
Setelah kepergian Kayra Davin melihat wajah Aris dengan tatapan nanar.
" Aku akan menjaga putrimu. Seperti apa yang kau inginkan. Aku tidak akan meninggalkannya sendirian," ucap Davin dengan suara dingin yang berbicara pada Aris.
Flassback.
Davin mempunyai kesempatan untuk melihat kondisi Aris yang sedang kritis. Dan saat itu Davin dan Aris yang ada di ruang perawatan itu sementara Kayra sedang di kamar mandi dan bahkan tidak tau jika Davin memasuki ruangan papanya.
" Kenapa kondisi Pak Aris separah ini?" batin Davin dengan wajahnya yang penuh kepanikan.
" Kayra!" tiba-tiba terdengar suara membuat Davin terkejut dan suara itu berasal dari suara Aris dan Davin langsung melihatnya.
" Pak Aris!" lirih Davin dengan paniknya yang bisa kelas melihat jika Aris sudah siuman. Davin pun ingin pergi memanggil Dokter.
Namun tiba-tiba tangannya di tahan yang membuat Davin lebih terkejut lagi dan Davin menoleh kesampingnya dan melihat tangannya di pegang Aris. Namun mata Aris masih terpejam.
" Pak Aris!" Davin mendekatkatkan dirinya dan memastikan Aris apakah sungguh sudah siuman apa belum.
" Aku tidak tau bagaimana kehidupan Kayra selama ini. Hanya dia satu-satunya harta paling berharga dalam hidupku. Tolong jaga Kayra ku. Jangan pernah tinggalkan dia. Tolong lindungi dia," Aris berbicara begitu lancar tanpa membuka matanya yang membuat Davin begitu terkejut.
" Apa kondisinya sudah baik-baik saja," batin Davin masih dengan wajah terkejutnya melihat apa yang di hadapinya rasanya tidak mungkin.
" Aku mohon jaga putriku. Berjanjilah padaku untuk menjaganya dan terus ada di sisinya," ucap Aris dengan tetesan air mata yang akhirnya jatuh yang membuat Davin tidak percaya bisa melihat hal itu dan sungguh itu benar-benar membuat Davin terkejut.
Flassback on.
Davin mengingat kejadian kemarin di mana Aris memintanya untuk menjaga Kayra dan Davin bahkan tidak mengatakan apa-apa saat itu. Karena dia masih di penuhi dengan rasa terkejut dan saat Davin ingin memanggil Dokter Aris tidak mengeluarkan suara lagu dan Dokter mengatakan Aris memang sempat sadar. Karena banyaknya tumpukan yang ingin di sampaikannya.
Dokter juga mengatakan ada beberapa orang yang koma. Jika kita berbicara maka akan di dengar pasien walau dia dalam ke adaan koma. Dan selama ini Kayra terus saja bercerita pada papanya dan mungkin saja dapat di dengar Aris dan hari ini Davin pun menjawab permintaan Aris.
" Jangan khawatir padanya. Selagi aku masih hidup. Aku tidak akan pernah membiarkannya mengais dan terluka sedikitpun. Aku berjanji," ucap Davin yang kelihatan tikus berjanji.
Dia memang bukan orang seperti itu. Tetapi untuk Kayra dia berjanji untuk hal itu.
__ADS_1
" Jika ingin istirahat maka istirahat lah. Putrimu aku yang akan merawatnya," ucap Davin lagi.
Saat berbicara mata Davin berkaca-kaca dan bahkan Aris sendiri terlihat meneteskan air mata di pelupuk matanya. Yang mungkin Aris mendengarkan kata-kata Davin dan Aris begitu bahagia mendengar ucapan Davin yang bisa menjaga Laura.
Davin membuang napasnya perlahan kedepan dan memejamkan matanya sebentar. Lalu membukanya lagi dan mengatur napasnya kembali. Lalu Davin memilih untuk keluar dari ruangan itu setelah berjanji pada Aris yang mempercayakan dirinya untuk melindungi Kayra.
Kayra menunggu di ruang tunggu dan Davin keluar dari ruangan papanya. Kayra langsung menghampiri Davin.
" Apa yang kau bicarakan pada papa?" tanya Kayra kepo.
" Aku sudah mengatakan itu bukan urusan mu," jawab Davin ketus.
" Isssss," Kayra hanya berdesis.
" Sudah ayo!" ajak Davin yang sudah berjalan terlebih dahulu.
" Kita mau kemana!" tanya Kayra heran.
" Aku ingin mengajakmu jalan-jalan," jawab Davin yang terus berjalan.
" Papa sudah tidak apa-apa. Kau harus reflesing. Supaya otakmu bersih," sahut Davin dengan merapatkan kepalanya pada Kayra sebentar.
" Otakku memang bersih. Otak mu saja yang kotor," sahut Kayra dengan kesal.
" Sudaha kau itu kebiasaan. Suka sekali menyalahkan orang, sudah ayo!" ajak Davin yang sekarang menggenggam tangan Kayra dengan langkah mereka yang sejajar. Melihat hal itu membuat Kayra mengeluarkan senyum indahnya.
**********
Kayra dan Davin pun menghabiskan waktu untuk jalan-jalan di sekitar pesisir pantai. Davin hanya ingin membuat Kayra merasa jauh lebih baik lagi. Mereka berjalan di pinggir pantai dengan angin sepoi-sepoi yang membuat rambut Kayra menari-nari.
" Kita akan kembali ke Jakarta!" ucap Davin.
Kayra menoleh ke arah Davin tanpa menghentikan langkahnya.
__ADS_1
" Pekerjaan mu sudah selesai?" tanya Kayra.
" Iya. Pekerjaan ku sudah selesai," jawab Davin.
" Kapan kita kembali ke Jakarta?" tanya Kayra.
" Lusa," jawab Davin.
" Ohhhh, begitu ya sudah," sahut Kayra yang memang hanya mengikut saja.
Davin melihat ke arahnya, " Hmmm bagaimana dengan rencana mu dengan bos mu itu?" tanya Davin menyinggung pemicu keributan mereka.
" Rencana apa?" tanya Kayra heran.
" Jangan sok lupa," sahut Davin.
" Tentang pak Aldo," sahut Kayra. Davin hanya menganggukkan kepalanya saja.
" Bukannya kau tidak mengijinkanku pergi. Lalu kenapa bertanya," sahut Kayra.
" Kau marah. Karena tidak ku beri ijin pergi?" tanya Davin.
Kayra menggelengkan kepalanya ," kenapa harus marah. Mungkin memang lebih baik aku tidak pergi. Jika kemarin aku pergi. Kau pasti tidak tau bagaimana papa dan sepertinya bukan hanya kau yang melarang. Tetapi papa juga kelihatan melarang aku untuk pergi," ucap Kayra.
" Lalu kau tidak takut. Jika bosmu itu akan marah dan mungkin bisa memecatmu," sahut Davin. Davin juga tau jika Aldo memberi ancaman itu pada Kayra dan Kayra tidak mengatakan pada Davin yang menjadikan alasan Kayra untuk memaksa pergi.
Mendengar perkataan Davin. Kayra menghela napas beratnya yang mungkin memang hal itu akan terjadi, " ya semoga saja pak Aldo bisa memaklumi ku. Karena dia juga tau kondisi papa seperti apa sebelumnya. Ya nanti aku akan menjelaskan padanya," jawab Kayra.
" Ohhhh begitu rupanya," sahut Davin mengangguk-angguk saja.
" Walaupun akhirnya aku di pecat. Tetapi sudahlah aku mungkin bisa mencari pekerjaan lain," batin Kayra yang sebenarnya juga sangat takut jika hal itu terjadi.
" Aldo, Aldo kau pikir siapa dirimu yang berani memecat Kayra. Aldo kau tidak tau derajat Kayra lebih tinggi dari pada kau. Dia istri CEO Perusahaan utama. Sementara kau hanya atasan dari anak Perusahaan. Kau tidak tau saja. Jika tindakan mu ini. Hanya akan merugikan mu saja. Kau lihat saja apa yang akan aku lakukan dan kau akan menyesal dengan semua yang kau lakukan. Beraninya mengancam istriku," batin Davin dengan wajah sinisnya.
__ADS_1
" Kita ke sana!" tunjuk Kayra yang tiba-tiba melihat sesuatu. Davin mengangguk yang kelihatan sangat suka menuruti permintaan Kayra.
Bersambung