
Davin berusaha untuk melepas tangan Kayra. Namun Kayra semakin erat memeluknya dan mau tidak mau Davin harus berada di atas ranjang dan berbaring miring yang memudahkan Kayra memeluknya lebih erat lagi.
"Jangan pergi! aku masih marah kepadamu. Kau sudah menyakiti terlalu besar. Jadi jangan melarikan diri, bertanggung jawablah dengan perbuatanmu," ucap Kayra dengan racauannya yang tidak jelas.
Mungkin itu hanya racuan saja. Namun apa yang di katakan Kayra sudah menggambarkan isi hatinya masih terluka dan pasti luka itu belum sembuh. Apa lagi dengan kembalinya Davin. Davin mendengarnya hanya melihat Nanar wajah Kayra yang merasa sangat tersiksa.
"Maafkan aku Kayra. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Maafkan aku Kayra," lirih Davin yang sampai detik ini masih di penuhi dengan rasa bersalah pada Kayra.
Bahkan wajah sendu Kayra dengan matanya yang terpejam itu. Mengeluarkan air mata dari pelupuk mata Kayra. Jari lembut Davin mengusap air mata itu dengan mencium lembut kening Kayra. Perasaan juga tidak pernah tenang saat kepergian Kayra. Dan juga pasti sangat merindukan istrinya yang baru detik ini punya kesempatan untuk memeluknya dengan erat.
Davin memeluk Kayra dengan erat, melepaskan kerinduan yang terpendam selama bertahun-tahun. Rindu yang di penuhi dengan rasa bersalah pada wanita yang mencintainya. Namun di sia-siakannya hanya karena wanita lain.
**********
Mentari pagi kembali lagi. Kayra membuka matanya perlahan kedepan dan Kayra merasa sangat pengap seperti berada di kepulauan seseorang. Saat mata itu terbuka dengan sempurna betapa terkejutnya Kayra saat wajahnya menghadap dada bidang yang kekar dan tangan kekar yang memeluknya dengan erat.
Yang akhirnya membuat Kayra perlahan mengangkat kepalanya dan melihat keatas siapa memeluknya dan ternyata Davin yang melakukannya yang membuat Kayra benar-benar semakin terkejut.
"Apa yang terjadi. Kenapa Davin bisa berada di kamarku," batin Kayra yang terlihat gugup. Namun bukannya bergeser dari Davin. Dia malah menatap wajah tampan yang tertidur lelap itu.
Kayra sangat lama menatap Davin. Tidak tau apa yang di pikirkan Kayra. Namun jantungnya berdebar dengan kencang saat begitu dekat dengan Davin dan bahkan hembusan napas Davin menerpa wajahnya.
Kayra menghela napasnya perlahan kedepan. Yang menyadarkan dirinya dan perlahan melepaskan tangan Davin dari pinggangnya. Kayra melakukannya dengan sangat hati-hati yang takut Davin bangun.
Setelah terlepas dari pelukan Davin. Kayra perlahan-lahan turun dari tempat tidur dengan sangat hati-hati. Setelah berhasil turun Kayra mengambil sesuatu yang ada di keningnya. Apa lagi kalau bukan kompres. Di mana Davin pasti merawatnya saat dia sakit. Kayra juga melihat balas yang penuh dengan obat-obatan yang sudah menjelaskan Davin menjaganya semalaman.
Kayra menghela napasnya perlahan kedepan. Lalu Kayra menyelimuti Davin yang selimut Davin turun. Setelah itu Kayra langsung keluar dari kamar dan tidak membangunkan Davin sama sekali.
Kayra yang sudah berada di luar kamar melihat rumahnya tampak sangat rapi. Dari ruang tengah, dapur semuanya begitu rapi yang pasti Davin yang melakukan semua itu. Hal itu bahkan mampu membuat Kayra tersenyum tipis.
*********
"Mama!" panggil Brian yang sudah memakai seragam sekolahnya yang keluar dari kamar yang menghampiri Kayra yang ada di dapur.
__ADS_1
"Brian sudah bangun. Mama pikir belum," ucap Kayra.
"Ya harus bangun dong mah. Karena Brian harus sekolah dan iya mama juga sudah sembuh," ucap Brian.
"Alhamdulillah mama sudah merasa jauh lebih enakan," jawab Kayra.
"Wau itu pasti karena papa," sahut Brian.
"Kenapa karena papa?" tanya Kayra dengan dahinya yang mengkerut.
"Papa yang merawat mama, menyiapkan mama makanan, makanan Brian, membelikan mama obat, menemani Brian belajar dan bahkan menidurkan Brian, papa juga pasti capek. Karena seharian tidak pernah istirahat karena mengurus mama dan Brian," ucap Brian membuat Kayra terdiam.
"Dan lihatlah mama sudah sembuh sekarang. Papa sangat hebat, selalu membantu kita," ucap Brian. Kayra mengangguk-angguk dengan tersenyum.
"Pantesan dia sangat pulas saat tidur. Davin pasti sangat lelah," batin Kayra dengan ekspresi wajahnya yang tidak terbaca.
"Oh iya mah, papa masih tidur. Brian bangunkan ya!" ucap Brian.
"Jangan Brian!" cegah Kayra.
"Biar papa istirahat saja. Brian jangan membangunkannya. Ayo sini Brian sarapan saja," ucap Kayra yang sepertinya kasihan pada Davin dan tidak mau Davin terganggu dalam beristirahat.
"Baik mah," sahut Brian yang tidak jadi membangunkan Davin dan langsung menghampiri Kayra untuk melanjutkan sarapan sebelum berangkat kesekolah.
************
Kayra yang sebelumnya mengantarkan Brian kesekolah kembali ke Apartemen. Kayra memasuki Apartemen dan bersamaan dengan Davin yang keluar dari kamar dengan memijat pangkal hidung.
"Kau sudah bangun?" tanya Kayra.
"Hmmm," jawab Davin, "di mana Brian?" tanya Davin.
"Aku baru saja mengantarnya ke sekolah," jawab Kayra.
__ADS_1
"Begitu rupanya," sahut Davin, "keadaan mu sendiri bagaimana?" tanya Davin.
"Aku sudah merasa enakan," jawab Kayra.
"Syukurlah," sahut Davin.
"Hmmm, kamu sarapan saja. Tadi aku sudah menyiapkannya," ucap Kayra dengan lembut. Davin pasti sangat kaget dengan perubahan Kayra yang sangat hangat membuat Davin merasa tenang.
"Hmmmm, oh iya Davin. Kamu hari ini akan kekantor tidak?" tanya Kayra tiba-tiba.
"Memang kenapa?" Davin kembali bertanya.
"Tadi saat aku mengantar Brian. Guru sekolahnya menemuiku dan ternyata hari ini ada pekan olahraga anak dan murid di sekolah Brian. Brian sudah mengatakannya Minggu lalu. Namun aku lupa. Jadi tadi guru Brian sangat berharap orang tua Brian ada di sana. Karena memang banyak orang tua yang sudah berdatangan, kalau kamu tidak keberatan kita bisa menemani Brian," jelas Kayra yang mengatakan maksud sebenarnya.
"Jam berapa acaranya di mulai?" tanya Davin.
"Jam 10," jawab Kayra.
"Baiklah. Tapi aku pulang dulu. Aku harus ganti baju. Karena tidak mungkin seperti ini," ucap Davin.
"Tidak perlu," sahut Kayra membuat Davin menaikkan 1 alisnya.
"Ini aku tadi mampir di toko. Aku membelikan mu pakaian," ucap Kayra memberikan paper bag pada Davin dan itu jelas membuat Davin kaget.
"Kamu bersih-bersih di sini saja. Biar kita langsung pergi ke sekolah Brian. Tetapi sebelum itu kamu sarapan dulu," ucap Kayra.
"Kamu menyiapkan pakaian ku. Itu artinya kamu berharap aku ikut bersamamu," ucap Davin menebak-nebak.
"Tidak juga. Aku hanya kebetulan lewat dan spontan saja membelinya. Aku tidak berpikir apa-apa," sahut Kayra mengelak. Namun Davin mendengarnya mendengus dengan tersenyum membuat Kayra kesal sendiri.
"Issss, kenapa kau malah tersenyum," sahut Kayra dengan kesal.
"Tidak apa-apa. Kau sangat lembut dan sangat manis hari ini. Ini mengingatkan ku pada istriku dulu," ucap Davin.
__ADS_1
Kayra hanya berdecak kesal dan meninggalkan Davin yang mulai menggodanya dan Davin kembali tersenyum melihat Kayra.
Bersambung