
Setelah mendapat penyerangan tak terduga dari para anak buah Alex dan berhasil meringkusnya. Richard dan Resya akhirnya memasuki mobil, Resya yang pada saat itu sedang fokus dengan setir kendaraan yang ia sedang ada pegangannya, ia tidak bisa berbohong jika pandangannya tidak bisa teralihkan dengan adanya darah segar yang terus keluar dari lengan kanan Richard akibat terkena tebasan celurit tadi. Terbalut dengan kain rupanya tidak membuat darah segar itu berhenti keluar.
Melihat raut wajah Richard yang sangat terlihat menahan sakit, rasa simpatinya tiba-tiba keluar. Menghentikan laju kendaraanya ditepi jalan, ia lantas langsung menarik lengan tangan Richard yang terluka tadi.
"Apa yang kamu lakukan, kenapa kamu menghentikannya? Siapa yang menyuruhmu?" tanya Richard dengan wajah geramnya.
"Berhenti berkata. Luka kamu ini sangatlah serius, jadi ini harus segera diobati agar lukanya tidak terkena infeksi."
Berniat inggin mengobatinya, rupanya niat baik Resya sama sekali tidak dihargai oleh Richard. Baru aja Resya mau menyentuh lengan Richard, Richard dengan langsung ia menghempaskan tangan Resya darinya.
"Punya gak apa kamu melakukan semua ini. Apa aku menyuruhmu untuk mengobati ku, tidak kan? Jadi singkirkan tangan kamu dariku karena aku gak butuh bantuan kamu. Apa kamu pikir dengan cara kamu sok baik seperti ini, aku akan bersimpati dan luluh kepadamu, tidak. Semua itu gak akan pernah terjadi, jadi cepat aku minta jalankan mobil ini kalau kamu gak aku usir sekarang!" tegas Richard dengan tatapan sinisnya.
Sudah tidak tahu lagi harus berkata apa. Mulut Resya seketika bungkam, bahkan untuk mengatakan sepatah kata pun aja ia rasanya sudah tidak mampu lagi. Dan ternyata untuk menjinakkan hati Richard nyatanya lebih susah ketimbang menjinakkan seekor kucing.
__ADS_1
Sedangkan Richard adalah pria yang keras kepala, diluar ia memang berkata ia tidak membutuhkan bantuan siapapun. Tapi luka yang ia rasakan ini sudahlah cukup parah.
Tak tahan dengan rasa sakit yang ia tahan sedari tadi, akhirnya ia pun menggambil botol berwarna putih yang tak lain itu adalah Alcohol yang berwarna bening. berada di kotak P3K ia kemudian langsung menyiramkannya tepat pada luka tebasan tadi.
Rasa sakit yang sudah tidak bisa ditahan lagi, dengan berbarengan rasa perih yang semakin menjadi membuat wajah Richard seketika berubah memerah. Rasa inggin sekali menjerit tapi ia tahan, karena sebagai seorang Mafia hal seperti ini memang sudah sangat sering ia lalui.
Dan tak hanya menyiramkan air alcohol itu pada lukanya, Richard yang kemudian merobek pakaiannya menjadi seikat tali, ia langsung mengikatnya tepat diatas lengan paling atas dan mengikatnya dengan sangat keras.
Menggambil sebuah jarum suntik yang sudah ia kasihkan sejenis cairan, ia kemudian menyuntikkannya pada lengan tangannya yang terluka.
Bukan dia yang menggalami luka tapi melihat tindakan heroik yang dilakukan Richard tepat disampingnya membuatnya berkeringat banyak dan wajah ketakutannya pun sudah tidak bisa ia sembunyikan lagi.
"Ka ... Kamu apa udah gila. Apa tidak ada cara lain untuk mengobati luka kamu itu, bukankah itu sangatlah heroik, apa yang kamu lakukan tadi itu sangatlah gila. Kenapa kamu malah lebih memilih menahan rasa sakit itu sendiri, jika kamu mau dilarikan ke Rumah sakit, mungkin rasa sakit yang kamu rasakan ini tidak akan sebanding disana,"ucap Resya yang seketika membuat pandangan Richard seketika beralih menatapnya.
__ADS_1
"Aku adalah seorang Mafia, jika aku pergi kesana aku pasti akan tertangkap oleh mereka. Apalagi identitas ku ini sangatlah dikenali oleh banyak orang sebagai seorang pembunuh berhati dingin, jadi bagiku rasa sakit ini gak ada apa-apa dibanding dengan resiko besar yang akan aku alami nanti. Jadi dari pada kamu ngoceh-ngoceh kaya burung beo yang lagi kelaparan, cepat kamu jalankan mobil ini sekarang!" perintah Richard dengan tegas.
"Baiklah."
"Mimpi apa aku terjebak menikah dengan pria seperti ini. Dia bukanlah manusia biasa bahkan setelah aku melihat tindakan heroik yang ia lakukan tadi, aku merasa pria ini sangatlah kuat dan tahan banting dia benar-benar Mafia kejam yang selama ini aku dengar dari kebanyakan orang,"batin Resya yang sesekali ia melirik kearah Richard.
"Kenapa kamu melirikku kearah ku seperti itu, apa kamu inggin merasakan sendiri rasa sakit yang seperti ini?" tanya Richard dengan sedikit kesal.
Mendengar perkataan yang dilontarkan Richard, Resya lebih memilih untuk diam tanpa berkata sepatah kata pun lagi.
*****
"Kenapa Richard sampai sekarang belum juga kembali, apa jangan-jangan Resya berhasil kabur darinya. Astaga kenapa aku sangat penasaran dan inggin menyaksikan pertengkaran mereka, aku sudah tidak sabar seperti apa hukuman yang akan dilakukan Richard pada Resya apalagi melihatnya se marah itu aku rasa ia akan memberi hukum yang cukup berat pada Istrinya itu," batin Sandra dengan bolak-balik tepat didepan pintu.
__ADS_1
BERSAMBUNG.