Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.

Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.
Bab 208


__ADS_3

"Nenay kenapa tidak menjawabku." tanya Brian yang melihat Oma hanya diam saja.


"Apa kesalahan papa sangat besar?" tanya Brian lagi.


"Brian masih terlalu kecil untuk memahami semua ini. Jika Nenay cerita. Brian juga tidak akan mengerti karena usia Brian belum bisa untuk mencerna apa yang akan Oma katakan nanti," ucap Oma Elishabet dengan pelan-pelan supaya Brian paham.


"Kalau begitu apa yang harus Brian lakukan supaya mama memaafkan papa dan kamu bisa tinggal bersama lagi?" tanya Brian.


"Brian benar-benar ingin melakukan sesuatu?" tanya Oma Elishabet. Brian mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kalau begitu Brian harus membuat mama dan papa dekat. Mereka harus nempel terus, biar hati mama bisa luluh," ucap Oma Elishabet yang memberikan saran pada Brian.


"Hanya dengan cara itu," ucap Brian. Oma Elishabet mengangguk.


"Baiklah Nenay Brian akan melakukannya. Nenay jangan khawatir," ucap Brian dengan tersenyum dan tampak begitu semangat. Oma Elisabeth juga tersenyum dengan mengusap-usap pucuk kepala Brian.


"Ini mungkin tidak mudah untuk Kayra dan aku juga tidak pernah berharap atau berusaha untuk membuat Kayra dapat menerima Davin lagi. Karena aku tau apa yang di rasakan Kayra selama ini tidak lah mudah. Hanya saja aku melihat anak ini yang menjadi korban. Kau sangat tidak tega dengan kehidupan Bria bersama orang tuanya yang membuat Brian bingung. Sekarang aku sangat berharap. Kayra kembali membuka hatinya untuk Davin dan menghilangkan ego mereka demi Brian dan kebahagiaan Brian," batin Oma Elishabet yang terus melihat wajah Brian yang begitu menggemaskan yang tidak tau apa-apa. Namun sangat ingin berusaha demi orang tuanya.


*********


Kayra yang baru selesai pulang dari rumah sakit langsung menuju mobilnya yang terparkir.


Dratt, dratt dratt.


Ponsel yang digenggamnya berdering.


"Zoy tumben sekali dia menelpon," batin Kayra melihat panggilan dari Zoy.


"Hallo Zoy. Ada apa?" tanya Kayra.


"Hallo mama ini Brian mama," sahut Brian yang ternyata yang menelpon Kayra.


"Brian ada apa? kenapa menelpon mama?" tanya Kayra.


"Mama Brian bingung," jawab Brian membuat Kayra mendengarnya heran.

__ADS_1


"Brian bingung kenapa. Ada apa sebenarnya?" tanya Kayra yang mendadak panik.


"Papa sakit mah, papa dari tadi tubuhnya panas sekali. Makanya Brian telpon mama dengan menggunakannya ponsel Tante Zoy," jawab Brian.


"Jika papa sakit, kenapa tidak di bawa kerumah sakit?" tanya Kayra.


"Tidak ada yang membawanya mama," jawab Brian.


"Memang semua orang di mana?" tanya Kayra.


"Tidak tau mah, tidak ada orang di rumah sama sekali. Hanya ada Brian, papa, dan Tante Zoy, Tante Zoy juga terlihat kurang sehat. Jadi tidak bisa melakukan apa-apa. Makanya Brian telpon mama. Kan mama Dokter. Pasti bisa bantuin papa," ucap Brian


"Ya sudah mama akan kirim ambulan ke rumah biar papa di bawa kerumah sakit," ucap Kayra yang memberikan solusi.


Brian yang menelpon sang mama jadi bingung dan ternyata meminta pendapat pada Zoy yang berdiri didepannya dan Zoy langsung menggeleng-gelengkan kepalanya memberi jawaban.


"Jangan mama. Mama saja yang datang kemari. Mama kan Dokter. Papa kasihan. Nanti papa kenapa-kenapa kalau tidak di tangani. Jadi mama cepat saja kemari, Bria panik," ucap Brian. Zoy tersenyum pada Brian dengan mengacungkan 2 jempolnya.


"Baiklah kalau begitu. Brian jangan panik mama akan segera datang. Brian jaga papa dan beri papa air putih yang banyak," ucap Kayra yang memberi saran sebelum di sampai.


"Iya Brian," sahut Kayra yang menutup telpon tersebut dengan menghela napasnya.


"Kenapa Davin tiba-tiba sakit. Apa yang terjadi, sebaiknya aku cepat kerumahnya. Nanti Brian jadi ikut-ikutan panik," ucap Kayra yang mendadak khawatir dan buru-buru langsung memasuki mobilnya untuk menuju rumah Davin.


Sementara Brian dan Zoy sekarang sedang tos.


"Anak pintar," puji Zoy.


"Apa Tante yakin mama akan datang?" tanya Brian dengan keraguannya.


"Pasti Brian kamu jangan Khawatir. Mama pasti akan datang," ucap Zoy.


"Tapi bagaimana kalau mama tidak mau datang periksa papa. Kan papa bisa makin parah?" tanya Brian yang khawatir dengan sang papa.


"Brian harus percaya dengan Tante Zoy. Mama akan datang. Karena tidak akan tega melihat papa seperti ini," ucap Zoy meyakinkan keponakannya itu.

__ADS_1


"Baiklah Tante Zoy," sahut Brian.


Memang sudah 2 hari Brian berada di rumah Davin. Karena Kayra mengikuti tes ujian ke Dokteran jadi waktunya pasti habis untuk rumah sakit dan juga praktek sana-sini. Belum lagi dia juga harus mengurusi pasien. Jadi mau tidak mau Kayra harus menitipkan Brian pada Davin agar Brian tidak kesepian.


Karena Aris, Silvia dan Haykal juga tidak bisa menjaga Davin. Karena punya kesibukan masing-masing. Jadi kalau sama Davin lebih aman. Walau Davin sibuk bekerja. Namun masih banyak orang-orang di rumah Davin yang pasti sangat sayang dengan Brian.


**********


Tidak lama akhirnya Kayra sampai rumah Davin dan Brian sudah menunggunya di depan pintu. Kayra buru-buru keluar dari dalam mobil.


"Mama!" sahut Brian.


"Brian, kenapa di luar?" tanya Kayra.


"Ayo mah, cepat kita periksa papa," sahut Brian yang langsung menarik tangan Kayra dan dengan cepat Kayra pun langsung mengikut pada Brian yang membawanya langsung kekamar Davin.


Masih di depan pintu. Namun Kayra sudah menghentikan langkahnya. Apalagi jika Kayra tidak ragu untuk kembali menginjakkan kakinya ke dalam kamarnya. Kamar yang dulu di tinggalkannya dan pasti penuh dengan luka.


"Ayo mama, kenapa berhenti!" Brian mendesak Kayra dengan menarik tangan Kayra dan sepertinya Kayra tidak punya pilihan dan mengangguk dan mau tidak mau Kayra harus memasuki kamar tersebut dengan perasaannya yang campur aduk.


"Ayo mah periksa papa," ucap Brian. Kayra lagi-lagi mengangguk. Davin terbaring di ranjang dan terlihat memang Davin sedang sakit. Kayra pun langsung menghampirinya Davin mengeluarkan steteskop dari dari dalam tasnya. Sebelum memeriksa Davin. Kayra meletakkannya punggung tangannya di kening Davin dan memang benar apa adanya Davina memang sakit.


"Sejak kapan papa seperti ini?" tanya Kayra.


"Tidak tau mah, tadi papa pulang kerjanya siang, hanya bicara sedikit. Lalu langsung kekamar dan Brian tidak mengajak papa bicara lagi. Saat Brian kekamar membangunkan papa. Papa bilang mau istirahat dan semakin lama papa terus panas. Makanya Brian panik," jelas Brian menceritakan dengan detailnya.


"Brian sudah kasih papa minum?" tanya Kayra.


"Sudah kok mah," jawab Brian.


"Kalau begitu bantu mama lagi untuk ambilkan air hangat. Brian suruh bibi ya untuk mengambilnya. Nanti takutnya Brian malah tidak bisa," ucap Kayra.


"Baik mah," jawab Bria yang langsung berlari keluar dari kamar untuk menuruti apa yang di inginkan sang mama.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2