sadari terdapat satu buah pisau yang berada dalam saku Burhan berhasil ia layangkan tak main-main ia kembali menggores pisau lancip itu berbalik tepat ke lengan Richard.
Darah segar telah mengalir dari lengannya membuat Sifa yang melihatnya merasa panik dan segera hendak ingin menghampirinya, tapi Rasya langsung mencegahnya.
Lengannya yang terluka membuat kemeja putih yang dipakainya berubah menjadi merah darah.
"Papa ...."
"Jadi rasakan ini!"
Satu langkah Burhan hendak melayangkan pisau itu tepat mengenai Richard. Tiba-tiba seseorang datang dan langsung memegang dengan erat gagang pisau yang dibawa pelaku.
Dan seseorang itu adalah Ayah dari korban yang sudah ia bunuh beberapa tahun yang lalu.
"Anda sudah membunuh Putriku jadi rasakanlah ini!"
Belum juga perkataan yang akan diucapkan Burhan terucap satu tusukan terlepas dan tepat mengenai perut Burhan. Dar*h yang mengalir dengan deras membuat Ayah dari Korban yang melihatnya ia hanya melihat dengan tatapan yang kosong, tertawa sinis tidak ada langkah dari seseorang dari pria itu untuk bersimpati mau menolongnya yang terlihat sudah tidak berdaya dihadapannya.
__ADS_1
Tubuh yang seketika hampir tersungkur, rasa sakit, perih yang tiba-tiba menyerangnya membuat pandangan Burhan menjadi kabur.
Rasa lemas semakin telah dirasa olehnya. Tubuhnya yang seketika merosot kebawah yang akhirnya membuatnya tak tahan lagi, dengan bersimbah banyak dar*h akhirnya tubuhnya pun jatuh tersungkur.
Mulut yang seperti terkunci. Dan tubuh yang tidak mampu ia gerakkan, sesaat kemudian entah apa yang ada dibenak Burhan saat ini.
"Apa yang kamu rasakan ini balasan karena dulu kamu sudah membunuh Putriku secara keji. Bahkan dalam kondisi mengandung anak kamu sendiri kamu tega membunuhnya jadi terimalah itu," ucapnya kemudian ia membelakanginya.
Rasa sakit yang tidak tertahan telah ia rasa, dengan berusaha ia mendekap dan terus mendekap tubuh yang seketika mati rasa bahkan tenaga yang sedari tadi ia keluarkan untuk bertahan. Pelan-pelan tubuhnya akhirnya merosot kebawah.
Kedua mata yang tadinya terbuka dengan lebar, kini dalam hitungan detik pejaman mata itu mulai kusut. Meringis kesakitan dilantai dengan banyak darah yang keluar hinga mengotori lantai ruangan ini.
"Jika dengan cara baik saya tidak mampu memenangkannya, maka biarlah cara kematian jalan pintas yang anda milih. Saya sudah membunuh Pria ini jadi sekarang giliran saya yang harus mempertanggung jawabkan perbuatan saya, saya siap mendekam didalam sel tahanan akibat semua perbuatan saya ini. Dan kalian bertiga terima kasih atas bantuan kalian sudah bersedia membantu saya mendapatkan keadilan untuk Putri saya terima kasih," ucapnya salah seorang Polisi pun datang dan mulai memborgol kedua tangannya.
"Jika jalan ini yang tuan putuskan kami tidak bisa melakukan apa-apa. Kami senang bisa membantu Tuan dan keluarga Tuan." Timpal Richard dengan menggenggam tangan Pria itu seolah-olah ia mendukung apa yang dilakukan seorang Ayah pada penjahat yang sudah menghancurkan Putrinya.
Perlahan para Polisi menuntutnya dan membawanya kekantor polisi, sedangkan Pelaku yang sudah tidak bernyawa tak lama hadir Ambulans yang juga akan melarikannya ke-Rumah sakit.
"Aku tidak akan menyangka kasus ini akan menjadi seperti ini. Aku kira kedua pihak sama-sama akan menyerahkan diri ke-polisi atas kasus ini, tapi ... Tapi nyatanya semua berbeda dari dugaan-ku," ucap Sifa dengan pandangannya yang terlihat kosong dan bersedih.
"Dia salah satu sosok Ayah yang sangat menyayangi Putrinya. Selama dua tahun keadilan tidak pernah berpihak pada keluarganya. Putrinya meninggal dengan cara strategis itu tapi ada satu pun orang yang percaya dan mau membantunya mendapatkan keadilan itu. Saya sendiri juga sebagai seorang Ayah sangat kagum akan keberaniannya biar pun pada akhirnya jalan seperti ini yang akan ia pilih," balas Richard yang kemudian ia merangkul Putrinya.
"Aku sayang Papa dan aku sangat beruntung mempunyai sesosok Papa seperti anda aku sangat beruntung," balas Sifa yang kemudian ia langsung memeluk Papanya dengan sangat erat. Rasya yang melihatnya ia hanya tersenyum menatap keduanya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1