
Mentari pagi kembali tiba. Kamar Kayra terliahat begitu berantakan yang mana pakaian Davin, dari jasnya, kemejanya berserakan di lantai terlihat juga pakaian Kayra yang berserakan di lantai.
Tempat tidur itu juga terlihat berantakan yang mana Davin duduk di pinggir ranjang yang telanjang dada yang hanya menggunakan celananya saja. Davin membuang napas beratnya kedepan dengan mengusap wajahnya sampai ke rambutnya.
Hal itu beberapa kali di lakukannya dengan ekspresi wajahnya yang tidak dapat di artikan. Apa kah dia bahagia karena telah menghabiskan malam bersama istrinya? atau dia menyesal melakukannya karena memaksa Kayra. Yang jelas wajah itu terlihat resah.
Davin menoleh ke belakangnya, melihat tempat tidur yang kosong yang begitu berantakan yang mana seharunya Kayra ada di sana. Ternyata tidak ada dan malam kosong.
Sepintas malam panas bersama Kayra melintas di pikirannya yang melihat Kayra di bawahnya yang terlihat kesakitan dan bahkan begitu tidak berdaya. Memejamkan matanya yang benar-benar sadar dengan apa yang terjadi. Saat mata itu terbuka. Tujuan utama yang di lihatnya adalah di tengah tempat tidur yang terdapat noda darah di sana.
Huhhhhh, Davin kembali membuang napasnya perlahan kedepan.Wajah Davin terlihat berpikir keras. Davin berusaha untuk tidak mengingat hal itu. Namun teringat lagi.
Dia mengingat jelas kejadian tadi malam. Percintaan panasnya dengan Kayra. Dia sadar melakukannya dan terlihat menyesal telah mengorbankan Kayra dalam hal itu. Hal itu terus menghantui Davin walau berusaha untuk tidak membayangkan kejadian itu.
Kayra yang tidak tidak ada di sana yang mana Kayra ada di kamar mandi. Kayra yang memakai bathrobe putih berdiri di depan cermin yang sudah selesai mandi membersihkan dirinya. Dari atas sampai bawah dengan rambutnya yang basah yang air dari rambutnya masih menetes di lantai.
Kayra menatap dirinya di cermin, melihat bekas memerah di bagian lehernya yang pasti perbuatan Davin. Sebenarnya tadi pagi Davin yang terlebih dahulu bangun. Tidak berapa lama Kayra bangun.
Saat bangun terlihat mereka saling canggung. Tidak ada yang bicara sepatah katapun dan Kayra memilih kembar mandi untuk bersih-bersih.
Bahkan saat turun dari tempat tidur Kayra hampir jatuh dan Davin menangkapnya. Kayra merasakan perih di area sensitifnya membuatnya susah berjalan. Dan saat itu bahkan Davin mengendong Kayra ke dalam kamar mandi. Kayra tidak menolak. Namun dia semakin canggung dengan apa yang di lakukan Davin kepadanya.
Tidak tau sudah berapa lama dia di kamar mandi yang sepertinya ingin keluar. Tetapi seperti ada yang salah. Kayra ingin marah, tetapi tiba-tiba tidak bisa dan terlihat bingung dengan perasaannya yang tidak menentu yang di lakukannya sekarang ini hanya berdiri di depan cermin yang penuh dengan kebingungan.
Kayra menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan, " Kayra tenanglah semuanya sudah terjadi," gumamnya yang berusaha menenangkan dirinya. Kayra kembali menarik napasnya dalam-dalam dan membuangnya kembali ke depan. Lalu memutuskan keluar dari kamar mandi secepatnya.
Ceklek.
Suara bukaan pintu membuat Davin menoleh ke arah kamar mandi dan terlihat Kayra masih berdiri di sana yang masih memegang kenopi pintu yang terlihat ragu antara mau keluar atau tidak.
Kayra lebih terlihat bingung yang tidak tau harus bagaimana bersikap pada Davin setelah kejadian itu. Dan Davin saat ini masih melihatnya sekarang. Namun Kayra berusaha untuk tenang dan akhirnya keluar dari kamar mandi dengan sempurna yang mungkin Kayra akan bersikap biasa seolah tidak ada yang terjadi di antara ke-2nya.
Kayra berjalan menuju cermin dan melewati Davin. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti ketika tangannya di tahan. Sungguh sentuhan Davin pada genggaman tangannya membuat jantungnya bergetar kencang dan ini mengingatkannya pada kejadian malam itu. Kayra sendiri bahkan begitu sulit untuk bernapas.
" Bukannya kita harus bicara," ucap Davin dengan suara seraknya yang membuat Kayra terdiam napasnya terasa naik turun. Yang tidak berani mengeluarkan suara bahkan membalikkan tubuh melihat Davin Kayra pun tidak berani.
" Kayra!" tegur Davin, " kita harus bicara bukan diam-diaman seperti ini," ucap Davin yang mengerti kecanggungan dari wanita yang terlihat menghindarinya.
" Aku tidak tau mulai dari mana harus bicara denganmu," sahut Kayra dengan suaranya yang terlihat bergetar.
" Kalau begitu aku yang memulainya. Aku memulai dengan minta maaf kepadamu atas apa yang terjadi tadi malam. Aku memaksamu melakukannya yang aku tau kau berusaha untuk menolak. Tetapi tidak berdaya. Kau minta maaf sudah melakukan itu kepadamu," ucap Davin yang benar-benar gentelment mengakui kesalahannya.
Kayra pasti tidak percaya dengan Davin yang meminta maaf masalah itu. Di pikiran Kayra mungkin Davin akan menganggap hal itu biasa dan tidak perlu ada yang di salahkan. Tetapi di luar dugaannya jika Davin seperti orang bersalah dan bahkan mengeluarkan kata maaf yang tidak pernah di bayangkannya bisa keluar dari mulut Davin.
" Mari bicara Kayra," ucap Davin lembut menarik tangan itu dan membuat Kayra membuang napasnya perlahan kedepan dan langsung duduk di samping Davin.
Hanya Kayra yang tau rasanya bagaimana duduk di samping Davin. Ini luar biasa dan bahkan tidak percaya jika Kayra bisa secanggung ini. Sangat gugup dan hanya menundukkan kepalanya yang tidak berani melihat Davin ya hal ini tidak biasanya.
Sementara Davin juga terlihat sama. Namun jauh lebih tenang di bandingkan Kayra. Karena dia memang harus benar-benar bicara pada Kayra atas kejadian tadi malam yang pasti di sadari nya dan Kayra juga menyadarinya.
" Aku tidak bermaksud untuk melakukan itu kepadamu, memaksamu dengan kondisimu yang tidak stabil. Aku tau kau sedang sakit. Juga marah malam itu," ucap Davin lagi dengan menatap Kayra intens walau Kayra tidak melihatnya sama sekali.
" Lalu kenapa melakukan itu?" tanya Kayra yang mengangkat kepalanya dengan penuh ketenangan, " apa itu masih ada kaitannya dengan apa yang di inginkan Oma?" lanjut Kayra bertanya.
Karena memang sebelumnya Davin pernah ingin melakukan hal itu dan pasti karena pengaruh saran dari papanya dan lebih jelasnya mereka pernah membahas saat berada di dalam pesawat. Mengenai Kayra yang harus memberi Davin anak.
__ADS_1
" Tidak ada hubungannya. Karena itu tidak ada di dalam perjanjian kita. Jika pun itu harus aku lakukan. Tidak cara seperti tadi malam," sahut Davin yang memang benar tidak mengaitkan hal itu.
" Lalu kenapa semua itu harus terjadi?" tanya Kayra.
Kayra memang menyalahkan Davin dengan kejadian itu. Tetapi tidak dapat di pungkiri saat Davin melakukan itu dia menikmatinya dan tidak sanggup menolak Davin.
" Aku di jebak," jawab Davin jujur apa adanya membuat Kayra menautkan ke-2 alisnya.
" Maksudnya?" tanya Kayra.
" Aku di jebak meminum obat perangsang sehingga membuat tubuhku tidak terkontrol," jawab Davin.
" Dan kau melampiaskan padaku!" tebak Kayra.
" Awalnya tidak ada niat sama sekali. Tetapi keadaan membuatku harus melakukannya kepadamu. Kau terpancing denganmu," sahut Davin. Kayra masih bingung dengan perkataan Davin.
" Kau menyalahkanku?" tanya Kayra.
" Tidak Kayra. Aku tidak menyalahkanmu," jawab Davin. Kayra diam kembali.
" Kayra aku mengatakan aku terpancing dengan keadaan saat itu yang mana kau marah-marah tidak jelas," ucap Davin.
" Tidak jelas katamu!" sahut Kayra.
" Aku tau kau sakit dan aku tidak mengabaikan hal itu. Tetapi aku juga ada janji dengan Pricilla yang tidak mungkin aku ingkari," ucap Davin.
Mendengar nama Pricilla membuat Kayra malas dan bahkan mengalihkan pandangannya seolah tidak ingin mendengarkan nama wanita itu dan bahkan menyesal bicara dengan Davin.
" Kau begitu marah saat aku menyebut namanya," sahut Davin yang melihat Kayra dengan wajah penuh selidik membuat Kayra melihat kembali pada Davin dan memang wajah itu tidak bisa bohong jika tidak menyukai Pricilla.
" Aku memiliki 2 janji dengannya, menemui ibunya di rumah sakit yang sama dengan papamu dan juga dinner. Tetapi aku membatalkan dinner kami. Karena khawatir padamu," ucap Davin jujur. Kayra terdiam yang pasti tidak percaya lagi. Jika Davin bisa khawatir padanya.
" Aku menyuruh Reyhan untuk menjagamu hanya beberapa menit saja dan saat itu juga aku di jebak sampai meminum obat itu. Aku menyuruh Reyhan untuk mencarikan wanita untuk melampiaskan panas di tubuhku. Sembari menunggu Reyhan aku ingin melihat ke adaanmu. Karena aku mendengar kata-kata mu yang memerintah Reyhan dan pertengkaran tadi malam membuatku tidak bisa mengendalikan diriku. Sehingga kau menjadi korban," jelas Davin dengan apa adanya.
Kayra hanya diam yang mungkin sedikit tenang karena penjelasan itu. Di mana tadi malam dia menyadari dia begitu marah karena sebenarnya cemburu yang mana Davin dinner dengan Pricilla dan Davin menyuruh Reyhan menjaga dirinya di kamar dalam keadaan sakit.
" Aku tidak suka Davin kau menyuruh orang lain harus berada di kamarku. Apa lagi seorang Pria mau itu Reyhan atau siapapun," sahut Kayra memberi alasan kemarahannya.
" Maafkan aku untuk itu," sahut Davin yang meminta maaf lagi.
" Ya sudahlah kita lupakan saja semua yang terjadi termasuk tadi malam. Anggap saja apa yang terjadi itu tidak kita sadari dan mungkin memang seharusnya aku melakukan itu. Bukan karena aku sebagai istrimu yang harus melakukan itu. Tetapi karena kau sudah banyak membantuku dan mengeluarkan uang untukku," ucap Kayra.
Tanggapan Kayra mengenai apa yang terjadi membuat Davin tampak kecewa. Bisa-bisanya Kayra ingin melupakan hal yang pertama kali untuknya dan bahkan bisa di simpulkan Kayra seperti membayar upah pada Davin atas apa yang di berikan Davin kepadanya.
Davin bahkan sampai tidak bisa berkata-kata apa lagi ketika mendapat respon yang terlihat menohok itu.
" Baiklah mungkin memang melupakannya jauh lebih baik," sahut Davin dengan suara dinginnya. Kayra menganggukkan kepalanya.
" Apa aku berlebihan kepadamu. Kenapa rasanya aku tidak terima dengan kata-kata mu Kayra," batin Davin yang masih menatap Kayra intens.
" Mungkin ini jauh lebih baik, sudahlah Kayra kau ingin berharap apa darinya," batin Kayra yang sepertinya berusaha untuk memposisikan dirinya yang menyadari pernikahan itu hanya kontrak.
" Ada satu hal yang harus kamu ketahui Kayra," ucap Davin menatap serius pada Kayra.
" Apa?" tanya Kayra.
__ADS_1
" Aku melakukan itu mungkin karena pengaruh obat. Tetapi aku sadar melakukannya. Aku mengingat semua yang terjadi di antara kita," ucap Davin menegaskan. Kayra hanya diam yang tidak bisa bicara lagi.
" Aku juga ingat semuanya dan mengetahui semuanya," sahut Kayra membuat mereka berdua saling melihat cukup lama.
" Ya sudah aku mau ganti baju dulu. Kau kembalilah ke kamarmu," ucap Kayra mengusir Davin secara halus.
" Mari sarapan bersama," sahut Davin mengajak Kayra.
" Baiklah," jawab Kayra menganggukkan kepalanya.
************
Ternyata Davin mendi di kamar mandi Kayra. Dia tampaknya malas kemarnya. Kayra berdiri di depan cermin yang sudah mengganti pakaiannya degan dress pink selututnya.
Kayra menyisir rambutnya di depan cermin yang tidak lama Davin keluar dari kamar mandi yang menggunakan handuk di lilit di pinggangnya. Kayra yang melihat ke arah Davin langsung kembali mengalihkan pandangannya ke kembali ke cermin. Padahal tubuh kekar Davin sudah biasa di lihatnya. Namun tetap saja dia merasa begitu gugup.
Davin hanya santai dengan mengeringkan rambutnya menggunakan handuk putih dan Davin menyunggingkan senyumnya. Kala melihat wanita yang terlihat salah tingkah itu.
Tingnong.
Bel kamar itu berbunyi yang mana Kayra langsung menuju pintu dari pada salting di depan Davin. Kayra membuka pintu yang ternyata adalah Reyhan.
" Pagi Bu Kayra," sapa Reyhan menundukkan kepalanya. Kayra hanya mwnjawab dengan senyuman.
" Bos Davin ada?" tanya Reyhan.
" Ada," jawab Kayra yang mebuka pintu kamar lebar dan Davin melihat keluar dan ikut menghampiri ke pintu. Namun Reyhan terlihat kepo yang tersenyum melihat ranjang yang ternyata masih berantakan dan bahkan ke-2 majikannya itu terlihat fres yang sama-sama keramas.
" Kenapa kau senyum-senyum?" tanya Reyhan kesal.
" Tidak apa-apa bos. Selamat ya bos," sahut Reyhan. Kayra mengkerutkan dahinya bingung dengan perkataan Reyhan. Jangankan Kayra. Davin saja pun heran.
" Apa maksudmu mengucapkan selamat?" tanya Davin dengan menaikkan 1 alisnya. Apalagi Reyhan terlihat senyum-senyum yang benar-benar mengandung arti.
" Tidak apa-apa bos," sahut Reyhan mengedipkan 1 matanya yang terlihat mengetahui sesuatu.
Wajah Kayra terlihat geli melihat tingkah Reyhan.
" Senyum-senyum terus. Mana pakaiannya?" tanya Ardian dengan wajah kesalnya.
" Heheheh, ini bos," sahut Reyhan yang langsung memberinya dan Davin langsung mengambilnya dengan kasar.
" Ya sudah ngapain masih di sini, sana pergi!" usir Davin kesal.
" Iya bos, marah-marah mulu. Bos betah ya di kamar nona Kayra," ucap Reyhan yang terlihat berani menggoda Davin.
" Kau!" geram Davin yang ingin menghajar Reyhan dan Reyhan langsung berlari keluar buru-buru dari kamar itu. Menutup pintu sehingga Davin tidak bisa lagi menghajarnya.
" Beraninya dia kepadaku," umpat Davin dengan kesal.
Lalu melihat ke arah Kayra dan Kayra terlihat bingung harus melakukan apa dan langsung pergi kembali menuju meja rias yang terlihat salah tingkah dan mencari kesibukan sendiri.
Davin menghela napasnya dan langsung kekamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Jika mengganti di sana sepertinya hanya akan memunculkan konflik dengan Kayra. Begitu Davin memasuki kamar mandi Kayra langsung menghela napas lega.
Bersambung
__ADS_1