
Sebelum pulang ke Hotel. Davin tadi menemui Reyhan di salah satu tempat. Karena Davin memerlukan berkas-berkas yang di siapkan Reyhan dan Kayra ikut bersama Davin. Namun Kayra sejak tadi berada di dalam mobil. Karena merasa lemas. Jika harus ikut turun dan lagian dia juga tidak ada kepentingan apa-apa. Dan Davin tidak masalah dengan hal itu.
Setelah urusan Davin selesai dengan Reyhan. Davin kembali ke mobil dan melihat Kayra tertidur yang bersandar pada jendela mobil. Davin hanya menoleh sebentar ke arahnya. Dan akhirnya melajukan mobilnya. Tanpa membangunkan Kayra.
Sampai akhirnya mereka menuju hotel. Karya di dalam mobil hanya tertidur terus. Dan Davin yang menyetir di sampingnya. Sebentar-sebentar menoleh ke arah Kayra yang Davin merasa Kayra memang sedang sakit.
Karena dari tadi jarang bersuara. Bahkan sangat mudah untuk tidur. Wajah juga pucat dan tubuhnya terlihat lemas. Wajah Davin tampak khawatir melihat kondisi Kayra dan pasti Davin bertanya-tanya di dalam hatinya.
Tidak lama akhirnya mereka sampai hotel. Setelah memarkirkan mobilnya. Davin menoleh kesampingnya dan melihat Kayra masih tetap tertidur dengan bersandar yang kepalanya ke arah jendela.
Davin tidak membangunkannya dan memilih untuk keluar dari mobil. Setelah keluar dari mobil. Ternyata Davin menuju pintu mobil di bagian Kayra. Davin membuka pintu mobil itu dan menatap sebentar wajah Kayra yang terlihat sendu. Davin yang penasaran dengan kondisi Kayra memegang kening Kayra dengan punggung tangannya.
" Panas, dia memang sedang sakit," batin Davin dengan wajahnya yang tampak begitu khawatir karena mengetahui kondisi istrinya itu memang tidak baik-baik saja.
Tidak ingin menggangu Kayra Davin pun membuka sabuk pengaman Kayra dan langsung menggendong Kayra ala bridal style dan saat mengangkat tubuh itu keluar dari dalam mobil. Hal itu membuat Kayra tiba-tiba terbangun.
" Davin apa yang kau lakukan ?" tanya Kayra panik saat tubuh itu sudah terangkat.
" Diamlah! Aku akan membawamu kekamar," sahut Davin dengan wajah cueknya dan menutup pintu mobil dengan siku tangannya lalu melangkahkan kakinya memasuki hotel.
" Davin turunkan aku. Kau tidak perlu melakukan ini. Aku bisa berjalan sendiri," Kayra memberontak yang wajahnya mendadak panik.
Davin tidak memperdulikan Kayra yang memberontak dia terus berjalan dan memasuki lift dengan memegang tubuh itu tetap terangkat dan Kayra sudah tidak. memberontak lagi.
Dia diam di gendongan Davin. Dengan matanya yang melihat wajah Davin yang begitu dingin. Hanya datar tanpa ekspresi yang melihat kedepan tanpa melihatnya dan Kayra begitu betah melihat wajah Davin yang menunjukkan Aura dingin.
" Kenapa tidak mengatakan jika kau sakit?" tanya Davin melihat ke arah Kayra yang membuat mata mereka saling bertemu dengan wajah yang saling berdekatan.
" Kau tidak menjawab pertanyaanku?" tanya Davin yang menunggu jawaban Kayra yang malah bengong. Kayra langsung mengalihkan pandangan matanya.
" Aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit pusing," jawab Kayra yang kembali gugup dengan suaranya yang serak.
" Kau sudah minum obat?" tanya Davin yang tampak perhatian dengan Kayra.
" Aku tidak apa-apa, hanya perlu istirahat saja," sahut Kayra. Yang mendadak salah tingkah dan bahkan tidak berani melihat mata Davin yang sampai detik ini masih melihatnya.
Ting pintu lift terbuka dan Davin membawa Kayra keluar dari lift tanpa bertanya lagi. Setelah itu mereka sampai kedalam kamar Kayra. Davin membaringkan tubuh Kayra dengan perlahan di atas tempat tidur.
" Aku akan menelpon Dokter," ucap Davin yang berdiri mengeluarkan handphone dari balik jasnya.
" Tidak usah aku, benar-benar tidak apa-apa," sahut Kayra menolak.
" Kau yakin tidak apa-apa?" tanya Davin tidak percaya.
Kayra menganggukkan kepalanya, " aku hanya perlu beristirahat dan setelah aku pasti baik-baik aja," ucap Kayra.
" Baiklah kalau begitu, istirahat lah. Jika butuh sesuatu kau panggil aku," ucap Davin. Kayra menganggukkan pelan kepalanya.
" Aku keluar!" Davin berpamitan pada Kayra. Kayra kembali mengangguk.
" Kenapa dia begitu perhatian belakangan ini. Apa itu hanya perasaan ku saja," batin Kayra yang kepikiran dengan perhatian Davin.
Setelah kepergian Davin. Kayra terlihat membuang napasnya perlahan kedepan. Perasaannya kembali tidak menentu yang mana belakangan ini hubungannya dengan Davin begitu baik. Davin yang begitu peduli kepadanya dan mereka bahkan setiap hari sarapan bersama dan makan malam juga hampir sering. Kalau siang memang hanya terhitung. Karena Davin bekerja dan Kayra selalu di rumah sakit.
Bahkan hari ini Davin terlihat perhatian kepadanya. Tidak ingin terus memikirkan apa yang di pikirkannya. Kayra menarik selimut dan memilih untuk tidur dengan memiringkan tubuhnya.
**********
Davin keluar dari kamar mandi yang terlihat rapi yang sepertinya Davin ingin pergi. Davin menghampiri tempat tidurnya mengambil ponselnya.
..." Jangan lama-lama ya Davin kita akan dinner malam ini. Tetapi sebelumnya kamu harus jenguk mama duku," tulis pesan dari Pricilla....
Davin tidak membalas pesan itu. Mengambil handphonnya. Lalu keluar dari kamar. Saat Davin sudah berada di luar kamarnya. Davin melihat ke kamar Kayra. Melihat lama dengan wajah yang tampak khawatir pada istrinya.
Ingin memastikan kondis Kayra baik-baik saja. Davin membuka bintu kamar itu. Jangan tanya bagaimana caranya. Karena dia punya kartu cadangannya.
Davin memasuki kamar dan melihat Kayra yang terlihat kedinginan di dalam ringkupan selimut yang menghangatkan tubuhnya. Davin mendekati Kayra mengecek kondisi wanita itu yang kembali memegang keningnya dengan punggung tangannya.
__ADS_1
" Tidak apa-apa bagaimana. Jelas-jelas dia sepanas ini. Apa dia tidak bisa membedakan mana yang sakit dan tidak," umpat Davin kesal dengan Kayra yang selalu saja spele dengan kesehatannya.
Davin tampak mengeluarkan handphone dari jasnya dan terlihat menelpon. Dia terlihat berbicara serius dan setelah itu mematikan handphonenya.
Davin mengecilkan suhu Ac. Agar Kayra tidak terlalu kedinginan. Dan merapikan selimut Kayra. Tubuh Kayra terlihat gelisah yang bergerak kekanan, kekiri yang memang terlihat begitu menggigil. Davin juga bingung harus berbuat apa.
**********
Ternyata Davin memanggil Reyhan yang mana Reyhan membawakan Davin obat dan juga alat kompres yang mana sekarang Davin duduk di samping Kayra yang mengkompres Kayra agar panasnya turun. Sementara Reyhan berdiri tidak jauh dari tempat tidur itu. Yang hanya menonton apa yang di kerjakan bosnya.
" Ternyata bos Davin bisa selembut itu. Dia juga bisa panik karena hanya nona Kayra yang sakit. Ya ampun bos Davin ternyata begitu manis. Ya wajar sih. Itukan istrinya. Jadi jelas dia seperti itu," batin Reyhan yang malah menceritai bosnya di dalam hatinya.
" Kenapa dia mendadak sakit. Padahal sebelumnya dia baik-baik saja. Aku tidak percaya orang sepertinya ternyata bisa sakit," gumam Davin yang terlihat khawatir pada Kayra.
Ting.
Tiba-tiba handphone Davin berbunyi pesan dan Davin langsung melihat yang mana pesan dari Pricilla.
..." Kamu di mana Davin. Mama sudah menunggu!" tulis Pricilla....
" Reyhan!" panggil Davin.
" Iya bos," sahut Reyhan mendekati Davin.
"" Kamu jaga Kayra. Saya harus pergi sebentar nanti saya akan kembali," ucap Davin.
" Tapi bos, bagaimana kalau nona Kayra semakin parah dan saya juga bingung harus melakukan apa untuk nona Kayra?" tanya Reyhan yang tidak pasti bisa menjaga Kayra.
Davin terlihat diam. Reyhan betul kondisi Kayra bisa jadi akan semakin memburuk.
" Aku harus menemui mama Pricilla. Aku tidak mungkin mengingkari janji lagi yang ada Tante Wulan akan salah paham padaku. Dia bisa mengira jika aku memang menghindarinya," batin Davin yang kebingungan harus bertindak bagaimana.
" Bos Davin!" tegur Reyhan yang melihat bosnya itu kebingungan.
" Aku hanya pergi sebentar ke rumah sakit. Kamu jaga Kayra sebentar saja. Aku tidak akan sampai satu jam. Kalau ada apa-apa kamu telpon saya," ucap Ardian yang langsung berdiri dan memakai jaanya xenga buru-buru.
Davin melihat wajah Kayra sebentar. Lalu dia pun langsung pergi walau dengan berat hati. Reyhan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
" Lalu apa yang harus aku lakukan. Aku akan diam di sini saja!" gumam Reyhan yang kebingungan dengan apa yang harus di lakukannya.
Dan Reyhan pun memilih untuk duduk di salah satu kursi yang ada di kamar itu untuk memantau Kayra.
Sementara Kayra memang tertidur tenang. Mungkin jauh lebih baik. Setelah Davin mengkompresnya.
*********
Davin pun akhirnya menghampiri rumah sakit di mana di rawat papa Kayra dan juga mama Pricilla. Davin terlihat buru-buru dengan jalannya yang cepat yang menghampiri ruangan di mana mama Pricilla di rawat.
Ternyata di depan sana sudah menunggu Pricilla dengan gelisah yang sejak tadi mondar-mandir sembari memegang ponselnya yang dapat di pastikan. Pasti Pricilla sedang menghubungi Davin.
" Davin!" Pricilla merasa lega. Akhirnya Pria yang di tunggunya datang.
" Maaf aku terlambat," ucap Davin.
" Memang kamu habis dari mana?" tanya Pricilla.
" Aku ada urusan mendadak tadi," jawab Davin.
" Ya sudah tidak apa-apa. Ayo masuk mama sudah menunggu!" ajak Pricilla menarik tangan Davin. Namun langkah Davin tertahan yang membuat Pricilla kembali menoleh kebelakang melihat Davin yang malah tidak masuk.
" Ada apa Davin?" tanya Pricilla.
" Pricilla aku hanya bisa menemui Tante Wulan saja. Namu untuk diner kita. Aku tidak bisa," ucap Davin yang harus membatalkan janjinya. Karena kepikiran dengan Pricilla.
" Why?" tanya Pricilla.
" Aku ada urusan mendadak. Aku menemui Tante Wulan juga karena aku rasa harus menemuinya. Agar tidak terjadi salah paham di antar kita," ucap Davin.
__ADS_1
Wajah Pricilla menunjukkan kekecewaan. Saat Davin membatalkan janji mereka untuk dinner. Padahal Pricilla sudah cantik-cantik. Sudah siap-siap. Yang ingin dinner romantis dengan Davin. Mungkin Pricilla juga akan menyatakan perasaannya. Agar hubungan mereka jelas dan kembali seperti dulu.
" Pricilla!" tegur Davin yang melihat Pricilla bengong.
" Apa tidak bisa sebentar saja," sahut Pricilla yang ingin mendapatkan harapan.
" Maafkan aku. Aku tidak bisa," sahut Davin yang sudah bulat dengan keputusannya.
" Ya sudah kalau begitu. Tetapi kamu harus janji menggantinya di kemudian hari. Kalau tidak langsung besok. Kamu harus menggantinya," ucap Pricilla.
" Aku akan mengatur waktu kembali," sahut Davin dengan datar.
" Ya sudah ayo masuk. Mama sudah menunggu!" ucap Pricilla yang akhirnya masuk terlebih dahulu.
" Aku harus cepat-cepat bertemu dengan Tante Wulan. Setelah itu aku akan kembali menemui Kayra. Reyhan belum ada mengabari yang berarti kondisi Kayra masih stabil," batin Davin yang akhirnya memilih untuk masuk kedalam ruang perawatan Wulan.
Karena khawatir dengan Kayra dan apalagi hanya Reyhan yang ada di sana. Davin memilih untuk membatalkan janjinya dengan Pricilla dan hanya menemui Wulan yang sekedar menyapa saja.
***********
Sementara di dalam kamar Kayra yang tertidur dan tiba-tiba terbatuk-batuk. Reyhan yang memantau Kayra langsung menghampiri Kayra yang batuk-batuk dan sampai Kayra yang terbangun yang langsung duduk.
" Nona Kayra!" Reyhan langsung mengambilkan air puthi dan berbungkuk. Memberikannya pada Kayra yang terduduk dengan menutup mulutnya yang batuk-batuk.
" Reyhhan. Kamu kok ada di sini?" tanya Kayra bingung dengan wajahnya yang memucat. Pandangannya kurang jelas. Namun karena dekat dengannya. Dia bisa melihat jelas bahwa itu adalah Reyhan.
" Maaf nona. Tuan Davin menyuruh saya untuk menjaga nyonya. Karena kondisi nona yang tidak baik," jawab Reyhan yang masih memegang gelas. Karena Kayra tidak belum mengambilnya.
" Davin. Kenapa dia menyuruh kamu. Memang dia kemana?" tanya Kayra heran.
Saat kondisinya melemas tadi. Kayra bisa merasakan Davin ada di dekatnya. Karena mengetahui dari aroma parfum Davin. Kayra memang sakit. Tetapi hidungnya baik-baik aja.
" Tuan Davin ada keperluan sebentar. Mungkin saja dinner denga nona Pricilla. Karena tadi siang saya mendengar mereka saling menelpon," ucap Reyhan yang situkang nguping dan tukang lapor.
Mendengar hal itu membuat Kayra mengeluarkan ekspresi rasa tidak suka dan terkihat marah.
" Jadi saya nona yang di suruh untuk mengawasi nona," lanjut Reyhan.
" Ini nona, minum dulu!" Reyhan dengan pelan kembali memberi Kayra air putih. Tampaknya Reyhan tau kalau Kayra begitu marah.
" Makasih!" sahut Kayra yang mengambil gelas itu dan langsung meneguknya. Karena memang tenggorokannya sangat gatal.
Selesai meminumnya. Kayra kembali memberikan gelas itu pada Reyhan dan Reyhan mengambilnya meletakkan pada tempatnya. Kayra menyibak rambutnya kebelakang dan saat tangannya menyentuh keningnya terlihat kompres di sana dan Kayra menjatuhkan nya begitu saja meletakkan di atas nakas dengan kasar.
Reyhan tampaknya ingin mencegah. Namun tidak sempat. Kaya sudah melepasnya. Mungkin Kayra sedang di landa amarah.
" Kamu pergilah!" usir Kayra dengan nada dingin.
" Tapi nona," sahut Reyhan yang tidak mungkin pergi yang bisa-bisa dia di marahi Davin.
" Aku tidak apa-apa. Jadi kamu pergilah. Aku baik-baik saja. Aku bisa jaga diri sendiri," ucap Kayra menekankan.
" Nona, tapi bos Davin..."
" Aku tidak peduli!" Bentak Kayra yang tiba-tiba begitu marah dan sampai Reyhan tersentak kaget dan langsung terdiam.
" Kepala ku semakin sakit. Jika kamu ada di sini. Jadi pergi dari sini!" usir Kayra.
" Baik nona. Tapi nona kalau ada apa-apa. Telpon saya," ucap Reyhan yang mengkhawatirkan istri atasannya itu.
" Iya," jawab Kayra singkat.
" Itu obatnya nona," ucap Reyhan menunjuk di atas nakas. Kayra hanya mengangguk saja. Dengan berat hati Reyhan pun akhirnya pergi meninggalkan Kayra.
Baru saja Reyhan di depan pintu. Kayra sudah batuk-batuk lagi. Dan membuatnya ragu untuk pergi. Reyhan juga melihat kebelakang yang mana Kayra berusaha untuk turun dari ranjang yang mungkin ingin ketoilet. Tetapi Kayra malah terjatuh dan Reyhan berlari ingin membantu Kayra. Namun Kayra mengangkat tangannya yang menyuruh untuk stop.
" Aku bilang pergilah! dan katakan pada Davin jangan masuk kekamarku sembarangan. Aku tidak membutuhkannya!" ucap Kayra yang menekan suaranya yang dari kata-katanya sudah menunjukkan dia begitu marahnya pada Davin.
__ADS_1
Bersambung