
✍️" Sayang rencana berjalan sesuai rencana. Dan Papa punya kabar bahagia dimana salah satu dari kelima orang itu akhirnya mau membantu kita menuntaskan kejahatan ini.
✍️"Alhamdulillah kalau gitu Pa, dengan banyaknya orang yang mau mendukung kita aku yakin tidak akan lama kasus ini akan segera terpecahkan. Satu bukti sudah berada digenggaman kita jadi yang perlu kita lakukan kita hanya perlu menjebak pelaku untuk mengakui semuanya dengan begitu Sifa yakin dia akan mendekam dipenjara.
✍️" Iya sayang, ingat selalu waspada dan jangan ada yang tahu kalau kita merencanakan ini.
✍️" Siap Pa.
"Alhamdulillah akhirnya kasus ini akan segera berakhir.
"Ada apa? Apa kamu sudah mendapatkan kabar baik?"
"Iya aku sudah mendapatkan kabar baik. Dari kelima orang yang kita temukan data diri dari mereka. Akhirnya salah satu dari mereka mau membantu kita memecahkan kasus ini, yang penting sekarang kita hanya perlu menjebak pelaku untuk mengakui semuanya hanya itu.
"Alhamdulillah kalau gitu aku cukup lega dengarnya ya sudah kita masuk. Karena jika ada orang yang tahu rencana kita, ini akan mempersulit tugas kita.
"Baiklah ya sudah ayo kita masuk.
"Tuan kayaknya rencana kita ini akan sangat berjalan dengan sangat lancar jika pelaku bernama Burhan itu mengakui sendiri kesalahaannya, tapi disisi lain kita masih kesusahan untuk menuntaskan permasalahan ini jika kita tidak punya cukup bukti yang jelas mengarahkan pelaku itu?"
"Untuk cara itu kita pikirkan nanti," balas Richard dengan pandangannya yang seperti sedang memikirkan sesuatu.
Sedang dalam kondisi melamun, lamunan Richard akhirnya tersadar setelah ponsel yang berada di-sakunya tiba-tiba berdering.
Segera tersadar, mengambil ponsel itu dan memeriksanya ia melihat nama Resya yang tercantum pada layar ponselnya tersebut.
"Resya kenapa dia menelfon-ku?"tanyanya pada dirinya sendiri, Gibran yang menatapnya ia kemudian menimpali pembicaraan tuannya.
"Ya elah Tuan ini melihat ponsel berdering bukannya diterima malah diajak ngobrol dulu, angkat kenapa Tuan itu ponsel juga gak akan makan tuan lagi," celetuk Gibran.
"Iya aku udah tahu," balas Richard dengan muka juteknya.
"Idih dikasih tahu juga," balasnya Gibran yang sedikit menyindir.
"Iya sayang ada apa kenapa kamu jam segini menelfon-ku? Aku mungkin sejam lagi baru bisa pulang ada apa?"
"Sayang aku ingin mangga muda. Dan aku rasa ini bawahan dari jabang bayi ini jadi kamu bersedia kan mencarikan aku mangga muda?"
__ADS_1
"Mangga muda sekarang?"
"Iya sekarang. Aku tadi melihat di Tiktok dan kayaknya mangga muda itu sangat segar jadi aku ingin sekali memakannya sekarang jadi kamu mau kan?"bujuk Resya.
"Tapi sayang bukannya aku tidak mau, tapi ini kan udah malam bahkan ini hampir pukul 23:00 malam mana ada pedagang buah yang buka jam segini besok aja ya?"
"Tidak mau aku maunya sekarang. Baiklah kalau kamu tidak mau kamu tidak boleh pulang biarin anak yang aku kandung ini ngiler karena Papanya tidak mau membelikan Mama muda bay.
"Sayang kamu jangan marah dulu sayang ..."
Belum juga perbincangan mereka usai, sambungan telefon Resya terputus.
"Kenapa Tuan? Kenapa Nyonya mematikan telfonnya?"tanya Gibran.
"Iya dia ngambek lantaran aku tidak mau membelikan mangga muda lagian apa ada pedagang yang masih buka jam segini tidak mungkinlah. Biarlah dia ngambek aku tidak perduli.
"Tuan jangan gitu Nyonya jadi rewel juga karena kemampuan dari anak yang ada dikandungan Nyonya. Dan sebagainya seorang Papa yang baik harusnya Tuan harus bersedia mencarikannya biar pun sampai ke ujung dunia sekalipun. Apa Tuan mau nanti kalau Baby kalian lahir dia akan suka ngiler tidak kan? Masak anak mafia ngiler sih malu-maluin," ledek Gibran.
"Kamu enak hanya tingal ngomong. Ini jam 23:00 malam apa ada pedagang yang masih buka?"
"Kan masih ada banyak pohon mangga yang berkeliaran di jalanan kalau tuan mau aku juga bersedia membantu Tuan mencarikannya. Kalau pun perlu kita tebang aja itu pohon aku tidak masalah kok!"
"Sekarang?"
"Tidak. Sepuluh tahun ke-depan yang sekarang lah," balasnya dengan kesal.
"Astaga tuan ini udah tua juga jangan marah-marah terus kenapa?" ledeknya.
"Sudah daripada kamu banyak omong cepat kita jalan sekarang," perintahnya yang langsung menarik tangan Gibran.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
"Tuan apa Tuan yakin kita akan mengambil mangga disini? Ini kan Rumah kosong bahkan Rumah ini sudah hampir 5 tahun tidak berpenghuni, kalau penghuninya sampai marah karena kita nyolong ini mangga gimana?"
"Bilang aja takut gitu aja repot. Sudah naiklah dan ambil mangga muda itu ayo cepat.
"Tuan! Yang lagi ngidam itu Istri Tuan sendiri jadi harusnya Tuan sendiri yang mengambilnya bukan malah saya, jadi Tuan harusnya tuan sendiri yang mengambilnya jadi cepat naiklah!" perintah balik Gibran.
__ADS_1
"Apa kamu sedang menyuruh-ku?" gertak Richard balik.
"Sekali-kali kan gak apa-apa Tuan menyuruh Tuannya sendiri. Jadi cepat naiklah,"
"Dasar!" gerutu Richard kemudian ia mulai naik keatas pohon mangga tersebut.
"Mana yang menurutmu paling muda disini Gib?" tanya Richard sembari memegang satu persatu mangga tersebut. Gibran yang melihat Richard dari bawah, ia nampak menahan tawanya.
"Gak papa lagi kerjain bos sendiri," batin Gibran.
"Woy Gibran aku sedang bertanya padamu apa kamu sudah budek?"gertak Richard.
"Astaga Tuan ini sabar dulu kenapa aku lagi memperhatikan satu persatu mangga diatas sana, jadi sabarlah," balas Gibran kemudian ia mulai menunjuk kearah satu mangga yang berada di kanan Richard.
"Itu Tuan disebelah tangan kanan Tuan itu kayaknya cocok buat Nyonya, tidak terlalu muda jadi cepat ambillah," perintah Gibran, tak lama pandangan Richard tertuju pada mangga itu.
"Baiklah aku akan mengambilnya," balasnya yang langsung menarik dengan keras tangkai mangga itu.
Mangga muda yang berhasil berada digenggaman-nya. Richard yang merasakan ada sesuatu yang mulai menyentuh tangannya ia merasa geli lantaran adanya semut rangrang yang mulai menyerang dirinya.
Terkejut lantaran tiba-tiba mendapatkan serangan dari semut itu, mangga yang tadinya sudah berada dalam genggamannya ia tak sengaja menjatuhkannya yang akhirnya manga itu pun terjatuh dan mengenai kepala Gibran dengan keras.
Duak
Sedangkan Richard yang mulai dikerubungi semut itu ia seketika terjun dari atas pohon itu. Dan naasnya Gibran yang berada dibawah pun tak sempat berpindah lokasi yang akhirnya membuat dirinya malah kejatuhan tubuh Richard dari atas.
"Astaga lenganku? Apa lenganku patah?" ucap Richard yang kemudian ia merasakan ada sesuatu yang aneh dibawahnya.
"Tumben tanah ini empuk dan tidak sakit?" gumamnya berlalu Gibran langsung menyingkirkan tubuh Richard dari atas tubuhnya.
"Tuan ini keterlaluan apa tuan tidak lihat ada aku bawah tuan kenapa Tuan asal menindih-ku?"timpal Gibran dengan ekpresi-nya yang terlihat menahan encok dipunggung-nya.
"Astaga aku kira apa lagian kenapa kamu tidak bilang kalau disana ada semut rangrang kamu pasti sengaja kan ingin mengerjai-ku?"
"Sudah Tuan jangan marah. Aku ngaku aku salah tapi apa yang udah aku dapatkan aku janji tidak akan mengulanginya lagi, jadi cepat bawa aku ke tukang urut aku rasa pinggangku ini agak encok jadi cepat antarkan aku,"
"Memangnya pukul sebelas malam ini bakalan ada tukang pijat?" tanya Richard.
__ADS_1
"Ya gak ada sih tuan, ya sudah ayo cepat kita kembali kalau gitu," balas Gibran yang langsung menarik tangan Richard.
BERSAMBUNG.