
Davin dan Kayra berada di dalam satu ruangan yang Kayra tidak tau tempat apa itu di mana Kayra duduk di salah satu sofa berwarna putih dan Davin berdiri di depannya yang terlihat mengambil sesuatu yang iya tidak ketahui apa itu.
" Kenapa mengajakku kemari?" tanya Kayra bingung dengan kepalanya yang melihat ruangan yang sepi itu dengan suasana lampu yang agak remang yang tidak terlalu terang dan tidak terlalu gelap.
" Aku hanya ingin bicara sebentar denganmu," jawab Davin yang duduk di depan Kayra dan tiba-tiba pelayan datang dengan menghidangkan makanan ada dua pelayan dengan pakaian yang sama. Pelayan Pria itu terlihat telaten menghidangkan makanan yang pasti mahal-mahal itu.
" Silahkan tuan," ucap Salah satu pelayan, Davin hanya menganggukan kepalanya dan langsung pergi.
" Bicara apa?" tanya Kayra.
" Sekarang keluargaku sudah mengenalmu dan juga sudah sepakat untuk kita menikah di tempat yang aku inginkan," ucap Davin dengan santai yang menyilangkan pahanya dan ke-2 tangannya di lipat di dadanya.
" Kita belum membicarakan hal itu dan kau sudah mengatur segalanya yang menikah itu bukan hanya kau tapi aku juga. Aku punya hak untuk berpikir untuk apa yang kau lakukan, di mana dan apa saja. Bukan berarti semuanya harus dengan keputusanmu," ucap Kayra dengan wajah seriusnya. Davin mendengus kasar dengan tersenyum miring pada Kayra.
" Meski kau punya hak untuk berpikir. Tapi kau tidak bisa melakukannya. Dan aku yang memegang kendali," sahut Davin menegasakan. Kayra diam karena memang tidak ada yang bisa di katakannya.
" Baiklah. Kalau kalau begitu katakan kapan kita menikah dan kapan berakhir. Aku ingin kau pastikan hidupku setelah pernikahan itu berakhir. Aku ingin berakhirnya pernikahan itu juga menjadi akhir dari kendali ibu tiriku," ucap Kayra.
" Apa aku harus mempersiapkan itu untuk mu," sahut Davin.
" Seperti apa yang kau katakan sebelumnya kepadaku. Kau banyak keuntungan dari menikahiku dan yang kau berikan kepada keluarga tidak ada apa-apanya dan itu hanya keluargaku yang menikmati segalanya selama kita menikah dan aku meminta bagian ku setelah kita berpisah yang mana kau memastikan aku lepas dari ibu tiriku dan juga kakak tiriku," ucap Kayra dengan penuh penegasan.
" Itu bukannya syarat baru. Bukannya sebelumnya kau tidak mengajukan syarat itu, kenapa menambahi syaratmu?" sahut Davin.
" Aku melihat keuntungan mu yang jauh lebih banyak dan aku hanya meminta sedikit untuk diriku," sahut Kayra.
__ADS_1
" Hmmm, begitu rupanya," sahut Davin. " tapi aku tidak menjamin hal itu. Karena urusanmu dengan keluargamu tidak ada di dalam kontrak," sahut Davin yang terlihat santai.
" Kau tidak bisa seperti itu, alasanku menyetujui pernikahan ini hanya untuk terbebas dari keluarga dan yang pasti bukan sementara tetapi selama-lamanya dan sebelumnya kau juga sudah mengatakan akan memberikan ku sedikit," sahut Kayra mengingatkan Davin.
" Ya kalau soal uang aku akan bisa memberikan dan menjaminnya. Tetapi masalah itu dan ini aku tidak bisa melakukannya," sahut Davin santai.
" Tidak bisa seperti itu," sahut Kayra.
" Kau memaksaku," sahut Davin.
" Baiklah, jika kau tidak bisa menambahkan syarat itu atau tidak mau menuruti syarat. Maka aku akan membatalkan pernikahan ini," sahut Kayra. Davin langsung melihat serius ke arah Kayra. Namun langsung tertawa mengejek Kayra.
" Hahahaha, kau mengancamku. Apa kau lupa jika kau tidak punya pilihan selain menikah denganmu. Ibu tirimu mana mungkin menurutimu," ucap Davin tertawa mengejek Kayra.
" Apa maksudmu?" tanya Davin dengan duduk tegap yang mulai menatap tajam Kayra.
" Aku bisa saja mengatakan kepada keluargamu. Jika kau menikahiku hanya demi tahta dan aku yakin setelah kau dan aku akan batal menikah. Dan aku juga menjamin setiap gadis yang kau kenalkan pada keluargamu. Pasti tidak akan di percayai lagi Oma dan keluargamu. Mereka hanya akan menganggap jika kau hanya menikah demi warisan. Aku yakin itu," ucap Kayra yang membuat Davin langsung terdiam dengan ancaman Kayra.
" Kau benar-benar berani mengancamku," sahut Davin. Kayra mengangkat kedua bahunya dengan santai dan langsung makan tanpa di suruh oleh Davin.
" Wawwww, wanita ini benar-benar tidak bisa di anggap main-main, sunggu dia wanita yang begitu hebat. Di luar dugaanku. Sungguh aku tidak percaya, jika dia bisa membalikkan keadaan secepat kilat," batin Davin yang sampai tidak bisa bicara apa-apa lagi dengan Kayra.
" Hmmm, ya aku tidak menyangka jika kau punya pegangan juga. Baiklah aku akan menuruti apa katamu. Jika itu yang kau inginkan, aku akan menjamin segalanya. Jika nanti kita berpisah, aku akan jamin kau terlepas dari ibu tirimu," sahut Davin. Kayra tersenyum mendengarnya.
" Apa kau puas?" tanya Davin dengan menaikkan alisnya.
__ADS_1
Kayra hanya menggedikkan bahunya dan melanjutkan makannya dengan santai. Sementara Davin benar-benar tidak habis pikir baru pertama kali bertemu wanita yang berani kepadanya.
Davin pun menyunggingkan senyumnya lalu berdiri dan terlihat berjalan menuju lemari bagian bawah Davin terlihat mengambil botol Vodka dan langsung berjalan kemeja kembali. Lalu menuangkan Vodka itu kedalam gelas di depan Kayra yang membuat Kayra kaget dan mengangkat kepalanya melihat Davin.
" Apa yang kau lakukan?" tanya Kayra.
" Kau tidak bisa makankan, jika tidak minum alkohol," ucap Davin yang mengingat kata-kata Kayra beberapa hari lalu dan Kayra langsung panik saat itu. Davin kembali duduk setelah menuang 2 gelas dan mengambil 1 gelas Vodka untuk dirinya.
" Cherss," ucap Davin mengangkat 1 gelas dan mengajak Kayra bersulang.
" Ini untuk merayakan kerja sama kita. Kenapa kau masih diam, bukannya kau seperti wanita yang sangat familiar dengan alkohol dan bahkan makan saja harus minum alkohol," ucap Davin menyindir Kayra yang membuat karya panik dan diamnya menjadikan dirinya benar-benar panik.
" Kau mendadak berubah menjadi wanita yang seperti tidak pernah minum," ucap Davin. Kayra menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan dengan.
" Aku tidak minum dengan sembarangan orang," sahut Kayra mencari alasan yang mendadak santai yang membuat Davin menyunggingkan senyumnya.
" Kita baru mengenal dan aku mana tau niatmu mepadaku seperti apa. Jadi aku tidak akan minum sembarangan," ucap Kayra yang terus mencari alasan.
" Hmmmm, begitu rupanya," sahut Davin mengangguk-angguk dengan dia yang mulai minum alkohol yang mana Davin seolah percaya saja dengan kata-kata Kayra.
" Dia benar-benar mengerjaiku," batin Kayra dengan kesalnya.
" Makan lagi. Jangan menjadi gelisah karena omonganku. Bukankah kita partner," ucap Davin dengan santai. Kayra pun berusaha untuk santai dan kembali makan.
Bersambung
__ADS_1