Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.

Pernikahan Dalam Ikatan Surat Kontrak.
Bab 215


__ADS_3

"Mama!" panggil Brian membuat Kayra langsung dengan cepat mengusap air matanya.


"Iya Brian," sahut Kayra tersenyum lebar.


"Mama kenapa nangis?" tanya Brian yang heran dengan sang mama.


"Mama tidak menangis, siapa yang menagis. Mama hanya kelilipan saja," sahut Kayra beralasan.


"Oh begitu. Brian pikir mama nangis karena Brian lagi," sahut Brian.


"Tidak dong sayang," sahut Kayra tersenyum dengan mengusap-usap pucuk kepala Brian.


"Ya sudah ayo mama buruan mama mandi!" ucap Brian dengan semangatnya. Kayra menganggukkan kepalanya dengan tersenyum yang harus tegar di depan putranya. Walau dia tidak bisa tegar sebenarnya.


Seharusnya Kayra senang dengan Davin yang akhirnya mundur yang artinya tidak tidak menakutkan apa-apa lagi. Namun entah kenapa Kayra malah sedih dengan hal itu.


*********


Setelah selesai rapi-rapi dan juga sarapan bersama Kayra mengantar Brian ke sekolah dan pasti tidak hanya mengantarkan sampai depan sekolah saja. Kayra juga turun dari mobil dan bergandengan tangan dengan putranya itu menuju sekolah Brian.


"Brian!" tiba-tiba suara anak kecil yang nyaring terdengar dan membuat Kayra dan Brian berbalik badan di mana anak kecil itu berlari seorang wanita dengan rambut kucir dua yang sepertinya teman sekolah Brian yang juga sama memakai seragam sekolah dengan Brian.


"Cika!" sapa Brian yang mengenal anak kecil itu ketika sudah sampai di hadapan Kayra dan Brian.


"Kamu baru datang Cika?" tanya Brian.


"Iya benar, aku tadi di antar sama supir aku. Soalnya mama ku tidak bisa mengantarku," jawab Cika.


"Oh kalau aku di antar mama ku. Mama kenalkan ini teman aku," sahut Brian yang langsung memperkenalkan temannya pada Kayra.


"Hay Tante kita bertemu lagi," sahut Cika dengan melambaikan tangannya.


"Kamu pernah bertemu dengan mama ku?" tanya Brian dengan heran.


"Iya kemarin aku dan mama ku ke rumah sakit dan bertemu dengan Dokter cantik ini. Ternyata Dokter cantik ini adalah mama kamu. Mama ku juga mengenalnya dan mereka kemarin bertemu dan berbicara," jelas Cika dengan bicara begitu menggemaskan.


"Benarkah mah?" tanya Brian. Kayra mengangguk dengan tersenyum datar.

__ADS_1


"Brian aku senang bisa bertemu dengan mamamu," ucap Cika.


"Aku juga senang bertemu dengan mamamu waktu itu," sahut Brian.


"Brian pernah bertemu dengan mamanya Cika?" tanya Kayra.


"Iya mah, mama Cika baik sekali," jawab Brian.


Kayra hanya menanggapi dengan datar yang tidak tau harus mengatakan apa. Namun Kayra terlihat berpikir sesuatu. Namun tidak ada yang bisa di tebak apa yang di pikirkannya.


"Oh iya Brian kamu bawa bekal apa?" tanya Cika.


"Aku bawa nasi goreng special," sahut Brian.


"Wau pasti enak sekali," sahut Cika. Brian mengangguk dengan tersenyum.


"Ya sudah Brian. Ayo masuk kesal sayang. Nanti kamu telat," ucap Kayra.


"Baik mah, ayo Cika," sahut Brian.


"Dada Tante cantik," sahut Cika melambaikan tangannya. Kayra tersenyum dengan mengangguk dan melihat 2 punggung anak kecil yang pergi itu yang semakin lama semakin jauh.


**********


Brian hari ini bermain-main di rumah sakit. Karena di apartemen tidak ada temannya. Rumah sakit juga sudah menjadi tempat ke-2 Brian dan sekarang Brian bermain-main dengan menggunakan sepatu roda yang barusan saja di belikan papanya kepada-nya.


Dengan lincah Brian bermain-main. Namun dari ujung sana terlihat Bella yang berjalan dengan anggun sembari melihat ponselnya. Bella tidak melihat jalannya sama sekali dan akhirnya Brian yang tidak punya rem harus menabrak Bella.


"Awas Tante!" teriak Brian.


Bruk.


Tabrak tidak terelakkan dan Bella harus terduduk di lantai dengan handphonnya yang jatuh di lantai dan di pastikan rusak. Namun posisi Brian masih tetap selow berdiri.


"Aduh gawat," ucap Brian menepuk jidatnya.


"Oh my God," umpat Bella tampak emosi dengan apa yang terjadi padanya.

__ADS_1


"Tanya Dokter maafkan Brian," ucap Brian merasa bersalah.


"Kamu benar-benar ya, bermain sembarangan, kamu pikir ini taman bermain hah!" Bella langsung marah-marah pada Brian sembari Bella berdiri dengan kesulitan dengan mengambil ponselnya.


Emosinya semakin menggebu-gebu dengan melihat ponselnya yang rusak karena ulah Brian.


"Lihat perbuatan kamu, handphone ku jadi rusak, kamu ini ya benar-benar," geram Bella membuat Brian hanya menunduk yang takut pada Bella.


"Brian!" tiba-tiba Suster Maya datang dan melihat Brian yang ketakutan di marahi Bella.


"Maaf Dokter Bella ada apa ini?" tanya Maya.


"Kamu lihat anak kecil ini. Dia sudah bermain-main dengan di sini dan lihat saya sampai jatuh dan ponsel mahal saya jadi rusak. Semua ini gara-gara anak sialan ini sama dengan ibunya yang membuat ku kesal," umpat Bella.


"Mama tidak salah kenapa Tante Dokter menyalahkan mama," sahut Brian mengangkat kepalanya yang tegak. Jika ada melibatkan mamanya. Maka dia akan siap untuk menyerangnya.


"Eh kamu itu sama aja sama mama kamu. Anak tidak jauh jatuh dari pohonnya. Anak sialan!" Bella ingin menjewer telinga Brian yang begitu ball baginya.


"Hentikan ada apa ini!" bentak Davin yang datang tiba-tiba dan melihat keributan. Juga ada beberapa pengunjung rumah sakit yang menonton Bella yang memarahi anak kecil.


Melihat Davin Brian langsung berlari menghampiri Davin dan memeluk Davin yang seperti nya takut dengan Bella. Bella dan Maya pasti heran dengan Brian bisa-bisanya sedekat itu dengan pimpinan rumah sakit mereka. Terlebih lagi Davin sangat welcome dengan Brian sampai Davin berjongkok menghadap Brian.


"Ada apa Brian?" tanya Davin.


Brian berbisik di telinga Davin, "Brian tidak sengaja pah menabrak Tante Dokter itu," ucap Brian pelan.


Bella mengkerutkan dahinya yang penasaran dengan apa yang di bisikkan Brian kepada Davin. Di mana Davin langsung melihat Bella dan menghampiri Bella dengan tangannya memegang Brian dan Brian bersembunyi di belakang Davin.


"Kamu memarahi anak kecil. Hanya karena masalah ini!" ucap Davin.


"Tapi pak Davin, dia ini sangat nakal lihat saya jadi jatuh dan handphone saya rusak. Anak ini terus membuat masalah di rumah sakit ini menganggap rumah sakit ini taman bermain yang bisa mengganggu pasien. Dia sama ibunya sama saja. Orang tuanya tidak bejus mendidiknya," ucap Bella dengan marah-marah berani-beraninya membawa orang tua dari Brian.


"Cukup!" sentak Davin dengan penuh emosi mendengar kata-kata Bella.


"Kamu itu tidak punya rasa malu yang memarahi anak kecil. Kamu dengar di rumah sakit ini tidak pernah ada larangan dan perbuatan kamu ini sangat keterlaluan. Kamu keruangan saya sekarang juga," tegas Davin yang langsung pergi membawa Brian.


"Tapi pak," Bella protes. Tapi Davin tidak peduli dan langsung pergi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2