
Taman yang selalu di penuhi dengan anak-anak yang berlari kesana kemari dengan para orang tua yang menemani anak-anaknya. Di sana juga Kayra duduk di salah satu bangku dengan mengukir senyum tipis di wajahnya dengan tangannya mengusap-usap perutnya. Sudah tidak tau berapa lama dia tidak kembali ke sisi suaminya.
Kayra tiba-tiba terkejut saat ada benda dingin di pipinya yang ternyata minuman kaleng yang dingin yang di tempelkan membuat Pricilla melihat ke sampingnya. Silvia tersenyum dengan memberi kode kepala untuk Kayra mengambilnya.
"Mengagetkan!" ucap Kayra kesal. Silvia tersenyum lalu duduk di samping Kayra dan langsung meneguk minuman yang sama dengan Kayra.
"Apa mencariku untuk sebuah perpisahan?"tanya Silvia.
"Paling tidak dalam kepergian harus ada yang berpamitan. Jadi aku rasa tidak ada salahnya berpamitan dengan mu," jawab Pricilla.
"Kau yakin mau pergi dan meninggalkan segalanya?" tanya Silvia.
"Iya aku sudah mengurus semuanya dan sudah akan pergi. Masa-masa murung dan berpikir keras sudah berakhir. Air mata sudah mengering dan sudah di mantapkan untuk keputusan itu," jawab Kayra.
"Davin mencarimu!" ucap Silvia.
"Aku tau. Karena tidak mungkin dia tidak mencariku. Jika aku kembali bersamanya. Pasti hanya akan ada luka lagi dan mungkin akan lebih besar lagi," jawab Kayra yang bicara tampak begitu tenang bicara.
"Kau yakin untuk semua keputusan ini. Bukannya kau sangat mencintainya. Apa tidak ingin memberinya kesempatan?" tanya Silvia.
Kayra tersenyum mendengarnya dan tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya yang tak lain menunjukkan benang yang di berikan Silvia dan benang itu hanya tinggal tempat tanpa ada sehelai benangpun.
"Sudah berakhir semuanya. Sudah kosong dan tidak tersisa apapun untuk pengikat saja sudah selesai," ucap Kayra dengan tersenyum .
Silvia mendengus tersenyum melihat tempat benang itu, "aku tidak percaya jika filosofi yang kuciptakan asal-asalan ternyata sangat mencerminkan kehidupanmu," ucap Silvia.
"Ya memang semua sebagai ibarat dan aku tidak menyesali apapun dan akan pergi untuk mencari kebahagiaan ku," ucap Kayra yang menghela napas kasar.
"Baiklah! aku tidak bisa melarang mu. Aku tau kau yang memahami segalanya dan tau seperti apa kebahagiaan mu yang sesungguhnya. Jadi setiap keputusan yang kau ambil sudah pasti yang terbaik," ucap Silvia.
"Iya memang itu yang akan terbaik," jawab Kayra.
__ADS_1
"Bagaimana dengan papa?" tanya Silvia.
"Aku akan membawanya dan sudah mengurus segalanya. Aku harus membawanya. Agar kamu dan mama tidak punya alasan untuk meminta uang kepadaku," seloroh Kayra
"Issss dasar," desis Silvia membuat Kayra tertawa dan Silvia juga tertawa pelan.
"Jangan khawatir papa akan baik-baik saja bersamaku," ucap Kayra.
Silvia menghadap Kayra dan menatap adik tirinya itu dengan intens, "aku mempercayai mu. Jagalah papa dengan baik. Aku sangat berharap papa bisa bangun dan kalian berdua bisa hidup dengan bahagia," ucap Silvia dengan tulus. Kayra mengangguk dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Dan iya jaga keponakanku. Dan jika kita tidak bertemu atau suatu saat bertemu kau mengajarinya terlebih dahulu untuk memanggilku tante. Awas saja jika nanti aku bertemu dengannya dia menganggapku orang asing dan tidak memanggilku tante. Itu pasti karena kamu yang mengajarinya yang tidak-tidak," ucap Silvia sejak tadi bicara dengan tersenyum. Namun tanpa di sadari nya air matanya jatuh.
"Pasti jangan khawatir. Kalau begitu berpamitan lah pada keponakan mu," ucap Kayra dengan meraih tangan Silvia dan meletakkan di perutnya.
"Jaga ibumu dengan baik dan harus mengingat jika kau itu punya Tante. Jika ibumu menjelek-jelekkanku jangan dengarkan dia. Itu hanya kebohongan," ucap Silvia dengan air matanya keluar lagi dan Kayra juga meneteskan air matanya.
"Argh, sudahlah, aneh sekali menagis," ucap Silvia langsung menyeka air matanya yang gengsi untuk menagis.
"Terima kasih kak Silvia sudah menjadi temanku dalam hari-hari ku yang sangat sulit ini. Aku tidak punya siapa-siapa untuk bertukar pikiran. Tetapi aku tidak mengangkat kakak ya ada dalam situasi sulit ini," ucap Kayra.
Kayra tersenyum dan langsung memeluk Silvia. Dan Silvia juga memeluknya dan pasti air mata mereka mengalir dengan deras yang memeluk erat layaknya orang yang saling menyayangi.
"Kita hidup bertahun-tahun, 1 rumah. Namun baru kali ini kita berpelukan. Selama ini kita tidak seperti adik kakak. Aku sangat iri kepadamu Kayra. Kau bisa menghadapi semuanya. Kau wanita yang sangat kuat maafkan aku dan mama yang mencuri kehidupanmu yang mencuri masa remajamu dan membuatmu selalu dalam kesulitan. Maafkan kami Kayra," ucap Silvia dengan tulus meminta maaf.
"Aku sudah melupakannya. Aku juga minta maaf atas segala kesalahan yang aku lakukan," ucap Kayra. Silvia mengangguk dan mereka saling melepas pelukan dengan sama-sama tersenyum.
Silvia mengusap air mata Kayra, "jaga dirimu dengan baik," ucap Silvia.
"Kau juga jaga dirimu dengan baik. Semoga bisa mendapatkan pendamping yang baik," ucap Kayra. Silvia tersenyum.
Sangat adem melihat adik kakak yang sama-sama tersenyum dengan penuh keharuan itu. Kayra menyempatkan diri untuk menemui Silvia sekedar berpamitan karena Kayra merasa harus berpamitan pada Silvia.
__ADS_1
***********
Silvia pulang kerumahnya setelah selesai bekerja.
"Silvia kamu sudah pulang. Ada yang ingin mama bicarakan," ucap Susan dengan wajah paniknya membuat Silvia hanya menghela napas lalu duduk di Sofa dan Susan langsung menyusulnya.
"Mau bicara apa sih mah?" tanya Silvia heran dengan memijat kepalanya karena dia begitu lelah.
"Kamu tau tidak kalau Kayra itu lagi pergi. Kayra benar-benar minggat dari rumah Davin dan itu sudah lama dan kamu tau ternyata papa juga sudah di pindahkan dan Kayra membawanya entah kemana," ucap Susan dengan wajah cemasnya.
"Lalu!" sahut Pricilla yang menanggapi hal itu dengan santai.
"Apa maksud kamu dengan lalu?"tanya Susan.
"Ya lalu mau bagaimana. Kalau Kayra pergi. Ya mama mau ngapain?" tanya Susan.
"Kamu ini benar-benar aneh ya. Kalau Kayra sama Davin berpisah. Itu akan berpengaruh buruk kepada kita. Di mana lagi mama akan mendapatkan uang. Kamu mau miskin apa," ucap Susan dengan kesalnya.
"Mama mau uang?" tanya Silvia.
"Ya iyalah jadi menurut kamu," sahut Susan.
"Kalau mau uang. Mama itu harus kerja. Baru dapat uang," ucap Silvia.
"Kamu ini benar-benar ya. Sudah berani sekarang mengajari mama," ucap Susan dengan emosi.
"Mah Sudahlah. Tidak ada gunanya dengan semua yang mama lakukan. Biarkan Kayra pergi. Dia juga ingin hidup. Ingin bahagia dan kebahagiannya bukan dengan pria yang memberinya uang. Mah selama ini kita sudah memanfaatkan Kayra. Apa mama tidak kasihan kepadanya. Dia sudah banyak menderita dan semua itu karena kita. Jadi sebaiknya jangan mengganggunya lagi. Biarkan dia hidup tenang," ucap Silvia yang mengajari mamanya.
"Kamu menceramahi mama," ucap Susan yang terlihat kesal.
"Aku hanya mengingatkan dan tidak mau mama terus hidup seperti ini," tegas Silvia yang berdiri dari tempat duduknya dan langsung pergi.
__ADS_1
"Silvia tunggu!" panggil Susan dan Silvia tidak peduli sama sekali. Silvia memilih untuk pergi dari pada mendengar mamanya yang terus menerus hanya ingin memanfaatkan Kayra. Silvia rasa sudah cukup untuk Kayra yang selama ini mengalami banyak kesulitan.
Bersambung