
Mulut yang tiba-tiba berkata dan mampu mengucapkan kata cantik spontan membuatnya sadar akan apa yang barusan dia katakan tadi.
Melihat Resya yang nampak kedinginan tiba-tiba rasa khawatirnya tiba-tiba muncul. Berlalu ia melangkahkan kakinya kearah Resya.
"Dia ketiduran terus bagaimana caranya dia akan pulang apa aku harus mengantarnya?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Sudahlah lebih baik aku masukkan dia aja kedalam kamar, dari pada dia harus menganggu konsentrasi-ku pada saat mengerjakan tugas ini." dan tanpa Resya sadari Richard akhirnya membopong tubuh Resya dan berniat ingin memindahkannya ke tempat tidur tempat ruang pribadinya sendiri.
Dan siapa sangka juga ternyata secara diam-diam Resya telah sadar akan tindakan apa yang dilakukan Suaminya ini.
"Dasar Suami menyebalkan, disisi lain dia berkata kalau dia sangat membenciku, tapi disisi lain dia malah menunjukkan sifat keperduliannya seperti ini padaku. Apa pantas jika ini disebut dengan kebencian, tidak kan?"
Ucapannya yang hanya mampu i lontarkan dalam hatinya. Akan tetapi naasnya belum juga Richard merebahkan tubuh Resya diatas ranjang. Richard akhirnya menyadari jika wanita yang sedang ia bopong hanya mempermainkan dirinya sendiri. Melihat senyuman Resya yang nampak sedang mempermainkannya tanpa aba-aba Richard langsung menjatuhkan tubuh Resya tepat diatas ranjangnya.
Sakit. Iya itu mungkin kata yang tepat untuk digambarkan pada seorang wanita seperti Resya. Apalagi dijatuhkan sama Suaminya sendiri bukanlah sakitnya itu berkali-kali lipat bukan.
"Aw ...," rintih Resya.
"Apa yang kamu lakukan apa kamu udah gila,"bentak Resya akan tetapi Richard nampak tak menghiraukannya.
"Bukan aku yang gila tapi kamu? apa maksud kamu berpura-pura tertidur seperti tadi apa kamu sengaja ingin mendapatkan pelukan dariku makanya kamu berpura-pura sandiwara seperti tadi," gertak balik Richard, Resya yang mendengarnya ia nampak terdiam tak berkutik.
"Kenapa kamu diam?"tanya Richard dengan sinisnya.
"Iya aku ngaku kalau aku hanya berpura-pura apa itu salah. Kan setidaknya aku berpura-pura pada Suami-ku sendiri. Dan kamu? apa kamu sama sekali tidak ingat akan siapa aku? apa kamu sama sekali tidak ingat kenangan kita semasa dulu apa kamu tidak ingat semua itu?"
__ADS_1
"Cukup. Omong kosong apa itu apa sampai segitunya kamu berniat ingin memiliki-ku sampai kamu bersikeras. Dan berusaha membuktikan akan perkataan yang barusan kamu katakan tadi.
"Baiklah. Baiklah jika kamu tidak pernah dengan apa yang aku katakan ini.
Perlahan-lahan Resya menggenggam tangan Richard dan mendekatkan tangannya agar tangan itu menyentuh wajahnya.
"Aku capek membuktikan semuanya sama kamu. Dan jika kamu masih tidak percaya sama aku setidaknya saat ini kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini, detak jantung-ku yang berdetak cukup kencang. Dan air mata ini apa kamu tega melihat aku yang setiap harinya menitihkan air mata ini hanya untuk membuktikannya padamu. Rasakan dan pahami apa kamu merasakan sakit jika kamu melihat-ku menangis seperti ini?"
Memalingkan pandangannya dari Resya seolah-olah tidak tega akan air mata yang terus-menerus mengalir dari kedua sudut katanya. Terasa sesak tapi entahlah perasaan apa itu yang ia rasakan.
"Perasaan apa ini kenapa aku melihatnya menangis hatiku terasa sesak. Dan ingin sekali mengusap air mata itu. Apa benar jika yang ia katakan selama ini jika ia adalah istriku?"batin Richard yang nampak terdiam yang akhirnya ia pun memalingkan pandangannya.
"Richard kenapa kamu memalingkan pandangan kamu dariku?" apa kamu sudah merasakan hal yang aku katakan tadi?"tanya Resya akan tetapi tak tanggapan dari pria dihadapannya.
Menatap dengan sangat serius wajah seseorang yang berada dihadapannya saat ini, spontan dalam ingatan Richard pun langsung muncul bayang-bayang seseorang wanita yang berlalu dengan begitu yang sangat cepat. Hingga ia tidak mampu untuk menggapai bayang-bayang apa yang terus menyitari dalam pikirannya saat ini.
"Ah..kepalaku, kenapa kepalaku jadi sakit sekali seperti ini. Ah ...awww sakit, ahh sakit ...ah...."
Teriakan itulah yang akhirnya muncul dalam mulut Richard lantaran sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakit yang ia derita saat ini.
Berlutut berbarengan dengan kedua tangannya yang mencengkram kepalanya dengan sangat keras. Dan bersamaan dengan raut wajah Richard yang terlihat memerah, keringat yang keluar bercucuran membuat Resya yang melihatnya diikuti rasa cemas yang menghantuinya saat ini.
Melihat dan mendengar Suaminya yang tiba-tiba meringis kesakitan dengan menekan keras bagian kepalanya ia yang melihatnya pun menjadi sangat panik tak karuan.
Mencoba menenangkannya akan tetapi rasa sakit yang dialami Richard sudah tidak bisa ia tahan lagi dengan berakhir ia pun akhirnya langsung tersungkur jatuh diatas ranjang tadi.
__ADS_1
"Richard bangunlah, Richard bangun aku mohon bangunlah jangan bikin aku kuatir seperti ini. Richard bangun, aku mohon bangunlah maafkan aku ...maafkan aku ...,"
Meratapi nasib Richard yang masih terbaring lemas diatas ranjang dalam posisi belum sadarkan diri. Air mata Resya tak henti-hentinya menetes hinga laki-laki yang berada disampingnya akhirnya angkat bicara.
"Nyonya apa yang sebenarnya terjadi pada Tuan. Dan kenapa dia bisa sampai seperti ini. Apa dia mengingat sesuatu tentang nyonya?"tanya pria itu yang tak lain adalah Gibran.
"Semua ini salah-ku. Dia tidak akan jatuh pingsan dan merasakan rasa sakit itu kalau bukan aku sendiri yang memulainya," ucap Resya akan tetapi Gibran nampak tak paham dengan apa maksud omong dari Resya.
"Maksud Nyonya apa?" tanya balik Gibran.
"Aku mengalah dan aku tidak akan egois karena hanya mementingkan diri-ku sendiri. Nanti kalau dia udah bangun katakan saja kalau kamulah orang yang menemaninya saat ini. Dan jangan katakan padanya kalau aku yang merawatnya apa kamu paham!" perintah Resya.
"Tapi Nyonya," cela Gibran.
"Itu permintaan-ku," tegas Resya.
"Baiklah.
Setelah pergi dan hanya meninggalkan mereka berdua disini. Gibran merasa bingung dengan cara apa ia bisa memulai Sandiwara ini. Tak lama jari jemari Richard nampak bergerak, perlahan-lahan kelopak matanya mulai terbuka.
"Tuan, syukurlah tuan sudah sadar aku cemas melihat tuan yang tak kunjung sadar tadi," ucap Gibran yang membantu Richard bangkit.
"Kamu? kamu kenapa bisa ada disini dan dimana dia?" tanya Richard dengan pandangannya yang terlihat mencari sesuatu.
"Dia? dia siapa?"tanya Gibran.
__ADS_1
"Resya. Aku ingat dia bersama-ku tadi sebelum aku pingsan, tapi kenapa dia tidak ada disini. Dan kamu? kenapa harus kamu yang disini sekarang?"tanya Richard yang mulai bingung.
BERSAMBUNG.