
Akhirnya hari pernikahan itu semakin dekat dan bahkan besok acara pernikahan itu di adakan. Ternyata pesawat yang di berikan Athar untuk transportasi keluarga Kayra bermuatan 30 orang. Dan untuk keluarga Athar sendiri menaiki pesawat yang berbeda lagi dengan Kayra.
Karena Susan adalah orang yang paling heboh dan ingin pamer kehidupan glamornya. Apa lagi anak tirinya menikahi Pria kaya. Susan pun mengundang teman-temannya dan bahkan tidak ada saudara dari papanya yang di undang dan itu artinya saudara-saudara papanya juga tidak tau dengan pernikahan Kayra.
Sebenarnya itu juga menguntungkan untuk Kayra. Untuk Kayra sendiri hanya membawa sahabatnya Indri yang apa-apa nanti siapa tau dia membutuhkan Indri. Lagian Indri juga memang harus hadir di pernikahannya. Karena hanya Indri merupakan sahabatnya satu-satunya.
Susan, Silvi dan teman-temannya yang super super heboh itu sudah berada di lapangan yang mana di depan pesawat mewah keluarga Altarik. Jangan tannya penampilan orang-orang itu sangat heboh yang seperti ingin liburan samapai berbulan-bulan saja padahal hanya 1 hari saja. Tetapi koper dan bawaan mereka melebihi kapasitas maklum namanya kampungan.
" Aduh lama sekali ini," ucap Susan dengan mengipas-ngipas wajahnya dengan tangannya.
" Tau nih, lama amat," sahut Silvia yang kelihatannya kesal. Kayra dan Indri hanya diam saja. Kalau wajah Indri jangan tanya dia pasti sudah mengumpat di dalam hatinya dengan kelakukan ibu tiri Anna.
Tidak lama pramugara pun datang menuruni tangga pesawat dan langsung menghampiri orang-orang yang super heboh itu.
" Selamat siang bu!" Sapa Pramugara dengan sopan.
" Iya, selamat siang saya ini calon mertuanya Davin. Apa kami sudah bisa naik. Panas di sini," ucap Susan yang menyombongkan dirinya.
" Memang harus di bilang apa calon mertuanya," batin Indri yang sewot dengan Susan.
" Baik ibu. Sudah bisa mulai naik," jawab Pramugara yang membuat mereka langsung semangatnya, " tetapi!" tiba-tiba pramugara mengajukan tapi yang membuat Susan heran
" Tapi apa?" tanya Silvia.
" Pesawat ini hanya berkapasitas 30 orang saja Bu dan ini sudah kelebihan. Karena pramugari, pilot dan kru pesawat juga ada di sana," ucap Pramugara memberi himbauan.
" Kok bisa gitu," sahut Sivia.
" Iya Bu, itu sudah menjadi ketentuannya dan penumpangnya sudah kelebihan 2 orang. Jadi 2 orang lagi tidak bisa naik," jelas pramugara tersebut.
" Oh ya sudah kalau begitu. Kayra kamu sama teman kamu naik pesawat lain, cari yang murah yang penting sampai tujuan," sahut Susan yang seenaknya mengambil keputusan yang membuat Kayra kaget.
" Tante yang mau nikah itu. Kayra masa iya naik pesawat lain," sahut Indri yang tidak setuju dengan tindakan Susan.
" Hey, kamu nggak usah ikut-ikutan. Ini urusan keluarga kami," sahut Silvia.
" Tapi benar kata Indri mana mungkin aku naik pesawat lain dan aku juga tidak tau tempatnya di mana dan aku juga harus mengeluarkan uang lagi untuk tiket. Itu tidak mungkin," sahut Kayra yang juga akhirnya menolak.
__ADS_1
" Sudahlah Kayra. Kamu itu jangan membangkang. Pasti ada tiket yang murah-murah jadi dengarkan aja apa kata mama dan masalah alamatnya nanti mama kasih tau. Ini sudah panas, mama tidak mau berdebat," sahut Susan menegaskan.
" Tetapi tetap tidak mungkin mah. Kenapa bukan teman mama aja yang di kurangi," ucap Kayra.
" Enak aja. Nggak bisalah. Ahhhh, sudah jangan banyak protes. Kalian berdua naik pesawat lain. Ayo semuanya kita naik," sahut Susan yang benar-benar tidak ada pikiran yang tidak peduli dengan Kayra dan mengajak teman-temannya untuk naik pesawat sementara Kayra dan Indri tinggal di bawah.
" Dadada," ucap Silvia melambaikan tangan dengan mengejek Kayra di bawah sana bersa Indri.
" Kayra bagaimana ini?" tanya Indri panik.
Kayra hanya diam dengan matanya yang masih melihat ibu tirinya yang benar-benar santai dan pergi begitu saja yang tidak peduli padanya padahal dia yang akan menikah dan dia harus naik pesawat lain dengan uang sendiri. Sementara ibu tirinya sudah mendapatkan banyak uang dari Davin. Namun memberikan untuknya untuk membeli tiket saja. Ibu tirinya mau. Memang dasar sangat serakah.
**********
Tidak tau pesawat yang di tumpangi Susan dan tamu undangannya itu sudah berangkat atau belum. Tetapi pada nyatanya Kayra dan Indri hanya duduk di Bandara di salah satu bangku yang mana mereka belum memesan tiket sama sekali. Kayra duduk denga wajahnya yang kesal. Lagi-lagi kesal yang tidak bisa di ungkapkan. Kesal dengan penuh kemarahan.
" Kayra kita jadi pergi atau tidak?" tanya Indri. Kayra menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan.
" Aku tidak tau Indri," jawab Kayra.
" Jika aku bisa melakukannya. Maka akan aku lakukan. Tapi aku punya papa yang membuatku tidak bisa berbuat apa-apa," sahut Kayra dengan suaranya yang pelan dan wajahnya yang begitu sendu. Indri jadi sedih melihat temannya itu.
" Malang sekali nasib kamu. Kamu sabar ya," ucap Indri mengusap-usap pilundak Kayra yangembeti Kayra ketenangan. Padahal sedari tadi Indri yang tidak tenang yang heboh sendiri.
Di tempat yang sama tiba-tiba Davin dan Reyhan memasuki Bandara dan tiba-tiba Reyhan melihat Kayra.
" Bos!" tegur Reyhan yang membuat Davin menoleh kearahnya dengan tetap berjalan Arogan.
" Ada apa?" tanya Davin.
" Itu bukannya nona Kayra," tunjuk Reyhan. Davin menghentikan langkahnya dan melihat kearah yang di tunjuk Reyhan dan memang melihat Kayra dengan seorang wanita.
" Kenapa dia bisa ada di sini. Bukannya pesawatnya sudah take of?" tanya Davin tanda tanya.
" Biar saya cek ke kru pesawat," ucap Reyhan yang langsung bertindak dan Davin mengangguk. Reyhan pun langsung mengambil handphone dan terlihat berkomunikasi dengan serius melalui via telepon dan tidak lama akhirnya selesai menelpon dan langsung melapor pada Davin.
Wajah Davin tampak berkerut mendengar pernyataan yang di berikan Reyhan kepadanya.
__ADS_1
" Benar-benar keluarga itu. Sungguh mata duitan," desis Davin geleng-geleng.
" Kamu bawa mereka!" titah Davin memerintah. Reyhan mengangguk dan Davin melangkah duluan dan Reyhan langsung menemui Kayra.
" Nona Kayra!" tegur Reyhan berdiri di samping Kayra dengan kepala menunduk dan Kayra langsung melihat.
" Pak Reyhan," ucap Kayra.
" Siapa Ra?" tanya Indri. Kayra langsung berdiri.
" Mari nona ikut saya," ucap Reyhan yang langsung mempersilahkan.
" Mau kemana?" tanya Kayra heran.
" Saya sudah tau apa yang terjadi. Nona dan temannya tidak ikut naik pesawat. Karena kapasitas yang tidak mencukupi. Jadi kebetulan saya tuan Davin juga baru mau berangkat. Jadi mari ikut saya," jelas Reyhan dengan singkat.
Indri hanya kebingungan melihat Pria itu yang tampak sopan dengan Kayra yang membuatnya penuh dengan tanda tanya.
" Mari nona!" ucap Reyhan yang mempersilahkan lagi.
" Baiklah," sahut Kayra. Reyhan tersenyum dan berjalan terlebih dahulu.
" Ayo Indri!" ajak Kayra.
" Siapa dia?" tanya Indri penasaran.
" Dia asistennya Pria yang akan menikahiku," jawab Kayra.
" Ya ampun lalu kenapa tidak menikah dengannya saja," sahut Indri. Kayra mengkerutkan dahinya.
" Maksud kamu?" tanya Kayra heran.
" Dia tampan. Seharusnya kamu menikah dengan dia saja dan bukan bosnya. Pasti bosnya jelek," ucap Indri.
" Sudah nggak ada waktu untuk membahas masalah fisik. Sekarang ayo kita pergi!" ajak Kayra menarik tangan temannya dan membawanya untuk pergi dan Indri pun mengikuti saja.
Bersambung
__ADS_1