
Ketika pintu lift terbuka semua orang keluar dari lift termasuk Reyhan dan Pricilla. Dan ketika Kayra yang mau keluar dari pintu lift Davin langsung menariknya.
" Davin kau!" geram Kayra saat Davin menghimpit tubuhnya Kedingding dan mengurung wanita itu, agar tidak kemana-mana.
" Kau itu kenapa sih, menyebalkan sekali! minggir tidak!" usir Kayra dengan kesalnya melihat suaminya yang tanpa dosa itu berdiri di depannya.
" Aku tidak mau," sahut Davin yang sekarang memebelai rambut Kayra. Kayra hanya mengkerutkan dahinya melihat kelakukan Davin yang semakin menjadi-jadi.
" Kenapa kau lama sekali datangnya. Apa sekarang kau sudah merasa istri Bos dan suka-suka mau datang ke kantor," ucap Davin yang bicara begitu inti. Suaranya yang berat dengan hembusan napas yang menerpa wajah Kayra.
" Aku sudah mengatakan aku itu kuliah," jawab Kayra.
" Tetapi kau tidak berpamitan kepadaku," ucap Davin.
" Aku sudah mengabarimu dengan pesan," sahut Kayra menegasakan.
" Aku tidak melihatnya," jawab Davin.
" Itu mana urusanku! minggir aku mau pergi!" Kayra berusaha untuk pergi, namun Davin menghimpitnya lagi dan sekarang wajah Davin lebih dekat lagi dengannya.
" Kau harus di hukum!" ucap Davin dengan serak.
" Kau jangan gila Davin. Ini ada cctv-nya. Aku tidak mau cari masalah," ucap Kayra yang barusan saja sudah mendapat cibiran dan takut jika orang-orang semakin mengetahui dia dan Davin begitu dekat.
" Aku di sini bosnya dan semuanya aku yang mengatur. Bukan orang lain dan aku juga tidak peduli. Kalau ada yang melihat," ucap Davin dengan matanya yang melihat dengan penuh hasrat istrinya itu.
" Kau jangan aneh-aneh. Aku pokoknya tidak mau. Awas saja kalau kau melakukannya," ancam Kayra dengan matanya yang menatap Davin dengan horor.
" Jika di larang aku akan melakukannya!" sahut Davin yang semakin mendekatkan dirinya pada Kayra, memiringkan kepalanya yang ingin mencium bibir Kayra. Saat bibir itu hampir saja menempel. Tiba-tiba saja pintu lift terbuka dan Kayra spontan langsung mendorong Davin yang membuat Davin langsung mundur dan hampir saja punggungnya menabrak dinding lift.
__ADS_1
Ternyata beberapa karyawan yang ingin masuk lift. Dan Kayra langsung salah tingkah dengan berpura-pura bahwa tidak ada yang terjadi. Namun karyawan yang tadinya memasuki lift hanya melihat heran. Namun tampak tidak peduli dan masuk saja dengan menundukkan kepala pada Davin. Davin hanya menanggapi datar tanpa eksperi yang pasti dia itu kesal sekali dengan Kayra yang mendorongnya begitu saja.
**********
Kayra yang merasa tidak enak pada perutnya. Bekerja juga tidak fokus.
" Kenapa sih aku itu bawaannya mau muntah saja," batin Kayra yang terlihat lemas. Kayra melihat Karyawan yang lainnya terlihat fokus bekerja di meja masing-masing. Ya dia juga kalau mau senderan atau malas-malasan tidak enak dengan yang lainnya sibuk bekerja. Padahal dia bisa saja keruangan Davin dan istirahat di sana.
Kayra yang kembali ingin muntah memilih untuk cepat-cepat kekamar mandi. Sebelum orang-oranga di sana akan jijik melihat tingkahnya yang aneh.
Setelah sampai di kamar mandi Kayra memuntahkan kembali apa yang telah di makannya. Ya perutnya akan kembali kosong. Kalau saja dari tadi dia terus muntah-muntah. Setelah selesai memuntahkan isi makanya. Kayra mencuci mulutnya di wastafel dengan sedikit memperbaiki make up-nya.
" Namanya juga hamil muda ya wajarlah!" tiba-tiba 2 orang wanita memasuki kamar mandi dan terlihat berbincang-bincang yang sekarang berdiri di samping Kayra.
" Iya sih. Tetapi waktu hamil anak pertama aku tidak seperti ini. Anak ke-2 sangat parah, badan bawaannya lemas, pusing, mual-mual dan dan banyak maunya," sahut temannya.
" Hamil!" batin Kayra dengan debaran jantungnya yang tiba-tiba berdetak tidak menentu.
" Bukannya sebenarnya kalau gejala hamil memang seperti itu. Jadi mungkin ini berlebihan," sahut yang satunya lagi.
" Ya. Aku hanya berdoa saja. Semoga tidak makin parah. Soalnya aktivitas benar-benar akan terganggu," sahut temannya.
2 wanita itu kekamar mandi hanya merapikan makeup dengan berbincang-bincang dan setelah pekerjaan mereka selesai. Mereka juga langsung pergi dan kembali Kayra yang tinggal di sana yang sekarang mencuci tangannya.
Kayra melihat dirinya di cermin dan membalikkan tubuhnya dengan bersandar pada wastafel. Wajah Kayra kelihatan berpikir dengan satu lengannya di lipat di dadanya dan juga menggigit-gigit jempolnya.
" Kenapa gejala yang wanita katakan tadi sama denganku!"
" Apa itu artinya aku hamil!" Kayra bergerutu sendiri yang merasa jika dia hamil.
__ADS_1
" Mual, pusing, lemas itu gejala kehamilan. Jangan-jangan benar lagi aku hamil," Kayra masih bertanya-tanya dan belum yakin dengan apa yang di pikirkannya.
" Sebaiknya tes saja. Agar aku tidak penasaran seperti ini," batin Kayra dengan geleng-geleng kepala dan langsung meninggalkan tempat itu untuk buru-buru menetes. Apakah dia hamil atau tidak.
**********
Oma Elishabet sekarang sedang mengintrogasi Lian dan juga Mesya yang mana di sana juga ada Altarik.
" Jadi apa kau akan bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan pada Silvia kakak dari Kayra?" tanya Oma menekan suaranya yang melihat Lian dengan wajah seriusnya.
" Oma aku sudah mengatakan. Aku di jebak olehnya dan mana mungkin aku bertanggung jawab yang artinya aku akan masuk perangkap mereka," sahut Lian yang tetap kekeh dengan pendiriannya tidak mau bertanggung jawab dengan Silvia.
" Tetapi Lian. Silvia sedang mengandung anak kamu. Mau kamu di jebak atau tidak. Pada nyatanya dia sudah mengandung," tegas Altarik.
" Belum tentu juga anak itu anak dari Lian," sahut Mesya.
" Apa maksud kamu Mesya?" tanya Oma Elishabet.
" Mah, Lian sudah mengatakan jika di jebak dan juga banyak bukti-buktinya. Wanita itu bukan wanita yang benar dan mungkin saja dia bersama laki-laki lain dan Lian yang di korbankan. Jadi jika Lian juga harus bertanggung jawab untuk Silvia aku juga tidak setuju. Sebelum ada bukti yang jelas. Bahwa anak yang di kandungnya adalah anak dari Lian," tegas Mesya.
" Apa maksud kamu Mesya. Kita harus melakukan tes DNA dulu?" tanya Altarik.
" Bukankah itu lebih baik. Jadi bisa di putuskan apakah Lian harus bertanggung jawab atau tidak. Karena aku tidak mau Lian menikahi wanita yang mengandung anak orang lain," sahut Mesya menekankan.
" Baiklah. Oma akan memberi kamu kesempatan lagi untuk membuktikan mana yang benar," sahut Oma yang mengambil keputusan.
" Sial sama saja kalau tes DNA. Dia bersama ku terus dan pasti itu anakku. Mama kenapa sih begitu bodohnya malah menyuruhku tes DNA yang adanya masalah akan semakin banyak," batin Lian yang bertambah prustasi dengan tindakan mamanya yang begitu ceroboh.
Bersambung.
__ADS_1