
Kayra dan lainnya melanjutkan dengan makan mereka yang mana semuanya terlihat santai sambil makan.
"Makan malam yang kita adakan ini adalah untuk pembahasan pernikahan Lian dan juga Pricilla dan Aldo kamu bisa memberi pendapat untuk tempat, tema atau justru tanggal pernikahan. Karena hanya kamu yang menjadi keluarga Pricilla di sini," ucap Oma yang memulai pembicaraan.
"Oma kalau masalah pernikahan dan yang lainnya saya serahkan pada Pricilla saja. Karena Pricilla yang menikah. Tetapi pasti kalau ada sesuatu yang di butuhkan saya akan membantunya," sahut Aldo dengan santai.
"Aku tidak ingin tema-tema yang seperti apa Oma yang penting acaranya sakral dan itu sudah cukup. Karena aku juga tidak mau menyulitkan siapa-siapa," sahut Pricilla.
"Tapi tidak ada yang di sulitkan Pricilla. Karena kita semua sangat happy kok dengan kamu yang merepotkan kita. Karena mempersiapkan pernikahan itu sangat epik dan bagus," sahut Kayra.
"Apa yang di katakan Kayra benar. Selagi masih bisa di adakan acara yang terbaik kenapa tidak dan nanti gantian untuk acaraku. Kamu juga harus ikut membantu," sahut Zoy.
"Sudah tidak sabar ceritanya mau menikah nih. Tenang Zoy giliran kamu sebentar lagi kok," sahut Silvia.
"Siapa yang tidak sabar, aku hanya mengingatkan saja kok," sahut Zoy yang memberi alasan.
"Iya-iya deh," sahut Kayra.
Mereka semua sambil tertawa-tawa dengan candaan masing-masing. Kadang bicara serius dan kadang bicara yang mengundang tawa. Namun fokus Giselle sejak tadi hanya melihat terus bagaimana Aldo. Mungkin Giselle benar-benar sudah jatuh hati pada Aldo. Sampai Aldo pasti merasa jika dirinya di lihati terus yang membuat Aldo melihat kearah Giselle dengan Aldo tersenyum pada Giselle.
"What dia tersenyum kepadaku. Ini sungguh!" batin Giselle yang ingin melompat jingkrak-jingkrak karena hanya di senyumi oleh Aldo.
"Giselle kamu kenapa?" tanya Kayra yang menegur Giselle karena melihat Giselle yang melamun. Namun teguran Giselle tidak membuat Giselle sadar.
"Giselle!" Kayra menegur lagi yang kali ini memegang tangan Giselle
"Hah iya kenapa!" sahut Giselle dengan gugup yang baru sadar dari lamunannya.
"Kamu kenapa melamun?" tanya Kayra.
"Melamun, siapa yang melamun, nggak kok," sahut Giselle yang menjadi salah tingkah dan malu di depan Aldo yang mana ternyata Aldo memperhatikan dirinya yang terus melihat Aldo.
"Bagaimana tidak melamun, lihat itu sedotan kamu kamu buat jadi sendok untuk makan kamu," sahut Silvia yang melihat lucu tingkah Giselle. Giselle pun melihat apa yang di pegangnya dan sungguh malu karena dia benar-benar melakukan kerandoman yang mengundang tawa orang-orang yang ada di meja itu.
__ADS_1
"Tante Giselle benar-benar aneh. Tadi aja marah-marah dan sekarang melakukan kerandoman, huhhh aneh," sahut Brian yang mengejek Giselle yang membuat Giselle jadi malu aja di depan banyak orang. Dan terlihat Aldo yang mungkin juga ingin ngakak dengan kelakukan wanita yang sejak tadi cari-cari perhatian itu.
"Issss benar-benar nih mulut si Brian, bikin malu aja, mau taruh di mana coba muka aku di depan Aldo," batin Giselle yang kesal sendiri dengan wajah merahnya.
"Sudah-sudah sekarang kita makan saja di lanjutkan," sahut Aris yang mana mereka semua kembali untuk menikmati makanan itu.
Walau Giselle sudah malu. Tetapi tidak membuat Giselle untuk tidak melihat Aldo kembali. Mungkin Giselle akan melakukannya sampai dia bosan.
*******
Setelah acara makan malam itu selesai, Kayra, Davin dan Brian pun hari ini pulang ke apartemen Kayra. Brian katanya mau mengambil mainannya yang masih banyak tinggal di apartemen. Jadi mau tidak mau Kayra dan Davin harus menemaninya dulu mengambil mainan itu dan baru kembali pulang
"Pintu di buka silahkan masuk," suara otomatis pintu yang terdengar saat penghuni sudah masuk.
"Brian mau ambil mainan yang mana?" tanya Kayra.
"Miniatur onta yang di susun di lemari di kamar mama," jawab Brian.
"Ya sudah sayang ayo kita ambil," ajak Davin.
"Ini semuanya yang mau di bawa?" tanya Davin yang membuka lemari kaca itu.
"Benar pah," sahut Brian. Ya sudah sayang kalau begitu papa cari tempatnya dulu ya," ucap Davin.
"Iya pah," sahut Brian.
Akhirnya Brian dan Davin menyusun miniatur unta itu kedalam tas dan sementara Kayra hanya merebahkan dirinya di atas ranjang yang terlihat lelah dengan ke-2 kakinya yang masih menggantung di lantai.
"Mama tidak bantuin Brian dan papa?" tanya Brian menoleh ke arah sang mama yang terlihat begitu santai.
"Brian sama papa aja. Mama lelah," jawab Kayra.
"Isss mama mana boleh seperti itu. Kita harus mengerjakan sama-sama," ucap Brian.
__ADS_1
"Benar kata Brian Kayra. Lagian kita berdua juga sama-sama lelah. Tetapi kan harus mendahulukan dulu pekerjaan supaya bisa sama-sama pulang dan istirahat," ucap Davin.
"Ya ampun sayang apa salahnya sih kamu aja. Kamu itu ya apa-apa harus ikut aku," sahut Kayra benar-benar niat pemalasnya sedang keluar.
"Isss mama tidak kompak dengan Brian dan papa. Mama itu harus semangat tidak boleh malas-malasan mama," ucap Brian dengan mengajari mamanya.
"Arggh terserah kalian mau komplain, mama rebahan aja. Kalian itu laki-laki. Jadi harus lebih mengalah untuk mama," tegas Kayra.
Brian dan Davin saling melihat dengan Brian yang mengangkat kedua bahu mereka mendengar wanita satu-satunya yang mereka cintai itu mengeluh. Namun tiba-tiba Davin dan Brian sama-sama tersenyum miring dengan mata mereka yang berkedip sebelah yang sepertinya ada kode-kode untuk mereka. Dan tidak lama anak dan ayah itu langsung berdiri berlari menghampiri ranjang dan langsung mengejutkan Kayra saat anak dan ayah menggelitiki Kayra yang seenaknya rebahan.
"Sayang, Brian apa yang kalian lakukan? jangan seperti ini mama kegelian," protes Kayra yang benar-benar habis-habisan di perlakuan anak dan suaminya.
"Siapa suruh mama malas-malasan," ucap Brian.
"Ini supaya kamu itu tidak malas-malasan," sahut Davin yang menggelitik istrinya.
"Sayang ampun! sayang aku akan ikut bantuin ampun sayang! ampun sayang!" Kayra hanya bisa memohon saat anak dan suaminya mengerjai sirinya dan sampai Brian yang tiba-tiba mendorong Davin dengan Davin yang langsung jatuh keatas tubuh Kayra dengan posisi jarak wajah mereka yang berdekatan dan saat itu Davin juga menghentikan pekerjaannya yang malah fokus pada istrinya.
Davin dan Kayra dengan napas yang saling memburu dengan tatapan mata mereka yang begitu dalam seakan melupakan ada anak mereka di sana.
"Capek deh," ucap Brian menepuk jidatnya saat melihat ke uwuuwuan ke-2 orang tuanya itu, "begini kata Tante Zoy kalau bucin huhhhhh," Brian bergerutu sendiri dan langsung turun dari ranjang yang lebih baik pergi dari pada mengganggu orang tuanya.
"Kita menginap saja di sini. Brian tidur di kamar Brian, Brian tutup pintu ya!" teriak Brian yang keluar dari kamar dengan menutup pintu yang mana Brian begitu pengertian kepada orang tuanya itu.
"Kamu mengajarinya?" tanya Kayra.
"Aku tidak mengajarinya. Tetapi dia tau apa yang harus di lakukannya. Karena dia melihat papanya frustasi yang tidak bisa mesra-mesraan dengan istrinya dan sekarang baru bisa mesra-mesraan," jawab Davin dengan lembut sembari memebelai-belai rambut Kayra.
Kayra hanya tersenyum yang terus menatap sang suami dan tidak lama Kayra mendapat kecupan dari suaminya yang berpanjang menjadi ciuman di antara ke-2nya.
Mereka mungkin akan melanjutkan pada tahap yang lebih lanjut lagi. Apa lagi Brian sudah begitu baik dalam membantu hal itu.
Mungkin sepertinya Apartemen itu tempat bersejarah dalam percintaan Davin dan Kayra yang mana saat pertama menikah juga mereka melakukan hubungan itu di sana dan sekarang tanpa ada rencana mau menginap eh dapat bonus dan semuanya berkat dari Brian yang semakin lama semakin pengertian.
__ADS_1
Bersambung