
Berada dalam ruangan yang sedikit gelap. Seorang wanita telah terikat diatas kursi tak lupa ia juga didampingi seorang wanita yang sudah siap menunggu untuk mengintrogasi-nya.
Akan tetapi nampak kesadaran wanita itu sedikit hilang akibat banyaknya meminum Alcohol.
Tak lama datanglah dua pria yang mulai menghampirinya dengan tatapan tak kalah tajamnya. Melihat kedatangan seseorang itu, ia lantas langsung bertanya.
"Siapa kalian kenapa kalian bisa berkumpul disini. Apa yang sedang kalian cari?"tanya wanita itu dengan kesadarannya yang sedikit hilang.
"Jangan banyak omong mendingan sekarang anda berkata jujurlah pada kami. Pasti andalah orang dibalik kematian Suami-mu kan?" tanya Richard dengan tatapan tajamnya.
"Suami ...."
Belum juga ucapannya terhenti, wanita itu nampak tertawa cekikikan entah apa yang membuatnya terlihat lucu. Padahal sedari tadi tidak ada satu pun orang yang bercanda akan masalah ini.
"Hey kenapa anda malah tertawa aku sedang berbicara dengan-mu. Apa anda tahu gara-gara anda aku harus melihat orang yang sangat saya sayangi setiap hari harus meneteskan air matanya dan itu semua gara-gara anda jadi cepat katakan ...ayo katakan," gertak Resya dengan tak lupa ia memberikan beberapa tamparan pada wanita tersebut.
"Bersabarlah kamu tidak boleh menghakiminya dengan cara sendiri ini, jadi kamu harus tahan emosi kamu." Cegah Richard.
"Bagiku emosiku sudah tidak bisa aku tahan lagi. Karena gara-gara dia aku harus melihat Putriku setiap hari harus menangis karena suaminya mendekam didalam sel tahanan atas penuduhan ini. Dan aku tidak bisa membiarkannya bersenang-senang akibat penderitaan orang lain jadi biarkan aku membiarkan tamparan lagi." Selangkah Resya berniat ingin memukulnya Richard dengan sigap langsung menariknya. Dan meyakinkannya.
"Kamu percaya sama aku. Setelah ini aku pastikan orang ini akan mendapatkan hukumannya jadi tahan, apa sangat susah untuk membuat tahan melihatnya mendekam di penjara?" Melihat tatapan yang ditunjukkan Richard membuat Resya akhirnya sedikit lega.
"Maafkan aku ...maafkan aku ...," ucapnya yang tidak bisa menghentikan air matanya.
"Baiklah mendingan kamu tunggu diluar biar aku yang menanganinya," titahnya kemudian Resya ikuti permintaan Richard dan pergi keluar dari ruangan ini.
*
__ADS_1
*
*
"Dan anda? Jangan harap jika orang yang sudah berada ditempat ini akan mendapatkan kebebasan karena itu tidak akan pernah terjadi. Dan kamu?" gertaknya dengan mencengkram dagu wanita itu dengan kasar.
"Cepat kasih tahu aku. Kamu kan orang yang sudah membunuh Suami-mu sendiri?" tanyanya dengan pandangan mata yang terlihat sama-sama tajam.
"Suami sialan itu. Iya memang aku pelakunya. Apa kalian tahu dia itu hanyalah laki-laki yang tidak becus, bodoh dan pastinya sangat gampang dibohongi jadi dengan cara membunuhnya aku rasa itu cara yang paling tepat untuk melenyapkannya.
"Jadi benar andalah orang yang telah membunuhnya?"tanya Richard lagi.
"Iya, memang akulah orang yang sudah membunuhnya. Bahkan aku juga orang yang telah memerintahkan seseorang untuk memotong kabel rem itu supaya dia bisa cepat mati dan aku bisa dengan segera menguasai semua kekayaannya. Dan sekarang rencana-ku berhasil dan aku berhasil menguasai semuanya.
"Apa yang membuat anda sampai tega melakukan itu. Apalagi dia itu Suami -mu sendiri apa kamu tidak merasa kasihan atau pun mencintai Suami anda sampai-sampai anda dengan teganya melenyapkannya dengan cara sadis seperti itu?"cela Richard.
"Sangat disayangkan. Aku cukup takjub dengan keberanian anda, tapi cara anda yang salah jadi nikmatilah masa-masa anda sekarang, petugas?"
"Iya Tuan.
"Cepat bawa dia, kita tidak perlu susah-susah untuk menangkapnya karena bukti ini lebih dari cukup. Dengan sendirinya ia sendirilah yang mengungkapkannya jadi tunggu apa lagi cepat jebloskan dia ke kantor polisi. Dan jangan lupa kasih tahu kalau ada pengacara yang berani membantunya untuk bebas biar aku sendiri yang mengatasinya jika itu sampai terjadi," gertak Richard.
"Baik Tuan.
Berhasil mencari bukti yang bisa membebaskan Rasyel dari dalam sel tahanan membuat Resya merasa lega. Dan berada dalam mobil yang sama, tatapan Richard tak henti-hentinya menatap wanita disampingnya yang sedari tadi hanya bersikap diam tanpa berkata sesuatu.
Kemudian ia segera menghentikan laju kendaraannya lantaran ada sesuatu yang ingin ia tanyakan. Terkejut lantaran laju kendaraan terhenti, Resya kemudian beralih menatap Richard.
__ADS_1
"Kenapa kamu menghentikan laju kendaraan ini?"tanya Resya tapi ia terkejut setelah sadar jika Richard sedang menatapnya cukup serius.
"Kamu? Kenapa kamu menatap-ku dengan tatapan seperti itu?" tanya Resya, berlalu Richard pun tersenyum.
"Kenapa kamu malah tersenyum?"
"Syukurlah tindakan aku menghentikan laju kendaraan ini membuat-mu tersadar dari lamunan-mu," jelas Richard.
"Maksudmu?" tanyanya yang masih belumlah paham.
"Aku sengaja menghentikannya karena ada sesuatu yang ingin aku tanyakan sama kamu?"tanya Richard yah beralih ia menatap Resya dengan tatapan cukup serius.
"Tanyakan. Soal apa?"tanyanya yang sedikit bingung.
"Soal kata yang kamu bilang tadi, jika kamu sudah memiliki seorang anak. Apa seorang anak yang kamu maksud itu seorang anak yang pernah kamu bilang beberapa waktu yang lalu, yaitu anak kembar apa itu ada hubungannya dengan kita?"tanyanya yang spontan membuat Resya terdiam tak berkedip.
"Sekarang apa yang harus aku katakan padanya dia sudah terlihat curiga, jika aku memberitahunya aku takut dia bakal merasakan rasa sakit itu lagi dan aku tidak mau?"batinnya dengan tatapannya yang masih terlihat menatap Richard.
"Kenapa kamu malah terdiam. Dan kenapa jika aku bertanya mengenai soal ini tanggapan kamu selalu berbeda, padahal aku ingat seperti apa kamu dulu mencoba menjelaskan soal hubungan kita ini. Dan sekarang aku butuh penjelasan itu secepatnya?"jelas Richard dengan tatapannya yang terlihat sangatlah serius.
"Mendingan soal itu kita jangan pernah mengungkitnya lagi. Dan ini juga udah malam aku harus pulang segera sampai jadi bisakah kamu mempercepat laju kendaraannya, jika kamu tidak mau biar kan aku turun dan naik taksi saja karena itu lebih baik," balas Resya yang mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
"Ini yang aku tidak suka dari kamu? Kamu selalu saja menimpali dan mencoba mengalihkan pembicaraan-ku mengenai masalah ini. Baiklah jika kamu tidak mau menjelaskan-nya itu tidak masalah," balas Richard kemudian ia kembali menjalankan laju kendaraan lagi.
"Syukurlah dia tidak memaksa-ku untuk menjelaskan semuanya," batinnya dengan lega, melihat Richard yang tidak lagi menatapnya membuat Resya bisa bernafas dengan cukup lega
BERSAMBUNG.
__ADS_1