Penjara Cinta Mafia Kejam

Penjara Cinta Mafia Kejam
Tewasnya korban


__ADS_3

Suara langkah kaki seseorang yang hendak memasuki ruangan rawat korban. Dan seseorang itu yang tak lain adalah dua pria tadi.


Terkejut lantas korban mengarahkan pandangannya pada mereka.


"Penjaga ada apa? apa saya hendak dipindahkan keruangan lain?" tanya korban akan tetapi jawaban mereka nampak diam tak berkutik.


"Kalian, kenapa kalian pada kompak diam, aku sedang bertanya pada kalian?" apa keluarga-ku ada yang mengunjungi saya?" tanya korban lagi.


Sama sekali tidak menanggapi pertanyaan yang diucapkannya. Korban yang hendak ingin mengucapkan sesuatu pandangannya pun terhenti setelah sesuatu terjadi padanya.


Bugh ...


Pandangannya yang mulai buram. Korban nampak meringis sakit setelah luka bedahan korban tadi dengan sengaja dipukul-pukul seseorang itu dengan sangat kasarnya.


Wajahnya mulai memucat, ingin berteriak akan tetapi belum juga seseorang itu berteriak. Satu buah bantal telah sampai tepat diwajahnya. Dan salah satu seseorang itu dengan jahatnya menekan dan terus menekan wajah korban hinga tidak bisa bernafas.


Seluruh tubuh yang menjadi mati mati rasa. Berusaha melakukan pemberontakan tapi apa daya nyawanya sudah terlebih dulu diambil yang maha kuasa setelah tak terlihat pemberontak yang dilakukannya.


Tak terlihat korban yang bernafas lagi, terdiam seperti orang yang sudah mati, kedua pelaku terlihat menunjukkan raut wajah bahagianya. Lantas mereka dengan pintar menata lagi selimut atau pun


bantal yang mereka buat melakukan pembunuhan tadi.


Terlihat suasana masih sepi, bergegas mereka pergi dari ruangan ini tanpa meninggalkan jejak satu pun.


Tak lama hadirlah suster yang berniat ingin memeriksa kondisi pasien. Akan tetapi sesampainya suster dibuat terkejut setelah alat pendeteksi sudah menunjukkan jika pasien sudah meninggal dunia.


Menekan bel tombol darurat, tak lama Dokter pun menghampirinya.


"Suster ada apa?" apa yang terjadi?"


"Dokter pasien ini sudah tidak bernyawa. Dia sudah meninggal!" balas Suster spontan pandangan Dokter itu pun terkejut tidak main.


"Apa? bagaimana mungkin bisa, tadi dia kondisinya baik-baik saja mana mungkin dia bisa meninggal dalam kurang waktu 5 menit saja?" tanya Dokter nampak panik.


"Saya tidak tahu Dok," balas Suster yang nampak ikut panik.


Tak lama hadirlah seseorang yang tiba-tiba datang dan langsung menerobos mereka. Tanpa permisi seseorang itu yang tak lain adalah Istri dari korban ia nampak menangis sejadi-jadinya setelah tahu jika suaminya sudahlah tidak bernyawa.


Suasana yang nampak tenang dan nyaman disaat keluarga ini sedang bersantai sembari menonton sinetron kesayangannya. Tak lama ketukan pintu terdengar, berlalu salah satu dari mereka pun membukakan pintu.

__ADS_1


"Polisi. Maaf ada apa Pak?" tanya Sifa nampak panik.


"Apa benar ini kediaman dari saudara Rasyel?" tanya Polisi itu nampak serius.


"Iya benar, ini dengan saya saudari iparnya ada apa pak?"


"Bisa panggilkan saudari ipar anda?" tanya Polisi nampak bersitegang.


"Ba ...baik pak, saya akan panggilkan tunggu sebentar?"


"Baiklah.


Tok ...tok ...tok ...


"Kak Rasyel?"


"Sifa untuk apa dia mengetuk pintu apa dia ingin cari gara-gara?" tanya Rasyel yang dimana posisinya berada dikamar bersama dengan Silvi yang nampak menidurkan Putranya.


"Kayaknya tidak kak. Jika Sifa ingin cari gara-gara kayaknya dia langsung menggedor-gedor tanpa mengetok ya seperti itu. Ya sudah kamu buka aja," pinta Silvi.


"Baiklah aku akan membuka pintunya," balasnya bergegas Rasyel bangkit dari tidurnya, Kemudian disusul oleh Silvi.


"Itu kak. Diluar ada polisi?" balas Sifa spontan Rasyel pun terkejut.


"Polisi?" tanya baliknya.


"Iya kak. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi dugaan-ku ini menyangkut masalah kakak tadi siang, jadi mendingan cepat temuilah," pintanya.


"Baiklah." tak lama Rasyel akhirnya melangkahkan kakinya menemui polisi tersebut.


"Maaf ada apa Pak?" kenapa malam-malam gini kalian mendatangi kediaman kami?" tanya Rasyel nampak gugup. Apalagi melihat tatapan mereka nampak membuatnya tak tenang sama sekali.


"Apa benar anda yang bernama Dokter Rasyel. Dokter sekaligus seseorang yang ada di-video ini?"tanya salah satu polisi sembari menunjukkan rekaman video tersebut.


"Iya benar dengan saya sendiri ada apa Pak, kenapa kalian mendatangi kediaman saya. Dan soal permasalahan itu?" apa ada masalah yang terjadi?" tanya Rasyel dengan rasa cemas yang tiba-tiba menyerangnya.


"Untuk lebih jelasnya lagi lebih baik anda sekarang ikut kami ke kantor polisi. Korban kecelakaan yang kemaren anda tangani dengan tangan kosong itu dia dinyatakan meninggal setelah tindakan operasi darurat tersebut," balas salah satu Polisi yang spontan membuat Rasyel yang mendengarnya pun seketika terkejut tidak main.


"Apa?!" tidak, itu tidak mungkin Pak. Korban kemaren kondisinya baik-baik saja. Bahkan korban tidak menunjukkan akan kondisinya yang memburuk karena saya sempat berbicara dengan korban jadi ini tidak mungkin, ini tidak mungkin," timpalnya dengan berusaha ia membela diri.

__ADS_1


"Terserah anda mau membela diri seperti apa? yang jelas sekarang kami butuh penjelasan dari anda jadi cepat ayo ikut kami.


"Baik pak saya akan ikut kalian, tapi jangan paksa saya, saya bisa sendiri.


"Baiklah silahkan jalan.


"Kak Rasyel apa yang terjadi kenapa kakak dibawa oleh mereka?" cegah Silvi ketika melihat suaminya hendak dibawa oleh mereka.


"Maaf suami anda sudah melampuai prosedur Rumah sakit apalagi dengan meninggalnya pasien yang ia tangani, ini sudah jadi bukti yang jelas jadi jangan halangi kami, ayo jalan," pinta polisi tersebut yang memaksa Rasyel untuk jalan.


"Tidak pak, suami saya tidak mungkin salah ini, pasti salah pak. Pasti semua ini ada ke-salah- pahaman!"


"Cepat jalan-lah jika tidak mau kita yang akan menyeret anda," balas polisi dengan suara angkuhnya.


"Jangan bawa suamiku ...jangan ...," teriak Silvi mencoba mengejarnya akan tetapi Sifa langsung menghalanginya.


"Jangan Silvi, jangan lakukan itu. Aku yakin ada kesalahpahaman disini aku yakin. Aku akan minta bantuan pada seseorang, Kak Rasyel pasti akan bebas jadi tenanglah, tenanglah,"ucap Sifa dengan memeluk saudara kembarnya yang sudah diselimuti tangisannya.


Berada dalam kantor polisi, sudah ada dua polisi yang sudah bersiap untuk melakukan interogasinya pada Rasyel.


Nampak dari raut wajah Rasyel terlihat tegang tidak karuan. Apalagi mengingat jika baru saja kemaren sore ia bercakap-cakap dengan korban itu, sekarang ia harus menerima kenyataan jika dia akan berada didalam sel tahan jika beneran dialah pelakunya.


Revan yang menjadi kapten ia tidak ingin mengambil keputusan yang langsung tanpa menyelidiki masalah ini terlebih dulu.


Dengan berhadapan langsung dengan Rasyel. Revan mulai menginterogasinya dengan langsung menanyakan awal kejadian dimana ia melakukan tindakan pengobatan heroik yang ia lakukan kemaren pagi.


"Rasyel saya tahu kamu itu anak yang baik. Dan saya juga tahu kamu salah satu Dokter yang jenius tapi apa kamu lupa apa yang kamu lakukan ini sudah melalui prosedur Rumah sakit. Apalagi dengan tindakan kamu yang melakukan operasi di-jalanan umum itu sudah sangat fatal. Apalagi dengan meninggalnya korban kamu sudah menunjukkan jika kamu telah gagal menjadi seorang Dokter dan pastinya kamu sudah memberikan nama buruk pada Rumah sakit dimana tempat kamu kerja selama ini. Apa kamu tahu resiko dari kecerobohan kamu ini?" tegas Revan.


"Iya maaf paman, saya akui saya salah. Saya akui apa yang saya lakukan ini memang sangatlah salah apalagi dengan meninggalnya pasien saya sangat menyesal. Tapi bukan itu yang membuatku menyesal karena sudah melakukan tindakan operasi itu. Jujur jika waktu itu saya tidak segera menyelamatkan nyawa pasien dengan cara operasi darurat kemaren, disaat pembuluh darah mulai menyerangnya aku rasa pasien itu sudahlah meningal dari kemaren. Dan saya yakin meninggalnya korban saat ini semua ini ada seseorang yang telah merencanakannya saya yakin ada seseorang jahat dibalik kasus kematian korban itu. Dan saya berani yakin dia meninggal bukan karena saya yang lalai melakukan tindakan operasi itu," tegas balik Rasyel.


"Apa kamu sangat yakin dengan pembelaan kamu itu?"tanya balik Revan.


"Iya paman saya sangat yakin. Apalagi baru kemaren saya dengan pasien baru aja ngobrol-ngobrol pasien nampak baik-baik saja. Bahkan dia tidak menunjukkan akan kondisinya yang mulai memburuk," timpal Rasyel kemudian Revan sedikit terkejut mendengar jawabannya.


"Kemaren sore?"tanyanya dengan wajah terkejut.


"Iya paman pukul 17:30 saya dengan pasien sedang bercakap-cakap, kita ngobrol dan pasien itu nampak menunjukkan kondisinya yang mulai dalam kondisi membaik. Bahkan setelah saya periksa lukanya itu tidak ada yang infeksi atau pun pecah jadi mana mungkin dalam kurang waktu 30 menit kondisi pasien bisa langsung drop apalagi sampai meninggal kalau hanya dengan ngobrol-ngobrol saja. Jadi saya rasa kematian pasien ada seseorang yang sedang menyabotase-nya," timpal Rasyel.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2