
Hanya beberapa detik mereka pun sama-sama tersadar dan saling melepas dan sama-sama salah tingkah.
"Biar aku yang melakukannya," sahut Kayra.
"Hmmmm," sahut Davin dengan berdehem dan Kayra pun membuka sepatu Brian, sementara Davin terlihat berkeliling di kamar Brian. Melihat koleksi-koleksi Brian yang mana banyak boneka unta dan juga ikan hiu.
Davin mendengus melihat koleksi Brian. Dia mengingat Kayra dulu hamil dengan permintaan yang aneh. Yaitu daging unta dan bahkan ingin melihat ikan paus dan juga putri duyung dan ternyata saat Brian lahir. Itu lah salah satu yang menjadi koleksi Brian.
Jadi bagaimana Davin tidak semakin yakin. Kalau Brian itu memang anaknya. Tanpa tes DNA itu sudah kenyataan. Hanya saja Kayra tidak mengakui hal itu.
Setelah Kayra selesai membuka sepatu Brian dan juga menyelimutinya. Kayra pun menghampiri Davin yang berdiri di belakang Davin.
"Terimakasih sudah mengantarnya," ucap Kayra membuat Davin membalikkan tubuhnya melihat kearah Kayra.
"Baiklah kalau begitu. Aku pulang dulu!" ucap Davin.
"Iya, hati-hati di jalan," ucap Kayra. Davin mengangguk dan melihat Brian sebentar dengan Davin menghela napasnya.
"Aku pulang!" Davin kembali berpamitan. Kayra menganggukkan kepalanya dan Davin langsung keluar dari kamar Brian. Kayra juga mengantarnya sampai pintu Apartemen.
Setelah kepergian Davin. Kayra menghela napasnya dan kembali memasuki rumah. Dia juga harus beristirahat. Karena besok harus kembali beraktivitas lagi.
************
Kediaman Altarik.
Davin pulang kerumahnya yang mana terlihat suasana hatinya begitu baik. Bagaimana tidak dia telah jalan-jalan bersama Brian dan tadi sikap Kayra juga tidak judes seperti biasanya. Jadi wajarlah jika Davin terlihat bahagia.
"Davin!" panggil Oma membuat Davin menghentikan langkahnya saat menaiki anak tangga.
"Ada apa Oma?" tanya Davin.
"Duduklah sebentar. Oma ingin bicara," ucap Oma. Davin menganggukkan kepalanya dan langsung mendekati Omanya yang duduk
"Ingin bicara apa Oma?" tanya Davin.
"Mama mendapat kabar. Jika Kayra telah kembali dan bahkan menjadi salah satu Dokter di rumah sakit cendrawasih," ucap Oma yang memang kabar itu sudah sampai ketelinganya dan jika di tanya dia bahagia mendengarnya atau tidak ya dia sangat bahagia.
__ADS_1
"Iya dia kembali. Aku bertemu dengannya sekitar bulan lalu," jawab Davin.
"Lalu bagaimana hubungan kalian?" tanya Oma.
"Aku masih ingin memperbaiki semuanya. Namun Kayra. Aku menyadarinya itu tidak mudah dan aku akan pelan-pelan melaluinya," jawab Davin.
Oma tersenyum mendengarnya, "Oma percaya sama kamu dan Oma senang mendengar jawaban kamu. Dari jawaban kamu ini sudah menunjukkan jika kamu benar-benar semakin dewasa," ucap Oma dengan bangga pada Davin.
"Oma terlalu lebay, memang Oma pikir selama ini aku anak kecil apa," sahut Davin. Oma hanya tertawa kecil mendengar kata-kata Davin dan tiba-tiba Oma melihat Zoy yang menuruni anak tangga yang sepertinya ingin pergi.
"Mau kemana Zoy?" tanya Oma.
"Mau ke apotik sebentar," jawab Zoy.
"Untuk?" tanya Oma.
"Beli obat maag, lambung Zoy bermasalah," jawab Zoy.
"Makanya kamu itu makan yang benar. Lihat jadi seperti ini kan," sahut Oma geleng-geleng.
"Ya sudah biar Davin yang antar kamu. Ini juga sudah malam," sahut Oma.
Davin mengkerutkan dahinya mendengar akan mengantar Zoy. Rasanya pasti sangat malas. Karena dia juga sangat lelah. Dengan bersamaan tiba-tiba Davin melihat Dion yang memasuki rumah.
"Jangan aku Dion saja," sahut Davin membuat Dion menghentikan langkahnya saat namanya di sebut dan heran dengan apa yang di katakan Davin.
"Aku capek Oma, jadi mau istirahat," sahut Davin yang langsung berdiri dari tempat duduknya dan langsung pergi.
Namun Dion masih bengong dengan apa yang di katakan Davin.
"Anak itu benar-benar," ucap Oma Elisabeth dengan geleng-geleng kepala, "baiklah Dion kamu antar Zoy ke apotik sebentar!" titah Oma.
"Tidak usah Oma, aku pergi sendiri saja," sahut Zoy yang menolak.
"Jangan pergi sendiri. Cepat Dion kamu antar Zoy," tegas Oma dan Zoy hanya menghela napas kasar dan melangkah terlebih dahulu keluar rumah dengan wajah yang terlihat terpaksa.
Dion juga hanya menghela napas dan langsung mengikuti Zoy. Oma sendiri juga langsung memasuki kamarnya.
__ADS_1
**************
Setelah Kayra ganti baju dan melakukan semua persiapan sebelum tidur. Kayra menghampiri putranya dulu memasuki kamar Brian.
Kayra melangkah mendekati ranjang dan duduk di samping Brian dengan mencium kening Brian. Kayra juga mengusap-usap rambut Brian dengan terbayang di mana Brian bersama Davin tadi yang terlihat Brian begitu bahagia.
"Kayra kamu pulang sama Davin ya!" ucap Aris yang membuat Kayra mengkerutkan dahinya.
"Pah," sahut Kayra yang pasti sudah menolak.
"Tidak apa-apa. Kamu tidak boleh seperti itu. Ingat pesan papa Brian bukan hanya sekecil itu saja. Dia akan semakin besar nantinya dan kamu hanya akan menyesal jika melakukan semua ini. Kayra papa tidak meminta kamu untuk membuka hati kamu untuk Davin yang akan mengisi kehidupan kamu. Tetapi papa meminta kamu untuk membuka hati, maaf demi Brian dan hanya untuk Brian,"
Kata-kata Aris terbayang di dalam pikiran Kayra dengan Kayra yang beberapa kali membuang kasar napasnya kedepan.
"Maafkan mama sayang. Jika mama sedikit egois. Mama benar-benar tidak bermaksud. Tetapi semua ini tidak mudah bagi mama. Jadi maafkan mama," batin Kayra dengan hatinya yang penuh dengan dilema.
**********
Sementara Zoy dan Dion yang berada di dalam mobil hanya diam-diam saja tanpa ada obrolan di antara ke-2nya yang tidak Zoy dan juga tidak Dion. Sampai akhirnya mobil itu berhenti di depan apotik.
"Biar saya yang tebus obatnya!" ucap Dion menawarkan pada Zoy.
"Tidak usah, aku bisa sendiri," sahut Zoy yang langsung membuka pintu mobil.
"Baiklah kalau begitu," sahut Dion yang hanya melihat Zoy dari kaca spion dan Zoy terlihat cuek pada Dion dan mungkin itu lebih karena masa lalu di antara mereka.
Saat Zoy yang berjalan menuju apotik dan Dion hanya melihatnya saja. Tiba-tiba Zoy menghentikan langkahnya dengan memegang perutnya yang terlihat begitu sakit yang membuat Dion melihat dengan serius dan terlihat sangat khawatir pada Zoy.
"Zoy!" lirih Dion yang langsung keluar dari mobil menghampiri Zoy.
"Zoy kau tidak apa-apa?" tanya Dion panik melihat Zoy kesakitan dan keringat dingin.
"Perutku! perutku!" lirih Zoy yang begitu kesakitan.
"Kita kerumah sakit!" ucap Dion panik dan melihat Zoy yang tampak lemah membuat Dion langsung menggendong Zoy ala bridal style dan langsung buru-buru kembali memasuki mobii mendudukkan Zoy dengan perlahan, memasangkan sabuk pengaman untuk Zoy dan Dion juga buru-buru menduduki kursi pengemudi untuk melarikan Zoy kerumah sakit yang melihat kondisi Zoy yang sangat tidak baik.
Bersambung
__ADS_1