Penjara Cinta Mafia Kejam

Penjara Cinta Mafia Kejam
Terjun kejurang


__ADS_3

Dalam perjalanan menulusuri bariton Rumah sakit terdapat-lah dua pria yang menggunakan seragam putih yang tak lain adalah seragam buat penjaga, sembari menggenakan masker yang menutupi sebagian wajahnya, mereka pun lantas hendak akan memasuki ruangan 13 dimana ruangan itu adalah ruangan yang ditempati oleh Richard.


Terlihat sebelum seseorang itu masuk Richard terlihat melamun seperti sedang memikirkan sesuatu, belum juga lamunannya tersadar langkah seseorang terdengar mulai memasuki ruangan ini.


Cekleek.


Suara langkah kaki seseorang yang hendak memasuki ruangan rawat Richard, seseorang itu yang tak lain adalah dua pria tadi. Melihat kehadiran dua pria itu, Richard lantas bertanya namun pertanyaannya tak kunjung mendapatkan respon, sesaat kemudian belum banyak yang dia lakukan sebuah suara pukulan terdengar jelas, Richard yang tadinya terlihat sehat bugar kini tubuhnya ambruk seketika, dengan keadaan mata masih terbuka dirinya tak menyahuti akan ucapan yang beberapa kali dua pria itu lakukan.


"Lihatlah sepertinya cairan ini cepat sekali bereaksi?"


"Iya sepertinya memang gitu, ya sudah kita keluar jalankan rencana selanjutnya?"


"Baiklah!"


"


"


"


"Maaf Richard aku baru datang tadi aku harus membayar biaya administrasinya jadi makanya aku telat kamu gak papa kan. Oh iya apa kamu lapar?" tanya Resya akan tetapi jawaban yang dilontarkan Richard hanya diam.


"Richard ada apa? Kenapa kamu terdiam seperti ini apa kamu merasakan sakit lagi? Ataukah kamu marah karena aku lama?" tanya Resya akan tetapi tidak ada jawaban yang dilontarkannya.


"Richard kamu gak lagi kenapa-kenapa kan? Richard?"teriaknya, sesaat Dokter lantas masuk.


"Ada apa kenapa anda berteriak?" tanya salah seorang laki-laki yang tak lain adalah Dokter yang sedikit muda.


"Ini Dok kenapa Richard malah terdiam dan tidak mau berbicara ketika saya ajak bicara. Apa diamnya dia ada hubungannya dengan operasi yang kemaren ia jalankan?" tanya Resya yang kemudian berbalik Dokter memeriksanya.


"Dia seperti orang yang lagi linglung tidak menanggapi pertanyaan yang barusan saya berikan tadi. Bahkan saya tidak terdengar suara yang ia hasilkan ada apa Dok dia tidak kenapa-kenapa kan Dok?"cemasnya.


"Anda tenang saja mungkin ini akibat pengaruh dari operasi kemaren dan tenang saja pasti tak lama dia akan kembali bisa bicara. Dan kita tunggu sampai besok jika dia tidak kunjung bicara besok kita pindahkan pasien ke Rumah sakit lain. Karena kebetulan Rumah sakit lagi kehabisan kamar rawat jadi tidak masalah kan kalau kita memindahkannya?" tanya Dokter tersebut.


"Iya tidak apa-apa Dok asalkan kondisinya tidak kenapa-kenapa dan kembali pulih saya tidak mempermasalahkan itu Dok!"


"Baiklah kalau gitu," balas Dokter tersebut.


"Resya apa kamu mau ikut menemani Richard didalam mobil?"


"Iya aku mau ikut menemaninya didalam!"

__ADS_1


"Tapi akan lebih jangan kamu jangan menemani Richard didalam sana, takutnya kondisi kamu akan drop dan terjadi sesuatu sama kandungan kamu sekarang, jadi akan lebih baik kamu ikut aku aja?"


"Tapi Revan," timpalnya Resya.


"Sudahlah Richard juga pasti ingin mengatakan hal yang sama jika ada posisi ini jadi menurut-lah," sambung Revan lagi.


"Baiklah aku akan ikut dengan-mu!"


Melihat Richard yang mulai dimasukkan kedalam mobil ambulan, pandangan Revan seketika teralihkan setelah ia melihat tatapan yang Richard yang ia tunjukkan padanya.


Iya sebuah tatapan tajam yang tidak pernah Richard tunjukkan padanya. Akan tetapi dalam hal ini Revan merasa bingung.


"Richard ... Apa yang ia lakukan kenapa dia menatapku dengan tatapan seperti itu?" batinnya tapi ia sama sekali tidak menyadari jika ada keganjalan disini.


"Ya sudah kami akan mengantarnya ke Rumah sakit, jadi kalian ikutlah dari belakang," ucap penjaga.


"Baiklah kami akan membuntutinya dari belakang mobil ambulans. Dan segera beritahu pada kami kalau ada seseorang yang mengejar kalian!"


"Baiklah tuan kami akan memberitahu Tuan nanti," balasnya yang kemudian mereka bergegas masuk kedalam mobil.


Berada dalam satu mobil yang sama pandangan Revan tak henti-hentinya menatap kearah Resya yang terlihat cukup panik.


"Tidak, aku tidak kenapa-kenapa kok hanya saja kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak ya?"


"Tidak enak, maksud kamu?"


"Ya maksud aku. Aku merasa jika perasaan-ku cukup tidak lega melihat Richard yang tiba-tiba dipindahkan ke rumah sakit lain? Padahal kamu kan tahu sendiri kondisi Richard sebelumnya seperti apa?"


"Aku tahu mungkin perasaan kamu lagi bercampur antara panik dan cemas memikirkan kondisi Richard sekarang, tapi yakinlah Richard dia pasti baik-baik saja jadi kamu jangan punya perasaan yang tidak-tidak."


"Baiklah aku terima kasih Revan, terima kasih karena kamu sudah membuat pikiran-ku cukup lega terima kasih?"


"Iya sama-sama," ucapnya dalam batin" aku tidak bisa memberitahu Resya jika bukan dia aja yang merasa panik akan kondisi sekarang, tapi aku juga merasakan hal sama jadi akan lebih baik aku tidak memberitahunya karena aku takut akan dia akan tambah panik," batinnya yang kemudian ia fokus pada laju kendaraannya.


Dalam perjalanan yang tadinya terlihat tentram tanpa ada hambatan atau pun rintangan yang terjadi. Tak lama suara terdengar dari dalam saku Revan yang terdengar berbunyi nyaring dan membuat Revan pun akhirnya memberhentikan laju kendaraannya.


"Ada apa siapa yang menelfon-ku?"ucapnya.


"Mendingan kamu cepat angkat saja Revan siapa itu ada hal penting yang ingin dikatakan oleh anak buah-mu," timpal Resya.


"Baiklah aku akan mengangkatnya, "balasnya sembari menekan tanda panggilannya.

__ADS_1


"Gibran. Ada apa kenapa kamu tiba-tiba menghubungiku?" tanya Revan.


"Revan kamu sekarang lebih baik hentikan laju ambulans itu," perintah seseorang dengan tegas.


"Memberhentikan tapi untuk apa?"


"Petugas dari Ambulan itu bukanlah petugas asli, mereka anak buah Erlangga yang berpura-pura menjadi petugas dan berniat ingin mencelakai Richard!"


"Apa ...baiklah aku akan memberhentikan ya sekarang!"


"Revan ada apa?"


"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang yang jelas sekarang kamu cepat pasang sabuk pengaman kamu karena kita harus memberhentikan laju ambulans itu!"


"Apa ...Baiklah!"


Melajukan laju kendaraannya cukup tinggi dan lalulintas yang terlihat sepi membuat Revan semakin mudah mengejar laju kendaraan ambulans yang berada dihadapannya.


"Sial mereka telah mengetahui rencana kita, cepat kita jalankan rencana yang kedua!"


"Baiklah!"


Tak ingin kalah dengan mempercepat laju kendaraannya, petugas itu akhirnya mempercepat laju kendaraannya. Berada dititik dimana sebelah kanan dan kiri yang sudah terdapat jurang yang berlanjut menuju ke-sungai beraliran deras. Kedua petugas itu sama-sama melirik kearah satu sama lain dengan menunjukkan senyum sinisnya. Tak lama setelah laju kendaraannya semakin cepat, kedua petugas itu dengan sigap mereka sama-sama langsung membuka pintu mobil dan melompat dari mobil ambulan untuk menyelematkan diri mereka masing-masing.


Setelah kedua pelaku nampak lolos melarikan diri. Laju kendaraan ambulans terlihat tidak terhenti setelah salah supir ikut melompat.


Melihat Ambulan yang oleng dan terjun bebas kedalam jurang berkedalaman tinggi. Dan terjun bebas ke-dasar sungai yang beraliran deras kedua mata Revan dan Resya seketika tak berkedip, panik dan langsung memberhentikan laju kendaraannya.


"RICHARD ...."


Satu teriakan yang mampu Resya ucapkan setelah apa yang tidak ia bayangkan terjadi dihadapannya sendiri.


Membuka pintu mobil dan berniat ingin menghampiri, cengkraman erat Revan tak mampu menjangkau niat Resya, dirinya terus memberontak namun dengan tenaga Revan menghalanginya.


"Richard ... aku harus menolong Richard aku harus menolongnya?"


"Jangan Resya itu sangat berbahaya, itu sangat berbahaya!"


"Terus apa aku harus diam, dia membutuhkan bantuan kita, kita harus menolongnya ... Richard!"


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2