Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.

Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.
Bab 240


__ADS_3

Athar, Zoy, dan Dion ikut membantu korban bencana alam, dari mengatur makan sampai ikut membantu siapa yang terluka. Mereka hanya melakukan apa yang bisa mereka lakukan. Athar dan Anna pun sekarang tidak bisa jauh-jauh. Athar membantu Anna mengobati pasien dengan Athar yang lebih tepatnya menjadi asisten Anna. Ya kapan lagi menjadi asisten Dokter.


"Ibu istirahat ya, jangan lupa pakai selimutnya," ucap Anna berpesan pada wanita yang sedang di obatinya.


"Makasih Dokter cantik dan Pria tampan ini," ucap wanita tersebut.


"Sama-sama," sahut Anna dan Davin dengan serentak.


"Apa kalian berdua ini suami istri?" tanya ibu itu. Davin dan Kayra saling melihat.


"Iya ini istri saya. Dokter cantik ini adalah istri saya," jawab Davin melihat kearah ibu itu. Kayra tampaknya tidak keberatan dan mengukir senyum tipis yang sepertinya suka dengan pengakuan Davin.


"Pante chemistry-nya sangat kelihatan. Kalian berdua sangat cocok. Semoga pernikahannya langgeng," ucap wanita tersebut.


"Terima kasih Bu," sahut Davin dengan tersenyum.


"Lalu apa kalian sudah punya anak?" tanya wanita itu.


"Kami punya 1 anak Pria," jawab Davin.


"Pasti sangat tampan," sahut wanita itu.


"Dia memang sangat tampan," jawab Davin. Kayra tidak banyak bicara sama sekali. Kayra tersenyum saja yang sepertinya menyerahkan semua kepada Davin mau bicara apa.


"Ya sudah ibu sebaiknya istirahat saja. Kami permisi dulu," ucap Kayra pamit.


"Terima kasih Dokter cantik," ucap wanita itu. Kayra hanya mengangguk saja dan pergi bersama Davin.


"Senang amat di bilang cantik," ejek Davin yang berjalan di samping Kayra dengan menyenggolnya Kayra dengan sikutnya.


"Memang kenapa tidak boleh, Memang aku cantik," sahut Kayra dengan tersenyum yang membanggakan dirinya.


"Iya yang paling cantik," sahut Davin membuat Kayra tersenyum


"Kak Davin!" panggil Zoy membuat Davin dan Kayra berhenti dan melihat kebelakang yang mana di sana ada Zoy dan Dion yang menghampiri mereka.


"Apa Zoy?" tanya Davin.


"Untuk stok makanan di dapur umum sudah kosong," jawab Zoy yang ternyata melaporkan masalah makanan.


"Coba kalian cek di pos satu siapa tau sudah adalagi makanan yang turun," ucap Rafa yang memberi saran.


"Baiklah kami akan melihatnya," sahut Dion.


"Kalian naik apa kesana?" tanya Kayra.


"Pakai Zee itu aja!" tunjuk Davin yang melihat ada Zeep yang parkir.


"Punya siapa itu?" tanya Kayra.


"Yang pasti punya orang di sini," jawab Davin.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu. Kami cek makanan dulu," sahut Dion.


"Hati-hati, kalian jangan pulang lama-lama takutnya ada bencana menyusul melihat cuaca yang tidak baik," sahut Kayra menyarankan.


"Iya Kayra kamu jangan Khawatir," sahut Zoy


Dion dan Zoy pun langsung pergi.


"Aku juga harus pergi," ucap Kayra.


"Mau kemana?" tanya Davin.


"Mau kerumah sakit di satunya lagi. Aku ingin mengambil beberapa obat. Aku dengar-dengar ada bantuan obat yang turun dan di sini lagi banyak yang kosong. Aku takut saja nanti kebutuhan habis," jawab Kayra.


"Tempatnya di mana?" tanya Davin.


"1 jam dari sini," jawab Kayra.


"Kamu sama siapa?" tanya Davin.


"Itu!" tunjuk Kayra pada mobil pickup yang siap-siap mau gerak.


"Aku akan pergi naik pickup. Mereka juga mau kesana mengambil beberapa keperluan. Jadi aku bisa ikut," jawab Kayra.


"Kalau begitu aku ikut sama kamu," ucap Davin.


"Tapi naik pickup," sahut Kayra yang tidak mungkin Davin mau. Apa lagi duduknya di belakang.


"Kamu yakin?" tanya Kayra. Davin mengangguk dan membantu Kayra untuk naik ke atas pickup setelah itu Davin menyusul yang ke-2nya sama-sama bersandar yang duduk bersebelahan.


"Panas lo," ucap Kayra yang merasa Davin akan masalah


"Sudahlah Kayra santai saja," sahut Davin. Kayra hanya mengangkat ke-2 bahunya yang penting dia tidak memaksa Davin. Dan Davin yang ingin ikut sendiri. Jadi kalau ada apa-apa itu salah Davin.


Mobil sudah berjalan yang melewati jalanan yang masih tanah dengan pohon-pohon yang berjejeran untuk menuju kota di rumah sakit yang lain.


"Untung saja kota sudah bisa mengabariku Brian. Jadi Brian tidak akan khawatir lagi," ucap Kayra yang memang ada kesempatan dan ada sinyal jadi keduanya bisa menelpon Brian dan Brian pasti sudah lega.


"Aku berjanji padanya untuk membawa kamu pulang," ucap Davin yang memang apa adanya.


"Lalu kapan kita akan pulang?" tanya Kayra yang sepertinya juga ingin pulang.


"Secepatnya. Aku sudah menelpon Reyhan dan mengirim banyak bantuan dan kamu dan tim Dokter lainnya akan pulang," jawab Davin dengan lembut.


"Makasih Davin sudah datang menjemputku," ucap Kayra.


"Sama-sama," sahut Davin dengan tersenyum.


**********


Dion dan Zee pun sudah sampai pada tujuan mereka. Bahkan Zee itu sudah penuh dengan makanan yang akan mereka bawa ke tempat pengungsian. Ada juga mobil pickup yang berisi makanan. Mereka sampai kesorean karena memang banyak yang harus di kerjakan.

__ADS_1


"Baiklah sudah selesai. Kita sebaiknya kembali," ucap Dion.


"Dion tapi aku melihat anginnya kencang sekali. Apa bencana akan datang lagi ya," ucap Zoy yang melihat cuaca semakin buruk dan firasatnya juga tidak enak.


"Aku juga tidak tau," jawab Dion yang juga tidak bisa menentukan apa-apa.


"Tapi Zoy kita harus bawa makanan ini secepatnya, apa lagi mobil yang satunya juga sudah berangkat," ucap Dion yang melihat pick up sudah jalan.


Zoy menganggukkan kepalanya, "kamu benar sih. Aku hanya takut terjadi sesuatu," ucap Zoy.


"Tidak apa-apa, aku akan menjagamu, ayo!" ajak Dion yang meyakinkan Zoy. Zoy pun akhirnya mengangguk dan dan akhirnya memasuki mobil yang mereka tetap melakukan perjalanan mereka. Walau apapun yang akan terjadi nantinya.


Namun baru saja Dion dan Zoy pergi tiba-tiba hujan deras datang di sertai dengan angin kencang. Perasaan Zoy ternyata benar. Yang mana keduanya masih berada di jalan yang Dion menyetir melewati hujan deras.


Jalan yang di lewati Dion tidak bagus sama sekali. Namanya juga tanah. Walau dengan mobil yang bannya besar tetap aja tidak bagus yang akhirnya membuat mobil mereka mogok karena bannya masuk kedalam tanah.


"Ada apa Dion?" tanya Zoy.


"Bannya," sahut Dion yang berusaha melajukan mobilnya agar berjalan. Namun tidak bisa bergerak sama sekali.


"Terjebak kedalam. Harus ada yang mendorong," ucap Dion dengan suara seraknya.


"Lalu bagaimana?" tanya Zoy.


"Kita tunggu saja ada yang lewat," jawab Dion yang memang tidak tau harus melakukan apa. Karena hujan juga sangat deras.


"Tapi tidak apa-apa. Kita di sini. Apa tidak akan terjadi sesuatu?" tanya Zoy yang panik.


"Tenang lah Zoy tidak akan apa-apa. Ini seperti hanya hujan saja. Dan di sini juga bukan tebing. Jadi tidak akan ada longsor," jawab Dion yang berusaha Meyakinkan Zoy.


"Baiklah kalau begitu aku ngikut kamu saja dan semoga memang tidak ada apa-apa," ucap Zoy. Dion menganggukan kepalanya dan membuka sabuk pengamannya.


Lalu Dion mengambil makanan yang tersusun di jok belakang, mengambil ada beberapa nasi kotak. Di mobil mereka ada bahan makanan dan beberapa nasi kotak. Tidak banyak sih karena sisanya di oper di mobil pick up. Ya untung saja makanan yang sudah jadi ada di sana. Kalau ada di mobil mereka apa makanan itu tidak sayang semuanya.


"Kamu mau makan?" tanya Dion menawarkan.


"Boleh," jawab Zoy yang menganggukkan kepalanya dan Dion langsung mengambilkan untuknya.


Mereka berdua makan di dalam mobil di tengah-tengah hujan yang deras.


"Sampai kapan ada orang yang lewat?" tanya Zoy sambil mengunyah makanannya.


"Secepatnya. Kita makan saja dulu. Jangan berpikir sambil makan," ucap Dion.


"Baiklah kalau begitu," sahut Zoy yang akhirnya makan lebih baik. Karena Dion juga terlihat sangat tenang. Lalu kenapa dia harus takut dan Dion pernah menyelamatkan yang seharusnya dia juga percaya pada Dion.


Bersambung


.


"Tapi

__ADS_1


"Ya sudahlah kalau begitu,


__ADS_2