
Hari demi hari sudah berlalu, entah waktu yang berjalan terlalu cepat atau emang kita sendiri yang mempercepat waktu itu sendiri.
Dalam sebuah ruangan yang hanya terdapat beberapa alat medis terdapat lah seseorang Wanita yang sedang terbaring diatas brangkar Rumah sakit.
Terlihat jelas jika Wanita itu sedang memikirkan sesuatu. Mungkin karena pikirannya yang sudah terpenuhi dengan rasa ketakutan sekaligus kecemasan karena itulah yang membuatnya terdiam tanpa terucap. Hanya mengatakan dalam hati untuk mencurahkan isi hatinya.
Kemudian lamunan itu pun tersadar setelah sesosok laki-laki datang dan memanggil namanya dengan sebutan sayang.
Sayang mungkin kata itulah yang membuatnya sangat terkejut, lantaran selama beberapa bulan ia menikah dengan seorang laki-laki barulah sekarang kata manis itu baru terucap dari mulut dari seorang yang tak lain adalah Suaminya sendiri.
Resya menengok ke arah sumber suara yang tengah memanggilnya, suara yang sangat dia kenal, suara yang akhir akhir ini tak pernah ia dengar, Resya membuka matanya dengan pelan namun pasti.
__ADS_1
Datang lah Richard, Richard yang melihat wanitanya tiba-tiba menangis bergegas ia pun berjalan ke arahnya lalu mulai memeluknya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan kenapa kamu malah menangis. Apa panggilan sayang tadi sudah membuatmu tambah terluka?" tanya Richard dengan berada dalam pelukannya.
"Aku tidak tahu apa ucapan yang barusan kamu ucapkan tadi beneran nyata. Atau mungkin semua itu hanyalah mimpiku. Karena hampir selama lima bulan kita menikah kamu tidak pernah memanggilku dengan sebutan itu. Bahkan sebutan nama, kamu juga jarang menyebutnya tapi sekarang panggilan itu sudah?"
"Ingat kamu sekarang Wanitaku dan mulai sekarang dan detik ini aku akan menyebutmu dengan sebutan itu karena kamu memang sangat pantas untuk mendapatkan ucapan sayang itu jadi kamu tidak masalah atau keberatan kan kalau aku memanggilmu dengan sebutan sayang itu?" tanya Richard dengan pandangannya yang berkaca-kaca. Resya yang melihatnya ia pun kembali memeluknya.
Selama dua hari Resya tertahan di Rumah sakit dan tidak diijinkan untuk pulang. Kini rasa lega itu pun hadir dalam benaknya setelah ucapan yang selama ini Resya tunggu-tunggu akhirnya terucap dari mulut laki-laki berjas putih tersebut. Yaitu dengan mengatakan jika dirinya diperbolehkan pulang dari Rumah sakit ini. Bahagia bukan!
Tak berselang lama Richard akhirnya membawa Resya menuju ke istana dimana istana itu adalah Istana yang nantinya yang akan dipakai mereka menempuh kehidupan yang selama telah rusak akibat sebuah bencana rumah tangga yang menerpa mereka.
__ADS_1
"Kenapa kamu membawaku ke rumah sebesar ini? Bukankah kamu memiliki tempat tingal dan pastinya rumah sebesar ini?" tanya Resya dengan pandangannya yang teralihkan memandang setiap sudut rumah yang baru ia injak saat ini.
"Aku memang sengaja membawamu ke rumah sebesar sekaligus rumah baru ini. Karena aku mau mulai sekarang diantara kita hanya ada kita dan calon anak kita. Tidak ada lagi yang namanya penderitaan, air mata atau pun siksaan yang ikut hadir dalam rumah tangga kita ini. Anggap saja kita ini adalah pasangan pengantin baru yang baru aja melangsungkan pernikahan. Ini awal pasangan baru memulai kehidupan yang baru jadi kamu tidak keberatan kan?" tanya Richard dengan tangannya yang melingkari perut Resya dengan kedua tangannya.
"Aku tidak menyangka jika kamu sudah berubah sebesar ini sayang. Kamu tidak lagi Richard yang aku kenal, bahkan aku menganggap kamu sudahlah berubah hampir seratus delapan puluh derajat aku sama sekali tidak mempercayai semua ini," balas Resya dengan air matanya yang ikut menetes karena tidak percaya dengan apa yang barusan ia rasakan saat ini.
"Selama ini aku sudah bikin hidup kamu selalu dalam penderitaan, jadi bisakah kalau mulai sekarang kita awali dengan yang baru. Dan pastinya aku mau kita ...,"ucap Richard yang terhenti. Dengan bibirnya yang sengaja ia gigit, Resya pun tahu apa maksud dari suaminya ini.
"Apa kamu benar-benar ingin melakukannya," balas Resya yang tambah memancing niat yang ingin Richard inginkan.
Tatapan keduanya yang tidak bisa lagi mereka bohongi. Senyuman yang terpancar dari keduanya sudah membuktikan jika mereka sudahlah siap untuk melakukannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.