
Tenda-tenda sudah berdiri ada 4 tenda yang berdiri di sana dan terlihat Brian yang sedang bermain bola bersama Davin, Dion, Reyhan dan Haykal. Sementara Silvia, Kayra, Zoy, Indri dan Giselle terlihat menggelar tikar yang di bentangkan dengan mereka menata makanan yang akan di nikmati bersama.
"Brian kelihatan bahagia sekali," ucap Indri.
"Dia memang suka bermain bola. Jadi jika ada temannya yang menemaninya main bola. Jadi jelas dia bahagia sekali," sahut Kayra sembari melihat ke arah anaknya yang ada di sana.
"Apa nanti kalau sudah dewasa dia ingin menjadi pemain bola?" Tanya Giselle.
"Aku tidak tau hal itu. Tetapi aku akan mendukung apapun keinginan nanti," jawab Kayra.
"Brian itu anak yang pintar dan pasti kelak dewasa dia akan menjadi anak yang hebat," sahut Silvia yang sangat bangga dengan keponakannya itu.
"aku sangat berharap seperti itu. Karena seorang ibu hanya mengharapkan apa yang terbaik saja," sahut Kayra.
"Kamu jangan Khawatir Kayra soal masa depan Brian, karena sudah sangat jelas terlihat jika Brian itu anak yang cerdas dan pemikirannya luas," sahut Zoy yang pasti sangat mengagumi bestienya itu.
"Dan sepertinya Brian belakangan ini banyak sharing dengan kamu," ucap Kayra menatap Zoy curiga yang membuat Zoy menelan salavinanya.
"Kamu ini bicara apa sih, nggak ah aku mana ada seperti itu," sahut Zoy yang mengelak.
"Jangan ajari ya Zoy Brian yang tidak-tidak. Dia masih kecil, kamu jangan bicara aneh-aneh padanya sampai-sampai dia terus melakukan sesuatu yang membuatku dan Davin terkejut," sahut Kayra mengingatkan dengan selorohnya yang tau pasti Zoy kongkalikong anaknya karena sang anak juga kerap kali sang anak juga keceplosan tentang Zoy.
"Aku tidak mengajari apa-apa. Kamu itu bawaannya negatif mulu. Brian bertanya dan aku jawab dan tidak ada yang aneh-aneh," sahut Zoy memberi penjelasan dengan masih aja mengelak.
"Tidak apa-apa kali Kayra kalau misalnya apa yang di lakukan Zoy membuat kamu dan Davin dekat. Brian hanya meminta bantuan dan Zoy memberi bantuan," sahut Silvia.
"Sangat tepat. Seperti itu yang benarnya," sahut Zoy. Kayra hanya gelang-gelang saja dengan kelakuan Zoy.
"Memang kak Zoy melakukan apa sih?" tanya Giselle yang penasaran.
"Tidak ada melakukan apa-apa," sahut Zoy.
"Sudah-sudah jangan di bahas lagi. Oh iya mengenai Pricilla kira-kira anak itu anak siapa ya?" sahut Indri tiba-tiba bertanya yang kepikiran dengan Pricilla.
"Apa pentingnya coba mengurusi hal itu. Mau anak siapa itu bukan urusan kita yang jelas sekarang dia mendapatkan karma dari apa yang di lakukannya," sahut Silvia yang mendengar namanya saja sudah begitu kesal.
"Tauh nih, ngapain juga harus membahas ya," sahut Giselle yang juga kesal.
"Tapi ngomong-ngomong benar ya Kayra anak itu sakit?" tanya Zoy yang penasaran.
"Iya anak itu memang sakit dan dia juga temannya Brian. Makanya aku tau sedikit tentangnya. Namun sebenarnya aku juga penasaran siapa ayah dari anak itu," sahut Kayra.
__ADS_1
"Tapi sudahlah, kita tidak usah lagi memikirkan hal itu yang penting bukan Davin dan Pricilla biarkan saja mengatasi masalahnya sendirian. Kita juga masih banyak yang harus kita selesaikan," sahut Silvia yang tidak mau ambil rapot.
"Iya-iya ya sudah sekarang kita panggil mereka, kita harus makan," sahut Indri.
"Oke," sahut semuanya yang memang harus mengisi perut dulu.
"Brian sayang ayo makan!" teriak Kayra memanggil putranya itu.
"Baik mah," sahut Brian dengan tersenyum dan langsung buru-buru menghampiri mamanya untuk ikut makan yang di susul oleh, Davin, Dion, Reyhan dan juga Haykal.
Mereka mengambil tempat duduk masing-masing dengan bersilah kaki dan Kayra dan Davin saling berdekatan duduknya dengan Brian di samping mamanya.
"Ayo Brian makan yang banyak, supaya cepat besar," ucap Kayra menyendokkan nasi ke piring putranya itu.
"Mama juga ambilkan nasi papa," sahut Brian yang selalu saja mengingat papanya. Kayra mengangguk-angguk dan mengambilkan ke piring Davin yang lainnya hanya tersenyum saja melihat hal manis itu.
"Cukup!" ucap Davin.
"Kamu mau lauk apa?" tanya Kayra.
"Apa aja," sahut Davin. Kayra mengangguk-angguk dan memberikan apa yang menurutnya pasti di sukai Davin.
Sepertinya Kayra dan Davin memang sudah baikan dari cara mereka yang terlihat adem-adem saja yang mengundang senyum dari orang-orang yang memperhatikan mereka.
"Papa juga mau kok mah," sahut Brian mengunyah makanan itu yang apa-apa ingat Davin.
"Iyakan pah?" tanya Brian. Davin menganggukkan kepalanya.
"Makanlah!" Kayra menyendokkan kepiring Davin.
"Papa mau di suapi juga mah," sahut Brian yang ada saja tingkahnya. Dan yang lain hanya tersenyum dan menahan tawa atau lebih baik pura-pura tidak dengar atau sibuk masing-masing agar Kayra tidak malu jika ingin menyuapi Davin.
Kayra pasti melihat yang lainnya yang memang terkesan tidak melihat apa-apa dan Kayra pun menyuapi Davin. Pasti Kayra malu sebenarnya. Anaknya itu memang benar-benar membuat Kayra mati kutu.
"Cukup satu suap saja. Kamu makan lah, aku juga tidak ingin membuatmu tidak nyaman di depan orang banyak," ucap Davin Dengan pelan.
Kayra mengangguk dan melanjutkan makannya. Bisa-bisanya Zoy yang di samping Brian meletakkan telapak tangannya di atas tikar dan si sambut Brian yang langsung tos. Dan itu kedapatan Davin. Anaknya makin lama semakin tidak beres dengan ajaran Zoy yang tidak tau kapan Zoy mengajari Brian. Tetapi ada saja yang di lakukan Brian.
Zoy yang menyadari di lihati Davin langsung tersenyum tanpa dosa dan Davin hanya geleng-geleng saja.
Yang lain ya pura-pura tidak tau aja apa yang terjadi. Intinya mereka bahagia dan mendukung Kayra dan Davin jika bersama kembali. Karena memang seharusnya mereka kembali.
__ADS_1
*********
Banyak yang mereka lakukan dalam acara camping yang di adakan yang pasti untuk membuat Brian bahagia yang seperti sekarang ini Brian sedang di ajak memancing papanya dan om-om tampannya. Brian seakan-akan sudah seumuran dengan mereka semua. Namun Brian happy- happy aja.
Lain sisi. Karya, Zoy, Silvia, Indri dan Giselle berada di atas bebatuan yang airnya deras yang cukup jauh dari Davin dan yang lainnya yang memancing di air yang tenang.
"Airnya dingin sekali tidak sabaran ingin mani," ucap Zoy yang tergiur untuk mandi yang terus bermain-main air.
"Kak Zoy hati-hati licin tau batunya," sahut Giselle yang mengingatkan Zoy.
"Iya-iya," sahut Zoy yang masih aja berjalan melewati batu-batu.
"Kamu mau kemana sih Zoy?" tanya Kayra.
"Mau kesana. Aku mau mandi," jawab Zoy menunjuk tempat yang menurutnya sangat cantik.
"Hati-hati licik soalnya," sahut Indri yang juga memberi ingat.
"Iya-iya kalian ini benar-benar baik sekali mengingatkan ku," sahut Zoy dengan geleng-geleng yang terus berjalan tetapi berbicara pada Kayra dan yang lainnya sampai tidak melihat jalan di depannya.
Zoy yang tidak hati-hati membuat Zoy terpeleset.
"Zoy!" teriak Kayra saat melihat Zoy kejebur kedalam air dengan posisi kepalanya terhempas batu dan membuatnya tidak sadarkan diri yang langsung terseret arus
"Kak Zoy!" teriak Giselle yang shock melihat hal itu.
Dan teriakan wanita-wanita itu terdengar pada Davin dan juga yang lainnya yang kaget dengan melihat jelas Zoy terbawa arus.
"Zoy!" lirih Dion dengan wajah terkejutnya dan langsung berlari untuk menyelamatkan Zoy.
"Astaga, Zoy!" Davin juga ikutan panik.
"Brian jangan ikut, papa mau kesana dulu!" ucap Davin menegaskannya yang langsung berlari dan Brian mengangguk-angguk saja menuruti papanya yang pasti ingin menyelamatkan Zoy yang terbawa arus. Bahkan Dion sudah melompat mengejar Zoy di air yang sangat deras.
"Ya ampun bagaimana ini?" tanya Kayra panik.
"Kayra!" panggil Davin yang menghampiri Kayra dan yang lainnya.
"Davin, Zoy!" ucap Kayra panik.
"Kalian kesanalah biar kami yang mengejar Zoy, kamu jaga Brian," ucap Davin dengan panik. Kayra mengangguk-anggukkan kepalanya dan menyerahkan pada Davin untuk menyelamatkan Zoy.
__ADS_1
Bersambung