
Kayra berada di salah satu bangku yang ada di kampusnya. Dia selalu saja murung belakangan ini. Mungkin karena masalahnya dengan Davin.
" Kayra!" tegur Indri sahabatnya yang mana Indri langsung duduk di samping Kayra.
" Kamu kenapa?" tanya Indri.
" Tidak apa-apa," jawab Kayra.
" Bagaimana mungkin kamu tidak apa-apa. Aku bisa melihat bahwa kamu sedang memikirkan sesuatu," ucap Indri.
Kayra membuang napasnya dengan perlahan kedepan, " hanya banyak saja masalah yang terjadi Indri," jawab Kayra.
" Masalah apa?" tanya Indri penasaran.
" Kamu ingat tidak dengan Pricilla?" tanya Kayra.
" Bukannya dia mantanya Davin," jawab Indri yang memang Kayra pernah menceritakan masalah Pricilla. Karena Indri bertanya siapa wanita itu.
" Iya dia mantannya Davin dan masih mencintai Davin," jawab Kayra.
" Lalu ada apa dengannya. Jika dia mencintai Davin atau tidak. Itu seharusnya tidak ada urusannya kan Davin sudah menjadi suami kamu dan dia mencintai kamu. Lalu apa masalahnya?" tanya Indri heran.
" Dia tidak ingin melepas Davin," jawab Kayra.
" Aneh sekali. Kenapa dia tidak ingin melepas Davin kan Davin sudah punya istri dan apa dia tidak tau istrinya siapa," sahut Indri geleng-geleng.
" Itulah yang menjadi masalahnya Indri. Cintanya membuatnya tidak ingin berpisah dari Davin dan seminggu yang lalu dua datang kerumah membuat keributan, memakiku, mengataiku serakah, merebut dan segalanya. Dia berusaha mencelakaiku dan hanya karena tidak terima dengan kenyataan di mana Davin sudah bersamaku," ucap Kayra yang kalau tidak curhat mungkin hatinya tidak akan tenang.
" Ya ampun ada ya wanita toxix seperti itu. Sudah jelas-jelas orang sudah punya istri dan bisa-bisanya dia seperti itu," ucap Indria yang tidak menyangka.
" Tetapi itulah kenyataannya dan saat dia ingin mencelakakai ku tidak sengaja Davin mendorongnya dan jatuh dari tangga," ucap Kayra yang mengejutkan Indri.
" Lalu?" tanya Indri dengan wajah terkejutnya.
__ADS_1
" Dia mengalami pendarahan otak dan menyebabkan menderita kanker otak," jawab Kayra.
" Ya ampun Kayra. Kamu serius?" tanya Indri yang tidak percaya. Kayra menganggukkan kepalanya.
" Dokter menyarankan untuk Pricilla operasi untuk mencegah hal yang lebih buruk lagi. Namun Pricilla tidak mau, karena mengalami trauma," lanjut Kayra.
" Lalu jika dia tidak Operasi maka kondisinya akan semakin parah," ucap Indri.
" Iya kamu benar. Davin yang merasa harus bertanggung jawab dengan apa yang terjadi pada wanita masa lalunya. Membuat Davin selalu membujuknya. Ada di sisinya dan selalu berusaha untuk melakukan banyak hal untuk Pricilla," ucap Kayra dengan wajah sendunya.
" Kayra jangan bilang. Jika hubungan kamu dan Davin tidak baik-baik saja?" tebak Indri yang bisa menarik kesimpulan dari curhatan temannya.
Kayra tersenyum melihat Indri, " jika kamu ada di posisku Indri. Apa semua baik-baik saja?" Kayra kembali bertanya.
Indri memegang tangan Kayra, " Tapi kamu taukan kalau apa yang di lakukan Davin hanya sebuah tanggung jawab bukan apa-apa," ucap Indri yang berusaha untuk menenagkan Kayra.
" Aku bisa mengerti semuanya. Tetapi aku tidak tau sampai kapan. Aku juga capek harus ribut dengan Davin hanya dengan masalah yang sama. Terkadang aku berpikir. Lebih baik aku pergi dan jika aku merebut Davin darinya. Maka mendingan aku memberikannya saja," ucap Kayra sembari tertawa kecil.
" Kayra apa yang kamu bicarakan. Aku sangat paham dengan suasana hatimu. Tetapi bukannya kamu sudah mengatakan padaku tadi. Jika wanita itu mencintai Davin dan bahkan ingin mencelakai kamu. Ada solusi untuk dia sembuh dan dia tidak mau dan hanya ingin Davin. Seharusnya kamu sudah membaca situasi. Jika hanya memanfaatkan kejadian ini. Lalu kenapa kamu sangat mudah goyah," ucap Indri mencoba memberi masukan pada sahabatnya.
" Kayra jangan bicara seperti itu. Davin hanya mencintai kamu. Mana mungkin dia!" ucap Indri meyakinkan Kayra.
" Kamu bisa mengatakan itu. Karena tidak ada di posisku. Indri kamu tau tidak jika aku merasa hanya status pernikahan saja yang menjadi lingkaran antara aku dan Davin. Davin semakin jauh dariku. Aku bisa mengatakan sangat mengenalnya dan kamu tidak tau bagaimana dia sangat mengkhawatirkan Pricilla dan jika tidak ada perasaan lagi untuknya. Mana mungkin Davin seperti itu," ucap Kayra dengan matanya berkaca-kaca.
" Kayra aku sangat mengerti perasaan mu. Kamu hanya berpikiran terlalu jauh. Percayalah padaku. Davin tidak akan kembali dengan dia dan apa yang di lakukan Davin. Hanya sebuah tanggung jawab. Percayalah," ucap Indri.
Kayra hanya diam. Sedikit kata-kata masukan dari Indri bisa sedikit menangkannya.
" Kamu harus kuat. Ingat kamu sudah menikah dan pertahankan semua ini. Jangan goyah Kayra. Aku yakin Davin sangat mencintaimu dan ini pilihan yang terberat untuk Davin," ucap Indri yang memberi masukan lagi dengan memeluk temannya itu.
" Nona Kayra!" tiba-tiba Reyhan datang membuat Indri dan Kayra saling melepas pelukan. Dan ada air mata yang keluar dari Kayra dan langsung di hapusnya.
" Mari kita pulang Nona!" ucap Reyhan.
__ADS_1
" Baiklah! di mana Davin. Bukannya tadi dia mengatakan akan menjemputku?" tanya Kayra.
" Bos Davin ada di rumah sakit yang kebetulan ibu dari Nona Pricilla sudah datang," jawab Reyhan.
Kayra tersenyum melihat ke arah Indri yang seakan Kayra ingin mengatakan apa yang di katakan Kayra adalah benar. Jika sekarang proritas Davin adalah Pricilla.
" Oh begitu rupanya. Ya sudah ayo pulang!" ucap Kayra yang berusaha untuk tenang.
" Indri aku pulang dulu ya," ucap Kayra.
" Kayra kamu jangan mikir apa-apa ya. Kamu harus jaga kesehatan kamu," ucap Indri mengingatkan sahabatnya itu.
" Iya pasti. Makasih ya sudah mengingatkanku," ucap Kayra tersenyum dan langsung pergi.
" Saya permisi!" ucap Reyhan pamit pada Indri.
" Reyhan. Tolong kamu jaga Kayra. Kalau dia kenapa-napa kamu telpon aku ya," ucap Indri.
" Bagaimana caranya. Saya tidak punya nomor kamu," ucap Reyhan.
" Ya masalah langsung tukaran. Mana handphonnya kamu," ucap Indri mengadahkan tangannya dan Reyhan masih belum memberikan handphone.
" Sudah sini buruan!" ucap Indri.
Reyhan menghela napasnya kedepan dan langsung memberikannya pada Indri. Indri langsung mencatat kontaknya.
" Baiklah sudah. Kamu tinggal hubungi aku saja," ucap Indri yang mengembalikan handphone Reyhan.
" Baiklah kalau begitu saya permisi dulu!" ucap Reyhan. Indri mengangguk-angguk.
" Akhirnya punya nomornya juga," ucap Indri yang ternyata ada modusnya.
" Hmmmm, tapi kasihan sekali Kayra. Issss Davin bisa-bisanya bertindak seperti itu, awas saja jika dia menyakiti Kayra," ucap Indri yang begitu kesalnya kepada Davin.
__ADS_1
Bersambung.