
Sepanjang Pricilla menjelaskan masalah kedekatannya dengan Davin. Kayra tidak mengeluarkan suara sama sekali dan di pastikan Kayra menahan sakit di hatinya.
" Kamu orang pertama Kayra yang menayakan hal ini yang itu artinya. Kamu memang sudah menganggapku sebagai sahabat dan aku sangat lempang menceritakannya ya seharusnya orang-orang kantor tau itu. Jadi tidak membuat gosip murahan yang melibatkan mu karena pada kenyataannya kau tidak mungkin bisa bersama Davin," lanjut Pricilla dengan kata-kata yang penuh sindiran yang membuat Kayra terdiam dengan napasnya yang mulai naik turun.
" Aku benarkan Kayra?" tanya Pricilla yang menaikkan 1 alisnya.
" Iya kau benar," jawab Kayra membuat Pricilla tersenyum.
" Kau tadi mengatakan tidak mendapat Restu dari keluarga Pak Davin. Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Kayra.
Pricilla tersenyum, " aku tidak perlu melakukan apa-apa. Bukannya aku sudah mengatakan kepadamu. Jika Davin yang akan melakukan banyak hal dan pasti untuk restu dari Eyang. Davin juga yang akan bergerak. Karena dia akan melakukan semuanya untukku," jawab Pricilla dengan santai.
" Jadi pada intinya Kayra aku tidak melepaskan Davin sampai kapanpun. Mau ada wanita lain atau tidak di sisinya," tegas Kayra seakan kata-kata sindiran untuk Kayra. Dan Kayra hanya diam yang pasti menahan sesuatu di hatinya matanya juga sudah berkaca-kaca yang mendengar kata-kata Pricilla.
Pricilla dengan santai yang melanjutkan sarapannya. Sepertinya tujuan Pricilla mengajak Kayra sarapan bersama ada sesuatu. Apa lagi kata-kata Pricilla yang punya maksud tujuan.
" Minum Kayra!" titah Pricilla. Kayra hanya mengangguk dengan perasaannya yang semakin tidak bisa di jelaskan.
Pricilla melihat cincin yang ada di jari manis Kayra yang sama persis dengan Davin cincin pernikahan mereka.
" Cincin kamu bagus Kayra!" ucap Pricilla tiba-tiba membuat Kayra menurunkan tangannya dari atas meja.
" Aku sepertinya pernah melihat. Tetapi di mana ya!" ucap Pricilla dengan wajahnya yang berpikir. Apa yang di lakukan dan di katakan Pricilla hanya membuat Kayra panik saja yang seakan perasaannya sedang di ulti oleh Pricilla.
" Mungkin hanya perasaan ku saja. Hmmm apa bole aku Meminjamnya!" pinta Pricilla membuat Kayra kaget mendengarnya.
" Pasti boleh. Kita kan berteman jadi pasti kau akan memberikan itu kepadaku!" ucap Pricilla yang memegang tangan Kayra yang sepertinya ingin mengambil benda kecil itu dari jari Kayra. Namun Kayra menghentikan tangan Pricilla.
" Walau berteman. Tetapi ada sesuatu yang tidak harus kau miliki dan termasuk cincin ini. Aku tidak mengijinkanmu untuk mengambilnya!" tegas Kayra dengan wajah seriusnya menatap Pricilla dengan tajam.
" Sepertinya sangat penting untukmu?" tanya Pricilla.
" Iya ini sangat penting untukku," jawab Kayra.
__ADS_1
" Oh begitu," sahut Pricilla dengan santai yang mengurungkan niatnya untuk memakai cincin itu.
Kayra menghela napasnya yang sejak tadi tidak stabil. Karena Pricilla terus membuat perasaannya tidak menentu sama sekali.
Pricilla menoleh ke belakang Kayra dan melihat Aldo yang berjalan sembari memegang handphone.
" Aldo!" panggil Pricilla membuat Kayra menoleh kebelakang dan melihat Aldo melambaikan tangannya dan langsung menghampiri meja Pricilla dan Kayra.
" Pricilla, Kayra kamu di sini juga!" sapa Aldo. Kayra hanya menganggukkan kepalanya untuk menyapa Aldo.
" Kamu apa kabar Kayra. Kita sudah lama tidak bertemu?" tanya Aldo.
" Saya baik-baik aja pak Aldo," Jawa Kayra.
" Syukurlah kalau begitu. Saya senang mendengarnya," jawab Aldo.
" Kamu ngapain di sini Aldo?" tanya Pricilla.
" Oh, begitu rupanya. Ya sudah kamu duduk deh!" Pricilla mendudukkan Aldo di depan Kayra membuat Aldo dan Kayra heran.
" Kebetulan kita bertemu di sini. Sebaiknya kita sarapan bersama," ucap Pricilla yang kembali duduk dan Kayra merasa tidak nyaman jika ada Aldo. Nanti jika Davin melihat itu sama saja akan mencari masalah.
" Tapi aku sudah sarapan Pricilla," ucap Aldo.
" Tidak apa-apa. Ini hanya sekali-sekali saja," sahut Pricilla dengan tersenyum.
Tiba-tiba Pricilla melihat Davin, " ya ampun ada itu Davin!" ucap Pricilla yang melihat Davin berjalan yang belum melihat ke arah meja yang di mana ada Kayra dan Aldo.
" Astaga aku lupa. Aku ada janji sama Davin hari ini," ucap Pricilla menepuk jidatnya.
" Janji apa?" tanya Aldo.
" Biasa aku sama Davin kemarin ribut dan dia itu memberiku hukuman, tetapi aku menyelesaikannya dengan baik dan sekarang akan mendapatkan hadiahnya dari Davin," jawab Pricilla yang membuat Kayra terkejut dan perasaannya mulai terombang-ambing.
__ADS_1
" Hadiah apa?" tanya Aldo.
" Argggg, kamu macam tidak mengerti saja urusan wanita dan Pria. Ya sudah aku menemui Davin dulu dan kalian mengobrol lah. Bukannya kalian sudah lama tidak mengobrol," ucap Pricilla dengan tersenyum. Mengambil tasnya dan langsung pergi menghampiri Davin.
Pricilla menyunggingkan senyumnya saat pergi menghampiri Davin yang berjalan ke meja Kayra dan Aldo. Karena dia sudah melihat ada Aldo di sana dan pasti paling tidak suka.
Namun Pricilla yang sudah berjalan di depannya menahan Davin dengan menggandeng tangan Davin.
" Aku ingin banyak bicara denganmu!" ucap Pricilla.
" Nanti dulu Pricilla!" ucap Davin menolak yang ingin menghampiri Kayra. Namun Pricilla memaksanya dan membuat Davin tidak bisa apa-apa yang hanya dia dan Kayra saling melihat. Walau Davin sudah berjalan bersama Pricilla dengan gandengan romantis.
" Kayra!" tegur Aldo yang membuat Kayra tersentak kaget karena melamun.
" Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Aldo.
" Tidak apa-apa. Maaf pak Aldo saya harus pergi karena masih banyak pekerjaan," ucap Kayra yang memilih untuk langsung pergi. Untuk menenangkan perasaannya yang tidak stabil.
*********
Malam hari tiba yang ternyata, Kayra berada di dalam kamar yang terbaring di atas tempat tidur yang terlihat begitu penuh pikiran. Bagaimana tidak terlihat penuh dengan pikiran, setelah tadi perbincangannya dengan Pricilla Kayra sama sekali tidak melihat Davin membuat Kayra kepikiran dan sekarang pun Davin belum pulang.
" Dia begitu gelisah dan ingin menelpon Davin. Tetapi sama sekali tidak berani melakukannya. Kayra hanya resah dengan di atas tempat tidur dengan mengusap-usap perutnya.
Krekkk.
Suara pintu yang di buka membuat Kayra buru-buru membalikkan tubuhnya, menjadi posisi miring yang di pastikan dia itu adalah Davin yang masuk kamarnya dan memang benar Davin yang sudah pulang dan masuk kamar.
Davin melihat ke arah ranjang dan melihat Kayra. Davin menghampiri ranjang berdiri di belakang Kayra yang memunggunginya. Davin menyelimuti Kayra dan mengusap rambut Kayra lalu mencium pucuk kepalanya. Kayra masih tetap dalam pura-pura tertidurnya.
" Kamu pasti lelah hari ini!" ucap Davin dengan lembut yang kembali mencium pucuk kepala Kayra dan Davin setelah melakukan hal itu langsung pergi menuju kamar mandi.
Bersambung
__ADS_1