
Davin pulang kerumahnya dengan wajah yang penuh kebahagiaan. Bahkan berjalan santai dengan bersiul-siul. Oma Elishabet, Zoy, Giselle, Mesya dan Altarik yang ada di ruang tamu heran melihat Davin yang bertingkah layaknya anak remaja.
Mereka saling melihat dengan dahi mengkerut dan wajah yang penuh tanda tanya.
"Malam semuanya!" sapa Davin dengan senyumnya yang membuat yang lainnya semakin heran. Sangat tidak biasanya dan terkesan geli jika Davin yang menyapa dengan manis seperti itu.
"Apa kau terbentur sesuatu Davin?" tanya Oma Elisabeth. Ya dia mungkin berpikiran cucunya itu sedang ada masalah pada otaknya, makanya seperti itu.
"Maksud Oma?" tanya Davin.
"Kau kenapa senyum-senyum seperti itu?" tanya Oma.
"Senyum itu ibadah Oma. Apa salahnya tersenyum untuk mengumpulkan banyak pahala," jawab Davin dengan santai. Zoy dan Giselle saling melihat dengan raut wajah mereka yang terkesan geli.
"Kau tidak sakit kan Davin?" tanya Altarik.
"Hmmm, lumayan sakit di sini. Tetapi sudah sembuh," sahut Davin menunjuk dadanya.
"Kak Davin kau benar-benar harus ke Dokter. Pasti ada yang tidak beres denganmu. Pekerjaan terlalu banyak membuatmu seperti orang gila," ucap Giselle menyarankan kakaknya itu.
"Iya sekalian cari Dokter pribadi, biar nggak gila sendiri," sahut Zoy.
"Dokter! benar juga Dokter pribadi. Ya dia akan menjadi Dokter di hatiku," sahut Davin yang membuat semakin jijik dengan Davin dan percaya jika Davin memang sudah gila.
"Na-na-na-na," Davin bernyanyi saat berjalan menuju kamarnya.
"Kenapa sih dia?" tanya Mesya heran.
"Ya pasti sedang ada sesuatu. Kak Davin pasti salah makan," sahut Gisell.
"Bisa jadi Davin benar-benar salah makan," sahut Altarik.
*********
Davin yang sekarang berada di ruangan olahraga yang mana sedang berolah raga.
__ADS_1
"Suasana hatimu terlihat baik," sahut Dion yang memasuki ruangan olah raga yang mana Dion juga siap-siap untuk berolahraga karena memakai celana pendengar dan juga baju kaos dengan handuk yang melingkar di lehernya.
"Aku akan kembali mengejarnya," sahut Davin yang sedang pus-up.
"Maksudmu?" tanya Dion.
"Kayra ternyata belum menikah dan dengan begitu aku mendapatkan banyak kesempatan untuk mengejarnya kembali," jawab Davin yang terlihat bersemangat.
"Lalu menurutmu dia akan menerimamu begitu saja," sahut Dion yang tidak yakin dengan usaha Davin.
"Mungkin hatinya terluka parah karena perbuatanku. Tetapi aku akan mengobatinya. Karena siapa yang mulukainya dia yang mengobatinya dan begitu juga dengan Kayra. Aku aku akan mengobatinya," ucap Davin dengan yakin.
"Tapi aku rasa kau tidak akan berhasil," sahut Dion ragu.
"Mungkin tidak mudah. Tetapi aku akan berusaha dan aku akan menebus semua kesalahanku kepadanya," sahut Davin.
"Ya semoga saja kau berhasil," sahut Dion sembari berolahraga.
Rumah sakit.
Dan tidak lama operasi yang di lakukan Kayra selesai dan Alhamdulillah berhasil. Kayra pun langsung keruangan ganti untuk mencuci tangan dan membuka pakaian operasinya yang mana Dokter Anggi di sebelahnya juga sama-sama mencuci tangan bersamanya. Karena tadi mereka sedang melakukan operasi bersamaan.
"Kayra aku dengar dari Maya. Katanya Pak Davin sangat perhatian kepadamu ya," ucap Dokter Anggi mulai bergosip.
"Maksudnya?" tanya Kayra.
"Nggak usah pura-pura tidak tau. Kemarin waktu kamu sakit. Pak Davin itu menjenguk kamu dan memberi kamu makanan," ucap Anggi yang pasti informasi itu di dapatkan dari Maya.
"Mulutnya Maya benar-benar," geram Kayra dengan kesal.
"Cie yang dapat perhatian dari Pak Davin," goda Dokter Anggi.
"Ehem!" tiba-tiba terdengar suara deheman yang juga seorang Dokter wanita.
"Dokter Bella," sapa Anggi dengan menunduk kepalanya.
__ADS_1
"Kalian ini selalu saja bergosip," ucap Dokter Bella yang terlihat sangat ketus.
"Tidak kok, siapa yang bergosip," sahut Anggi mengelak.
"Aku permisi dulu!" sahut Kayra yang langsung pergi.
"Tunggu Kayra aku ikut," sahut Anggi yang buru-buru pergi. Sepertianya Anggi tidak nyaman bersama dengan Dokter wanita yang terlihat ketus itu.
"Apa iya pemilik rumah sakit ini menjenguknya. Dia pasti cari muka," batin Bella yang ternyata mendengar pembicaraan Kayra dan Anggi tadi.
***********
Kayra berdiri di depan lift yang menunggu lift terbuka dan tidak lama lift terbuka dan ternyata ada Davin di dalamnya dan Kayra menghela napasnya yang akhirnya masuk setelah tadi cukup ragu. Alasannya kenapa ragu pasti karena ingin menghindari Davin.
Kayra dan Davin berdiri bersebalahan dan terlihat sama-sama diam beberapa detik tanpa ada pembicaraan.
"Jika kau berbohong masalah statusmu yang ternyata tidak menikah dengan Haykal. Itu artinya kau pasti berbohong masalah anak yang kau bawa pergi," ucap Davin membuat Kayra melihat ke arahnya.
"Apa yang kau bicarakan. Aku tidak pernah mengatakan menikah dengan siapa kau sendiri yang menduga-duganya dan iya aku tidak pernah pergi membawa anak. Aku hanya mengandung dan aku sudah mengatakan anak itu tidak lahir," tegas Kayra.
"Kau masih berbohong Kayra. Kenapa terus menutupinya dariku. Brian itu anakku dan bagaimana mungkin kau mempunyai anak tanpa menikah. Tadinya setelah mendengar pernikahan mu aku rasa kata-kata mu masih masuk akal. Tapi kau tidak menikah dan tidak mungkin punya anak!" tegas Davin.
"Apapun yang mau kau pikirkan. Itu terserah mu. Tetapi pada intinya aku menegaskan kepadamu. Jika Brian bukan anakmu. Jadi jangan menggangguku Davin," tegas Kayra.
"Aku akan melakukan tes DNA," sahut Davin mengambil keputusan dan membuat Kayra terkejut.
"Aku memberimu kesempatan Kayra untuk jujur kepadaku. Jika kau tidak mengatakannya. Maka akan kita lakukan tes DNA untuk membuktikan semuanya dan satu lagi jika kau menghalangiku. Aku rasa kau siapa aku dan jangan salahkan aku jika apa yang kau takutkan akan terjadi," ucap Davin menegaskan yang membuat Kayra terkejut dengan matanya yang berkaca-kaca dan deru napasnya yang tidak stabil.
"Kenapa kau tidak membebaskan ku Davin?" tanya Kayra dengan suaranya yang tertahan.
"Aku tidak bisa melakukannya. Jika aku ingin membebaskanmu. Mungkin pasti sudah wanita lain di sisiku. Tetapi tidak Kayra. Karena sampai detik ini, aku masih menunggumu dan aku tidak tau sampai kapan itu," tegas Davin. Kayra terdiam mendengarnya dengan matanya yang terus menatap Davin.
"Kayra kau tidak bisa memisahkan ku dari putraku. Dia adalah darah dagingku dan kau boleh marah, membenciku. Tetapi tidak harus kau melakukan itu. Kau tidak seharusnya menjauhkan ku dari Brian. Semakin kau menjauhkan ku. Aku akan semakin mengejar," ucap Davin menegaskan.
"Jadi jangan egois Kayra. Aku akan banyak mengalah. Jika kau juga mau mengalah sekali saja. Aku hanya ingin kebenaranya itu saja Kayra," tegas Davin.
__ADS_1
Bersambung