Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.

Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.
Bab 173


__ADS_3

Brian duduk di atas lantai yang di beri karpet yang sekarang sedang bermain dengan beberapa barang-barang koleksinya.


Layaknya kamar anak-anak pada umumnya. Penuh dengan barang-barang bermain mereka dan gambar-gambar saat mereka belajar yang di tempel sembarangan..Selain ada tempat tidur yang di beri seprai warna hitam. Ada tenda kemah di dalam kamar itu dan banyak boneka-boneka unta yang tersusun rapi.


Bukan hanya itu. Ada juga beberapa koleksi pesawat-pesawat dan juga ikan hiu yang memenuhi kamar itu.


toko-tok-tok-tok. Pintu kamar itu di ketuk dan membuat Brian yang sibuk bermain melihat ke arah pintu kamar tersebut yang ternyata Kayra.


"Ayo makan!" ajak Kayra.


"Baik mah," jawab Brian yang langsung dengan cepat keluar dari kamar untuk menikmati masakan mamanya.


Kayra menarik kursi untuk putranya duduk.


"Makasih mah," ucap Brian. Kayra tersenyum dan juga langsung duduk.


Brian langsung menikmati masakan sang mama. Walau kesibukan Kayra sebagai Dokter. Kayra juga selalu menyempatkan diri untuk menyiapkan makanan. Karena bagaimanapun dia adalah seorang ibu dan harus siap dalam segala hal apapun


"Kakek tidak datang mah?" tanya Brian.


"Tadi kakek menelpon. Katanya kakek harus mengurus cucunya," jawab Kayra.


"Huhhh, kakek aneh-aneh saja. Masa iya kuda-kudanya di anggap cucu. Padahalkan Brian cucunya. Tetapi kuda-kudanya yang di perhatikan," ucap Brian dengan mulutnya yang kerucut yang sepertinya sangat cemburu.


"Kalau Brian di suruh tinggal sama kakek tidak mau. Jadi mau bagaimana kakek akan lebih sayang sama Brian," sahut Kayra sembari mengubah makanannya.


"Kenapa cucu-cucunya tidak di bawa aja kemari. Biar sekalian Brian ikut mengurusnya," ucap Brian.


"Kamu ini aneh-aneh aja. Mana mungkin sayang yang adanya nanti kita akan di usir dari gedung ini," sahut Kayra dengan tertawa geleng-geleng.


"Nah berarti benar kan. Kalau cucu-cucu kesayangan kakek itu sangat merepotkan," ucap Brian.


"Iya deh," sahut Kayra dengan mengacak-acak rambut Brian, "jangan bahas masalah kakek lagi. Sekarang Brian makan yang banyak!"titah Kayra.


"Baik mah. Oh iya mah, setelah ini mama mau ke rumah sakit lagi?" tanya Brian.


"Tidak sayang," jawab Kayra.


"Horeeee, Brian tidur di kamar mama ya," ucap Brian dengan semangatnya.

__ADS_1


"Baiklah sayang," sahut Kayra dengan tersenyum.


Seorang Dokter pekerjaannya sangat tidak menentu. Walau sudah pulang dari rumah sakit. Terkadang ada hal yang mendadak membuat Kayra di telpon dan buru-buru kerumah sakit dan pasti sering Kayra meninggalkan Brian di jam-jam malam tertentu.


*********


Kediaman Ardian.


Ardian sampai kerumahnya malam hari setelah melakukan banyaknya pekerjaan seharian.


"Davin!" tegur Altarik yang duduk di ruang tamu. Davin berdehem dan langsung duduk di ruang tamu yang di sana ada juga Oma, Elisha, Mesya, Giselle dan ada Dion yang terlihat sibuk pada satu dokumen yang mana dia duduk di samping Oma dan sepertinya. Oma sedang memerintahkannya.


"Bagaimanapun proyek yang kamu tangani?" tanya Altarik.


"Lancar-lancar saja pah," jawab Davin.


"Kamu sudah menemui Dokter Bramana?" tanya Oma.


"Sudah tadi dan semuanya juga lancar. Saham kita di rumah sakit itu juga semakin meningkat," jawab Davin.


"Baguslah kalau begitu," sahut Altarik. Davin mengangguk dengan memijat pelipisnya yang sembari menyandarkan kepalanya pada Sofa karena rasa lelah yang di alaminya.


"Mah kak Zoy benar-benar tidak akan pernah pulang lagi apa?" tanya Giselle tiba-tiba.


"Dia nyaman hidup di Eropa. Jadi biarkan saja. Disuruh pulang juga tidak mau," sahut Mesya sembari melihat ponselnya. Sejak tadi dia memang sibuk dengan ponselnya.


"Davin kamu suruh Zoy pulang!" titah Oma tiba-tiba.


"Untuk?" tanya Davin heran.


"Bukannya kamu lagi butuh orang di Perusahaan dan perkembangan Zoy meningkat jadi kamu tarik dia dari Perusahaan luar ke Perusahaan utama," jelas Oma.


"Oma aku bisa mengatasinya sendiri. Lagi pula Zoy tidak mau pulang. Jadi biarkan saja dia di sana," sahut Davin.


"Kamu itu jangan apa-apa harus sendiri. Kamu itu lama-lama bisa mati karena pekerjaan. Jadi tarik Zoy. Dia juga di sana tidak terlalu di butuhkan," tegas Oma.


"Aku malas menyuruhnya. Oma saja yang melakukannya," sahut Davin yang memang ogah jika harus ada acara membujuk-bujuk. Karena adik tirinya itu sudah 5 tahun tidak pulang dan jika di suruh pulang alasannya banyak dan Davin tidak mau seperti papanya atau ibu tirinya yang harus membujuk-bujuk. Dan iya kalau mau pulang. Nyatanya tidak pulang juga dan itu yang membuat Davin tidak akan melakukan hal yang pasti.


"Dion kamu bawa dia pulang!"titah Oma.

__ADS_1


Dion terkejut mendengarnya. Namun apa daya. Sebagai bawahan Dion hanya menganggukkan kepalanya yang harus mematuhi orang yang di tuakan dan sangat di hormati di rumah itu.


"Akhirnya kak Zoy pulang juga. Giselle tidak kesepian," sahut Giselle dengan bahagianya.


"Giselle kamu setelah ini langsung ke ruang kerja kakak!" sahut Davin.


"Untuk apa?" tanya Giselle.


"Kakak rasa kamu sadar dengan kesalahan yang kamu lakukan. Bertahun-tahun kerja. Tidak pernah mengerti juga," ucap Davin dengan wajah seriusnya. Giselle yang sepertinya tau membuat salah langsung menunduk.


"Kamu melakukan apa Giselle?" tanya Mesya.


"Kakak tunggu sekarang juga!" tegas Davin yang langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Kamu tidak membuat ulah kan Giselle?" tanya Altarik.


"Giselle naik dulu," sahut Giselle yang langsung berdiri dan tidak menjawab pertanyaan ke-2 orang tuanya itu.


"Anak ini memang. Pasti membuat Davin marah lagi," ucap Mesya dengan kesalnya.


"Sudahlah Mesya namanya juga masih belajar," sahut Altarik.


"Selalu belajar. Nggak pernah lulus," ucap Mesya dengan kesal.


"Jangan terlalu menuntut anak untuk sempurna. Kamu sebagai ibu sudah tugas kamu untuk menasehatinya dengan baik bukan hanya marah-marah saja," sahut Oma dengan tegas. Mesya hanya menghela napasnya yang tidak berani protes lagi. Lalu sudah Elishabet yang bicara.


*********


Kayra yang tertidur dengan memeluk putranya tiba-tiba di ganggu dengan bunyi panggilan handphonnya yang berada di atas nakas.


Kayra mengerjap-ngerjapkan matanya dan langsung meraba-raba nakas untuk mengangkat panggilan itu.


"Hallo!" sapa Kayra dengan suara seraknya.


"Memang tidak ada Dokter kain?" tanya Kayra.


"Ya sudah baiklah kalau begitu," sahut Kayra mematikan telpon itu dengan menghela kasar napasnya. Kayra mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya. Lalu beranjak dari tempat tidurnya.


Tidak beberapa lama akhirnya Kayra kembali kekamar itu yang terlihat rapi yang seperti ingin pergi. Kayra memperbaiki selimut Brian dan mencium lembut kening Brian.

__ADS_1


"Mama pergi sebentar ya sayang," ucap Kayra yang langsung pergi meninggalkan Brian. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Tetapi memang itulah tugas sebagai Dokter.


Bersambung


__ADS_2